Selasa, Agustus 07, 2012

1/4 Abad

25 tahun, 300 bulan, 9.000 hari, 216.000 jam, 12.960.000 menit, dan 777.600.000 detik.

I'm getting older than before.

Tak terasa, sudah 25 tahun keberadaan gue di planet bernama bumi ini. Usia dimana keberadaan mimpi seperti berada di atas kertas tissue basah. Tipis, rapuh, dan di bawahnya menunggu jurang realita yang berperan sebagai pasir hisap, mengubur mimpi sampai ke titik nadir,  melapisi-nya dengan logika dan nalar.

Menggali mimpi seperti mengambil minyak bumi. Butuh modal mahal, perhitungan tepat, dan keberanian. Sebagian orang berkata kalau mimpi itu hanya imajinasi berlebih, suatu sikap kekanak-kanakan. Ya, sebagian orang. Sebagian orang yang belum berani mengambil resiko untuk menggali potensi lebih di dalam dirinya. Menurut gue, seseorang akan mati saat mereka berhenti bermimpi. Hidup terkekang rutinitas, menjalani ala kadarnya, dan menanti mati di ujung jalan.

Harapan di tahun ini tidak muluk-muluk. Gue berharap bisa menjalani langkah demi langkah untuk dapat mewujudkan mimpi menjadi nyata. Menikmati proses-proses yang harus dijalani, walaupun hanya sebesar langkah kaki bayi.

... untuk menjadi kuat dan bermanfaat


You may say 
I'm a dreamer, but I'm not the only one
(John Lennon - Imagine)






mari kita lanjut...

Rabu, Agustus 01, 2012

Review Batman : The Dark Knight Rises

Hari Sabtu kemarin akhirnya gue kesampean juga nonton The Dark Knight Rises (TDKR) di Setiabudi One. Sebuah film yang sangat ditunggu-tunggu, mengingat sukses film sebelumnya, The Dark Knight (TDK), yang mengusung Joker sebagai musuh Batman. Karakter Joker bahkan bisa dibilang lebih kuat dibandingkan Batman itu sendiri. Prinsip, pemikiran, dan kegilaan dia dijelaskan dengan detil, sampai-sampai terjadi tragedi penembakan pada pemutaran perdana TDKR di Colorado yang pelakunya diduga dipengaruhi oleh karakter Joker dan berusaha menampilkan tokoh tersebut di dunia nyata.

Tentu saja dengan kualitas film pendahulu dan fakta bahwa sekuel tetap digawangi Christoper Nolan, ekspektasi gue akan TDKR sangat tinggi. Apalagi kalau dilihat dari trailer maupun teaser yang keluar, sepertinya film TDKR dapat menjadi sebuah penutup yang kolosal untuk franchise Batman versi Nolan.

Sebagai penikmat film, gue mau mencoba menulis review seadanya tentang TDKR. Dipandang dari seberapa terbiusnya gue saat menonton film tersebut tanpa muncul pertanyaan-pertanyaan dan pikiran yang mengganggu saat menonton film. Untuk kualitas, sudut pengambilan, atau hal-hal sinematografi lainnya, gue serahkan pada ahli-ahli dunia perfilman untuk mengkritisi hal tersebut.

README:

Disclaimer :
Review ini sarat spoiler. Jadi untuk yang belum nonton film ini diharapkan jangan dulu membaca agar uang yang dikeluarkan untuk nonton di bioskop, bandwith yang dipakai untuk download, atau duit yang dipakai untuk beli DVD bajakan, tidak terbuang sia-sia.


TDKR mengusung Bane sebagai musuhnya, karakter yang pertama kali muncul pada komik Batman : Vengeance Of Bane #1 yang dirilis pada Januari 1993. Sebelum di TDKR, Bane juga pernah muncul pada Batman & Robin (1997) sebagai anak buah Mr. Freeze. Bane pada film tersebut digambarkan hanya berfungsi sebagai senjata tidak berotak dengan mengandalkan fisik yang besar (segede gunung Merbabu) dan kekuatan yang melebihi kuli belerang Kawah Ijen.

Pada film TDKR, Bane berperan sebagai otak kejahatan yang berusaha menghancurkan Gotham dari bawah tanah, memanfaatkan hilangnya Batman yang telah menjadi musuh publik #1 karena dituduh sebagai pembunuh Harvey Dent (lihat TDK). Rencana dimulai saat Dagget, yang dimanfaatkan Bane sebagai sumber dana, memerintahkan Catwoman yang sexy, cakep, semlohei, bohai, suit suitt wohooo.... ups, maafkan saya karena hilang kontrol, untuk mengambil sidik jari Bruce Wayne.


Puasa dilarang masuk:

sedikit intermezzo


Pergerakan Bane dimulai setelah sidik jari tersebut didapat. Dia mengacak-acak Wall Street, melakukan transaksi-entah-apalah-itu yang pada intinya membuat Bruce Wayne bangkrut dengan memanfaatkan sidik jari yang telah didapat sebelumnya. Pada saat mau kabur, tiba-tiba Batman mendadak muncul dari sarangnya, menggunakan motor canggih yang menjadi trendsetter penggunaan ban besar pada motor bebek di Indonesia.

Singkat kata karena Batman muncul, polisi-nya jadi galau. Yang tadinya ngejar Bane malah jadinya ngejar Batman. Padahal udah jelas Bane sedang berusaha kabur setelah ngacak-acak Wall Street. Tampaknya pemikiran Polisi Gotham begitu bodoh sehingga semua polisi dipakai untuk mengejar Batman tanpa mempedulikan suatu kejahatan yang sedang berlansung. Bane akhirnya bisa melenggang cantik, kabur menuju tempat persembunyiannya.

Skip, skip, skip, Batman berhasil dijebak Bane dan digebukin sampai topengnya hancur berantakan. Setelah itu, cara eksekusi Bane untuk Batman terlihat sangat aneh. Ketimbang langsung membunuh Batman, dia lebih memilih mengasingkan Batman di penjara tempat dia dulu dengan sel yang tidak dikunci, rute kabur yang jelas, dan seorang dokter ahli tulang. Motif Bane menempatkan Batman disini tidak jelas, apakah mau mengasingkan atau justru melatih Batman.

Saat Batman / Bruce Wayne diasingkan di penjara-entah-dimana itu, Bane sukses mengobrak-abrik kota Gotham. Yang pasti, sebelum mengobrak-abrik dia sempat narsis dulu mejeng di stadion Football sama di depan penjara. Ngebacot mau mengembalikan pemerintahan di tangan rakyat. Well, sebuah orasi yang tidak sesuai karena pada akhirnya Bane juga yang berkuasa, bukan rakyat. Semua polisi dijebak di dalam gorong-gorong. Yang gue maksud semua itu... SEMUA polisi satu kota ada di dalam gorong-gorong. Jenius. Adalagi pengadilan rakyat yang dipimpin Scarecrow. Hmm. Intinya Bane ini mau bikin Gotham tanpa hukum atau menciptakan hukum sendiri? Entahlah.

