Tampilkan postingan dengan label Java rocking land. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Java rocking land. Tampilkan semua postingan

Senin, Oktober 11, 2010

Java Rockin' Land 2010

Masih segar ingatan di kepala gue tentang Java Rockin' Land (JRL) tahun lalu. Ada Vertical Horizon yang memanggil kembali kenangan gue saat SMP, MR BIG yang sukses bikin gue ternganga, dan Mew yang bikin gue serasa ada di dunia dongeng, seperti Alice yang jatuh ke dalam lubang kelinci. Acaranya berlangsung tiga hari dan salah satu harinya jatuh tepat saat gue lagi ulang tahun. Ulang tahun yang diiringi Best I Ever Had (Grey Sky Morning) punyanya Vertical Horizon.

2010, gue kembali kesana. Tempatnya masih sama, di pantai Karnaval Ancol. Tata letak panggung pun masih sama. Ada 7 panggung disana dengan artisnya masing-masing. Pada tahun ini, gue dateng cuma pas hari Sabtu aja. Selain karena gue gak terlalu suka sama artis yang tampil hari Jum'at dan Minggu, keadaan keuangan juga lagi ada pada posisi kritis.

Tahun ini gue ngincer Stereophonics sama Dashboard Confessional. Gue sangat mengagumi keduanya. Walaupun untuk Stereophonics gue cuma tau 4 lagu, gue yakin bakal bisa menikmati penampilan mereka karena kekuatan suara vokalisnya yang keren parah. Sedangkan untuk Dashboard Confessional, musik mereka punya perang penting dalam hidup gue. Berperan sebagai soundtrack hidup gue saat kelas 3 SMA dahulu.

Jam 16.00, gue sampe di pantai Karnaval bareng Gadis. Suasana masih belum terlalu rame dan gue masih sempet duduk-duduk di depan pintu masuk untuk nungguin temen gue yang lain. Jalanan di depan gue serasa catwalk, banyak orang berdandan dengan cap 'Mode Masa Kini'. Yang cowok pake sepatu basket jadul setengah tinggi. Istilahnya model 'Dunk', mungkin. Gue gak tau juga. Gue jarang pake sepatu. Lebih enak pake sendal jepit merk Ando seri F22 yang bisa berubah fungsi jadi pentungan.Yang cewek pada pake sendal (apa sepatu?) berjenis Wedges. Semacam sepatu hak tinggi, tapi solnya ada di semua dasar sepatu. Gitu lah kira-kira penjelasan awamnya. Pokoknya gak enak buat dipake main bentengan.

Sekitar setengah jam menunggu, akhirnya temen gue yang lain bermunculan. Kita pun langsung masuk ke venue. Lapangan utama venue sangat berantakan. Lapangan yang aslinya adalah pantai itu berubah jadi kubangan lumpur karena ujan yang mengguyur sehari sebelumnya. Jalan disana susah, banyak lubang-lubang lumpur dan sendal jepit mutakhir gue sering nyangkut. Udah gitu lumpurnya suka nyiprat dan nempel di kaki. Terlihat seperti lintah yang nempel di kaki. Gue aja repot kayak gini, apalagi yang pake wedges ya? #mendadakiba

Performers pertama yang gue liat adalah Boomerang. Sebuah band tua dari Surabaya. Penampilannya sih keren, tapi gue gak ngarti. Cuma ada satu lagu yang bisa gue nikmatin. Liriknya ada, "Kubernyanyi..." gitu. Selain itu, gue cuma bisa sok-sok an headbanging belagak ngarti. Padahal aslinya lagi nyari duit jatoh di tanah.

Setelah itu Roxx. Band yang lebih tua lagi. Vokalisnya serem kayak tukang palak. Kalo aja gue ketemu dia di jalan, gue gak bakal ngira dia vokalis band legendaris. Gue bakal ngira dia mau malak dan nyulik gue untuk dibikin video buat minta tebusan. Kemudian videonya diedarkan lewat YouTube dengan memakai C.I.N.T.A -nya XPDC sebagai soundtrack (bagi yang gak tau lagunya, search diYouTube). Dan gue pun terkenal layaknya Sintha-Jojo.

