Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lebaran. Tampilkan semua postingan

Kamis, September 16, 2010

Konklusi Ramadhan

Waduh waduh, telat banget bikin posting ini. Posting tentang Ramadhan tahun ini dan bermaaf-maafan untuk Lebaran. Yah, lebih baik terlambat bukan daripada enggak sama sekali? (sebuah prinsip yang gak diterima dosen kalo telat masuk kuliah, tetep aja gak diabsen)

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Kalau ada salah-salah kata atau ada posting yang menyinggung, gue mohon maaf sedalam-dalamnya. Terutama untuk tamu blog gue yang post komen ini :

Anonim mengatakan...

hhhhh,,,
npe lo SIRRIIIIK!
susaaaaaah sih..
klo gk suka DIEM AJA..
gk usah komend...
LO TUH CMA TUKANG GOSSIP
YG SUKA NGOMONGIN ORG...
dsar FREAK...


Anonim mengatakan...

kamu yg weird..goblog!


Anonim mengatakan...

A...mimpi lho, F..utk yg tak beradat, dosesnnya namanya ntek nyahok...boggolok weird lho!

Anonim mengatakan...

yg weird tu lo yang nulis blog ini, jahanam lho!

Gue mau ngucapin terima kasih atas kritiknya dan berusaha untuk lebih baik lagi. Ini masih merupakan karya yang prematur, masih butuh banyak perbaikan dan tidak berlaku umum. Pasti ada yang tidak setuju dengan pendapat gue. Tapi sebelumnya gue juga mau bilang, sebelum berkata orang lain goblog, lebih baik liat dulu diri sendiri. Apakah bijaksana mengkritik orang dari balik semak yang gelap?

***

Ramadhan tahun ini, gue mengalami kemajuan dalam hal tarawehan. Cuma bolong 1 taraweh di awal Ramadhan. Setelah itu semua berjalan lancar, walaupun kebanyakan sholatnya sendiri, bukan berjamaah. Sebenarnya -dalam lubuk hati yang paling dalam- gue pengen banget sholat berjamaah.

Apa daya,semua mesjid di deket rumah gue taraweh-nya 23 rakaat. Udah gitu gerakan sama ucapannya cepet-cepet banget dan didominasi surat Al-Ikhlas. Setiap jeda dua rakaat, ada orang yang tereak-tereak bahasa Arab, kemudian disautin sama yang lain. Karena gue gak ngerti harus baca atau nyautin apa, gue cuma bisa bilang, "Hewe hewe hewe heeee...!!" seperti seorang dukun suku pedalaman Afrika lagi ritual minta hujan. Kalo aja gue boleh bergerak pada saat itu, gue bakal nari "Waka-Waka" ala Shakira.

Selepasnya Ramadhan, tentu aja ada Lebaran. Sebuah pesta kemenangan. Kemenangan atas hawa nafsu. Katanya. Atau kemenangan untuk kembali berbuat maksiat? Entahlah. Yang pasti gue gak berani ngerayain abisnya bulan Ramadhan secara berlebihan seperti anak-anak bercelana ketat yang memakai baju hitam dengan sablon tengkorak dan mengusung bendera Slank pada malam Takbiran. Mereka ada diatas, didalam, dan gelantungan di bus PPD yang berjalan miring. Gue jadi kasian mikirin nasib yang ada di dalem bus, mengingat minimnya tingkat kesadaran atas manfaat memakai deodoran untuk lingkungan. Memberikan efek "Global Stinking" yang bisa meluluh lantakkan bulu idung dalam sekejap.

Mereka senang dan bergembira, merasa tugasnya telah selesai dengan baik. Gue gak bisa. Karena gue terlalu minder untuk berpesta pora seperti mereka. Gue gak merasa yakin ibadah gue selama bulan Ramadhan itu baik dan benar. Setelah malam takbiran, saatnya Lebaran. Lebaran yang diawali dengan shalat Ied yang hampir aja gue lewatin karena baca Doraemon di kamar mandi. Terlalu asik ngeliat baling-baling bambu dan berharap pintu kamar mandi jadi pintu kemana saja. Begitu sampe di jalan, shalat udah dimulai. Terpaksa gue olahraga pagi, lari-lari di hari yang Fitri.

