Selasa, Februari 09, 2016

Sebuah Cerita Tentang Film


Masyarakat Jakarta, yang terdiri dari banyak keluarga, memiliki kecenderungan untuk menghabiskan hari libur, baik Sabtu - Minggu maupun libur nasional, di banyak mall yang tersebar di sekujur Jakarta. Kegiatan yang dilakukan dalam mall pun beragam seperti window shopping, shopping beneran, makan, atau nonton di bioskop. Hal ini tidak bisa dihindari lagi, mengingat minimnya ruang terbuka di Jakarta yang (semakin) sempit ini.

Film merupakan hiburan terjangkau bagi masyarakat kaum perkotaan, khususnya kota Jakarta, tempat gue hidup, bernafas, berjalan, dan pipis di WC Umum dengan biaya Rp 2.000. Jumlah mall di Jakarta yang mencapai 170 buah semakin memudahkan kita untuk memilih bioskop sesuai dengan budget yang tersedia.

Kita bisa menikmati film dengan harga Rp 100.000 pada bioskop Premiere XXI atau bahkan menikmati film sambil tiduran pada Satin Class seharga Rp 75.000 pada bioskop CGV Blitz. Sebaliknya, kita juga bisa menikmati paket nonton film murah meriah seharga Rp 25.000 - Rp 35.000 di Hollywood XXI. Film sama dengan fasilitas yang berbeda. Semua tergantung selera.

Pada saat libur Imlek tanggal 8 Februari 2016, secara random gue pergi ke Gandaria City. Tujuan gue kesana untuk nonton film terbaru Quentin Tarantino : Hateful Eight. Walaupun hujan badai, banjir, dan macet menghadang perjalanan dari Tanjung Barat ke Gandaria City, gue tetap berkeras nonton film itu. Pasalnya, Gandaria City XXI merupakan satu-satunya bioskop yang memutar Hateful Eight dan gue merasa sayang jika hanya menonton film itu melalui soft copy berjudul Hateful_Eight_UNRATED1080p.MKV.

Mengingat keberadaan film Hateful Eight yang cepat hilang pada bioskop-bioskop di Jakarta, gue gak berharap banyak orang tertarik nonton film itu. Karena biasanya jumlah penonton sedikit mengakibatkan pendeknya masa tayang film di bioskop. Namun pada saat sampai di bioskop dan bertemu dengan embak loket berbaju terusan hitam, dugaan gue terbukti salah. Ternyatacukup banyak penonton mengisi Studio 5 Gandaria City XXI.


Salah satu penontonnya adalah keluarga kecil yang terdiri dari Ibu, Bapak, dan anak perempuannya yang berumur kira-kira 7 atau 10 tahun. Suatu hal yang sungguh mengejutkan. Di era internet seperti saat ini dengan informasi yang bisa diakses melalui ujung jari, seharusnya orangtua tahu film apa yang akan mereka tonton dengan anaknya.

Sebelum mengajak anaknya nonton film, ada baiknya mengunjungi situs yang bernama IMDB.com. Bahkan situs itu punya aplikasi yang bisa diakses melalui Android atau iOS. Hey sesuatu yang amat mudah bukan? Kecuali mungkin anda termasuk orang yang masih menggunakan Nokia 8250 Monochrome dengan ringtone Polyphonic dan game Snake yang melegenda.

Quentin Tarantino, seperti dikutip pada situs IMDB.com, merupakan salah satu sutradara yang memiliki nama besar di ranah Hollywood. Judul-judul film seperti Pulp Fiction, Kill Bill, Reservoir Dogs, Inglorious Basterds, dan Django Unchained mentasbihkan dia sebagai sutradara yang menghasilkan film-film penuh dengan unsur kekerasan. Saking kerasnya film Tarantino, bisa dibilang selain aktor dan aktris, orang yang paling banyak meraup untung pada proses pembuatan film dia adalah para penyedia darah-darahan.

Oleh karena itu, gue cukup kaget saat melihat keluarga kecil tersebut duduk manis di samping kanan tempat duduk. Kedua orangtua itu mengajak anak perempuannya yang manis, yang seharusnya lebih cocok nonton Frozen atau Petualangan Singa Atlantos, menonton Hateful Eight karya Quentin Tarantino.

Lampu diredupkan, layar dilebarkan, dan film pun dimulai. Pada awalnya, film hanya menampilkan dialog-dialog antara para tokoh yang penuh kata-kata kotor, ciri khas lain dari fim Tarantino.

Menjelang akhir, film Hateful Eight mulai menunjukkan taring nya, diawali adegan muntah darah yang menyembur layaknya semprotan air menerjang tanaman. Setelah adegan tersebut, film menjadi semakin keras. Aksi koboi adu tembak dengan penggambaran yang eksplisit saat peluru merobek perut dan dada ditampilkan. Sekilas gue lihat ke samping kanan untuk melihat keadaan si anak perempuan. Dia terlihat gelisah namun Bapaknya terpaku geming menonton adegan demi adegan

Puncaknya pada saat adegan hancurnya kepala salah satu tokoh akibat ditembak pistol Magnum laras panjang. Melihat adegan otak berhamburan ke muka, si anak perempuan memekik tertahan, menutup mata, dan bergerak ke pangkuan Bapaknya. Mungkin ketakutan, mungkin jijik, atau mungkin trauma. 

Entahlah.

Yang pasti si Bapak tetap asik nonton dan memeluk anaknya tanpa berusaha menutup matanya. Sambil membenamkan kepala ke dada Bapaknya, sang anak yang penasaran mengintip adegan mutilasi lengan dan eksekusi gantung leher. Tangannya sontak menggenggam kemeja Bapaknya. 

Saat film selesai, si anak perempuan tetap membenamkan kepala ke dada Bapaknya sampai lampu studio dinyalakan. 


***

Menurut gue, film bukanlah suatu media hiburan yang bisa dinikmati semua kalangan. Ada rating-rating yang memisahkan antara tontonan anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Atau bahkan menurut gue ada usia-usia dimana anak belum bisa diajak nonton di bioskop. 

Sebelumnya pada hari Sabtu, 6 Februari 2016, Grand Metropolitan Bekasi. Gue nonton The Revenant nya Leonardo Di Caprio. Dikarenakan film tersebut cukup populer dan pada hari itu merupakan awal long weekend, studio cukup penuh dengan penonton. Gue sendiri dapat tempat di pinggir kiri baris ke empat.

Film The Revenant merupakan film petualangan yang natural dan terasa sangat nyata. Tokoh utama film, dalam keadaan sekarat akibat serangan beruang, berusaha bertahan hidup di tengah pegunungan bersalju dengan peralatan minim. Untuk bertahan hidup dia terpaksa makan bangkai hewan, ikan mentah, dan liver bison. Bahkan ada satu adegan dimana dia harus bermalam di dalam perut kuda yang sudah dibelah dan dikeluarkan isinya.

Pada saat seru menonton adegan Leonardo Di Caprio kelaperan makan liver Bison, terdengar suara tangisan bayi. Ya, tangisan bayi. Dan gue yakin itu bukan salah satu adegan film dimana Leonardo menemukan bayi raja yang tertinggal di tengah hutan, merawatnya, dan pada saat anak itu besar sang Raja datang membawa anak tersebut. Sebagai ucapan terima kasih Leonardo dijadikan penasihat Raja dengan diiringi lantunan musik Lyla - Magic dan di akhiri tagline "Satu Untuk Semua."

Bukan.

Itu adalah suara tangisan bayi dalam gendongan yang dibawa Bapaknya nonton The Revenant. Mungkin bayi itu terganggu oleh suara membahana Studio dengan teknologi THX, DTS, DLL, DHL, etc. Masih dalam gendongan bayi si Bapak membawa bayi nya keluar studio untuk mendiamkannya. Kemudian setelah anaknya diam dia kembali masuk studio dan melanjutkan nonton The Revenant. Melihat Leonardo Di Caprio main tusuk-tusukan pake pisau.

Pikiran anak kecil ibarat kertas putih yang masih polos tanpa tulisan.

Dua kejadian yang gue alami saat long weekend seakan menyadarkan gue akan sulitnya mencari hiburan yang pantas untuk anak-anak. Waktu kecil dulu, gue masih bisa melihat Bambi yang lucu berkeliling hutan ditemani kelinci putih yang berlari riang. Sekarang gue melihat sendiri seorang Bapak mengajak anaknya nonton Bambi dibelah perutnya untuk dijadikan selimut atau nonton koboi yang biji-nya ditembak oleh pistol magnum.