Dua lagu sudah cukup disana. Gue bergerak keluar untuk ke panggung utama, ngeliat Slank yang bakal tampil sebentar lagi. Sesaampainya di panggung utama, gue ada disebelah ibu berjilbab yang lagi dikelilingin cewek-cewek cantik nan seksi. Gue membatin, "Gila nih ibu-ibu, gaul amat nonton konser rock." Tapi setelah gue liat lagi, mukanya terlihat familiar. Oh! Dia adalah Bunda Iffet, manager Slank yang juga ibunya Bim Bim sang drummer. Yeah, gue nonton Slank bareng beliau, The Rock And Roll Mom.

Me With The Rock And Roll Mom

Konser Slank di JRL tetap seperti tahun lalu. Masih ada 'kandang' raksasa di depan panggung untuk para Slankers agar mereka gak bakal memaksa masuk ke dalam venue tanpa bayar. Ujung-ujungnya bakal ngamuk dan ribut. Memang sih cara ini terkesan gak etis, tapi gue ngerti kok alesannya.

Next : The SIGIT. Band yang namanya panjang kalau diurai itu merupakan salah satu band rock n' roll Indonesia favorit gue. Wajar kalo gue sangat menunggu penampilan mereka pada JRL kali ini. Sayang, mereka gak bisa memuaskan gue. Tempo lagu yang mereka suguhkan lambat dan berkesan tidak semangat tampil. Gak terlihat lagi kemarahan dan emosi yang mereka suguhkan tahun lalu. Ditambah lagi vokalisnya pake topi lebar ala Yoko Ono yang membuat dia terlihat seperti ibu-ibu yang lagi kepanasan saat ke pasar. Gak cowok banget lah. Gue langsung cabut nyari makanan.

Selesai makan, gue kembali lagi ke panggung utama. Nungguin Dashboard Confessional yang bakal tampil. Orang-orang udah rame. Gue gak dapet tempat di depan panggung. Gak tembus. Udah kepenuhan sama orang. Untungnya saat konser dimulai gue bisa merangsek beberapa meter mendekati panggung. Karena seperti Sholat Jumat, penonton menjadi padet begitu artisnya tampil.



Playlist yang dia bawain ternyata jauh dari harapan gue. Dia kebanyakan bawa lagu-lagu baru yang gue gak ngerti. Paling cuma 'Belle of The Boulevard' yang gue ngerti. Selebihnya, bengong sambil menggerutu karena kualitas sound yang buruk. Gue baru bisa berjingkrak saat 'As Lovers Go' dan 'Hands Down', yang dipasang sebagai lagu penutup, main. Dan parahnya, no encore. Thanks for the disappointment there Mr. Carraba.

Kelar Dashboard, gue gak beranjak dari tempat gue berpijak. Gak mau kerjadian kayak sebelumnya dimana gue berada jauh dari panggung. Penampilan selanjutnya adalah Stereophonics dan gue sama sekali gak mau melewatkan penampilan mereka dengan nonton dari jauh. Entah kapan lagi mereka dateng. Arkarna yang lagi tampil cuma gue liat dari jauh. Gue gak ngerti juga musik mereka. Gue cuma tau lagu 'So Little Time' yang lagunya ada di album kompilasi FRESH dengan kover bergambar jeruk kuning dan latar belakang putih, pada saat gue SD dahulu. Setelah album itu keluar, kover kaset bajakan selalu bergambar buah-buahan. Entah itu strawberry, pir, atau anggur.

Setelah menunggu sekitar satu jam sambil dengerin 'So Little Time' dan 'Life is Free' -nya Arkarna, Stereophonics pun tampil. Wew. Seperti yang sudah diduga. Suara vokalisnya sangat menghipnotis, walaupun gue gak bisa ikutan nyanyi karena lagunya gak familiar di kuping. Gue baru bisa ikutan nyanyi pas lagu 'Maybe Tommorow'. Sebuah lagu indah yang jadi soundtrack film Wicker Park yang penuh dengan twist cerita mengejutkan.