Selain membuat kacau Gotham, Bane juga merebut senjata-senjata Batman. Batmobile versi tank yang ada di Batman Begins sampai TDK direbut dan dipakai sebagai mobil patroli kota. Yang mengejutkan, penduduk Gotham tidak sadar juga kalau Bruce Wayne adalah Batman, padahal itu mobil jelas-jelas yang dipakai dia saat ngelawan Joker ataupun Scarecrow. Bahkan komisaris Gordon yang ikut bertempur bareng Batman tidak sadar. Yah, ini menggambarkan tingkat intelegensi polisi Gotham yang semuanya terjebak di dalam gorong-gorong. Komisaris nya aja begitu, apalagi anak buahnya.

Apa kabar si Batman? Ternyata dia semakin kuat di penjara, baik secara fisik maupun mental. Tentu saja begitu sudah siap, dia langsung ngacir keluar dari penjara. Cara keluarnya juga udah dikasih tau sama Bane, tinggal manjat dinding yang bentuknya melingkar seperti sumur. Hap hap hap, Bruce Wayne pun keluar. Dan hap hap hap, sudah sampai Gotham. Naik apa? Mungkin dia bertemu Doraemon dan meminjam Pintu Kemana Saja. Mungkin juga dia ketemu Superman dan minta dianterin. Mungkin juga... Ah, terlalu banyak kemungkinan itu. Namanya juga orang kaya.

Begitu sampai Gotham, Batman mulai beraksi. Tentu saja sebelum meringkus Bane, dia harus mengumumkan keadatangannya. Itu lebih seru dibanding dateng diam-diam dan langsung menjinakkan bom yang diaktifkan Bane untuk menghancurkan seisi kota Gotham. Logika menarik untuk seseorang yang (biasanya) beraksi di kegelapan. Canggihnya lagi, setelah memanjat dinding penjara dan berangkat ke kota Gotham, Batman sempet-sempetnya ngolesin bensin, minyak tanah, atau apapun cairan yang mudah terbakar ke sebuah gedung. Membentuk lambang Batman dari api, segede Nunung Srimulat.

Puas pamer lambang, Batman lanjut ke kota dan berantem ala anak STM dengan Bane. Disinilah semuanya terkuak. Ternyata Bane cuma alat. Semua rencana-rencana itu bukan dia yang bikin. Itu dibikin oleh anak cewek nya Ras Al Ghul dan Bane rela melakukan itu semua karena dia cinta sama dia. Bah! Ibarat dijebak nonton Twilight.

Dari semua kelebihan dan kekurangan, figur penjahat itu lah yang terlihat paling mengganggu. Seorang pria yang digambarkan kuat, tangguh, dan kejam ternyata seseorang yang lemah lembut yang rela melakukan apa saja untuk pujaan hati-nya. Atau mungkin juga dia kurang beruntung karena hadir setelah Joker, yang berbuat kejahatan hanya karena dia senang keadaan chaos, tanpa dipengaruhi ideologi apapun dan dikendalikan oleh siapapun. Joker juga tidak berniat membunuh Batman karena, "Too much fun to die."

Yah, mungkin salah gue juga menetapkan standar lebih untuk film Nolan yang satu ini. Seharusnya sebelum nonton gue cukup menetapkan standar film action Jason Statham dan berkata, "Why so serious?"


mari kita lanjut...

Kamis, April 12, 2012

Belalang

Ilmu itu seperti lautan. Sebanyak apapun gue mengambilnya, ilmu tidak akan pernah ada habisnya. Di usia muda, saat daya tangkap gue masih tokcer dan waktu masih cukup banyak tersedia, gue memutuskan untuk menambah kompetensi, melanjutkan kuliah ke strata 2.

Proses pencarian universitas yang kredibel dan bisa (bayar) kredit dimulai. Ada universitas yang dibilang nomer satu di Indonesia, tapi biaya kuliahnya selangit. Gak kuat. Ada juga universitas yang memperlakukan kuliah seperti kursus jahit menjahit, 6 bulan bisa dapet gelar, lewat dari waktunya-uang kembali. Usut punya usut, dengar mendengar, dan maaaf memaafkan, pilihan gue jatuh ke Universitas Trisakti (UT). Dari segi biaya tidak terlalu menguras kantong, syarat-syarat yang tidak ribet, dan jadwal kuliah fleksibel.

Untuk bisa masuk ke UT, gue harus menjalani beberapa macam tes terlebih dahulu. Mulai dari tes tertulis Bahasa Inggris, Ekonomi, Matematika, Statistika, dll. sampai dengan tes wawancara dengan dosen. Sialnya, gue gak lulus tes Matematika sehingga diwajibkan untuk ikut kelas matrikulasi, semacam kelas pendalaman untuk orang-orang yang nilai-nya masih kurang.

Sebenernya tes-nya gak begitu susah, statistika aja gue bisa lolos dengan sukses. Padahal pas ngambil kuliah statistika dulu, pengetahuan gue cuma mean, median, modus, dan melirik jawaban teman. Khusus matematika, ada satu soal yang menimbulkan rasa greget di hati sanubari birahi. Soal-nya seperti :

Saat istirahat sekolah, Amir mendorong tembok. Apa yang dirasakan Amir?

Tentu saja pertanyaan ini menggelitik rasa kemanusiaan gue. Normalnya, seorang anak yang istirahat sekolah itu biasanya jajan ke kantin, maen gerobak sodor, atau bercengkrama dengan teman-temannya yang lain. Tapi lihat apa yang dilakukan Amir? Dia mendorong tembok. Sendirian.

"Tembok, cuma kamu yang mau dengerin aku..."


Analisis gue, Amir adalah seorang anak yang selalu di bully di sekolahnya. Celananya dipelorotin, duitnya dipalakin, dan disuruh ngangkatin tas. Tidak ada satu orang pun yang berani berteman dengannya, karena takut menjadi sasaran bullying anak-anak lain. Dia hanya bersosialisasi dengan benda mati dan menganggap tembok sebagai teman baiknya. Menurut gue perasaan Amir : Tercabik-cabik. Lihat betapa sedihnya wajah si Amir. Dia adalah anak yang butuh pertolongan, bukan dibikinin soal.

Soal tes masuk UT mirip-mirip dengan pemaparan di atas, bentuknya kurang lebih seperti ini :

Ada 5 orang : Rudi-Andi-Susi-Jaelani-Nisa

Mereka ingin memarkirkan mobil mereka, dengan syarat :
* Susi tidak mau di sebelah Nisa
* Jaelani hanya mau parkir di urutan ke-3
* Andi hanya mau parkir di sebelah Susi
* Rudi mau dimana saja, asal bukan di akhir
* Nisa hanya mau di urutan pertama dan tidak mau di sebelah Andi atau Susi

Ini menggambarkan sebuah hubungan persahabatan yang sangat tidak harmonis. Terjadi keretakan dan friksi di antara mereka. Andi dulu pernah pacaran dengan Nisa tetapi selingkuh dengan Susi. Jaelani seorang paranoid, selalu mau terlindungi oleh orang lain. Rudi merupakan orang ambisius yang tidak ingin menjadi yang terakhir dalam kondisi apapun, dimanapun, kapanpun.

Kemudian saat susunan parkir tertata rapi dan sesuai dengan keinginan masing-masing, tiba-tiba Nisa mau deket-deket sama Rudi, Susi selingkuh sama Jaelani dan mereka berdua gak mau deket-deket Andi, sedangkan Rudi pusing dengan cekcok yang terjadi sehingga dia cuma mau di paling akhir. Pelik sekali permasalahan mereka.