Yah, kejadian-kejadian yang kita alami sehari-hari dapat diambil sebagai refleksi diri. 

Semoga gue bisa lebih kreatif dan cerdas dalam menciptakan atau mencari hiburan apabila sudah punya anak nanti. Semoga juga gue bisa menghindari godaan untuk mengajak anak duduk 2 jam di ruangan gelap, dimana satu-satu nya hal yang bisa dilihat adalah peluru yang menembus kepala orang.




mari kita lanjut...

Kamis, September 03, 2015

Ceremai, Sang Penguasa Jawa Barat

Selepas perjalanan ke Gunung Puntang, gue langsung mencari info trip ke Gunung Ceremai. Titik tertinggi di Jawa Barat. Rasa penasaran menyeruak saat memandang puncaknya dari Gunung Puntang, Bandung. Puncak Gunung Ceremai, yang berdiri kokoh melawan langit di tengah kepungan awan. Dia terkesan kokoh, megah, dan angkuh. Memang, tidak ada gunung yang bisa ditaklukan oleh manusia. Namun sungguh amat sayang apabila memiliki sepasang kaki yang masih kuat tapi tidak dimanfaatkan untuk menjejakkan kaki di atasnya.

Keinginan disambut kesempatan, kesempatan yang langsung dikonversi jadi kenyataan. Pada suatu pagi di dalam kamar tua yang sudah gue tinggali sejak kelas 4 SD, masuk pesan whatsapp di hape. Pesan itu berisi undangan perjalanan sharecost ke Ceremai dari Abi, seorang trip organizer yang mengusung merk Bulaba (Buat Langkah Baru) pada tanggal 3-4 April 2015.

"Book 1 orang, tau jadi apa enggak, yang penting book," balas gue.

Gayung pun bersambut, niatan gue ke Ceremai dijawab oleh ajakan trip. Tentu saja gayung bersambut. Karena kalau gayung bersambit, berarti lagi ada tawuran antar tukang gayung.

Karena model trip nya sharecost, maka gak ada istilah 'Tau beres'. Setiap orang harus berbagi biaya perjalanan dan paham mengenai kebutuhan-kebutuhan saat hiking. Oleh karena itu walaupun informasi ini disebar melalui broadcast message dan forum backpackerindonesia, peserta yang ikut tidak begitu banyak. Hanya ada 8 orang yang sepakat berkumpul di Kp. Rambutan pada tanggal 3 April 2015.

***

Malam hari di terminal Kampung Rambutan, pada saat tanggal muda dan long weekend. Suasana terminal sangat lah padat, beberapa kura-kura yang berjalan tegak (orang-orang yang membawa carrier) terlihat berkeliaran, bergerombol, dengan masing-masing tujuannya. Selain itu, ada beberapa rombongan keluarga dengan berbagai macam model tas berjalan beriringan. Raut muka mereka terlihat bersemangat untuk sampai ke tempat tujuan mereka, bertemu dengan keluarga nun jauh disana. 

Kita berkumpul di dekat parkiran motor yang terletak di depam terminal Kp. Rambutan. Tanpa tedeng aling-aling, ada seorang Bapak nyamperin rombongan kita. Bapak-bapak itu terlihat bingung dan bajunya lusuh. Sepertinya dia disuruh nanya ke kita, karena gak beberapa jauh dari Bapak-bapak itu ada sekelompok anak muda yang sedang mengamati pergerakan dia. Seakan menunggu keputusan yang diambil dari pertemuan dengan kita.

"Dek, mau naik gunung kemana?" tanya dia.

"Ke Ceremai, Kuningan Pak," jawab kita.

"Oooh... Berat gak trek-nya? Kalau enggak, barengan kita aja ke sana. Kebetulan kita pake mobil travel," kata dia sambil menunjuk mobil ELF yang sedang dikelilingi beberapa orang.

"Berat maksudnya gimana? Memang Bapak mau kemana?" balas kita bingung. Baru kali ini orang ngajakin bareng tapi nanya berat apa enggak. Orang mau hiking normalnya tau tempat mana yang akan dituju dan sudah mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan tempat tersebut. Lah ini nanya berat apa enggak. Aneh. 

"Belom tau nih. Tapi kalo adanya temen ke Ceremai ya kita kesana. Tadinya kita mau ke Papandayan, Cikuray, atau Merapi."

Oke. Kita butuh beberapa waktu untuk mencerna statement tersebut. Walaupun kita bukan ahli di bidang Geografi, tapi kita jelas tahu kalo Papandayan, Cikuray itu ada di Garut dan Merapi itu ada di... Yogyakarta. Kita gak paham apakah Bapak itu sedang halusinasi akibat nyium bau pipis kering yang tersebar di pojok-pojok parkiran apa gimana.

"Liat nanti ya Pak, kita masih nunggu yang lain dulu." Balas kita sembari berusaha keras bersikap ramah dan seakan-akan paham akan maksud dan tujuan Bapak itu. 

Karena gak jelas, kita memutuskan untuk menolak ajakan Bapak itu. Lebih baik kita bergerak sedikit ke dalam terminal untuk naik bis umum ketimbang ikut barengan tanpa arah itu. Takutnya kita malah dibawa ke Gunung Sahari.

***

Pada perjalanan kali ini, gue sangat merasakan efek long weekend dan tanggal muda. Kita berangkat dari Kp. Rambutan pukul 01.00 dan baru sampe pertigaan kota Kuningan jam 10.00. Yak. 9 jam saja. Dimana normalnya perjalanan Jakarta-Kuningan memakan waktu 4-5 jam.

Selain akibat kemacetan di Cikampek dan Jalur Pantura yang seakan tidak ada habisnya, lama perjalanan juga diakibatkan oleh jalur bus yang diputar dulu ke Indramayu. Bis 45 seat segede Optimus Prime tidur tengkurap itu dipaksa masuk jalan kampung Indramayu yang sempit dan belum beraspal. Pada akhirnya bis kita sukses bikin macet jalan dan menghambat lalu lintas.

Selain korban waktu, bis kampret itu juga memakan korban lainnya. Topi fedora abu-abu kesayangan yang sudah melindungi kepala gue saat jalan-jalan ke Bali, Merbabu, Sawarna, Solo, dan berbagai tempat lainnya, resmi ilang. Hal terakhir yang gue inget, topi itu gue jadikan semacam bantal saat molor dengan gaya nemplok di jendela. Karena setengah sadar, gue gak sadar kalo jendela itu terbuka lebar. Sehingga bisa dipastikan, topi itu pasti terhempas ke ruas tol Cikampek. 

Ah, biarkanlah dia bebas diluar sana. Semoga pemilik barunya juga suka ngajak dia jalan-jalan.  #menangisterharu

Yang bikin bis itu makin kampret adalah : kita diturunin di tengah jalan. Padahal pada awalnya bis itu janji akan ngelewatin Linggajati. Gue lupa nama jalan tempat kita diturunin, pokoknya pertigaan antara tol - kota kuningan - Linggajati. Disitu kita dioper ke angkot yang ujug-ujug nembak 20 rb per orang untuk sampe pos Linggajati. Beruntung tim kita punya Andi, orang Sunda yang bisa debat pake bahasa Sunda. Jadilah kita bisa nolak pemalakan ter struktur tersebut dan berjalan sedikit untuk dapet angkot bertarif 10 rb untuk ke pos Linggajati, basecamp pendakian Ceremai.

Terhindar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau, Ternyata pos yang dimaksud abang angkot adalah POS POLISI. Mungkin bisa dimaklumi kalo jarak antara Pos Polisi dengan basecamp pendakian deket. Pada kenyataannya, basecamp Linggajati masih berjalan 2KM lagi. Kembali Andi bersuara dan pada akhirnya kita bayar cuma 7 rb. Dia harimau, kita T-Rex.

Turun di pos polisi, ada banyak angkot yang siap mengantar kita ke base camp dengan tarif 5-10rb. Namun sebelum perjalanan dilanjutkan, kita belanja dulu di Indomaret yang letaknya tepat di seberang pos polisi.

***

Setelah naik angkot, akhirnya kita sampai di Pos pendakian Gunung Ceremai Jalur Linggajati. Di pos ini, kita wajib mendaftar dengan menyerahkan fotokopi KTP/SIM. Jadi yang ingin ke Ceremai jangan lupa siapin dokumen tersebut. Selain itu, kita diwajibkan bayar uang masuk sebesar... Jeng Jeng Jeng! 50 Ribu rupiah. Kita shock. Gunung Gede via cibodas Simaksi nya 22,5 rb, via Selabintana 7,5 rb , Merbabu 5 rb, Puntang 10 rb, dan Burangrang Gratis. Walaupun keki, tapi apalah daya. Ga mungkin kita balik ke Jakarta karena gak mau bayar Simaksi. Semoga uang yang terkumpul bener-bener dipakai untuk merawat alam kita tercinta ini.




