Sabtu, Maret 06, 2010

Java Jazz dan Khotbah Jum'at

Hari Jum'at, 5 Maret 2010, gue berangkat sama Ian dan Arin ke Java Jazz Festival di Kemayoran. Tepatnya di JI Expo, sebuah venue baru untuk acara itu yang biasanya diadain di JHCC Senayan. Proses menuju Kemayoran membuat gue mempertaruhkan nyawa. Gue dan Ian yang ada di dalem mobil, berkewajiban menjemput Arin untuk barengan ke venue acara. None ancol itu agak malu-malu pada awalnya untuk nebeng di mobil Ian karena adeknya, tapi berhubung keribetan luar biasa untuk menuju venue, dia menyerah. Derita untuk kita berdua.

Berhubung keputusan untuk barengnya itu terjadi di tengah jalan Gunung Sahari, kita berdua harus nepi di pinggir jalan ramai itu. Jalannya emang luas, kita berhenti tepat di deket jembatan supermarket Golden Truly. Gue jadi inget kalo dulu saat kecil itu tempat favorit gue untuk jalan-jalan sama bokap-nyokap. Tujuan kesana biasanya beli kucing dalam karung, berupa mainan di dalem telor yang ada di dalem mesin. Anak kecil emang sasaran paling pas untuk di begoin. Harga koinnya 3 rebu untuk dapet mainan yang bentuknya kayak remah-remahan Koko Crunch. Kecil dan gak jelas.

Jalanan itu emang sangat luas, ada 4 jalur. Tapi berhubung saat itu adalah hari Jum'at menjelang sore, suatu seremonial kemacetan yang terjadi tiap minggu, 4 jalur itu terisi penuh. Dengan adanya mobil yang gue tumpangi di salah satu jalur, jelas itu menghambat orang-orang dibelakangnya. Bunyi klakson langsung menjadi orkestrasi, mengiringi gue menepi di pinggir jalan. "TET... TOTT... TETT.. TOTT...!!!", kata pengendara mobil dan motor yang kesel sambil sesekali buka kaca masang muka serem atau nengok ke dalem trus ngomal ngomel.gak jelas. Gue berdua cuma bisa ber- la la la sambil nengok ke arah kali Ciliwung sambil berharap gak ada batu nyasar masuk ke mobil atau tiba-tiba mobil terguling masuk ke kali, digulingin sama orang-orang yang mengamuk.

Setelah kejadian dag-dig-dug der Daia itu, akhirnya si none dateng sama adeknya, kita pun berangkat kesana. Jam 6 sampe sana, orang belom membludak, kita langsung nonton Soulvibe. Entah di stage apa, lupa judulnya. Setelah Soulvibe itu lah gue merasakan sebuah perasaan yang jarang gue rasakan di sebuah konser.

Ceritanya gue kelaperan tuh, skalian juga mau recharge tenaga untuk penampil utama, Joni Legenda.
Di Java Jazz Festival, gue harus beli sebuah kartu untuk makan. Semacam kartu Time Zone gitu yang isinya duit. Untuk membelanjakan duit maya yang ada di kartu itu, terdapat satu area food court yang isinya berbagai macam tukang makanan.

Yang namanya situasi konser, gue gak berharap banyak tentang makanannya. Biasanya makanan yang ada itu mahal dan sama sekali gak berkualitas. Nasi yang kering, makanan yang agak bau, dan terkadang ada bonus rambut didalemnya.


Seperti yang dialamin sama temen gue, Ipan, di konser Franz Ferdinand. Dia beli siomay lecek yang ditaro di bungkus plastik dengan harga 40 ribu rupiah. Mau kacangnya diimpor dari Uganda dan ikannya berupa duyung cakep kayak Ariel di Little Mermaid, tetep aja itu cuma siomay. Makanan tradisional yang seharusnya bisa dimakan di pinggir jalan untuk orang-orang berkantong cekak. Apalagi ditambah dengan kemasan berupa plastik aneh yang gak ada bagus-bagusnya, brasa pengen dibanting ke tanah aja itu siomay.