Kalau saja gue jadi tukang parkir yang disuruh menghadapi keadaan seperti itu, gue bakal berangkat ke Korea Utara, beli bom nuklir, naikin ke pesawat B2 Stealth Bomber, dan menjatuhkan bom tersebut tepat di muka mereka tepat setelah gue berteriak, “LO MAMAM INI BOM!” Niscaya dunia akan kembali aman, tentram, dan damai.

Dan dunia pun kembali tersenyum

Saat imajinasi gue mengutuk kelima orang tersebut, waktu semakin habis dan kandas. Masih banyak soal-soal lain yang belum terjawab dengan baik. Pada akhirnya gue bisa mengandalkan jurus rahasia yang telah lama tak terpakai. Jurus yang sangat efektif bila dipakai saat menghadapi soal-soal pilihan berganda. Jurus yang mengantarkan saya masuk SMA 68 dan Administrasi Fiskal. Mantra dari jurus tersebut adalah :

Cap cip cup gerabang kuncup
Kuda lari di atas genteng
Mak lampir pake baju rombeng
Cap cip cup

Hasilnya, gue harus ikut kelas matrikulasi Matematika. Jelas. Karena hampir 80% jawaban soal didapat dari jurus rahasia yang telah diwariskan secara turun temurun oleh penduduk sekitar Gunung Nancep tersebut. Imbasnya, gue harus merogoh kocek sedikit lebih banyak dan harus berkorban waktu 1 bulan untuk mengikuti kelas matrikulasi.

***
Gue dateng telat saat hari pertama kelas matrikulasi. Sialnya, saat baru sampai di kelas sehabis lari-larian naik busway dan masih dalam tahap mengatur napas, dosen pengajar sudah nanya, “(a-b)(a-b)(a-b) berapa?”

Respon maksimal yang bisa diberikan saat keadaan itu hanyalah,”Eeehhh...”

Tanpa rasa iba, tenggang rasa, dan gotong royong, dosen mencecar pertanyaan selanjutnya, “SMP kemana aja? Kalau segitiga Pascal tau?”

Otak gue sudah berteriak-teriak, “Mantan bek Arsenal!” Tapi tentu saja bukan itu jawaban yang diinginkan dosen. Pertama, ini bukan kelas Penjaskes. Kedua, setau gue Pascal Cygan enggak pernah nerbitin buku matematika apapun, walaupun kepalanya botak. Ketiga, pandangan dosen yang intimidatif membuat gue kembali bersuara, “Eeehhhh...”

“Makanya kamu ikut matrikulasi,” kata Bapak dosen sambil ngeloyor pergi. Buyar sudah niat gue menjadi seseorang yang berwibawa di tempat yang baru. Kalau begini caranya, sama padang sama belalang namanya. Tidak apa-apa, penampilan boleh sama tapi tidak dengan kemampuan. Semoga bisa menjadi belalang yang dapat meloncat lebih tinggi dari belalang-belalang lainnya.

Semoga keputusan yang diambil ini akan jadi fondasi yang kokoh untuk kehidupan di masa mendatang.



mari kita lanjut...

Selasa, Januari 10, 2012

Yellow New Year

Hutan rimba jalan Pantura tengah telah dilewati. Kita semua sepakat untuk berhenti di pom bensin untuk ngeregangin kaki dan buang muatan. Jam menunjukkan pukul 03.40, berarti udah hampir 8 jam gue nyetir. Mata udah kriyep-kriyep, tangan gemeteran, terpaksa terjadi pergantian supir, daripada nantinya gue khilaf nabrak kaki genderuwo. Pengalaman gue yang sekarang belum cukup untuk jadi supir AKAP. Oleh karena itu kendali mobil diserahkan kepada Heru, sang tuan rumah.

“30 menit lagi nyampe ini. Kita lewat jalan pintas,” kata dia sambil membelokkan mobil ke arah kanan, di suatu persimpangan jalan. Kita melewati sawah-sawah dan jalanan ½ kali lebih sempit, hanya muat untuk dua mobil saja. Berliku-liku kita menyusuri jalan itu. Keadaan gelap total dan di setiap tikungan gue berharap-harap cemas bakal ada tuyul ngagetin kayak di film Jelangkung yang pertama. Udah gitu di keadaan seperti ini Tatak, yang semobil dengan gue, tiba-tiba nafsu pengen cerita setan yang pernah ngikutin Gimbal dari Mekdi Salemba. Sialan. Ditambah lagi karena keadaan menjelang Subuh, terkadang ada Ibu-ibu yang mau sholat ke Musholla setempat, berjalan memakai mukenah. Untung aja kita gak bawa satpam. Kalau bawa, itu ibu-ibu udah ditendang pake sepatu boots.

“Nah, sampe!” sahut Heru begitu sampai di pemandian Air Panas Sankanurip, tempat persinggahan pertama kita. Tak terasa sudah 1 ½ jam sejak Heru bilang kalo perjalanan tinggal 30 menit lagi. Ternyata estimasi waktu dan jarak orang Sunda dan Jawa gak jauh berbeda. Dulu pas liburan ke Jogja gue pernah nanya arah museum Ullen Sentalu, “Oh, deket itu. Tinggal jalan lurus, 15 menit lagi” sembari nunjuk pake jempol. Begitu gue ikutin, hampir sejam jalan, itu museum gak ketemu-ketemu. Besokannya begitu kita balik kesana, dari titik tempat gue nanya ke museum itu ternyata emang cuma 15 menit. Bapak itu tidak salah. Hanya saja dia lupa menambahkan, “… kalo naik mobil.”

Pemandian air panas Sankanurip memiliki dua jenis kolam. Kolam pertama bebas dipakai publik, siapa saja boleh masuk asal membayar uang masuk sebesar 8.000. Kolam kedua adalah Kolam Executive, berupa ruangan tertutup yang hanya memuat 4-5 orang per kamar. Kita jelas memilih kolam umum. Untuk apa bayar 30 ribu cuma buat nikmatin air panas? Lagian kalo denger cerita tentang penggunaan ruangan itu, gue ngeri kepeleset karena lantainya licin terkena lendir.

Kolam umum ini terdiri dari tiga kolam. Kolam air dingin yang besar dan ada perosotannya, kolam air panas yang kecil, dan kolam air panas yang besar. Di kolam kecil, gue bisa menikmati nyamannya merendam kaki yang pegel-pegel karena nyetir di air panas. Asli, segernya luar biasa. Segala macam pegel seperti dihisap keluar. Nyaman sekali rasanya. Puas berendem di kolam kecil, gue menuju ke kolam besar yang baru selesai dikuras. Karena air belum terisi penuh, gue bisa memanfaatkan titik-titik pancuran untuk mijet punggung dan kepala. Benar-benar relaksasi yang menyenangkan.

yang item dipojok kanan atas itu sama sekali bukan penampakan

Selesai rendam merendam, kita sowan dulu ke rumah Heru untuk sarapan. Kita semua langsung kalap. 8 jam lebih di perjalanan membuat rasa lapar sangat memuncak. Kemudian seselesainya makan, kita turun ke kota Kuningan, kita turun ke rumah Heru lainnya (rumah Heru dimana-mana), tempat dimana kita menginap. Setelah itu molor. Perut kenyang, badan pun rileks.