"Naik lewat sini, turunnya harus lewat sini lagi ya," kata Bapak penjaga pos saat kita mau jalan. Suatu hal yang bertentangan dengan rencana perjalanan kita, naik via Linggajati turun via Apuy. Sebodo teing lah. Kita sepakat mau nekat. Kalo misalnya pas sampe Apuy kita disuruh balik, kita akan pura-pura pingsan.

Sekitar pukul 13.00, perjalanan menuju Puncak Ceremai dimulai. Tak lupa kita berdoa dulu sebelum melanjutkan perjalanan, karena tidak ada perlindungan yang lebih aman dibanding perlindungan dari-Nya.

Dari basecamp, kita diarahkan melewati jalan aspal yang cukup menanjak. Di sepanjang jalan ini, terdengar teriakan burung-burung yang suaranya persis kayak orang buang reak. Entah burung apa. Setelah jalan sekitar 30 menit, kita sampai di sebuah bangunan kantor milik Bumi Perkemahan Cibunar. Di tempat ini orang-orang bisa buka camp dan menikmati pemandangan cantik ala kaki gunung Ceremai. Setelah pos Cibunar, perjalanan mulai memasuki hutan lebat dengan trek berupa tanah yang belum begitu menanjak.



Perjalanan mulai serius saat melewati pos Kuburan Kuda, yang konon katanya tempat ini dulu memang dipakai sebagai kuburan kuda tentara Jepang. Capek bener ya para tentara Jepang untuk nguburin kuda. Musti nanjak 2 jam dulu. Setelah pos ini, trek mulai menanjak curam dengan tanah yang dilapisi akar licin. Perlu sedikit berhati-hati karena apabila meleng sedikit kita bisa terpeleset akibat menginjak akar.

Sekitar pukul 18.00, matahari sudah tertidur dan gelap malam mulai menampakkan kuasanya. Kita memutuskan camp di pos Pangalap. Dari pos ini kita rencana bangun jam 3 pagi untuk melanjutkan perjalanan ke summit yang masih berjarak sekitar 6 jam lagi.

***

Keadaan dalam tenda yang sejuk dan gelap malam yang begitu pekat membuat tidur kita begitu lelap. Niatan bangun jam 03.00, jadinya malah jam 04.00. Segera kita beres-beres tenda karena niatan kita melintas jalur dan tidak melewati jalur yang sama, sehingga tenda tidak bisa ditinggal. Setelah berdoa, kita langsung melanjutkan perjalanan pada pukul 05.00.

Tanpa ampun. Itu lah deskripsi yang pas untuk jalur setelah pos Pangalap. Dimulai dari tanjakan Seruni yang konturnya sempit, membuat kita harus menyelip diantara tanah-tanah tinggi. Tanjakan Seruni selesai dilewati, lanjut ke Bapa Tere. Di pos ini, tanjakan nya sangat curam sehingga memaksa kita untuk merayap di antara tanah dan akar. Untungnya di ujung tanjakan ada bantuan tali yang cukup membantu kita saat melewati jalur Bapa Tere.


Batu Lingga, Sangga Buana I, dan Sangga Buana II adalah pos yang kita lewati selanjutnya. Kontur jalur berupa hutan lebat dengan tanjakan yang curam dan konsisten. Kondisi jalur yang berputar seringkali menurunkan motivasi dan menambah kelelahan. Pelan tapi pasti gue melalui pos demi pos sampai menemukan sebuah lapangan terbuka yang cukup besar. Lapangan itu sudah ramai diisi para pendaki yang sedang beristirahat cenderung tepar.


Pos Pengasinan, itulah nama pos terakhir sebelum mencapai puncak Gunung Ceremai via jalur Linggajati. Dari pos ini sudah terlihat gagahnya puncak Gunung Ciremai yang berdiri tegak menantang langit dan awan. Sangat menggoda melihat tujuan akhir di depan mata. Seakan-akan mudah untuk digapai. Setelah cukup beristirahat di pos ini, gue melanjutkan perjalanan.





Jalur setelah Pos Pengasinan ibarat raja terakhir. Track-nya perpaduan batu dan tanah gembur yang mudah longsor. Bahkan gue sempat nyusruk masuk ke salah satu lubang di jalur ini.  Untung bukan nyusruk ke jurang. Karena sudah mendekati puncak vegetasi cenderung didominasi oleh pohon-pohon berukuran kecil seperti Edelweiss yang keindahannya luar biasa, sehingga bisa dipastikan jalur ini akan terasa panas menyengat apabila musim kemarau. Mungkin itu penyebabnya pos terakhir dinamakan Pengasinan. Trek-nya bikin kita kering kerontang macam ikan asin.


Tanjakan demi tanjakan dan berbagai formasi batu berhasil membuat paha dan betis gue kaku. Teknik dua-puluh-langkah-berhenti + ngap-ngapan gue pake. Salah satu motivasi gue untuk mencapai puncak adalah bayangan akan Colonel Sanders yang menyambut gue saat turun nanti. Bayangan 3 ayam crispy KFC memotivasi gue untuk segera mencapai puncak dan turun untuk mampir ke gerai KFC.

Pukul 11.30 akhirnya gue sampai ke puncak Panglongokan, SUMMIT!


Rasa puas langsung mengusir rasa lelah saat melihat paparan langit di sekitar puncak. Berdiri di dalam langit, di atas titik tertinggi Jawa Barat, membuat gue serasa terbang. Paparan kawah Gunung Ceremai yang tampak seperti wajah raksasa yang sedang tertidur merangsang bulu kuduk gue untuk berdiri. Kemegahan alam tampak sempurna di Puncak Ceremai.




Selesai foto-foto dan menikmati summit, gue langsung mencari tim yang sudah sampai duluan. Ternyata tim sudah siap dengan makanan berupa nasi putih dan sarden. Makanan paling enak sedunia. Terlebih lagi karena dari pagi gue cuma bisa ngemil Honey Star untuk makan.




***

Sekitar pukul 15.00 kita memulai perjalanan turun via jalur Apuy. Karena dari 8 orang anggota tim belum pernah ada yang ke Gunung Ceremai via Apuy, kita semua bergerak dengan petunjuk dari pendaki yang lewat. Pendaki yang kita tanya menunjuk salah satu ujung puncak Ceremai yang jika dari jalur Linggajati arahnya ada di sebelah kiri.

Permasalahannya, pada saat kita mulai bergerak ke daerah yang ditunjuk, hujan deras tiba-tiba turun. Selain itu, kabut tebal mulai berdatangan dan menyelimuti puncak Ceremai. Daerah yang menjadi patokan pun tertutup, membuat kita kehilangan arah. Orang-orang yang tadinya sliweran mendadak hilang, raib entah kemana. Akhirnya kita hanya mencari jalur dengan sistem trial & error. Beberapa tebing kita turuni demi mencari jalur namun hasilnya tetap hampa. Jalur Apuy belum berhasil ditemukan.

Kondisi puncak Ceremai yang botak dan minim pohon membuat gue berpikiran buruk. Kita ada di tengah awan mendung dengan kilat yang menyambar di kanan-kiri. Suaranya sangat tajam dan menggelegar, membangun rasa takut gue. Pikiran kebayang kalo kita tersambar petir. Rintik hujan yang deras juga menyulitkan pandangan kita dalam mencari arah, menambah rasa was-was. Di puncak Gunung Ceremai langit serasa mengamuk dan berperang dengan awan mendung. Satu persatu kita mulai putus asa.

Saat mulai putus asa tersebut, kita menemukan sebuah bivak oranye diantara selipan batu. Bivak itu berjendol dan berbentuk seperti kepompong, tanda ada orang di dalamnya.

Bergegas kita teriak untuk menanyakan arah, "Woi! Jalur Apuy lewat mana ya!?"

Tanpa dialog ataupun monolog, sebuah tangan menyembul keluar dari bivak tersebut. Tangan itu menunjuk suatu arah. Hey, dia menjawab pertanyaan kita!

"Terima kasih ya!" sahut kita yang dibalas oleh lambaian oleh tangan misterius penunjuk arah tersebut. Segera kita meneruskan perjalanan ke arah tersebut. Kondisi cuaca yang semakin memburuk membuat kita terburu-buru ingin meninggalkan puncak Ceremai.