Great voice there Mr Kelly

Yang bikin gue kesel. Di sebelah gue ada sekumpulan bule mabok yang kerjaannya tereak-tereak. Hooligan nyasar mungkin. Mereka memegang gelas plastik dengan air berwarna hijau di tangan dan berteriak, "NEWCASTLEEE....!!" Itu bule maboknya rese. Gue gak yakin apakah dia mabok beneran apa enggak. Siapa tau mereka itu bule miskin dan aer yang ada di gelasnya itu adalah Tebs. Jadi mereka pura-pura mabok untuk melegalisasikan ke-rese an mereka. Mana badannya lengket lagi kayak kadal. Ampun dah. Saat 'Have a Nice Day' dan 'Local Boy In Photograph' ditampilkan, saat itulah gue membalas dendam. Gue injek kaki bule kadal itu trus nabrakkin badan gue ke dia sampe kelempar ke temen-temennya. Gue bisa ikut jejingkrakan di lagu itu. Semangat tandur. Pantang mundur!

Konser Stereophonics akhirnya ditutup dengan lagu 'Dakota'. Sangat sangat pas sebagai penutup konser. Tempo lagunya membuat semangat dan lagunya sangat familiar di semua kuping penonton disana. Semua orang asik jejingkrakan di lagu terakhir. Loncat-loncat sambil teriak-teriak. What a great performance from Stereophonics!!!

Setelah itu, gue sama Gadis langsung cabut ke mobil. Dia gue anter pulang, gue lanjut ke Depok untuk ikut acara inagurasi jurusan. Sesampenya di Depok. Tepar. Bahkan keesokan harinya gue sempet ketiduran saat melaju di jalan tol.

Capek tapi PUAS!!


mari kita lanjut...

Senin, Agustus 10, 2009

Java Rocking Land

Huff... Selesai juga petualangan gue selama 3 hari di pantai Carnaval. 3 hari penuh dengan dentuman bass, gebukan drum, dan lengkingan gitar berdistorsi tinggi di acara Java Rocking Land. Sebuah acara keren yang digagas oleh Peter F. Gontha, ditunggu lanjutannya om! Hehee.

Hari pertama konser tepat pada hari ulang tahun gue. Sekitar jam setengah 6 gue sampai di Pantai Carnaval Ancol. Disambut oleh 5 Macbook seksi yang dipake sebagai scanner barcode yang ada di tiket gue dan mbak-mbak seksi SPG Gudang Garam. Sayang, gue gak ngerokok. Kesan pertama yang gue liat dari venuenya, rapi dan luas banget. Cocok dijadiin sawah. Tapi serius, untuk acara yang baru digelar pertama kali, tata tempat-nya sungguh amat sangat rapi.

Diawali dengan Andra & The Backbone. Sebuah band yang digawangi Andra Dewa 19 sebagai gitaris. Gue sih gak berharap apa-apa dari band ini, cuma sebagai selingan, karena gue sering liat di TV dan penampilan mereka biasa aja. Ternyata performance live dia secara langsung jauh lebih keren dibanding di TV, walaupun minus improvisasi, tapi gue cukup menikmati penampilan mereka di panggung utama.

Selesai Andra & The Backbone, gue ke panggungnya Seringai, yang dikenal sebagai band cadas pecahan Puppen. Di panggung ini lah gue merasakan musik rock sebenarnya. Keras, cadas, dan menantang adrenalin. Membuat gue terpacu untuk bergoyang dan menabrakkan badan.
Dan walaupun musik mereka metal, aksi panggung mereka sarat akan pesan-pesan kepada negara ini. Seperti kemerdekaan menyuarakan pendapat yang dikekang melalui kasus Prita Mulyasari, Seringai berteriak "Bebaskan Prita!" dan membawakan lagu Mengadili Persepsi. Meskipun gak bakal kedengeran sama orang yang dimaksud, setidaknya mereka telah berbuat.

Setelah itu gue ngeliat Melee. Kibordis / vokalisnya oke punya, penampilannya gemilang. Tapi sayang, gak ditunjang dengan gitaris yang jago. Gaya mainnya msaih sama kayak gitaris amatir yang datar dan kagok (baca: gue). Gue sendiri gak dengerin lagunya, gak ngerti. Mendingan Rhoma Irama. Hehee.