Sekitar jam 2 siang kita balik ke rumah Heru yang pertama, mau ketemu nyokapnya. Basa basi ngalor ngidul sebentar, jam 4-an kita cabut ke gunung Ciremai. Di gunung Ciremai ini, sudah banyak orang yang berkemah. Sepertinya mereka ingin merayakan tahun baru di tengah hutan. Mau ikutan mereka, kita gak ada persiapan. Masak bangun tenda pake plastik Indomaret? Gak mungkin. Tujuan kita kemari bukan untuk ikut-ikutan kemah, tapi mau ke curug.
Di jalan menuju Curug, gue menemukan tenda yang mencurigakan. Dari dalam terdengar suara mendesah. Untung aja Ibu gue selalu mengajarkan untuk berpikir positif. Kalau enggak, tenda itu bakal gue tebalikin dan bikin 3GP berjudul ‘Birahi Ciremai’. Tapi tentu saja gue gak boleh suhudzon, mungkin aja mereka lagi pesta Maicih atau lagi nge-jus cabe rawit.


sudah jelas 'DILARANG MESUM', kenapa harus suhudzon?

Ternyata di Curug pun udah ada dua pasangan lagi foto-foto genit macam pre wed. Cowoknya meluk dari belakang, pala ceweknya mencong ke belakang sambil megang rambut. Berasa Anang - Ashanti, KD - Raul Lemos, Raffi - Yuni, atau bahkan Sarah Azhari - Pelatih Filipina. Yang satu duduk di pinggiran, saling menyender. Begitu ceweknya keilangan keseimbangan, cowoknya panik dan memegang tangan si cewek. Setelah itu mereka cekikikan. Dunia serasa milik ber empat, yang lain cuma numpang naik diatas atep.

Pada saat itu keadaan cuaca sedang mendung dan sisa-sisa rintik hujan masih cukup deras turun ke bumi. Udara disitu aja udah dingin, apalagi air curug. Pada awalnya kita semua gak mau masuk ke dalam air. Takut hypothermia. Setelah sampai disana, entah kenapa kita begitu tergoda melihat jernihnya air. Dimulai dari Aan, satu persatu dari kita masuk ke kolam dan mendekati air terjun. Persetan dengan hypothermia. Begitu masuk ke dalem air, kaki serasa membeku. Masuk setengah badan, dinginnya makin gak keruan. Apalagi saat mendekati air terjun, badan serasa ditusuk-tusuk jarum. Menggigil kedinginan.



Lama kelamaan, badan mulai menyesuaikan diri dengan suhu air. Gue bisa pelan-pelan keliling kolam walaupun hanya setengah badan. Dari pinggiran kolam, datang serombongan alay sekitar, dengan rambut seperti Neymar salah cat, yang pengen ikutan nyemplung. Ngeliat kita yang jalan di kolam seperti biasa saja, mereka sok-sokan loncat indah ke dalem kolam dengan hanya memakai celana pendek. Seperti kucing ditendang ke comberan, mereka langsung panik begitu ngerasain dinginnya air. Walhasil mereka jongkok di pinggiran sambil menggigil kedinginan. Selepas berenang, kita kembali ke Kota untuk istirahat sebentar, nyimpen tenaga untuk begadang nanti malem.


***

Pukul 20:00 kita cabut lagi dari rumah. Mau makan malem di RM Ulah Lali. Menu malam itu adalah : Sate kambing, tunjang sapi, gulai, dan sop kambing. Tinggal tambah duren, panadol, dan bir bintang, niscaya kepala kita akan meledak. Malam itu bener-bener pesta kolesterol. Sekitar 60 sate kambing dan 20 sate ayam ludes termakan. Sate-nya empuk dan gurih. Apalagi ditambah kuah gulai dan sop, makan malam itu terasa begitu sedap di lidah. Perut sudah kenyang, saatnya tahun baruan!

Pada awalnya Heru ngajakin kita ke lapangan Mas’ud karena ada panggung disana. Harapan gue, panggung dangdut cengdoleng-doleng. Ada penyanyi semok dengan bapak-bapak mabok yang jogetnya kayak gak punya tulang. Taunya yang ada disana Semut Band yang bawain lagu Metallica. Bah. Giliran ngarepin lagu metal, munculnya dangdut. Giliran ngarep dangdut, munculnya metal. Yang mengherankan, begitu lagu berubah menjadi Wali, penonton malah lebih gencar ber-moshing, sampai-sampai harus disemprotin air melalui mobil pemadam kebakaran.

KRONOLOGIS PER LIRIK :

[Ibu bapak punya anak] Mereka loncat-loncatan
[Siapa yang punya anak] Penonton merangsek ke bibir panggung
[Bilang aku aku yang telah malu] Mulai moshing dan banyak alay digendong sambil joget-joget
[Sama teman-temanku] Blangwir mulai nyemprotin muatannya
[Karena cuma diriku yang tak laku laku] Mereka terlihat semakin senang. Mungkin karena emang jarang mandi.

Susasana sangat ramai sekali. Motor dimana-mana. Di jalanan, trotoar, pot kembang, dan lapangan. Cuma di langit aja yang steril dari motor. Semoga aja gak ada varian motor terbang dalam waktu dekat ini. Dandanan mereka pun bermacam-macam. Ada yang pake kaos yang sobek-sobek punggungnya, celana hot pants yang nyaris seperti kolor pants, dan dempul yang tebalnya bisa menutupi lubang idung. Kita sendiri merasa gak nyaman di tempat itu. Terlalu ramai. Oleh karena itu kita cabut ke alun-alun yang letaknya sangat dekat dari rumah Heru. Jauh-jauh ke Mas’ud, nyampenya di deket rumah juga. Mending sih, daripada masuk angin disemprot blangwir.

Alun-alun juga ramai dikunjungi masyarakat sekitar. Di pinggir jalan terlihat abang martabak yang sedang diintimidasi oleh pembelinya, saking bingungnya dia menghadapi pembeli yang begitu banyaknya. Di ujung alun-alun terdapat satu tempat yang bentuknya seperti Colloseum Roma. Di pinggirnya ada semacam ruangan berlampu pijar warna kuning dengan meja di dalamnya. Gue kira itu DJ, soalnya abang-abang di balik meja itu make topi dan kacamata item dengan tangan yang terlihat sibuk melakukan sesuatu di meja dengan kepala agak miring ke samping. Eh, taunya cuma tukang kopi dan ‘Naget’ yang lagi nyeduh Wedang Jahe.

Sebenarnya tidak ada acara apapun di tempat ini. Cuma ada orang-orang yang duduk berkeliling sambil ngobrol, pacaran, nyanyi-nyanyi, dan sesekali nyalain kembang api. Dan bagi orang-orang yang nyalain petasan, mereka bisa jadi selebritis selama 3 menit atau lebih, tergantung kembang api tersebut. Begitu petasan dinyalain, masyarakat sekitar langsung heboh teriak-teriak dan begitu habis, mereka sontak tepuk tangan. Seperti nonton Cirque du Soleil saja.

artis 3 menit


Kita sendiri nyanyi-nyanyi sambil main gitar Karolina kesayangan gue. Dari lagu Rock sampe lagu galau pungkas kita bawakan. Sesekali bartender yang berbentuk mas-mas bertopi hitam lewat mengantarkan Kopi Luwak, campuran biji kopi sama boker luwak. Yang pacaran terlihat asik berpelukan menatap langit, sambil sesekali cekikikan asik sendiri. Gue gak ngerti mereka liat apa. Ada juga yang cuma duduk bengong sendirian sambil lempar-lemparin petasan korek. Mungkin petasan korek itu dia analogikan sebagai masalah dia di tahun 2011, "Utang belom lunas, cewek selingkuh, jemuran diembat maling, pantat panuan, meledak lo semua!!"