Ternyata arah yang ditunjukkan adalah arah yang benar. Kita akhirnya sampai di puncak Palutungan, puncak lain dari gunung Ceremai. Dari puncak Palutungan, akhirnya kita menemukan jalur turun dari puncak Ceremai. Terima kasih wahai tangan misterius!

***

Track awal jalur turun Gunung Ceremai adalah track berbatuan yang curam dan labil. Di jalur ini kita harus berhati-hati agar tidak jatuh dan terkena batu-batu tajam. Kalau gak salah pos pertama yang ditemui di jalur ini adalah pos Goa Walet yang berisi beberapa tenda pendaki.

Sekitar 1-2 jam perjalanan, kita menemukan percabangan. Keberadaan petunjuk arah membuat kita tidak bingung menentukan jalur selanjutnya. Jalur kiri mengarah ke Palutungan, Kuningan sedangkan jalur kanan mengarah ke Apuy, Majalengka. Segera kita memilih dan bergerak ke jalur Apuy.

Setelah percabangan, kontur jalur berubah dari bebatuan menjadi tanah gembur / lempung yang licin akibat diguyur hujan. Sudut kemiringan cukup curam, mirip jalur Putri pada Gn, Gede, namun dengan tanah yang lebih dalam dan licin. Beberapa kali gue jongkok dan main perosotan akibat licinnya jalur. Celana gue udah abis belepotan lumpur akibat teknik tersebut. Abi, si empunya BuLaba, bahkan sukses kebalik badannya. Kepala di bawah kaki di atas, nyangkut di akar yang menyeruak di balik tanah.

Perbekalan yang sudah habis membuat kita mempercepat laju .Untuk tim 8 orang, kita hanya punya air 1 liter. Membuat kita harus irit dalam minum air. Selain itu, bekal makanan tinggal sebatang coklat Silverqueen. Lengkap sudah penderitaan. Saking cepatnya kita melaju, salah satu anggota tim ada yang terkena kram perut. Untungnya kejadian dia kram perut ada di pos 2, tidak jauh dari basecamp.

Sekitar pukul 22.00 kita sampai basecamp Apuy. Kelelahan menguasai kondisi fisik kita semua dan pakaian pun udah basah sampe ke kolor. Kita akhirnya selesai melintasi Kuningan - Majalengka dengan berjalan kaki. Setelah lapor ke penjaga, kita langsung ke warung pesen Indomie dan makanan apapun yang bisa dimakan.


Pukul 00.00, setelah selesai repacking dan bersih-bersih, kita numpang pickup tukang sayur ke terminal Maja, Majalengka untuk kemudian naik angkot ke Bandung. Dari Bandung, gue naik bis MGI jurusan Bandung - Depok. Sesampainya di Depok, sebelum pulang ke rumah, gue berhenti di sebuah warung bernuansa merah yang ditemukan oleh seorang Colonel Sanders. Segera gue pesan KFC Bucket yang berisi 9 ayam untuk dibawa ke rumah.

Sesampainya dirumah, 3 ayam Crispy KFC berhasil gue sikat.

Keberhasilan dalam mendaki gunung bukan pada saat sampainya kita di puncak, tapi pada saat kita berhasil pulang ke rumah dan membawa cerita yang akan kita kenang selamanya.




mari kita lanjut...

Selasa, Juni 02, 2015

Puntang, Surga Tersembunyi di Bandung Selatan

Gunung Puntang, Bandung.
[14 Februari 2015]

Mungkin hampir semua orang belum pernah mengetahui atau mendengar obyek wisata yang tersembunyi di ujung kota Bandung ini, tepatnya di daerah Banjaran, Bandung Selatan. Dimana orang-orang lebih mengenal Bandung Selatan dengan Ciwidey-nya. Kalau dari pintu tol Kopo, Banjaran letaknya setelah Soreang. Tau Soreang? Soreang adalah anak yang manis, anak yang manis jangan lah dicium sayang, kalau dicium merahlah pipinya.

Mengingat gue harus mengetahui medan sebelum memulai perjalanan, maka gue mencari wangsit ke Mbah Google yang mengetahui segala tempat, peristiwa, dan tokoh. Judul pertama yang muncul saat search keyword 'gunung puntang' adalah : "Cerita Hantu – Kisah Pilu di Bumi Perkemahan Gunung Puntang," "ANGKER BANGET, Misteri Gunung Puntang," atau "Pengalaman Mistis Saya Di Gunung Puntang."

Sumber atau awal mula cerita mistis ini mungkin dari adanya stasiun Malabar yang didirikan pada tahun 1917-1929. Stasiun Malabar merupakan stasiun pemancar radio Belanda dan selain stasiun pemancar, di sekitarnya terdapat komplek perumahan dinas dan gua Belanda. Mungkin inilah yang membuat Puntang terdengar menyeramkan. Konon terdapat gua-gua Belanda di sekitar Gunung Puntang, sehingga orang-orang beranggapan banyak noni dan mister Belanda yang masih patroli disana.

Walaupun begitu, gue tetap berniat menuju Gunung Puntang. Gue yakin kalau dengan niat yang baik dan gak ada keinginan untuk merusak, semua akan berjalan aman tentram dan damai. Tujuan gue hanya satu, menikmati lukisan Yang Maha Kuasa pada kanvas alam yang indahnya tiada tara. Semacam Tara Reid.

Oke, mari kembali ke Puntang, sebelum pembicaraan terfokus ke Tara Reid dan melebar ke Baywatch.

Perjalanan ke Puntang dimulai di pos bumi perkemahan, dimana ada seorang akang penjaga gerbang yang dengan kejamnya gue bangunin tepat pukul 2 pagi. Mungkin dia kesal, mungkin dia marah, dan mungkin dia mau menyelipkan sendal jepitnya ke biji mata gue karena bisa saja sebelum terbangun dia ternyata sedang mimpi nikah dengan Chelsea Islan dan pergi keliling dunia naik Jumbo Jet.

Mau bagaimana pun, nasi sudah nyelip di dubur. Akang itu sudah bangun dan kita segera registrasi, menyerahkan pembayaran sebesar 10.000 /orang. Setelah selesai urusan pendaftaran, gue istirahat sejenak di Musholla sembari menunggu adzan Subuh berkumandang. Sekitar pukul 04.00 gue dan temen seperjalanan, Andi, melanjutkan perjalan menuju puncak Gunung Puntang. Anggota tim perjalanan kali ini hanya dua orang. Duet.

Pada awal pendakian, jalur mengarahkan gue menyusuri sungai kecil. Tak beberapa lama berjalan, jalur terputus  dan membelok ke jembatan yang dibuat dari beberapa batang kayu yang disusun tidak rapi. Imbasnya, batang kayunya goyah dan membuat gue seperti main trapeze saat melintasinya.

Setelah menyebrangi sungai dan berjalan menyusuri jalan setapak, gue menemukan semacam kolam kecil yang berdiri kaku di tengah hutan. Tidak ada air di kolam itu, hanya ada barisan bebatuan yang terbaring kaku di tengah gelap malam. Sepertinya bukan kolam cinta bekas stasiun radio Malabar dahulu, karena sepengetahuan gue bentukan kolam cinta besar dan lebar.

Suasana yang masih gelap dan beberapa cerita mistis yang gue baca sebelum perjalanan membuat pikiran mengkhayal macam-macam di tempat ini. Segera pikiran konyol semacam itu gue tepis dan fokus mencari jalur. Ternyata jalur pendakian bukan di sekitar kolam, gue harus mundur ke belakang dan mengambil jalan lain yang menanjak. 

Selain bangunan kolam misterius tersebut, di jalur awal Gunung Puntang terdapat beberapa pondokan semi permanen yang dipakai petani sebagai tempat istirahat. Terlihat dari baju-baju yang digantung di luar pondokan tersebut dan suara baju yang diterpa tiupan angin kadang terdengar seperti langkah kaki orang. Syahdu dan misterius.

Ternyata jalur yang kita lewati itu memang digarap sebagai perkebunan oleh warga sekitar. Terlihat dari kontur tanah yang gembur, sehingga sering longsor saat dipijak. Di sela-sela kebun dan pepohonan, kita menemukan jalur yang mulai menanjak curam.

Pendakian dimulai.

Sekitar 1 jam perjalanan, tiba-tiba mata gue berkunang dan napas mulai tersengal. Bahkan untuk menarik napas panjang pun tidak sanggup karena udara seakan tertahan di ujung tenggorokan dan menolak masuk ke paru-paru. Tangan gue gemetaran dan beberapa kali jalan gue condong ke kiri mendekati jurang, tidak fokus.