Lanjut ke Koil, sebuah band yang udah lama malang melintang di ranah musik underground Indonesia. Mengusung musik industrial ala Nine Inch Nails dan mempunyai ujung tombak bernama Otong yang menamai dirinya sebagai JAV. Saat nonton Koil, itulah pertama kalinya gue nonton konser dengan vokalis seperti orang yang lagi disuruh nyanyi di kawinan. Gak siap dan bawa teks. Mending kalo cuma selembar, ini buku teks. Dan dia gak segan-segan bilang, "Anjing gue lupa lagi teks-nya" di tengah-tengah lagu. Sarap.

Tapi diluar aksi konyol itu, penampilan mereka keren. Kharisma seorang Otong sangat terasa dan aksi panggungnya yang seperti orang yang terlalu banyak minum Jack Daniels terasa sangat pas dengan musik metalnya. Di akhir konser, dia membanting gitar "Gibson" SG Series yang dia pake. Entah nyala apa enggak tuh gitar pas dia pake sebelumnya.

Penutup hari itu, Vertical Horizon. Gue cuma ngerti 3 lagu mereka. "You're God", "Best I Ever Had", dan "Everything You Want". Dan sebelom tiga lagu itu keluar, gue cuma bisa bengong dan masang muka dongo. Goyang-goyang seadanya dan nyanyi saat "You're God". Kemudian menatap bulan sambil bernyanyi lagu "Best I Ever Had". Oh, lagu ini membangkitkan banyak kenangan. Setelah lagu itu selesai, gue pulang dengan imaji gue yang terbuka karena lagu itu.

***

Hari kedua, Sabtu 9 Agustus 2009. Hari dimana grup legendaris dunia, Mr. Big, tampil di Pantai Carnaval Ancol. Jam setengah 5 gue udah sampai di venue dan langsung ngeliat penampilan The SIGIT, sebuah band Rock N' Roll asal Bandung yang sudah diakui reputasinya di dunia internasional. Penampilan mereka sangat atraktif dan unik. Mereka menyuguhkan aksi memainkan gitar listrik Gibson Les Paul dengan menggunakan alat gesek biola. Hasilnya? Bunyi yang sangat unik. Konser ditutup dengan ditimpuknya Rekti, sang vokalis, dengan stand mike oleh drummernya yang bergaya layaknya Dave Grohl - nya Nirvana. Mengobrak-abrik drum set yang udah dia mainin, seakan-akan berkata, "This Is Rock N' Roll!!". Musik penuh amarah.

/rif, sebuah band yang telah lama berkiprah di Indonesia. Gue berharap melihat penampilan sensasional dan menarik. Ternyata gue kecewa. Sound yang mereka keluarkan cempreng, persis kayak sound dangdut keliling. Alhasil 5 menit ngedenger kuping gue berasa sakit, kayak ditusuk-tusuk. Gue pun ngungsi agak menjauhi panggung dan mencari makanan. Weh, ada nasi asem berharga 30 rebu!

Seconhand Serenade yang merupakan salah satu headline pada hari itu gue lewatkan. Diganti dengan kegiatan menjual tiket berlebih ke calo di depan gerbang, dalam rangka mendapat uang untuk membeli sebungkus nasi asem. Gue seperti selebritis, dikerubungi banyak orang (baca:calo). Dan karena itu udah malem dan menghindari resiko gue diperkosa calo, tiket gue cuma laku 70 rebu. Tapi begitu gue agak menjauh dari pintu gerbang menuju parkiran, seorang bapak-bapak tua dateng ke arah gue. "Ada tiket lebih dek? Saya bayarin 130 deh". Asem. Kunyit. Kencur. Jamune mas?

Selesai makan, gue langsung merangsek ke bibir depan panggung menunggu aksi Mr. Big. Setelah nyempil-nyempil, gue dapet tempat yang sama sekali gak bisa dibilang nyaman. Ternyata ada ratusan orang yang berpikiran sama. Yah, walaupun gak gak di depan banget, tempat gue sekarang cukup bisa membuat gue leluasa memandang ke panggung.