Heboh. Itulah yang gue rasakan saat merayakan tahun baru di daerah yang sangat jauh dari rumah, dibawah mandian hujan mesiu, dikelilingi teman-teman, dan berada ditengah lingkungan yang benar-benar baru. Perjalanan kali ini menawarkan suatu hal yang baru dalam hidup gue. Akhirnya gue bisa merasakan jalur pantura dan perjalanan kali ini adalah yang terpanjang selama gue bisa bawa mobil.

Tahun baru, pengalaman baru, dan semoga segala macam hal baru lainnya akan muncul di tahun 2012 ini.


NB:
Berkaca dari film 2012. John Cusack menginspirasi gue untuk belajar nerbangin pesawat tahun ini. Let’s play Flight Simulator.



HAPPY NEW YEAR!
mari kita lanjut...

Kamis, Januari 05, 2012

Pantura Tengah

Jalan gelap yang berliku-liku, tak tampak apapun di samping kiri dan kanan jalan. Satu-satunya sumber penerangan jalan hanyalah lampu depan mobil yang terangnya tak seberapa. Sesekali gue menyalakan lampu jauh dan terkejut karena tiba-tiba jalanan membelok tajam, jembatan, komplek kuburan, atau motor bernyawa tujuh belas yang tidak memakai lampu di daerah yang sangat gelap seperti itu. Jalan yang disebut jalan tengah Pantura.

Kira-kira selama 3 tahun ke belakang, gue selalu menghabiskan malam tahun baru bersama teman-teman kuliah. Dua kali di rumah Jihan dan satu kali di Taman Menteng. Untuk tahun ini, kita mengalami kebingungan untuk pergi kemana. Rencana tahun kemarin sih, kita berniat mau ke Monas atau Ancol. Namun membayangkan kerumunan orang yang bergumul disana membuat kami malas. Apalagi setelah ngeliat berita bahwa diperkirakan bakal ada 300.000 orang menuju dua tempat itu. Apa enaknya ngerayain tahun baru sambil rebutan tempat dan napas kayak begitu? Sudah cukup lah sehari-hari di busway.

Seminggu sebelum tahun baru, seorang pria arab bernama Ojan melontarkan wacana untuk tahun baruan di Kuningan, kampung halamannya Heru. Ternyata usul itu disambut baik oleh warga ADM 2005 dan setelah dikumpul-kumpul, ada 16 orang yang berminat ikut dengan 3 mobil yang ada.

Manusia berencana, Tuhan yang memutuskan. Dari 3 mobil itu, 2 mobil mendadak labil. Livina item kebanggaan gue bonyok kena tabrak batu oleh abang gue dan asuransinya belum diperpanjang. Mobil Baleno punya Heru mesinnya bermasalah. Untuk anggotanya, satu persatu bertumbangan. Ada yang kecapekan, ada yang kompak nemenin pacarnya yang kecapekan, ada yang ikut pelantikan pencinta alam, dan berbagai macam alasan lainnya.

Setelah dilakukan rekapitulasi ulang pada H-1 sebelum keberangkatan, akhirnya terbentuklah satu rombongan yang terdiri dari 10 orang dengan memakai mobil gue dan Gimbal. Ternyata bonyok yang dialami mobil gue gak seberapa parah dan perpanjangan asuransi-nya sudah dalam proses, sehingga saat gue berada di perjalanan asuransi udah meng-kover semua kejadian yang (jangan sampai) terjadi. Kuningan, kami datang!

Seperti biasa, janjian udah dibikin secepat mungkin di Mekdi Salemba, 19:00 WIB. Tetep aja makenya WITA. Walhasil, jam 9 malem baru berangkat. Itu pun kita masih berhenti di rest area tol Cikampek untuk nunggu rombongan mobil Gimbal yang ngejemput Heru di Bekasi. Ditambah ngobrol-ngobrol dan nonton Transformers di Torabika Café, jam setengah 11 kita baru bener-bener berangkat ke Kuningan.

Sesampainya di gerbang tol Cikampek, keadaan udah sangat macet. Bahkan 3 dari 4 jalur yang ada dipakai untuk kendaraan yang menuju gerbang tol Cikampek. Udah gitu masih ada aja orang yang nekat make jalur ke-4. Edun. Karena orang-orang sableng macam itulah kemacetan terjadi, masing-masing orang sibuk rebutan jalur. Jarak yang seharusnya dapat ditempuh dalam waktu 5 menit bertambah menjadi 30 menit, imbas dari kemacetan panjang.

Pada perjalanan ke Kuningan sebelumnya, begitu keluar dari gerbang tol Cikampek gue belok ke kiri, lewat jalur Pantura yang terkenal akan karaoke Nur Hasanah 1, 2, dan 3. Sebuah tempat karaoke dengan nama pesantren. Kali ini gue diarahkan Heru ke kanan, “Lewat jalur tengah Pantura kan, hutan. Pantura pasti macet panjang. Gue pernah 8 jam nyampe Kuningan pas keadaan kayak gini” sahut Haru dengan logat Sunda-Kuningan kental yang memakai qolqolah untuk huruf ‘H’ dan ‘K’. Begitu belok kanan, hanyalah gelap yang terlihat. Gelap, gelap, dan gelap. Seperti kata Efek Rumah Kaca : Gelap adalah teman setia dari waktu-waktu yang hilang (ERK-Sebelah Mata).

Jalan tengah Pantura semakin lama semakin absurd. Ditambah dengan banyaknya bis yang sliweran dari arah sebaliknya, jalanan ini jadi semakin menantang dan berbahaya. Dari yang tadinya gue ngantuk di jalan tol, mendadak jadi seger begitu masuk jalan ini. Konsentrasi penuh agar tidak nyemplung ke pinggir jalan. Jalannya naik turun. Begitu turun dan nyalain lampu jauh, tiba-tiba jalanan mendadak belok 90 derajat. Bikin gue kelimpungan nyetir.

Karena jalan sudah semakin gelap dan sunyi. Gue memutuskan untuk nyari siaran radio. Siaran apapun lah yang masih bisa ditangkap, berhubung tempat CD gue hilang entah kemana. Muter-muter channel, radio malah ngangkep satu siaran yang isinya orang ngomel-ngomel pake bahasa Sunda dengan intonasi seperti lagi merapal mantra pemanggil setan. Kampret. Adalagi macam radio lawak dengan bahasa Sunda. Kayaknya sih kocak, penontonnya terdengar kayak lagi ketawa sampe usus dua belas jarinya keluar lewat idung. Tapi tetep aja, gak ngarti.

Muter-muter lagi, berhenti di 94.1 FM, siaran lagu dangdut. Cocok. Apalah artinya lewat Pantura tanpa denger radio dangdut. Nama radionya Lazuardi FM Karawang. Saat itu lagi ada acara Café Dangdut. Siarannya itu sangat asal-asalan. DJ-nya entah satu atau dua orang. Yang satu suaranya normal, satu lagi terdengar seperti Doraemon dan kerjaannya cuma nyeletuk gak penting make bahasa Sunda. Yang lebih ngeselin pada saat lagu dimulai tiba-tiba seenaknya aja dia motong, “HE HE HEE.. AU URANG BLA BLA BLA BLA” dengan nada bicara kayak orang mabok. Abis itu dia diem. Kemudian muncul satu intro yang berbeda dengan lagu sebelumnya. Kalau lagu sebelumnya dimulai dengan dentuman murahan, kali ini lagu dimulai dengan suara piano gothic yang terkesan kolosal. Cocok buat soundtrack Tutur Tinular Versi 2011.