Akhirnya kita memutuskan berhenti sejenak di jalur. Gejala-gejala tersebut berasal dari perut yang kosong dan kelaparan. Gue baru ingat kalau terakhir kali gue makan itu jam 3 sore, sehari sebelum perjalanan, setelah selesai dinas di Kota Bandung. Dalam rentang waktu jam 15.00 sampai 04.30 tersebut gue nonton 2 film di Mall Miko, keliling daerah Kopo sembari nunggu Andi dateng, dan melakukan perjalanan ke Gunung Puntang tanpa menerima asupan makan sama sekali. Pantas saja badan gue protes.

Karena kita kelupaan bawa roti dan hanya bawa snack berupa biskuit, pada akhirnya gue melahap habis satu bungkus biskuit Good Time dalam waktu singkat. Setelah melahap sebungkus biskuit Good Time dengan congok (Rakus), energi gue perlahan muncul dan perjalanan kami lanjutkan.

Peristiwa ini menjadi semacam pengingat untuk gue. Olahraga hiking membutuhkan stamina dan energi yang cukup besar. Kedua hal itu hanya bisa didapat dari asupan makanan yang cukup, minimal 6 jam sebelumnya. Selain itu, perjalanan ini juga mengingatkan gue untuk selalu sedia roti di setiap perjalanan sebagai sumber karbohidrat yang cukup efektif untuk mengisi tenaga. Walaupun perjalanan kali ini dalah One Day Trip, persiapan harus tetap maksimal.

Setelah beristirahat, perjalanan segera kita lanjutkan. Jalur berikutnya sangat khas Gunung Jawa Barat, berbentuk tanah lempung yang licin disaat hujan dengan sudut kemiringan yang cukup curam. Seringkali akar-akar menyembul dari balik tanah dan menambah licin pijakan. Sempitnya jalur dan lebatnya hutan beberapa kali membingungkan kita saat mencari jalur. Yang cukup mengherankan, jalur pendakian yang kita lewati cukup padat dengan tanaman, tanda jalur tersebut jarang dilewati. Selain itu, tidak ada suara pendaki lain baik di depan ataupun di belakang. Sepertinya hanya kita berdua yang melewati jalur itu, tanpa ada orang lain untuk ditanya.




Semakin lama kita berjalan, sekitar 2 jam perjalanan. Jalur semakin absurd dan menanjak tanpa ada bonus sama sekali. Beberapa kali kita ragu atas jalur yang kita lewati dan ada kecurigaan bahwa jalur yang kita lewati adalah jalur yang salah. Namun mengingat kita terlalu jauh untuk turun dan samar-samar masih terlihat jalur yang mengarah ke atas, kita tetap maju ke depan. 

Cahaya.


Seberkas cahaya menyeruak dari ujung jalur. Cahaya matahari yang sulit menembus padatnya pohon-pohon di sekitar jalur. Motivasi kita bertambah karena dengan adanya cahaya maka hutan sudah mulai menipis dan itu pertanda kita menapaki jalan yang benar, mendekati puncak.

Sedikit berlari kita bergerak menuju cahaya tersebut dan sampailah kita di suatu pelataran besar yang berserak daun. Pada pelataran itu, berdiri satu tenda yang sepertinya sedang ditinggal penghuni-nya untuk summit attack. Walau belum Summit, setidaknya arahnya sudah benar. Akhirnya, setelah 2 jam tidak ada tanda-tanda peradaban manusia. Di pelataran tersebut terdapat papan penunjuk arah bertuliskan PGPI.

“Apaan tuh PGPI?” tanya gue ke Andi. Percuma. Dia pasti gak tau.


“Puncak Gunung Puntang Indonesia kali, tapi kok ngarahnya ke bawah ya?” balas dia. Asal.

“Itu jalur coi. Dan sepertinya terlihat lebih normal dari jalur yang kita lewatin tadi,” kata gue sambil melihat arah panah tersebut. Terlihat sebuah jalur landai yang tampak bersahabat. Dari jalur tersebut gue melihat beberapa pendaki yang sedang berjalan ke arah kita.

Ngobrol-ngobrol sebentar, ditemukan fakta bahwa jalur tersebut merupakan jalur yang lazim dipakai untuk mencapai Gunung Puntang. Sontak kita bengong dan bertanya-tanya jalur apa yang kita lewati tadi. Mungkin jalur porter, mungkin jalur evakuasi, atau mungkin jalur pesugihan. Entahlah. Yang penting kita udah ngarah ke jalur yang benar.

Sebagai informasi bagi yang ingin melakukan perjalanan ke Gunung Puntang, lebih baik melalui jalur PGPI (Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia). Basecamp PGPI terletak beberapa meter sebelum gerbang bumi perkemahan Puntang dan memiliki penjaga yang lebih informatif dibanding basecamp di bumi perkemahan.




Perjalanan kita lanjutkan dengan kontur jalur yang lebih terbuka, tanah kering yang nyaman untuk dipijak, dan sudut kemiringan yang tidak terlalu sadis seperti sebelumnya. Di jalur ini, mulai muncul keindahan-keindahan Gunung Puntang.

Gak begitu jauh dari pelataran, terdapat pos bernama Batu Kaca. Pos itu berisi bebatuan  besar yang tersusun cantik di tengah jalur. Di ujung batu kita bisa berdiri dan memandangi jurang yang berisi pepohonan Gunung Puntang yang lebat. Menurut gue pos ini merupakan salah satu keunikan Gunung Puntang.










Sekitar setengah jam berjalan dari Pos Batu Kaca, mulai terlihat lautan awan di sisi kiri-kanan jalur, menyelimuti bukit-bukit di sekitar Gunung Puntang. Seketika bulu kuduk gue merinding, tanda kekaguman gue melihat keindahan ciptaan –Nya.



Pemandangan di jalur menuju Puncak Mega (Puncak Gunung Puntang) sangatlah indah. Lautan awan yang terhampar luas berpadu dengan hijau nya pepohonan di bukit seberang. Rerumputan Puncak Mega yang berwarna kuning semakin bersinar diterpa cahaya matahari yang bersinar cerah di pagi itu. Di sela-sela dan di ujung lautan awan terlihat beberapa pegunungan dan perbukitan yang berdiri kokoh di antara langit.



Pemandangan menuju puncak Gunung Puntang mirip dengan pemandangan saat di puncak Khenteng Songo, Merbabu. Hanya jalur Gunung Puntang relatif lebih singkat ketimbang Merbabu yang memaksa kita untuk melewati beberapa puncak untuk mencapai titik tertingginya. Gelar ‘Merbabu Kecil’ layak disematkan di gunung yang letaknya tidak sebegitu jauh dari Jakarta ini.











Tepat satu jam perjalanan setelah pelataran camp, kita sampai di Puncak Mega (2.222 Mdpl). Total perjalanan kita kali ini adalah 4 jam. Cukup singkat bagi yang ingin mencoba hiking namun takut untuk melakukan perjalanan panjang. Selain itu, waktu pendakian Gunung Puntang yang relatif singkat tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarana refreshing singkat tanpa harus menginap / camp (One Day Trip).






Di puncak sudah ada beberapa orang yang sedang berfoto riang menikmati puncak. Pagi yang cerah memperjelas pemandangan di sekitar Gunung Puntang. Lautan langit biru dengan pulau-pulau awan berhambur adalah imaji yang terlihat sejauh mata memandang. Sayang sekali pemandangan seperti ini tertutup oleh kisah-kisah misteri yang tidak relevan. Alhamdulillah di perjalanan kali ini gue tidak mengalami kejadian apapun juga. Yang penting kita tetap menghormati lingkungan sekitar.

Hembusan angin sepoi-sepoi yang dingin bercampur dengan hangatnya matahari pagi. Segera kita menggelar alas untuk duduk dan memasak air untuk menikmati secangkir kopi. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi dan itu adalah kopi paling enak di dunia. Tak ada yang mengalahkan nikmatnya seduhan kopi  panas di bawah langit, dikelilingi awan, dan dialun lembut angin segar tanpa polusi.

View yang paling mencolok adalah sebuah puncak gunung yang berdiri angkuh melewati awan, berjuang sendiri melawan langit. Sendiri seakan-akan ada dia adalah yang terkuat dibanding lainnya. Puncak yang gue lihat itu adalah Puncak dari Gunung Ceremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Seketika gue menentukan target perjalanan  selanjutnya.





Ceremai, saya datang.




mari kita lanjut...