Waktu menunjukkan pukul setengah 10 malem. Sedangkan Mr. Big maen jam 11. Selama 1 setengah jam ke depan, gue diharuskan berdiri sambil dempet-dempetan. Bertukaran keringat dan bau badan. Persis kayak di kereta ekonomi Jakarta-Depok, ditambah waktu satu jam dan minus pedagang tahu Sumedang. Gue berharap jadi Goku yang bisa terbang melayang, gak make kaki untuk berpijak. Kaki gue pegel banget. Tapi apapun yang terjadi, gue gak mau mundur. Mau topan dan badai menerjang, gue harus tetap di tempat ini. Merdeka!

Jam 11, Mr. Big main. Diawali dengan lagu Daddy, Brother, Lover, Litle Boy. Pegel di kaki sirna sudah, gue langsung melompat mengikuti hentakan lagu demi lagu. Penampilan Mr. Big sangat abnormal dan ajaib. Paul Gilbert memainkan gitar dengan menggunakan bor. Menginspirasi gue untuk maen gitar pake pacul. Billy Seehan mencabik bass seakan-akan bass adalah musuh yang harus digebukin sampe ampun. Duo bassis-gitaris itu adalah penampil utama dan penguasa panggung.

Tiap lagu selalu ada sesi mereka berdua pamer skill yang mumpuni, dan penonton bener-bener dibuat terpana oleh mereka berdua. Apalagi saat mereka berdua membawa alat perang berupa double-neck guitar dan double neck bass. Malam ini gue ngeliat orang-orang yang punya skill word class, kelas dunia, kelas wahid. Jari-jari mereka menari-nari di leher gitar. Beda banget sama jari gue kalo maen gitar, jari-jari gue jongkok kaku di leher gitar.

Seselesainya Mr. Big, gue tepar. Pengen rasanya amputasi kaki dan jalan pake kursi roda. Untungnya gue inget, gak ada yang mau dorongin. Gue pun bergerak tertatih ke Gudang Garam Dome, sebuah venue indoor ber-AC. Cocok untuk duduk santai sambil nyender dan lesehan di lantai dan ditemani oleh lagu-lagu menenangkan hati yang dibawakan oleh Efek Rumah Kaca yang sedang tampil pada saat itu. Situasi sempurna untuk relaksasi setelah 3 1/2 jam berdiri.

***

Hari ketiga, Minggu 9 Agustus 2009, hari terakhir festival Java Rocking Land. Gue dateng jam 3 sore untuk nonton SORE. Tapi ternyata itu belum cukup sore untuk SORE, penampilan mereka digeser jadi jam 6 maghrib, sehingga pada saat itu yang tampil adalah The Monophones. Gue ngeliat penampilan mereka sampe jam 4 sore, trus cabut ke panggung utama untuk ngeliat idola gue dari SMP dulu. Slank.

Walaupun gue udah lama idolain mereka, gue blom pernah ngeliat penampilan mereka secara penuh. Alasan utama gue, takut rusuh, Slank dikenal mempunyai massa brutal dan rusuh. Lebih baik cari aman. Di Java Rocking Land ini, panitia mempunyai ide unik. Dibanding meladeni para Slankers dengan tindakan represi, mereka memilih mengakomodasi para Slankers. Di depan panggung ditambahkan barikade ekstra yang membentuk kotak untuk memisah para Slankers, yang masuk tanpa biaya, dengan penonton lain yang membayar tiket untuk masuk ke acara itu.

Memang, para Slankers terlihat seperti hewan buas yang harus dipisahkan agar tidak menyerang orang. Tapi itu terbukti efektif, mereka jadi bebas untuk berekspresi sesuka hati. Dandandan mereka? Waow! Imajinatif. Celana mepet sampe mencret jadi andalan. Mengangkat bendera Slank sehingga baju ketatnya terangkat. Memamerkan belahan pantat yang sama sekali gak bagus untuk ditonton. Mereka dijadikan tontonan tersendiri tetapi mereka sama sekali tidak peduli. Mungkin di kepala mereka terucap, "Kami datang untuk musik!".

Performa Slank ciamik punya. Benar-benar mencerminkan nama besar mereka. Penuh dengan energi, keras, tetapi masih ada unsur lembutnya. Kaka sebagai frontman menjalankan tugasnya dengan baik. Dia berkomunikasi dengan penonton dan mengajak penonton untuk berdansa. Single "Terlalu Manis" menutup penampilan manis mereka dengan sempurna. Dua jempol untuk Slank.