Gue berharap akan muncul geraman kasar ala vokalis band Metalcore yang nyanyinya kayak orang buang tahak, menyanyikan lirik semacam, ”Munafik dusta ingkar arogan sombong angkuh takabur riya bakhil kikir iri dengki sirik curang hasad hasud fitnah khianat keparat !!!”. Kenyataannya muncul vokal wanita yang terdengar seperti diambang bunuh diri, “Sayaaaangg… Aku gak bisa booboo…Mata ini tak bisa kupejamkan.”

Sungguh keren. Seakan-akan mengucapkan, “Selamat datang di Karawang.”



mari kita lanjut...

Rabu, Oktober 19, 2011

Medan Perang Itu Bernama Harmoni

Luar biasa. Sudah lama sekali blog ini tidak terurus. Jaring laba-laba bertebaran, debu, dan kotoran kucing ada dimana-mana.Terakhir post itu tanggal 7 Agustus, yang berarti udah 3 bulan tidak di update. Kalau aja blog ini diibaratkan sebagai istri, mungkin gue udah di talak 9 dan dia kembali ke rumah orang tua nya sembari mengurus proses perceraian di pengadilan agama setempat.

Membicarakan perceraian, baru-baru ini gue mengalami hal tersebut. Tapi bukan dalam hubungan perpacaran ataupun pernikahan, melainkan pekerjaan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, gue pindah kerja. Bahasa India-nya : Resign. Sungguh berat, memang, untuk bisa keluar dari tempat kerja gue di Trans Tipi. Lingkungan-nya begitu nyaman dengan teman-teman luar biasa. Sebuah tempat kerja yang bisa masuk jam 10, kerja sambil baca koran BOLA pinjeman dari atasan, kalo bosen bisa nonton tipi, terkadang ketemu artis-artis cakep nan wangi, dan mengenal lika liku dunia alay.

Hambatan untuk resign semakin terasa saat gue diharuskan untuk minta 18 tanda tangan. Repotnya minta ampun. Seringkali orang yang dicari gak ada di tempat. Ditunggu jam 9 belom dateng, jam 11 juga belom, jam 1 belom balik makan siang, jam 3 meeting, jam 6 gue-nya yang pulang. Bahkan gue harus minta tanda tangan sama orang yang gak pernah gue temuin sekali pun selama kerja di Trans. Tapi itulah prosedur, tetap harus dijalankan walau bagaimana pun repotnya.

Sekarang gue pindah ke daerah Kebon Jeruk. Sangat jauh dari rumah gue yang ada di bilangan Senen. Bahkan dulu gue mengira daerah Tangerang dan sekitarnya itu ditempati alien dan makhluk asing lainnya, suatu hal yang gue buktikan di Bekasi, karena saking gak kebayang bagaimana bentuk daerahnya.

Busway masih gue manfaatkan sebagai transportasi pengangkut gue ke kantor. Disinilah perkenalan gue dengan shelter Harmoni (back sound : Musik seram -> Apapun lagu The Sisters yang dinyanyikan secara live). Rute gue tiap pagi, shelter Kramat-Harmoni-Kebon Jeruk. Setiap pagi selalu terlihat antrian mengular. Entah yang menuju Blok M, Kali Deres, Pulo Gadung, dll. Tapi yang namanya masih pagi, orang masih sabar dan mengantri dengan senyum yang lebarnya melebihi telinga.

Neraka ada saat jam 6 sore, saat pulang kantor. Harmoni semacam penjara bawah tanah Fatahillah. Terlalu banyak orang. Untungnya gak disuruh jongkok kayak di penjara itu. Apalagi antrian Kalideres, panjangnya ngelebihin antrian tiket film Power Rangers : The Movie (yang ngerti pasti umurnya >20). Blok M, terlihat lebih sepi. Pulo Gadung walaupun antriannya pendek, tapi ada tujuh lapis orang.

Setiap turun dari bus arah Lebak Bulus pas jam 6 sore, gue merasakan sensasi menjadi David Beckham. Semua mata memandang, melihat, dan memperhatikan setiap gerak gerik gue. Ingin rasanya melambai dan bilang, "I Love you" sambil sesekali mengeluarkan gesture peace, love, and gaul ke mereka. Namun sayangnya mereka bukan senang akan kedatangan gue, pandangan mata penuh kebencian karena gue jalannya lelet. Dan bener aja, sesaat setelah kaki kanan gue berpijak di lantai shelter yang dibikin dari seng itu, mereka semua langsung berlari masuk ke dalam bis yang gue tumpangi itu.

Tujuan selanjutnya adalah mencari bis arah PGC. Ini lah medan perang yang harus gue hadapi tiap hari, dimana para pengelola Transjakarta seperti gak rela kalo bis arah PGC gak ngantri panjang. Biasanya setelah menunggu diatas 20 menit, bus baru datang. Dan orang-orang selalu berebut, mendesak masuk. Entah kenapa setiap kali bus dateng, selalu terdengar jeritan cewek. Padahal pintu belom juga dibuka. Setelah gue liat ke depan, itu cewek gak mau naik. Dia lebih memilih untuk nahan badan di depan, didorong-dorong orang lain, sambil teriak teriak. Hipotesis gue : Ini cewek pengidap Sado Masochist.

Begitu masuk di bis, banyak penumpang bingung. Antara mau ke kanan atau ke kiri. Dan tentu saja, shelter Harmoni tidak mengenal belas kasihan. Shelter Harmoni adalah tempat dimana orang-orang baik bisa berubah menjadi seperti Ryan Jombang. Penumpang-penumpang kebingungan itu sukses didorong sampe nemplok di kaca atau bahkan nyusruk ke lantai.

Saat jalan, keberuntungan yang mengambil kuasa. Gue bisa aja dapet duduk dan pura-pura tidur, berdiri nyaman sambil berpegangan, atau kegempet di tengah dan di-bully orang-orang yang masuk dari shelter lainnya. Kalau lagi sangat sial, gue merasakan apa yang dialami oleh Siluman Kera Sakti. Kalau dia dihukum dijepit di gunung Lima Jari karena ngacak-ngacak Khayangan, gue dijepit oleh Ketek Lima Abang-Abang. Mereka datang dari semua arah mata angin. Dengan keadaan hari yang sudah semakin larut dan pola pikir konservatif mereka yang menolak memakai deodoran, perjalanan pulang gue ditemani bau yang bisa menyebabkan trauma berkepanjangan untuk orang-orang yang tidak tahan mentalnya.

Begitu sampai di halte Kramat, gue selalu menghela nafas panjang. Seakan terbebas dari penjara brutal semacam Alcatraz. Ohlala, ini lah hal yang gue jalani setiap hari. Menyusahkan, memang, tapi bisa dinikmati. Karena seburuk apapun suatu keadaan, selalu komedi yang bisa dijadikan alat pemicu senyum.


mari kita lanjut...