Jumat, Desember 19, 2014

Bertamu ke Merbabu

2014 merupakan tahunnya travelling. Di penghujung tahun, tepatnya di bulan November 2014, catatan perjalanan gue bertambah lagi. Dimulai dari bulan Mei ke Gede, Agustus Papandayan & Dieng, September balik lagi ke Gede via Selabintana, Oktober Burangrang, dan November ke Cikuray. Capek, lelah, namun bermakna.

Pada tanggal 28 & 29 November 2014, gue melakukan perjalanan ke Gunung Merbabu, Jawa Tengah. Sebuah perjalanan yang tidak direncanakan. Awalnya gue mau berangkat tanggal 25 Desember 2015 dengan menggunakan jasa travel. Namun apa ayal, tiket kereta untuk tanggal tersebut sudah ludes terjual. Bahkan sang travel pun nyerah, tiket kereta tidak bisa mereka dapat dan gue pun urung berangkat.

Angin ternyata tetap membawa gue ke Merbabu. Di satu pembicaraan santai saat jam kantor, tercetus ide dari temen gue untuk berangkat kesana. Susun menyusun rencana, Chuntel dan Wekas menjadi jalur pilihan kita untuk sampai ke Khenteng Songo, puncak tertinggi Merbabu (3.145 mdpl). Cari mencari tiket, akhirnya kita sepakat berangkat pada hari Kamis, 27 November 2014 dan pulang hari Sabtu, 29 November 2014 dengan menggunakan kereta kelas ekonomi. Murah meriah, gampang disiksa.

***

Hari-H keberangkatan, keraguan timbul dan peserta berkurang satu. Rencana awal kita mau berangkat ber-4, namun apa lacur, ada 1 orang yang mendadak punya urusan pribadi. Terlebih lagi, hanya dia lah yang paham cara mengarungi gunung Merbabu via jalur Chuntel. 

Rencana perjalanan langsung kita ubah. Mengingat jalur Chuntel cukup panjang dan berliku, sedangkan waktu perjalanan yang tersedia cukup sempit. Kemudian kita sepakat bahwa perjalanan kali kita hanya melaju melalui jalur Wekas saja. Jalur yang paling singkat diantara kedua jalur lainnya, Selo dan Chuntel. Jumlah pesertanya pun berkurang dari 4 menjadi 3.

Tepat pukul 2159 kereta Bogowonto yang kita tumpangi berangkat. Tas carrier sudah rapi ditaruh di kompartmen atas. Di depan gue ada serombongan laki-laki yang bercanda ribut, heboh, dan memusatkan olok-olok ke seseorang di depan gue. Seorang lelaki gemuk berkacamata yang memegang 3 gadget. Satu di tangan kanan, satu di tangan kiri, dan satu lagi diparkir di atas perutnya yang angkuh membusung. Kupingnya tersumpal rapat oleh earphone putih yang seakan menempel permanen di sana. Untuk dia, dunia seakan hanya sebesar 4 inch saja. Matanya tak pernah lepas dari layar plastik itu, terhipnotis oleh cahaya dan warna yang menyalak riang.

"Oi gendut!" teriak teman-temannya. Namun dia tetap bergeming.

Tak sabar, salah seorang temannya datang dan mencopot salah satu earphone di kupingnya.

"Yaelah! Di kereta masih aja nonton bokep lo!" teriak dia ke mas gemuk itu.

Edan. Lama perjalanan kereta dari Pasar Senen - Lempuyangan kurang lebih 8 jam. Tidak ada yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di perjalanan sehingga dunia dan akhirat hanya dipisahkan oleh tangan terampil masinis. Pada saat seperti ini, seharusnya mas gemuk bermunajat ke Allah SWT dan memohon keselamatan perjalanan. Eh, malah nge-bokep. Mau memohon keselamatan ke Miyabi?

Seberkas benda hijau tiba-tiba bergerak dari atas kepala mas gemuk. Secepat peluru, benda tersebut bergerak mengikuti gravitasi. Benda itu, tak lain dan tak bukan, adalah carrier gue. Sebelum naik, sebenarnya gue sudah  mengikat carrier tersebut di besi-besi kompartmen agar tidak jatuh ke bawah. Namun apa yang terjadi sungguh diluar dugaan.

Carrier memang tidak jatuh kebawah akibat ikatan tersebut, namun dia malah berayun. Lebih tepatnya berayun ke kepala mas gemuk yang sedang nonton bokep. Bunyi benturan keras menyeruak ke koridor kereta, hasil gesekan antara tas carrier dan pipi mas gemuk. Tas carrier yang isinya 2 matras, 1 sleeping bag, 1 kamera, 1 gelas besi, 1 botol spirtus, 1 kompor, 2 panci, 3 baju, 1 scarf, 1 jaket, Astor, Sari Madu, dan Coki Coki dengan mesra menimpa pipi mas gemuk. Sunguh, kejadian ini sungguh pantas masuk headline majalah Hidayah : Kepala Seorang Pemuda Ditampar Tas Carrier 38L Karena Nonton Bokep di Kereta.


***

Hari Jumat, 28 November 2014 pukul 0615 kita sampai di Lempuyangan. Sekitar 0700 kita sudah bergerak dari stasiun dengan menggunakan mobil charteran, langsung menuju basecamp Wekas di Magelang.

Pukul 0900 kita sampai di basecamp Wekas. Namun tepat setelah kita selesai packing ulang barang-barang, hujan turun sederas-derasnya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1000 dan seharusnya pendakian sudah dimulai. 


Menu sebelum mendaki


Keadaan udara sangat dingin dan air hujan terlihat seperti bisa menembus pori-pori kulit. Terpaksa pendakian kita tunda sampai hujan mereda.

Ada sebuah kejadian unik pada saat kita menunggu hujan. Pukul 1145, muadzin mengumandangkan Adzan Dzuhur melalui TOA mesjid yang terletak tepat di depan basecamp. Hujan secara ajaib berhenti saat Adzan berkumandang dan langit berangsur cerah. Mengingat ada kewajiban untuk Sholat Jum'at, kita tetap tidak melanjutkan pendakian, walaupun langit terlihat sangat cerah dan menggoda.

Setelah sholat Jum'at, saat kita sudah selesai pakai sepatu dan memanggul tas masing-masing, hujan deras kembali turun. Walhasil pendakian kembali tertunda. Ternyata alam sekedar mengingatkan kita agar tidak melalaikan sholat Jum'at. Sebuah ajakan halus.

Pukul 1300, hujan deras berangsur menjadi rintik. Setelah memastikan sejenak, akhirnya kita memutuskan untuk memulai pendakian saat rintik hujan semakin halus.

Plang : Puncak 5 Km (JANGAN PERCAYA!) menjadi gapura selamat datang kami ke puncak Merbabu. Jalur awal pendakian adalah jalan desa yang sudah dilapis con blok dengan kemiringan yang cukup signifikan. Seketika gue langsung ngos-ngosan, tanda badan ngomel dan protes. Mereka seakan berkata, "Untuk apa capek-capek mendaki saat dirumah tersedia springbed empuk dan segelas coklat hangat?"

Bodo amat.

Perjalanan sempat terhenti di sebuah bedeng tempat penampungan jerami. Hujan deras kembali turun. Kita kembali berhenti dan mengeluarkan jas hujan masing-masing.  Kita sepakat melanjutkan perjalanan dengan menembus hujan.

Sekitar 15 menit jalan, kita sampai di pintu masuk jalur pendakian Merbabu. Ditandai oleh sebuah bangunan makam bercat kuning.

Jalur pendakian berubah kontur dari con blok menjadi tanah dengan tingkat kemiringan yang cenderung lebih landai ketimbang sebelumnya. Vegetasi jalur berupa pepohonan tinggi dan rerumputan hijau yang terlihat segar. Dikarenakan banyak nya jalur air, kita harus berhati-hati saat memilih jalan yang tepat. Kalau salah belok, kita bisa nyasar atau dipaksa menghadapi tanjakan curam yang jarang dilalui manusia.

Setelah berjalan sekitar 1 jam, kita sampai di pos 1. Sebuah pelataran kecil yang berisi beberapa batang pohon yang melintang dan dapat dipakai sebagai tempat duduk bagi para pendaki yang ingin beristirahat sejenak. Disini kita berhenti sejenak untuk melemaskan kaki yang cukup tegang dan kaku. Tak lupa kita menyantap Coki-Coki untuk mengisi tenaga.

Perjalanan kita lanjutkan menuju pos 2, kontur jalan berupa tanah lempung yang cukup licin saat dipijak. Di tengah perjalanan, kita bertemu dengan pendaki lain yang berasal dari Tangerang. Tim mereka terdiri dari 3 orang, namun pada saat itu kita hanya bertemu dengan 2 diantaranya. Satu lagi udah ngacir ke pos 2 untuk mendirikan tenda. Mulai saat itu, tim kita bergabung. Teman pendakian kita bertambah 3 orang.