Pada Java Jazz kali ini, tentu aja gue gak berharap dapet makanan enak. Gue cuma pengen mengisi perut ajah. Entah dengan rasa apa pun. Keliling-keliling, banyak makanan aneh yang nyebut namanya aja gue gak bisa. Tentu aja gak bakal gue pilih. Pilihan jatuh ke sebuah nama restoran yang buka-nya cuma sore sampe malem di daerah Cempaka Putih. Lambangnya bulet dengan gambar bebek di tengahnya. Restoran itu bernama Bebek Kaleyo.

Gambar bebek sambel ijo yang terpampang di stand terlihat begitu menggoda mata, apalagi ditambah dengan harga 30 ribu yang menurut gue cukup rasional untuk seporsi bebek dengan nasi uduk dan teh botol. Tanpa ragu gue memesannya sambil sesekali liur menetes di bibir. Gak sabar dan terhipnotis gambar.

Setelah menunggu sebentar, makanan pun datang dan gue dengan liar menyantapnya. Saat pertama kali lidah gue berkenalan dengan cabe ijo yang bertabur di atas bebek itu, gue serasa ingin menangis. Ini konser paling manusiawi yang pernah gue datengin. Makanannya enak bener. Gue berasa jadi budak yang diajakin nongkrong bareng majikannya. Bebek cabe ijo yang gue makan itu sangat... sangat... enak dengan harga yang gak terlalu mahal. Rasa puas gue dan Ian, yang ikutan mesen Bebek Kaleyo juga, membumbung tinggi.

Dia bilang, "Baru sekali gue nemu makanan enak dan gak mahal di konser!!"

Bebek cabe ijo itu dengan sukses gue sikat sampai tandas, sampai tak bisa dimakan lagi oleh binatang apa pun karena tulangnya pun gue isap-isap kayak dot bayi. Kepedesan sedikit gak apa-apa, itu adalah kepedesan penuh dengan kepuasan duniawi. Akhirnya gue mengerti kenapa bebek diciptakan di dunia. Untuk jadi makanan enak kalo dicampur sama cabe ijo.

Kelar makan dan terpana-pana. Kita bergerak nonton si Joni Legenda (jadi kayak artis dangdut ye? John Legend deh kalo gitu). Sempet mampir sebentar di RAN sampai lagu bosan, abis itu bergerak ke antrian. Antriannya panjang untuk kelas C, kelas tempat gue bernaung. Emang yah kalo kelas terendah itu selalu di anak tirikan. Di saat para pemegang tiket kelas A dan B udah masuk ke dalem area konser, kita masih aja di luar ngantri bejubel. Gue malah ngeri kalo tiba-tiba muncul screen gede di tengah antrian dan panitianya bilang, "Untuk kelas C cuma bisa nonton di luar pake screen. Terima kasih dan selamat menikmati". Udah kayak nonton layar tancep di lapangan kelurahan.

Bejubelan, dorong-dorongan, dan sedikit teriakan mewarnai proses masuknya gue ke venue. Setelah menunggu kata sambutan yang cukup lama dan lagu-lagu dari John Mayer,album Battle Studies, muncul juga John Legend. Penampilannya keren sangat, suaranya gak pernah slip dan sound system terdengar sempurna. Namun, karena gue banyak gak belajar menjelang konser, seringkali gue gak tau lagunya. Tapi yang namanya musisi kelas dunia, gak tau lagunya pun gue masih bisa menikmati.

Bebek Cabe Ijo + John Legend = Puas!

Ada sedikit gak puasnya sih karena John Legend gak bawain salah satu hits-nya berjudul Someday. Perasaan yang persis sama saat konser Jamiroquai dimana mereka gak bawain Virtual Insanity. Tapi gak apa-apa lah. Saya maafkan karena penampilan ciamiknya. Apalagi lagu baru John Legend yang ada lirik, "Dream... dream... dream.. dream..". Liriknya sangat puitis dan romantis.

***

Eiya, inget-inget hari Jum'at gue punya cerita yang melenceng dari cerita di atas. Mumpung masih inget, mending ditulis. Kan menulis untuk mengingat. Hehee.