Selepas shalat Ied, tentu aja ada sesi wajib tiap lebaran, sesi salam-salaman sama bokap, nyokap dan abang. Abis itu, nungguin sodara-sodara untuk dateng ke rumah trus cabut keliling. Ke rumah para Tetua alias nenek-nenek gue. Kegiatan inilah yang paling berat, karena gue harus makan setiap mampir ke satu rumah. Pada saat itu, gue mengunjungi 4 rumah. Perut serasa mau pecah. Mau nolak gak makan, pasti gak bisa. Karena gue bakal langsung diambilin makanan dengan porsi yang banyak. Mendingan ambil sendiri sambil dilama-lamain, pura-pura ngambil banyak makanan. Taktik yang cukup efektif sampai pada suatu saat gue disamperin, dikasih 3 potong daging asem pedes yang berlemak. Lebaran adalah sebuah proses penggendutan badan secara paksa.

***

Pada hari ketiga Lebaran, gue udah gak keliling-keliling lagi. Untunglah. Perut gue udah perih karena kebanyakan makan, serasa ada alien di dalamnya. Karena pada hari itu gak ada acara, gue berangkat nonton di GI sama sepupu gue, Naya, Ufan, dan Haikal untuk nonton Hello Stranger. Sebuah film komedi romantis tentang sepasang anak muda Thailand yang ketemu di Korea dan menjalin kisah disana.

Filmnya cukup menghibur, tapi ada suatu hal yang menggelitik saat gue nonton film. Bukan, itu bukan kaki orang yang ada di belakang gue naik ke leher. Saat melihat adegan dimana muncul satu karakter secara tiba-tiba tanpa penjelasan apapun, gue menyadari cara pandang gue yang berubah setiap nonton film. Kalo dulu, gue nonton film tanpa logika. Gak ada pertanyaan, "Kok bisa ya kayak gini?" dan semua adegan terlihat keren. Dulu gue percaya aja kalo ada karakter yang tiba-tiba muncul setelah ditembakkin, jatoh ke jurang, atau ditinggal sendirian ngelawan musuh. Sekarang, gue bakal bertanya-tanya bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul disana, gimana cara lolosnya, dan (mungkin) siapa nama emaknya.

Logika, harus gue akui, sedikit banyak merusak kenikmatan gue. Saat gue nonton film Power Rangers jaman SD dulu, Tommy si Ranger Putih terlihat keren saat manggil robot macannya dari atas bukit pake alat yang terlihat seperti peranakan antara pisau dan suling. Sekarang, dia terlihat seperti pemain Soneta. Tinggal dipasang syal arab, telpon Rhoma Irama, jadi deh.

Terus terang, gue rindu nonton tanpa logika. Seperti saat gue nonton The Expendables. Gue tau filmnya itu hanya berisi adegan tabok-tabokan, tembak-tembakan, patah-patahin leher,dan sebagainya. Untuk itu gue menggeser tombol logika di otak gue ke posisi "OFF" biar bisa nikmatin filmnya. Adegan demi adegan gue lewati dengan baik tanpa logika. Sampai pada akhirnya gue ngerasa dibodohin, dianggep idiot sama yang bikin film.

Bayangin aja, seorang tentara kekar dengan nyali segede King Kong rela balik ke pulau yang dikuasain ratusan gembong narkoba, bertaruh nyawa, cuma buat nolongin cewek yang baru dia kenal selama +/- 2 jam. Terdengar sangat telenovela. Mungkin judul filmnya harus diganti jadi The Esmeralda. Hal itu diperparah dengan adegan Jet Li minta duit mulu kayak pengemis tanpa ada alasan yang jelas. Gue sukses tertidur. Ternyata gue gak bisa mematikan logika.


Logika adalah produk pendewasaan. Seiring bertambahnya umur, kita semakin pintar membuang rasa senang, sakit, dan sedih, belajar bermain logika, mempelajari untung-rugi dan mengetahui sebab-akibat. Kejadian di bioskop itu membuat gue sadar kalo gue bukan Peterpan. Gue bisa menjadi dewasa.


mari kita lanjut...