Sekitar 2 jam perjalanan, kita sampai di pos 2. Pos ini sering dipakai camp oleh para pendaki karena terdapat mata air yang melimpah ruah. Selain itu, kontur pos yang datar beralaskan rumput memudahkan para pendaki untuk mendirikan tenda. Di sekeliling pos kita bisa melihat bukit-bukit Merbabu yang terlihat seperti kampung halaman Hobbit dan Teletubbies. Biasanya para pendaki bermalam disini dan melanjutkan perjalanan menuju puncak saat pagi-pagi buta. Jarak tempuh antara pos 2 dan puncak adalah sekitar 3 jam perjalanan.


Setelah berdiskusi sejenak, kita memutuskan untuk tidak camp di pos 2. Waktu masih menunjukkan pukul 1600 dan kita merasa tanggung untuk menghentikan perjalanan. Dalam hemat kita, lebih baik mendekati puncak dan sampai agak malam agar keesokan harinya tidak harus bangun terlalu pagi. Bahkan diatas gunung pun kita malas bangun pagi. Ha!

Pukul 1630 kita berangkat dari pos 2, melanjutkan perjalanan ke puncak Menara, salah satu puncak gunung Merbabu. Rencananya kita akan camp disana.

Jalur demi jalur dan tanjakan demi tanjakan kita lalui, hingga pada sekitar pukul 1830 kita sampai di sebuah persimpangan. Keadaan perut sudah lapar keroncongan dan kedua kaki terasa lelah untuk melangkah. Di jalur sebelah kanan terdapat plang Puncak, namun terdapat tanda silang di ujungnya. Di jalur sebelah kiri, terdapat jalur tanah mendatar dan ada jejak sampah di atasnya. Tanda bahwa jalur tersebut sering dilewati. Gelap menyelimuti jarak pandang dan menyulitkan kita memilih jalur yang benar.

Pada awal pendakian, kita sempat diberikan wejangan oleh penjaga base camp agar menyusuri jalur kiri untuk mencapai puncak Merbabu. Berdasarkan wejangan tersebut, akhirnya kita memilih jalur kiri.

Jalur tersebut terlihat indah di awal namun menyesakkan di akhir. Jalan mendatar itu hanyalah PHP. Karena setelahnya kita dipertemukan dengan tebing bebatuan dengan sudut kemiringan 90 derajat. Disini kita dipaksa panjat dengan kaki gemetar, perut lapar, dan berselimut kegelapan malam. Sedikit tertatih, akhirnya kita sampai di suatu pelataran kecil yang muat untuk 2 tenda.

Di pelataran itu terdapat sebuah tugu yang bentuknya mirip batang korek api berwarna putih. Di sekitar tugu terdapat sebaran bebatuan yang teronggok kaku menyambut kita. Tentu saja kita bingung, karena tujuan kita adalah puncak Menara dan tidak terlihat tanda-tanda adanya menara di tempat ini.

Otak sudah terlalu lelah untuk berpikir dan kaki sudah terlalu getir untuk melangkah. Tidak ada seberkas niat untuk lanjut menapak. Perjalanan resmi dihentikan dan kita sepakat untuk mendirikan camp di pelataran kecil tersebut.

Tingginya posisi daerah (sekitar 2.500 mdpl) membuat kita seakan bertamu ke kerajaan angin. Prosesi mendirikan camp terasa seperti pertempuran dengan angin. Dinginnya udara yang bergerak kencang membekukan telapak tangan, menggetarkan tangan yang sedang memantapkan pancang tenda. Kalang kabut, tenda berkali-kali salah berdiri karena strukturnya tertiup angin. Bahkan angin tetap mengganggu pada saat tenda sudah berdiri dan kita ada di dalamnya.

Pada pukul 2330, disaat perut kita sudah terisi makanan dan mulai tertidur lelap, tenda bergoyang hebat seakan mau diterbangkan ke langit. Dimensi tenda serasa menyempit akibat frame yang berbelok diterpa angin. Bunyi kepakan tenda mencipta harmoni mengerikan, menambah syahdu suasana. Mata gue pejamkan erat dan untungnya berhasil tertidur.

Pukul 0130, gue kembali terbangun. Udara dingin yang menusuk tidak membiarkan gue beristirahat dengan tenang. Terpaan angin sebelumnya sudah hilang, berganti heningnya dingin yang menusuk-nusuk kulit. Tangan gue gerakkan ke pinggir tenda, meraih speaker portable dan memutar lagu Sigur Ros. Membuai.


***

Waktu telah menunjukkan pukul 0230 dan mata gue tidak bisa terpejam lagi. Alunan suara Jonsi tidak bisa menjadi kendaraan menuju mimpi. Sesuai jadwal, gue langsung membangunkan semua anggota tim untuk bersiap-siap Summit Attack menuju Khenteng Songo, puncak tertinggi Merbabu. Gue langsung bergerak keluar tenda untuk meregangkan badan.

Udara diluar tenda cukup dingin walau tidak sadis seperti semalam. Angin seakan masih tidur dan bersembunyi entah kemana. Di atas kepala, terlihat langit kelam yang bertabur bintang, berpadu mesra dengan cahaya lampu kota yang mengintip genit di tepian gelap.

Sebelum memulai perjalanan, kita ber-6 kumpul sejenak dan berdoa memohon keselamatan di perjalanan.

Batu-batu yang berserak mengawali perjalanan kita dan udara terasa tipis saat berjalan. Sesaat kita langsung tersengal-sengal, beradaptasi dengan alam. Cahaya bulan bersinar lantang menerangi jalur menuju puncak, menemani kita di tengah kepungan gelap. 

Tak beberapa lama berjalan, kita sampai di sebuah pelataran luas yang terlihat lebih nyaman untuk camp. Namun berhubung kemarin malam otak dan badan sudah tidak kompak diajak bereaksi, maka kita tidak mampu mengeksplorasi tempat lebih lanjut. Di pelataran ini terdapat tugu peringatan untuk pendaki yang (sepertinya) tidak beruntung dan harus menghentikan perjalanan hidupnya di tempat itu.

Pelataran ini mengarah pada dua jalur. Jalur kanan terlihat meyakinkan, curam, dan terlihat lebih singkat namun sepertinya jarang dilewati, terlihat dari rapatnya tumbuh-tumbuhan yang menutupi jalur.

Akhirnya kita memilih jalur sebelah kiri yang menurun dan terlihat tidak meyakinkan, namun merupakan jalur yang benar. Ditandai oleh penunjuk jalan bertuliskan Puncak Helipad, salah satu puncak Merbabu, berbentuk pelataran luas yang terbuka tanpa tertutup pepohonan. Dari bibir puncak kita bisa melihat kota dan Puncak Menara. Di bawah Puncak Menara, terlihat dua tenda kita yang terlihat seperti kutu kuning. Ternyata tempat kita camp tepat berada di bawah puncak Menara.

Perjalanan kembali kita lanjutkan dan mulai terjadi beberapa drama. Mulai dari ada yang kebelet dan butuh melipir sebentar, sampai ada salah satu anggota yang muntah karena tidak kuat jalan. Memang perjalanan ini terbilang cukup berat. Untuk menuju puncak Merbabu, kita harus naik-turun beberapa puncak dan terkadang harus merayap di batu-batu untuk memanjat. Hal ini sangat menguras fisik. Apalagi salah satu teman pendakian kita baru pertama kali hiking. Pantas lah dia megap-megap dan terlihat frustrasi.

Terpaksa gue mengeluarkan jurus, "Ayo, deket lagi! Itu puncak nya udah keliatan!" padahal secara de facto gue juga frustrasi karena dibalik puncak itu masih ada puncak lain dan Kentheng Songo masih terlihat jauh disana.

Pukul 0500, setelah naik-turun melewati Puncak Geger Sapi dan menyusuri jalan setapak kecil dengan jurang di kanan kiri-nya, akhirnya kita sampai di pertigaan Syarief. Sebuah pertigaan yang tepat dibawah Puncak Syarief. Dari pertigaan ini, puncak Khenteng Songo semakin terlihat jelas. Dengan semangat kita melanjutkan melangkah.