Minggu kemaren, di hari Jum'at, bertempat di daerah Anyer. Seperti biasa kan tuh, sebagai umat Islam yang taat kewajiban sholat Jum'at tentu gak boleh ditinggalkan. Untuk itu gue dan teman-teman yang sedang liburan sepakat mencari mesjid yang mengadakannya.

Mesjidnya terletak jauh dari penginapan, ada di dalem pelosok perumahan. Seperti rumah saya. Udah gitu harus ngelewatin Ibu Kebo yang ngamuk begitu anaknya kita godain, dimana dia bersiap-siap mau nyeruduk kita gitu. Untung gak ada yang pake kancut merah. Kalo iya, bisa diperkosa kita sama tante kebo.

Sesampenya disana, kita langsung duduk manis dan khotib mulai naik panggung. Pada awalnya, dia membaca doa panjang gitu. Masih terasa normal. Hal yang agak lucu mulai muncul saat dia menyampaikan materi.

"Saya akan menyampaikan tentangg... teee.. tang.. ga..."

"Teee..tang..ga adalah orang yang tinggal berdekatan dengan kita. Kita harus baik dengan meee...reka, karena mereka akan membantu kita saat mengalami kesusahan"

Yang konyol darinya bukan materi-nya, tapi dari cara penyampaian. Intonasi dia persis kayak anak SD yang tiba-tiba disuruh baca materi yang ada di buku pelajaran di depan kelas. Dalam kasus ini, buku yang disuruh baca adalah buku PPKn. Keadaan itu semakin konyol saat materi berikutnya disampaikan.

"Kalau kita masak daginggg.... sebaiknya perbanyak lah kuahnya. Sehingga kita bisa membagi kuah daging itu ke tetangga"

Asli, gue pengen ngakak kalo gak inget peraturan gak boleh berkata-kata saat khotib berbicara. Set. Sadis amat tetangga dikasih kuah. Gak kebayang kalo misalnya tiba-tiba gue dateng ke tetangga sebelah gue, ngetok pintu. Saat itu mungkin tetangga gue lagi mengerjakan kerjaan super penting yang dapat mengubah hidup ke depannya. Dengan tergopoh-gopoh dia membuka pintu depan untuk menyambut gue. Peluh pun masih menetes, sisa dari kegiatan lari-lari untuk ngebuka pintu, semua itu dilakukan demi gue. Tetangganya yang datang bertandang ke rumah.

Saat pintu dibuka gue bilang, "Assalamualaikum, ini kuah daging sisa untuk Ibu"

Bisa-bisa gue dikeprok pake bangku Chitose.

***

Well, that's all for today, kejadian-kejadian yang terjadi kemarin. Kejadian-kejadian seperti itu selalu membuat hidup gue menjadi berwarna. Oiya, akhir-akhir ini hidup gue menjadi semakin berwarna atas andil seseorang. Perasaan senang yang udah lama gak gue rasain itu akhirnya datang juga. Cerita yang akan gue bahas nanti, saat semua terlihat terang dan bersinar jelas.



4 komentar:

Anonim mengatakan...

Oiya, akhir-akhir ini hidup gue menjadi semakin berwarna atas andil seseorang. Perasaan senang yang udah lama gak gue rasain itu akhirnya datang juga,,,

bisa diperjelas sedikitkah saudara mirzal???
hehehehe

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@anonim : nanti, setelah semua jelas dan terang benderang. hahaaa.

Anonim mengatakan...

ya ampuuun..gw jd inget masa2 itu ka..ke golden truly..dgn hunting mainan2 macam itu pula..

cieee...kyknya ada yang lagiii.......:p
semoga cepat menjadi jelas dan terang yah..hohoho:)

mas awe mengatakan...

Alhamdulillah ternyata lo mendengar khotbah jumat dengan seksama.. baguslah dari pada ketiduran.. =D

"akhir-akhir ini hidup gue menjadi semakin berwarna atas andil seseorang, perasaan senang yang udah lama gak gue rasain itu akhirnya datang juga"

kalo udah terang-benderang dishare dong juragan..