Jumat, September 25, 2009

Perjalanan ke Kota Horas

Lebaran hari ke-2. Mungkin lebaran adalah satu-satunya perayaan yang mempunyai banyak hari. Ada Lebaran hari ke-2, ke-3, ke- 4, dst., yang secara otomatis akan membuat liburan-nya mertambah panjang. Kenapa beberapa hari? Karena Lebaran mempunyai tradisi sakral yaitu mudik ke kampung halaman masing-masing. Membuat beberapa daerah tujuan mudik menjadi padat dan sumpek, dan jalanan menjadi macet.

Banyak dari mereka yang rela bersusah payah dalam perjalanan hanya untuk sekedar bertatap muka dengan keluarganya, di tanah asalnya. Seperti menempuh kemacetan sejauh 10 Km dengan kondisi jalan menanjak. Bagai naek Roller Coaster yang mati mendadak. Ada juga yang desek-desekan di kereta, bahkan sampe duduk di kakus WC selama 10 jam lebih. Kemungkinan sambil nyambi kerja jadi penuntun buang hajat. Anak kecil juga suka dilempar-lempar kalo dalam keadaan hectic rebutan bangku kereta. Biasanya anaknya dimasukkin dulu lewat jendela buat nyelip-nyelip cari duduk. Sungguh orangtua yang baik dan kreatif.

Tahun ini, gue ikut merasakan kegiatan mudik tersebut. Berangkat pada Lebaran ke-2, tepatnya hari Senin 21 September 2009, jam setengah 12 siang gue berada di bangku pesawat ber-merk Lion untuk berangkat menuju Medan. Di dalam pesawat tanpa kerjaan apapun membuat gue bernostalgia mengingat pengalaman mudik gue dulu, saat gue masih bocah tengik penyuka musik SKA. Suka pake kemeja Hawaii dan dompet berantai.

Gue ke Medan naik bus Big Bird gede berwarna biru. Dalem bis itu ada sekitar 20 orang, termasuk gue. Perjalanan itu gak bakal gue lupain. Bersama keluarga gue selama 3 hari perjalanan, dengan segala macam tingkah polah yang ada. Belum lagi kondisi jalan yang seringkali rusak, membuat gue lonjak-lonjak di bangku belakang bus. Pusing tak tertahan.

Kalo misalnya kita kebelet dan mau pipis atau BAB, kita biasanya minggir dan menepi di mesjid-mesjid atau rumah makan. WC yang disediakan adalah sebuah mimpi buruk untuk orang-orang higienis. Kadang WC-nya cuma berupa lubang tanpa kejelasan apapun. Ada juga yang make kakus, tapi ada "oleh-oleh" dari pengguna sebelumnya. Yang unik, ada jamban yang ada lele di dalemnya. Jadi sambil kita duduk jongkok, kedengeran suara kecipak-kecipuk. Seperti lagi buang hajat di pinggir sungai. Yah... Daripada di pinggir hutan? Bisa-bisa diseruduk babi hutan.

Sepanjang jalan lintas Sumatra banyak terdapat rumah makan atau restoran, yang didominasi oleh masakan dari daerah Padang. Harga makanan di tempat ini biasanya melonjak lebih tinggi dari biasanya. Tugas om gue yang marah-marah kalo misalnya ditemukan ayam goreng seharga 20 rebu di daerah terpencil, tempat jin bikin anak. Udah gitu gue juga gak yakin makanan yang disajikan itu bener dimasak atau cuma dijemur di matahari. Rasanya apek, asem, dan kecut. Well, daripada gue sekarat kelaperan? Hajar bleh.

***

Sakit kepala hebat membangunkan gue dari lamunan. Pelipis gue serasa ditusuk-tusuk jarum. Beribu-ribu jarum. Ini lah yang disebut efek pilek, berupa ingus yang membuat pusing. Gue liat keluar, terlihat gedung-gedung mini, pertanda gue udah sampe di kota Medan. Gak beberapa lama, pesawat yang gue naikin mendarat dengan selamat, walaupun sempet dag-dig-dug karena pesawatnya oleng kanan-kiri ditiup angin.

Keunikan dari bandara Polonia Medan adalah tidak adanya fasilitas troli yang bisa gue pake untuk naro barang-barang. Semuanya udah dikuasain sama kuli panggul yang berjumlah puluhan. Untungnya, barang gue gak banyak. Gue bisa langsung jalan ke depan terminal, naik mobil, dan jalan-jalan di kota Medan. Berwisata makanan, karena Medan terkenal dengan makanan-makanannya yang enak-enak dan unik-unik. Perut gue juga makin buncit-buncit.