Menuju Khenteng Songo, kita kembali diminta memilih. Di depan kita ada jalur menanjak menyusuri puncak Ondorante (credit to : belantaraindonesia.org), Di sisi kiri, ada sebuah jalur yang menyusuri punggungan puncak, melipir di pinggir jurang. Teman-teman gue berjalan terlebih dahulu, meninggalkan gue yang sedang asyik menangkap momen melalui jepretan kamera. Saat gue menyusul, tiba-tiba mereka sudah berbalik arah. Menurut mereka jalur itu terputus.


Oleh karena itu kita semua putar balik dan mengambil jalan satunya. Kembali menaiki satu puncak yang terlihat seperti raja terakhir.

Pada awalnya jalur puncak Ondorante ini terlihat biasa saja, tanjakannya curam namun luas dan permukaannya empuk. Kita bisa mendakinya dengan santai. Tapi, sesampainya di ujung jalur, gue menemukan sebuah pemandangan yang indah nan mengerikan. Sebuah kontradiksi.

Ujung puncak Ondorante adalah sebuah tebing dengan sudut kemiringan 90 derajat. Ya, kita kembali dipaksa panjat tebing. Sebelum menuju tebing, kita dipaksa untuk melewati jalan setapak yang lebarnya hanya cukup untuk satu orang. Jarak jalan setapak itu sekitar 10 Meter, namun itu adalah 10 Meter paling menyeramkan di sepanjang hidup gue. Sampai saati ini.

Di kanan-kiri jalan, jurang siap menyambut tubuh kita apabila lengah. Posisi puncak Ondorante mungkin berada di +/- 3.000 mdpl dan dari kejauhan gue bisa melihat awan putih melayang sejajar. Badan gue serasa ikut melayang, kaki lemas, dan pada akhirnya gue berjalan setengah merangkak.


Ternyata jalan setapak itu hanyalah awal dari kengerian sebenarnya. Sesampainya di tebing, gue dihadapkan pada fakta dimana gue harus melakukan panjat tebing di ketinggian 3.000 mdpl. Kaki tentu saja semakin lemas tak berdaya. Saat melongok ke bawah, langsung muncul imajinasi gue jatuh dan terguling. Dijamin badan gue bakal terpecah ke lima arah mata angin apabila imajinasi itu menjadi nyata.



Walau kaki lemas dan pikiran meragu, perjalanan harus tetap lanjut. Pantang pulang sebelum puncak. Setelah menghela nafas dan membuang jauh-jauh pikiran negatif, gue mulai menuruni tebing secara perlahan lahan. Tangan gue bergerak meraba bebatuan untuk mencari cengkraman yang kuat. Setelah kedua tangan kokoh mencengkram, kaki kiri gue turunkan untuk mencari pijakan. Setelah menendang-nendang batu dan memastikan bahwa itu kuat, gue pijakkan kaki kiri ke batu tersebut.

Kedua tangan sudah mencengkram dan kaki kiri sudah mantap memijak, perlahan gue gerakkan kaki kanan ke bawah. Sayangnya, gue tidak bisa menemukan batu pijakan untuk si kaki kanan. Panik. Sejenak gue terdiam. Bergantung di ketinggian 3.000 mdpl membuat gue melankolis. Gue langsung membayangkan sedihnya nyokap apabila perjalanan gue terhenti disini. Seketika gue inget kesalahan-kesalah yang gue perbuat di dunia. Gue juga inget jemuran di rumah belum diangkat, gimana kalo ujan? Oh, alam bisa membuat orang sebegitu religius.  Bergelantungan di ketinggian 3.000 mdpl membuat nyawa serasa ada di ujung rambut.

Akhirnya gue menekuk kaki kanan dan memarkir dengkul di salah satu batu. Kemudian gue menghela nafas dan melihat kebawah, mencari pijakan. Kepala gue kliyengan saat menyadari seberapa tingginya gue sekarang. Namun gue mencoba tetap tenang dan mulai menentukan jalur yang tepat. Perlahan gue bisa menentukan jalur turun, walaupun harus nyerosot. Sebodo amat celana dan tangan kotor, yang penting nyawa selamat.

Sesampainya di bawah, setelah melalui tebing yang mengerikan itu, kita berpapasan dengan rombongan pendaki lainnya. Mereka berjalan santai sambil bernyanyi-nyanyi sumbang dari arah jalan yang sebelumnya dibilang terputus.

"Berani amat Mas lewat situ, jalur ini lebih gampang," kata salah satu anggota rombongan sambil menunjuk jalan tersebut.

Seketika kita bengong. Damn.

Perjalanan kembali kita lanjutkan setelah berhasil mengatasi bengong karena sadar bahwa tadi kita mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang sia-sia.

Puncak Kentheng Songo sudah ada di depan mata. Kita hanya tinggal melewati tanjakan terakhir dengan pemandangan padang rumput kekuningan yang bersinar cerah tertimpa lembutnya sinar matahari pagi. Pukul 0530 kita sampai di puncak tertinggi Merbabu, Kentheng Songo.



Puncak Kentheng Songo ditandai oleh jejeran 4 buah batu berlubang (Watu Kenteng). Cerita yang beredar, katanya ada 9 buah batu di pelatarang Kentheng Songo. Namun 5 batu lainnya secara kasat mata menghilang dan hanya dapat dilihat secara gaib. Entahlah.



Yang terpenting dari puncak Kentheng Songo adalah : kita berada di negeri atas awan. Kita seakan-akan diberi hadiah oleh Sang Pencipta akibat Sholat Jum'at dulu sebelum mendaki. Cuaca sangat cerah dan kita bisa melihat pemandangan sekitar puncak secara jelas tanpa cela. Padahal hujan terus mengguyur pada saat awal perjalanan, tak mengizinkan kita untuk sekedar merasakan hangatnya matahari.

Di satu sisi, ada Gunung Merapi berdiri tegap dan angkuh.  Merapi terlihat kekar dengan permukaan gunung yang terlihat seperti urat-urat kuli pekerja bangunan. Dia hanya berdiri sendiri tanpa ada yang menemani.



Di sisi lain terlihat jejeran Gunung Sindoro-Sumbing yang berdempet mesra, berhadapan antara satu dengan lainnya. Selain kedua gunung itu, ada juga beberapa gunung lain yang tidak gue ketahui namanya. Maklum, dulu suka bolos pas pelajaran Geografi.




Di puncak Kentheng Songo ini, segala lelah dan susah terbayar oleh suatu hal yang indah. Hangatnya sinar matahari perlahan merayap ke permukaan kulit, meredakan rasa dingin yang menyelimuti kita semenjak jam tiga tadi. Kita semua langsung sibuk masing-masing, mencari-cari spot foto dan beberapa pendaki menuliskan pesan-pesan di kertas selembar. Tak lupa gue memberikan penghormatan untuk seorang pendaki yang namanya diabadikan di sebuah tugu peringatan.




Pukul 0700 kita berbenah dan kembali ke camp. Sepanjang perjalanan turun, mata dimanjakan oleh pemandangan indah bukit Hobbit yang sebelumnya bersembunyi di balik gelap. Sebentar-sebentar gue berhenti dan mengabadikannya di dalam kamera. Tak jarang gue berhenti sejenak untuk sekedar menarik nafas  sambil memejamkan mata, menikmati keramahan alam.








Pukul 0800 gue udah sampai ke camp. Ternyata daerah camp kita dinamakan Kawah Mati, karena berada tepat di atas kawah yang sudah tidak aktif. Pantas saja sepanjang malam tercium samar bau belerang.

Pukul 0930 kita bergerak turun, kembali ke basecamp Wekas untuk mengejar kereta pukul 1700. Berhubung hujan kembali turun dan memang sebelumnya hujan terus menerus, kita beberapa kali terpeleset akibat tanah lempung yang licin. Pada saat naik, paha kita diuji. Namun pada saat turun, kekuatan lutut yang memegang kendali.

Tepat pukul 1200 kita sampai ke basecamp Wekas. Rombongan kembali berjumlah 3 orang, karena 3 orang lainnya tertinggal jauh dibelakang. Apa mau dikata, kita bertiga tidak mau ketinggalan kereta. Di basecamp, hanya gue yang berani mandi dan bersih-bersih. Mandi yang terasa seperti ice swimming challenge. Udah bukan disiram lagi. Dinginnya terasa sampai ke dalam kalbu.

Lebay.

Akhir kata, kita sampai ke stasiun Lempuyangan pukul 1600 dan perjalanan kita ke Merbabu berakhir saat kaki melangkah ke Senja Utama Malam. Perjalanan kita ditutup oleh bocornya AC di kereta. Padahal seperti telah kita ketahui bersama, gue udah mandi.

Mari keluar dan kagumi Indonesia yang indah ini


Showcase Foto Narsis :)











mari kita lanjut...