Rabu, Juni 03, 2020

#DiRumahAja

Wuhan, sebuah kota yang barangkali belum pernah terdengar di seantero dunia. Dia tak seterkenal Beijing yang memiliki Kota Terlarang, Shanghai yang merupakan pusat bisnis, atau kota tak bernama di film Kungfu Hustle yang dikelola oleh emak-emak bermahkota roll rambut. Kota yang terletak di negara China itu sekarang menjadi sorotan negatif dunia karena disinyalir sebagai episentrum atau tempat lahirnya virus Corona jenis Covid 19 (Corona Virus Disease 2019).
Apelu ngomongin gue!?
Jenis virus ini belum pernah ditemukan sebelumnya. Menyebabkan manusia yang terinfeksi mengalami gejala umum seperti demam tinggi dan sesak napas, penurunan imunitas tubuh sehingga memperparah kondisi fisik seseorang yang memiliki penyakit bawaan. Bahkan di beberapa kondisi virus ini dapat menyebabkan kematian mendadak tanpa ada gejala apapun. Dunia dibuat gempar oleh makhluk tak kasat mata.

Wuhan berjarak 4.167 km dari Indonesia (Bekasi, khususnya. Lebih khusus lagi, Kampung Siluman - Tambun). Jauhnya jarak antara lokasi kita dengan episentrum bencana membuat kita sempet abai pada awal kemunculan virus di sekitaran Desember 2019.


Naek pesawat aja 13 jam Bor

Ada yang bilang virus tidak dapat masuk ke Indonesia karena kita biasa makan nasi pecel ayam di pinggir jalan pake piring yang dicuci dengan air bekas cucian 500 piring sebelumnya. Sehingga virus tersebut akan berantem rebutan kavling dengan bakteri E.Coli apabila masuk ke dalam tubuh masyarakat +62.

Ada yang bilang virus tidak dapat masuk ke Indonesia karena kita rajin minum jamu sehingga badan kita imun dari berbagai jenis virus.

Ada yang bilang virus dari luar negeri gak akan masuk ke Indonesia karena ketahan di Bea Cukai.

Ada, ada, dan ada.

Semua canda dan tawa renyah itu tersapu habis pada bulan Maret 2020. Ditandai dengan pengumuman Presiden tentang adanya kasus 2 pasien positif Covid-19 di Indonesia.

Setelah pengumuman itu, keadaan berbalik 180 derajat.

2 pasien bertambah jadi 10, kemudian menjadi 100, kemudian 200, sampai kemudian menyentuh angka 4.000 penderita virus Covid-19 dengan tingkat kematian mencapai 400 orang dan terus bertambah. Demi mengurangi tingkat penyebaran wabah Covid-19 yang sudah ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO, pemerintah berusaha mengurangi kerumunan orang.

Hal yang pertama dilakukan pemerintah adalah meliburkan sekolah dan anak-anak diminta belajar dari rumah. Kemudian dilanjutkan dengan kantor-kantor yang perlahan mengurangi jumlah karyawan yang masuk melalui mekanisme bekerja dari rumah, atau nama keren nya Work From Home.

Mobilitas peradaban manusia yang sedang melaju kencang tiba-tiba menginjak pedal rem. Jalan raya yang biasanya penuh sesak dengan kendaraan menjadi sepi. Orkestrasi klakson dari berbagai jenis kendaraan mulai dari telole-lolet bis Primajasa sampai terompet tukang roti Tan Ek Tjoan pun berhenti bergema, jalan raya hening seketika.

Pusat perbelanjaan yang biasanya setiap harinya tak pernah sepi mulai dari jam 10.00 sampai 22.00 serentak tutup. Restoran yang bangkunya selalu penuh terisi mendadak terlarang untuk diduduki. Orang-orang yang gemar duduk sendirian dan hobi memonopoli 10 tempat duduk kosong buat teman-teman lainnya di restoran atau food court ramai pasti kebingungan mencari pekerjaan baru.

Masker, hand sanitizer, dan tisu toilet, di beberapa negara, menjadi produk primadona yang selalu habis terjual. Manusia mulai berpikir detil mengenai kebersihan dan kita mulai mengetahui alat-alat serta istilah-istilah medis seperti APD, baju hazmat, ventilator, dan lain sebagainya. Saking prima

Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi juga terjadi di negara-negara lain yang terinfeksi virus Covid-19. Manusia dipaksa diam di rumah dan daerah masing-masing tanpa tahun kapan pandemi ini akan berakhir.