Lalu lintas di Medan membuat ketel emosi gue mendidih. Keberanian para supir di Medan membuat gue kagum dan kesel. Mereka tidak mengenal adanya rem sebagai pengurang kecepatan. Mungkin masih ingat dengan teori Merah = Berani di post gue sebelumnya, ternyatagak ada lampu merah pun mereka tetep berani. Contohnya saat lagi muter dan moncong mobil udah masuk di jalan. Mereka gak bakalan ngasih jalan, malah justru menginjak pedal gas dalem-dalem. Seakan-akan jalanan adalah wahana Bomb-bomb Car di Dufan.

Setelah melalui jalanan yang lalu lintasnya semrawut itu, gue sampai di rumah nenek gue dan berkumpul sama sodara-sodara gue. Saat gue kumpul itu lah gue menemukan fakta bahwa anak kecil sekarang udah terkontaminasi. Sepupu gue yang masih kecil ajah udah sibuk minta hape ke gue, mau update facebook dan online YM. Setelah dapet hape, dia jadi autis. Sesaat kemudian, hapenya direbut. Ternyata dia lagi wall-wall an sama cewek dan cewek itu curhat tentang pasangan mana kah yang harus dia pilih. Anak SD kelas 5 udah berbicara pasangan? Waow. Hal itu diperparah dengan ucapan keponakan gue yang umurnya 4 tahun. Dia bilang, "Ih, abang pacaran. Kalo pacaran itu khan cium-ciuman". Kata-kata itu membuat nyokapnya panik.

Hari kedua di Medan, gue menuju satu daerah yang selalu di analogi kan sebagai Cimanggis-nya Medan. Yang berarti tempat yang sangat jauh dari peradaban hidup manusia. Tempat dimana alien dan monster Yetti tinggal. Tempat itu bernama Tembung. Ada beberapa wanita yang memiliki julukan unik di daerah ini. Julukan itu adalah "Peragawati Tembung". Makhluk apakah yang disematkan julukan ini? Peragawati Tembung adalah wanita yang suka memakai baju ketat. Sangat ketat. Bajunya biasanya berwarna cerah dengan tulisan provokatif seperti "Touch Me" atau "Nasty Girl". Kemudian bedak tebal menempel di kulit wajah, seekor nyamuk bisa kepeleset kalo nempel disana. Tak lupa gincu merah menyala untuk menambah cantik wajah tesebut. Rambut peragawati Tembung gak ada yang kriting. Rambut kriting kayak gue gak laku disana. Rambut mereka lurus, walaupun hasil catokan pake setrika, lagi-lagi tak lupa dengan warna yang heboh sebagai penambah estetika. Sebagai penyempurna, tambahkah eye-shadow berwarna gelap. Niscaya, itu lah "Peragawati Tembung".

Hari ketiga, gue masih berkeliling kota Medan dan mencari secercah oleh-oleh. Gak taunya, semua tempat oleh-oleh masih tutup dan pada akhirnya gue karaoke sama sodara-sodara gue. Berlomba-lomba membesarkan suara untuk nyanyi sambil bergoyang, berdendang bersama. Sampai-sampai dua buah microphone wireless-nya mati. Kemungkinan karena tersumbat air ludah kita yang kental, efek suka ngemil tepung kanji.

Besoknya,gue kembali lagi ke bandara Polonia. Naik pesawat menuju kota raksasa bernama Jakarta. Sesampainya di udara, melihat perbedaan besar antara daratan Sumatra dengan daratan Jawa. Perbedaan itu terletak pada masih banyaknya gunung dan pepohonan rindang di daratan Sumatra. Gue juga sempet ngeliat danau Toba dari atas pesawat, sungguh indah. Sedangkan di Jawa, pemandangan didominasi bangunan-bangunan dan sawah-sawah lebar. Dari atas udah terbayang padat dan sumpeknya pulau itu. Pulau tempat gue menapak nanti saat mendarat. Tepatnya di kota Jakarta.




Sebelum belok ke Depok.