Minggu, Agustus 07, 2011

Still Counting

7 Agustus 2011

Hari ini gue berulang tahun. Sebuah hari bahagia dan penuh instropeksi diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sangat bersyukur atas apa yang telah gue dapat dan apa yang telah gue raih, sembari berusaha untuk mendapatkan sesuatu hal yang lebih besar dan lebih besar lagi.

Move forward and reach the sky, solving the riddle of life.

Semoga setiap detik yang udah dijalanin menjadikan gue manusia yang lebih bermanfaat.

Amin.


mari kita lanjut...

Senin, Juli 18, 2011

Mocca Last Show : Anabelle And The Music Box

Gramedia Matraman, sekitar tahun 2002. Seorang anak berambut botak (sisa) 1 cm sedang berdiri mematung di pojok toko kaset. Niat dia bukan mau nyolong, pastinya, karena anak itu dikenal suka mengaji, membaca buku tentang sejarah Islam, dan selalu membaca buku PPkn di saat malam. Tangannya menggenggam sebuah kaset dengan kover warna krem dan berisi gambar seorang gadis bergaya logo restoran cepat saji Wendys sedang menari dengan manusia berbulu domba.

Di pojok kanan atas ada dua tulisan bertumpuk : Mocca - My Diary. Album ini berisi satu tembang yang sangat populer (pada jamannya), Secret Admirer. Ah, gue ingat keadaan saat itu. Disaat galau, memendam perasaan ke salah satu teman sekelas gue. Melihat dan menikmati, namun hanya sebatas memandang.

Jaman SMP adalah sebuah masa dimana gue gak bisa melakukan apa-apa saat berhadapan dengan cewek yang gue suka. Jangankan bertatapan langsung, saat dia duduk di sebelah gue jantung serasa mau copot, jatoh ke pasir isap, masuk ke inti bumi. Keringat dingin bercucuran, membuat kulit terasa lengket seperti siput. Ujung-ujungnya gue memilih pindah ke tempat duduk yang lain. Kalah melawan rasa gugup.

Saat SMA, musik Mocca mempunyai andil besar dalam peristiwa yang sangat bersejarah dalam hidup. Pacaran pertama kali, setelah 17 tahun menjomblo dan bermuram durja. Pas lagi PDKT, gue dikasih CD album kedua Mocca yang berjudul Friends. Gue gak mau kalah, gue kasih dia CD Burning-an lagu-lagu yang dia suka (Baca : Gak modal). Lagu I Think I'm In Love selalu berputar di CD Player, membawa pikiran berandai-andai, badan guling-gulingan, jatoh dari kasur, benjol. Dan pada saat angan menjadi kenyataan (jadian), lagu My Only One menjadi soundtrack of my life.

Begitulah, gue mulai suka Mocca sejak SMP. Lagu-lagu mereka sempat menjadi melodi pengiring hidup. Menjadi dasar emosi dan peristiwa. Namun ironisnya, gue sama sekali belom pernah ngeliat mereka konser secara langsung. Entah mengapa. Setiap ada kesempatan untuk nonton mereka, selalu aja ada halangan. Sampai pada akhirnya gue menerima kabar kalo mereka akan menggelar konsernya yang terakhir.

Jelas gue heran. Gak ada angin gak ada kabar tiba-tiba mau bubar. Untungnya konser terakhir ini bakal diadakan di Jakarta, Balai Kartini. Sangat dekat dari rumah dan kantor. Lewat Twitter @moccaofficial gue dapet informasi kalo cuma 900 tiket saja yang bakal dijual untuk konser tersebut. Jadi lah gue mulai kegiatan berburu tiket. Pertama-tama di Bandung, tempatnya di Distro Lou Belle di daerah Setiabudi. Sampe disana, ternyata tiket belom dijual. Diundur. Berikutnya, berburu di Jakarta. Ticket Box ada di kantor Mlive Muzic di Wisma Alia Cikini. Udah dibela-belain telat kerja, tiket gak dapet juga. Setengah jam ngantri, tiket udah ludes. Harapan resmi terkubur.

Tapi ya, yang namanya kalo emang udah jodoh, gak bakal lari kemana. Harapan kembali muncul ke permukaan. Jumlah tiket ditambah dan venue konser dipindah ke tempat yang lebih besar, hall basket Senayan. Lewat perantara abang gue, yang bela-belain dateng ke JakCloth cuma buat beli tiket ini, akhirnya harapan gue resmi menjadi nyata. Mocca Last Concert, here I come!

***

15 Juli 2011, hari yang sudah dinanti-nantikan. Berangkat dari kantor jam 5 sore dengan menggunakan fasilitas Bus TransJakarta. Kebetulan pula jalanan belom macet. Gak sampe setengah jam gue udah nyampe di halte JHCC-Senayan. Setelah itu, demi mencanangkan gerakan jantung sehat (gak ada duit buat naik ojek), gue jalan kaki menuju venue acara.

Pada awalnya, gue niat barengan nonton sama Arin, sobat berantem gue dari SMA. Tapi entah kenapa, jodoh gue kalo nonton konser selalu Ian (@iansricahyono). Mulai dari Java Jazz, Jamiroquai, Franz Ferdinand, dll selalu barengan dia. Saat gue lagi celingak celinguk di depan pintu masuk, gue ketemu dia & pacarnya (Icus) tanpa ada janji terlebih dahulu. Pas bener. Yaudah lah daripada gue nunggu Arin yang tak kunjung datang dari kantornya, mendingan gue jadi lalet-nya mereka berdua.

Karena Ian lagi ngobrol-ngobrol sama temennya, gue sama Icus yang nuker tiket di loket. Loket yang bentuknya kayak penjara kecil yang dikasih lobang tikus untuk tempat menyorongkan makanan. Begitu dapet tiket kita kembali lagi ke pintu masuk.

Saat sampai di pintu masuk, antrian sudah sangat mengular. Anyep. Padahal belum ada tanda-tanda kalo pintu bakalan dibuka. Bahkan gue sampe gak ngeliat ujung antrian-nya dimana. Persis kayak emak-emak lagi berantem, gak keliatan ujungnya. Kita pun sepakat untuk gak ngikutin antrian tersebut. Karena Icus udah kebelet pipis, kita mau cari WC dulu.

Kita kelilingin gedung sampe ke satu pintu kaca gede berwarna hitam. Menurut intuisi kita, di dalem sini pasti ada WC. Setelah kita masukke dalem, nengok kiri nengok kanan. Gak ada tanda-tanda WC. Yang ada Ringgo Agus, Endah & Rhesa, Float, dan macam-macam performer pada hari itu. Ternyata kita masuk ke backstage. Segitu gampangnya masuk kemari. Coba kalo ini konser Justin Bieber, pasti pintu kaca itu udah dijaga sama bodyguard yang bodi-nya segede truk sampah. Sekali ditabok dia bakal langsung amnesia.

Icus dapet WC di dressing room peserta kabaret. Saat dia lagi menunaikan panggilan alam tersebut, Ian nelfon temennya yang tadi diajak diajak ngobrol di pintu masuk. Nama dia adalah Ruli dan pada saat itu dia sedang bertugas sebagai sound man White Shoes & The Couples Company (WSATCC). Gatekeeper kita untuk bisa tetap di backstage. Tempat yang sangat strategis, dimana kita bisa dapet tempat duduk tanpa harus main 'Uler Naga Panjang' di pintu depan. Gak lama setelah Ian nelfon, dia langsung dateng.