Lanjut ke Aksara Stage, berniat ngeliat Sore. Sampai disana, ternyata bukan Sore. Yang ada band metal bernama Fall, Sore maen setelah mereka. Gitaris Echa sempet curhat panik ke gue sebelum naik panggung, "Anjrit, dapet nonton Mew gak ya?" sambil nyerahin Teh Botol berharga 10 ribu ke tangan gue. Minta tolong balikin ke abang-abangnya. Gue sendiri cuma ngeliat penampilan keren mereka cuma 4 lagu, kemudian brangkat ke panggung utama untuk nunggu Mew tampil.

Jam 7 malem, Mew tampil. Gue gak tau lagu pembuka dia apa, tapi keren. Lanjut ke lagu-lagu berikutnya, gue semakin terpana ngeliat penampilan mereka. Mereka bukan hanya menampilkan penampilan dari 5 orang yang bermain musik di atas panggung. Penampilan mereka diperindah dengan gambar-gambar yang dikeluarkan melalui screen yang terdapat di belakang panggung. Apik sekali melihat penampilan band asal Denmark ini.

Visualisasi seperti taburan bintang, anak kecil berwajah datar yang menari, kucing bermain biola, ditampilkan sesuai dengan lagu yang sedang dimainkan pada saat itu. Seakan-akan visualisasi itu adalah backing vocal sang vokalis, Bo Madsen. Ditambah lagi lagu-lagu Mew yang mempunyai getukan ganjil dan bebunyian aneh namun indah, mereka terlihat seperti band dari luar angkasa yang datang ke bumi.

Indah adalah kata yang tepat untuk menggambarkan penampilan mereka. Pada saat lagu Am I Wry? seluruh penonton bergoyang dan pada saat lagu penutup, Comforting Sound, suasana terasa sangat syahdu dan damai. Ditambah visualisasi ledakan sinar dari screen, penutup konser Mew terasa sangat memorable dan gak layak untuk dilupakan. Salute!

Selanjutnya gue duduk dulu selama setengah jam ngilangin pegel gue di kaki. Kemudian gue iseng pengen nyoba makan di Jimbaran, mengingat gue sangat gak puas dengan uang 30 ribu untuk nasi asem, mendingan sekalian aja nambah agak mahal tapi dapet pelayanan memuaskan dan tempat duduk. Ralat. Tempat duduk aja. Pelayanan buruk. Makanannya lama. Saat gue menunggu, sayup-sayup terdengar Third Eye Blind (3EB) mulai maen. Gue gelisah dan resah. Untung gak basah.

Selesai makan, yang cuma 10 menit dari waktu menunggu 30 menit, gue bergerak menuju panggung 3EB. Jangan sampai salah ketik, karena kalau sampai tertulis BE3 lagu mereka berubah jadi "Kerinduan". Ternyata konser mereka gak jelek, malah bisa dibilang bagus, walaupun gak sebagus Mew dan Mr. Big. Walaupun gue gak ngerti lagu mereka tapi gue bisa menikmati musik yang mereka bawakan. Apalagi vokalisnya sangat komunikatif dan rajin berinteraksi dengan penonton. Membuat suasana menjadi akrab dan hangat.

"Semi Charmed Life" adalah satu-satunya lagu yang bisa gue nyanyikan di konser. Setelah lagu itu abis, gue cuma goyang-goyangin kepala gak ngerti kayak pajangan mobil. Konser 3EB akhirnya ditutup dengan parade kembang api yang fantastik. Kembang api itu sukses melukis langit hitam Pantai Carnaval Ancol. Gue mendongak ke atas mengagumi kreasi para seniman kembang api, kemudian bersin selama 15 menit karena sisa mesiu yang jatoh masuk ke idung.

3 hari yang sangat melelahkan dan menyenangkan. Sebuah konser Rock internasional pertama di Indonesia dan gue ada di sana menjadi bagian dari konser tersebut. Semoga ke depannya akan ada konser besar seperti ini di Indonesia.

"Mr. Liam Gallagher, Thom Yorke, and Julian Casablancas!! Come Here!!"

Ciaoo...
mari kita lanjut...