Ciaoo...
mari kita lanjut...

Minggu, September 20, 2009

Rayakan Kemenangan

Lebaran, sebuah hari kemenangan. Kemenangan atas hawa nafsu yang terus menggoda kita di bulan Ramadhan kemarin. Nafsu marah, syahwat, makan, dan minum. Semua adalah musuh-musuh kita selama bulan Ramadhan. Untuk itu, atas kemenangan besar yang udah kita dapat dan perang yang udah kita jalani, lebaran menjadi suatu momen untuk kita berbadan tegap dan menjadi manusia yang baru.

Pada malam sebelum lebaran, gue keluar untuk nyari Aqua gelas dan napkin. Malam itu adalah malam yang dinamakan malam takbiran. Dimana setiap orang merayakan kemenangannya itu dengan caranya masing-masing. Ada yang bersahabat dengan mikrofon di mesjid, melantunkan alunan takbir yang lantang. Anak-anak kecil memukul bedug, menyalakan kembang api dan petasan, dan berlari-larian sampai hampir dilindas mobil yang lewat. Yang remaja naik ke atas mikrolet atau metro mini dan bernyanyi lagu kebangsaan salah satu tim sepakbola besar di Jakarta yang mempunyai warna khas oranye. Gak nyambung.

Untuk mereka, malam takbiran mungkin diartikan sebagai ajang melepas nafsu yang tertahan. Berhura-hura karena tidak harus puasa. Tidak harus menahan lapar dan dahaga. Membuat kekacauan dengan nyerempet sana, nyerempet sini. Bahkan saat gue lagi minggirin mobil ke pinggir jalan yang paling pinggir, ada suara teriakan seorang makhluk yang memakai jaket hoodie abu-abu dengan motif berlebihan. Dia bilang, "NGE*******T !!!". Entah apa maksudnya. Apa itu ekspresi senang dia merayakan kemenangan? Gue rasa bukan.

***

Esokan harinya, gue terbangun oleh suara takbir yang saling berebut untuk didengar. Hari ini hari lebaran. Gue cek hape, SMS gue failed semua. Penyebabnya jelas, operator yang pamrih. Karena cuma mau nganterin SMS dengan imbalan rupiah. Sehingga kalau rupiahnya gak ada, dia menjadi sombong. Oke, gue ngaku. Gue yang pelit. Gak mau beli pulsa. Maafkan saya bapak IM3. Hehe.

Seperti rutinitas standar pada saat lebaran, pagi-pagi gue sholat ied, pulang langsung makan dan maaf-maafan, dan saat siang keliling dari satu rumah kerumah lainnya. Pada rumah pertama, gue masih bisa merasakan nikmatnya makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah. Makanan berupa gulai tunjang dan bebek cabe ijo sukses gue lahap dengan penuh suka cita plus cucuran keringat seperlunya. Perut kenyang, duduk pun ngangkang. Kenyang.

Problem muncul saat rumah keempat, dimana perut gue udah mencapai kapasitas penyimpanan maksimum. Makanan terlihat seperti musuh yang harus dihadapi, walaupun kita gak suka ngeliatnya. Apalagi rumah ini terkenal dengan legenda "Makanan Terbang". Legenda ini gak kalah dari "Legenda Uler Putih" atau "Legenda Sinetron 3D Maksa". Berkisah tentang seorang nenek yang mewajibkan para tamunya, terutama yang masih muda, untuk makan yang banyak. Gak peduli walaupun perutnya udah kayak busung lapar, buncit. Mungkin dalam kasus ini, namanya busung kenyang.

Gue yang lagi duduk, nonton TV, dan gak berniat makan tiba-tiba ditarik ke arah ruang makan. Ditungguin dan dipaksa ngambil makanan yang ada. Berhubung gue anak yang baik seperti Unyil, gue mengambil makanan dengan maksud menghormati tuan rumah. Gue ambil nasi sedikit dengan satu potong paha ayam panggang. Saat gue mau ke sofa untuk makan, secara ajaib tiba-tiba muncul satu potong daging rendang di piring gue. Gak beberapa lama ada sambel goreng ati. Selang waktu sepersekian milyar detik muncul lagi ayam goreng dan ikan tongkol. Apakah gue salah masuk ke acara The Master?