"Cuy, kita udah disini nih. Boleh stay aja gak sampe pintu dibuka? Begitu pintu dibuka kita bakal langsung ke tempat penonton," Ian bernegosiasi dengan Ruli.

"Yaudah gak apa-apa. Duduk aja bareng gue di situ. Lo punya tiket kan?" kata dia sambil menunjuk kursi panjang di lorong backstage.

"Ada nih," sahut gue sama Ian sambil nunjukin tiket dan menutupi raut wajah kegirangan. Jadilah kita nunggu pintu masuk dibuka sambil nongkrong bareng performer. Pasang muka meyakinkan, berasa jadi artis. Lalu saat pintu masuk udah dibuka, kita langsung ngacir ke belakang mixer. Karena spot terbaik untuk nonton konser apapun adalah daerah sekitar mixer, entah itu di depan atau belakangnya, dari tempat itu lah suara yang muncul tidak mono atau berat sebelah. Lebih tepatnya, tepat di garis tengah panggung. In case kalo mixernya ada di samping atau di belakang panggung.

Saat seluruh bangku sudah dipadati penonton, riuh ramai mengisi udara, dan para sound engineer mulai bersiap-siap, lampu venue mulai dimatikan. "Selamat datang di Mocca Last Show, Anabelle & The Music Box!" suara storyteller (merangkap MC) Soleh Solihun dan Ringgo bergema di dalam venue. Konser ini resmi dibuka.

sumber : deathrockstar.info

Konsep konser terakhir ini adalah kabaret, dimana setengah penampilan Mocca didampingi oleh kabaret tentang Anabelle yang terperangkap masuk ke dunia dalam Music Box (sebenarnya dia mau masuk ke Dunia Dalam Berita, tapi sayang acara itu udah gak ada). Anabelle jatuh cinta dengan pangeran pemimpin dunia itu, tapi entah mengapa Buddy Zeus tidak suka. Mungkin dia suka penyuka sesama jenis yang tidak rela kalau pangeran pujaannya itu diambil oleh Anabelle. Pada akhirnya, pangeran itu mati karena dipanah Buddy Zeus dan dia sendiri mati tercabik-cabik pedang yang diayunkan oleh Anabelle yang sedang kalut karena pacar barunya mati penasaran. Setelah itu, entah dengan rapal sakti apa pangeran bisa idup kembali dan membuat Anabelle menjadi Bang Toyib yang gak pernah pulang sampe-sampe Wali takut disamain sama dia. The end, happily ever after.

Sumber : Mlivemuzic.com

Yah, walaupun penampilan para adik-adik kecil dari SMA 7 tersebut tidak bisa dibilang jelek, tetap saja penampilan mereka hanya terlihat sebagai pelengkap. Ini juga terkait dengan beberapa kesalahan teknis yang membuat penonton tidak peduli dengan jalannya cerita. Point of interest pada acara ini tetap : Arina-Toma-Rico-Indra (MOCCA).

Konser terakhir ini dimulai dengan lagu Happy. I Think I'm In Love dan Secret Admirer seakan membuai ingatan gue akan masa-masa SMP dan SMA. Ade Paloh, ex personil SORE, naik ke panggung untuk membantu Arina membawakan This Conversation. Memberikan rasa baru atas lagu tersebut. Kemudian datang pasangan suami istri ajaib, Endah & Rhesa, membawakan lagu Me & My Boyfriend dengan apik dan luar biasa. Nyanyian mereka bukan hanya dari mulut, instrumen mereka pun ikut berbunyi. Sulit rasanya menahan diri untuk tetap duduk manis di kursi, apalagi setelah mendengar The Object Of My Affection yang semakin terdengar enerjik oleh Float.

Kejadian unik terjadi saat Mocca membawakan lagu Let Me Go dengan backdrop memutar video rintik-rintik hujan. Tiba-tiba saja hujan deras turun dengan hebatnya, seakan-akan sengaja dipakai sebagai efek untuk menambah syahdu suasana konser. Begitu lagu itu selesai dinyanyikan, hujan itu perlahan-laha berhenti. Sungguh aneh. "Sebagai informasi kepada para penonton, hujan tadi memang sengaja dipanggil sebagai konsep konser pada malam ini," begitu komentar Soleh Solihun yang terlihat kompak dengan Ringgo dalam membawakan acara dan mendiskusikan isu dan gosip-gosip kocak yang seringkali tidak berhubungan dengan konser itu sendiri.

Hyper-Ballad, lagu Bjork yang dibawakan ulang oleh Mocca, sukses membuat gue merinding. Tarikan vokal Arina yang tinggi meresap sampai ke tengkuk. Luar biasa. Sedangkan I Remember lagi-lagi memutar video kenangan di otak gue. Saat-saat dimana cerita-cerita kecil dalam hidup gue diisi oleh melodi-melodi yang diciptakan oleh Mocca.

Nona Sari dari WSATCC naik ke atas panggung untuk duet bersama Arina dalam lagu I Would Never, menggantikan Karolina Komstedt dari Club 8. Setelah itu Nona Sari membawakan single Mocca, What If. Tapi sayang seribu sayang, dia tidak afal liriknya, sehingga lagu tersebut terasa hampa karena dia masih terdengar seperti mengeja lirik. Setelah itu gantian Arina manggung bersama WSATCC membawakan lagu Senandung Maaf, menggantikan Sari sebagai vokalis.

Tanah Air, lagu nasional yang diciptakan oleh Ibu Soed dibawakan oleh Arina dengan haru. Perlu diketahui Mocca memilih untuk vakum saat Arina berencana untuk menikah di negeri Paman Sam, Amerika. Oleh karena itu mereka menamakan konser ini sebagai konser terakhir karena mereka sendiri belum tahu sampai berapa lama Mocca akan bersembunyi. Lagu tentang kecintaan akan Indonesia ini seakan-akan menjadi sarana komunikasi Arina untuk berkata, "Selamat tinggal Indonesia."

Sumber : muthia-noesjirwan.blogspot.com

Life Keeps On Turning dipilih sebagai lagu pamungkas pada malam itu. Seluruh performer yang mengisi konser naik ke atas panggung. Luar biasa memang suara Arina. 23 lagu dibawakan, tidak ada satu nada pun yang luput dari jangkauan pita suaranya. Standing applause for her.


sumber : whatzups.com

Kemudian setelah selesai membawakan lagu tersebut, pecah lah tangis Arina saat menyambut para Swinging Friends memberikan ucapan selamat tinggal berikut bunga ke dia. Rasa sedih dan haru terasa sampai ke tempat gue yang berjarak kurang lebih 20 M dari panggung. Indonesia akan kehilangan salah satu vokalis terbaiknya.

sumber : enadjuanda.blogspot.com

Puas. Itulah yang gue rasakan. Apalagi setelah tau kalo gue duduk di kelas Gold, yang berarti gue naik kelas dari kelas Silver, kelas yang tertera di tiket gue. Akhirnya gue bisa menyaksikan penampilan band favorit gue sedari dulu. Ini adalah pertama kalinya gue melihat penampilan Mocca secara langsung dan semoga ini bukan (benar-benar) yang terakhir.

sumber : whyopu.blogspot.com




mari kita lanjut...