Saat gue dongakin kepala untuk ngeliat keadaan sekitar, gue ngeliat pesulap yang berhasil memunculkan banyak makanan di piring gue itu. Itu bukan Joe Sandy atau Deddy Corbuzier, itu adalah nenek gue sendiri. Beliau ngelemparin semua makanan itu ke gue, "Anak muda kok makannya dikit!? Ini ambil yang banyak!!". Gue gak bisa berbuat apa-apa lagi. Cuma ngeliat piring gue yang penuh trus nyengir-nyengir kayak tupai ke nenek.

"Heee... iyaa...", kata gue.

Abis itu gue langsung cabut ke sofa, karena gue liat beliau udah siap-siap mau ngambil sayur. Disana gue duduk dan makan setumpuk makanan yang ada itu. Dibuang gak mungkin, gue benci membuang-buang makanan.

***

Terus terang, gue gak suka ngerayain abisnya bulan Ramadhan secara berlebihan. Simple, karena gue masih gak bener di bulan Ramadhan. Itu akan membuat perayaan tersebut jadi absurd. Gak jelas apa yang gue rayain. Siang hari mata gue masih suka belanja kalo ada makhluk halus yang berpakaian seksi lewat di depan gue. Atau ada di seberang gue, dan gue nyamperin. Kemudian masih suka ber-ghibah ria sama temen-temen dan berwisata komentar kalau ada yang berkelakuan aneh. Seperti kalau ada yang pake celana beset-beset. Mending kalo besetnya cuma kecil, tipis, dan ada di salah satu bagian aja. Ini di seluruh celana, membuat dia terlihat sebagai gembel. Lebih parahnya lagi, dia harus bayar untuk terlihat seperti gembel.

Jadi, mengenai celana gembel itu... *STOP*

Ya, seperti itulah. Walaupun gue gak makan dan gak minum, gue merasa ibadah gue di bulan Ramadhan masih cupu banget dan sama sekali gak pantes untuk dirayain. Sholat lima waktu aja masih suka bolong-bolong, apalagi sholat taraweh. Bolongnya udah kayak tambang Freeport di Tembagapura.

Gue gak se-percaya diri mereka-mereka yang berkeliling kota di atas metromini sambil tereak-tereak.

Gak se-percaya diri mereka yang naik motor beriringan dengan pasangan yang memeluk dari belakang.

Gak se-percaya diri mereka yang main petasan sampai menyebabkan kebakaran.

Gue malu. Gue belum menang.

***

Poin yang gue suka dari lebaran adalah kumpul-kumpul dengan keluarga. Bercanda tawa dengan sepupu-sepupu gue yang gokil-gokil. Om dan tante gue yang suka ngatain anaknya sendiri dan anak orang lain. Kemudian silaturahmi ke rumah nenek-kakek gue. Terlihat kebahagiaan pada raut muka beliau karena didatengin anak-cucu nya. Terlihat dari cara beliau memastikan cucu-nya mendapat asupan gizi yang cukup.

Kemudian lebaran adalah sebuah ajang untuk kita saling memaafkan antar sesama manusia. Siapapun itu. Baik kawan maupun lawan. Untuk itu, gue juga mau mengucapkan kata maaf sedalam-dalamnya dari lubuk hati gue yang paling dalam. Gue sangat mengerti kalau selama ini banyak perkataan dan perbuatan gue yang menyakiti ataupun menyinggung perasaan orang. Pada lebaran ini, gue memohon maaf sedalam-dalamnya dan berusaha memperbaiki diri agar menjadi manusia yang lebih baik.

Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
"Jangan terlalu banyak makan, nanti sakit perut"

Ciaoo...
mari kita lanjut...

Sabtu, Oktober 04, 2008

Met Lebaran Untuk Semua

Wahh.. udah lebaran ke-empat. Sekali lagi gue mau ngucapin Minal Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir dan Bathin untuk semua orang yang pernah gue kecewain, gue bikin marah, dan gue colong kolornya. Semoga amal ibadah yang udah kita bikin selama sebulan penuh di bulan Ramadhan bisa diterima pahalanya oleh Allah SWT. Aminn!!

Pertama-tama gue mau review bulan Ramadhan gue :
  • Minggu pertama : Puasa penuh, teraweh penuh, segala sesuatu selalu bernafaskan nila-nilai Islam yang dipegang teguh.
  • Minggu kedua : Puasa penuh, teraweh penuh, segala sesuatu masih bernafaskan nilai agama yang kuat dan suci mewangi sepanjang hari (emang Molto?)
  • Minggu Ketiga : Puasa penuh, taraweh bolong-bolong, segala sesuatu bernafaskan nilai-nilai busuk dan iseng. Terbukti dengan sepanjang hari kerjaannya cuma ngata2in orang.
  • Minggu keempat : Puasa penuh, udah gak pernah taraweh lagi, dan berharap bulan Ramadhan cepat berakhir.
Yang bisa gue penuhin dari janji gue di awal Ramadhan cuma puasa penuh aja. Bulan Ramadhan gue juga diisi sama berbagai macam bukpus (buka puasa) bareng sodara dan temen-temen. Judulnya macem-macem, ada temen SD, SMP, SMA, dan kuliah.. Dengan seringnya bukpus itu, . bulan puasa yang harusnya jadi bulan penghematan dimana jumlah pemakaian uang dikurangi malah jadinya lebih boros karena keseringan makan diluar. Sisa duit di kantong tiap minggu gak pernah lebih dari ceban. Dan gue pun berharap belah kasihan orang lain di saat lebaran.

Cerita pun beda-beda di acara bukpus ini. Pernah ada bukpus gratisan. Kalo biasanya gue ngitung-ngitung duit yang ada di kantong buat mesen makanan, kali ini gue dengan bebas mengambil makanan semau gue. Tapi karena tengsin, yang pertama gue ambil cuma 1 potong ayam. Untuk nambah lagi, gue menemukan ide cemerlang. Gue maju ke tempat buffet, taro dua potong ayam di permukaan piring, dan menutup dua ayam itu dengan krupuk secukupnya. Dan gue pun gak ketauan nambah ayam sebanyak apapun. Kalo mau nambah, gue cuma bilang, "mau ambil kerupukk...".

Ada juga bukpus SMA yang dilanjutin sahur bareng di rumah temen gue. Bukpus-nya sendiri gak ada apa-apa. Tapi pas selesai makan sahur dan setelah tidur. Gue kebangun dari tidur panjang gue. Di keadaan setengah idup itu gue denger tereakan "uhh.. ohh... yeah.. baby..." (bukan, itu bukan Cinta Laura). Gue pun bangun, ngambil kacamata, dan melihat keadaan sekitar. Ternyata temen gue bikin acara NONTON BOKEP DI BULAN PUASA. Setan asem. Dia emang gak puasa untuk alasan yang amat sangat gak penting, minum obat. Oke, kebanyakan orang mikir itu wajar karena dia lagi sakit. Mungkin kalo dia bilang obatnya itu adalah obat mujarab yang kalo gak dimakan sama dia tiap 2 jam sekali, dia bisa mendadak mati, pingsan dengan keadaan mengenaskan, atau minimal menyebabkan ambeien berlebihan ditambah mencret. Tapi obat yang dia makan cuma Neozep, dia ingusan dan kalo gak minum itu ingusnya meler2 mulu keluar. Bulan puasa dikalahkan oleh sebutir Neozep... dan ingus.

Kemudian sampelah saatnya lebaran. yang mempunyai tradisi make baju baru, celana baru, pokoknya semuanya baru dehh... Ada tradisi lain, pembagian uang santunan untuk anak-anak kecil bermuka melas. Lebaran kali ini pun gue berharap gue masih dianggap anak kecil dan memasang muka melas di pojokan rumah. Tapi yang gue dapet cuma, "dek.. kalo mau boker jangan di pojokan..". Ternyata tradisi itu udah gak berlaku untuk anak kecil yang beranjak tua, mempunyai kumis tipis, dan bisa kencing sambil berlari.

Yahh.. tapi itu cuma bisa dianggep nilai plus dari hari Lebaran. Inti utama dari lebaran khan kita bisa silaturahmi sama sodara-sodara dan saling bermaaf-maafan juga kalo selama setahun ke belakang ada salah-salah kata atau perbuatan. Akhir kata, met lebaran buat semua..!!!




mari kita lanjut...