Diam di rumah, untuk saat ini, adalah cara terbaik dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 agar para pahlawan medis bisa fokus menyelesaikan kasus yang ada tanpa terus bertambahnya kasus baru.

mari kita lanjut...

Senin, Januari 27, 2020

Masalah

Perkembangan dan perubahan merupakan hal yang tidak bisa dihindari oleh setiap insan yang hidup di planet ketiga dari matahari ini. "Dulu kita sahabat, berteman bagai ulat, berharap jadi kupu-kupu," kata Sind3ntosca yang sempat satu tahun terkenal dengan hit single Kepompong pada saat memberikan gambaran mengenai perkembangan dan perubahan.

Mudahnya, kita bisa lihat foto-foto kita di album foto keluarga atau memory card hape orang tua. Itupun jika foto nya belum dihapus karena low space data untuk memberikan tempat kepada auto-download gambar meme becandaan politik atau video ngakak dari WhatsApp Group.

Di album foto kita bisa melihat betapa mungil nya badan kita saat lahir, pake popok, dan bibir clemotan berantakan abis makan bubur biskuit Milna. Saat lembar album dibalik, kita bisa melihat gambar kita mau masuk SD, dianter bokap-nyokap, dan mungkin ada tawa bahagia kita semua pada saat diajak jalan-jalan ke Monas. Saat lembar album dibalik lagi, foto kita tetap ada namun pendampingnya berbeda, dari foto kita dengan keluarga menjadi foto-foto kita bersama teman-teman, gebetan, pacar, dan sampai pada foto-foto pernikahan kita. Momen permulaan kita membentuk dan membangun keluarga baru.

Lika liku berkeluarga merupakan petualangan memenuhi sandang, pangan, dan papan bersama pasangan tersayang. Kebutuhan kita telah berkembang dan bertumbuh dari pemenuhan hidup sendiri menjadi pemenuhan hidup keluarga. Proses pemenuhan kebutuhan hidup keluarga itu lah yang akan diwarnai, diiringi, dan diramaikan oleh berbagai macam masalah.

1 Januari 2020 merupakan awal gue memulai dekade baru. Malam pergantian tahun gue isi dengan nonton di Bella Terra bersama istri. Dua film yang berhasil membuat roller coaster emosi di dada kita berdua, Good Newwz dan Ashfall.

Sekitar pukul 23.30 kita sudah sampai di rumah dan tepat pukul 00.00 kuping kita dijejali puluhan, mungkin ratusan, suara petasan yang meledak di udara. Petasan-petasan tersebut meledak di tengah hujan deras yang sedang mengguyur kota Jakarta, membakar uang-uang orang dermawan yang rela membagi sedikit harta nya ke para pedagang petasan, dan menyelundupkan suara bising ke telinga orang-orang yang sedang mencoba tidur seperti kami. Walhasil, kita baru bisa tidur pukul 01.00.

Pukul 03.00 tiba-tiba gue dibangunkan oleh istri dengan suara panik, " Bangun sayaaang, plafon pada bocor!"

Kondisi badan yang dibangunkan saat sedang deep sleep membuat gue menjadi ling-lung. Hal pertama yang gue lakukan saat bangun adalah menatap mesra bocoran-bocoran yang tersebar di plafon kamar tidur sembari membatin, "Apa yang sedang terjadi? Bagaimana bisa itu air netes dari plafon? Kenapa Kekeyi putus dari Rio Ramadhan? Bagaimana bisa Nia Ramadhani seumur hidup gak pernah ngupas salak?" Segala macam pikiran berkecamuk di kepala.

"Ambil ember di belakang, cepetaaan! Jangan bengooongg!!" teriak istri gue membuyarkan lamunan.

Tersadar, gue langsung lari ke dapur yang terletak di bagian belakang rumah. Sembari jalan menuju dapur, gue cek kamar tamu dan ternyata keadaan nya lebih menyedihkan. Plafon kamar tamu udah jebol dan bau apek udah menyebar ke seantero ruangan. Melangkah sedikit ke kamar belakang, lampu nya udah mati, keadaan kamar gelap gulita. Di pojok kamar ada puing plafon yang (juga) jebol. Bergeser sedikit ke dapur, udah banyak tetesan air menyelip di antara plafon. Sehingga bisa disimpulkan kalau dari seluruh ruangan yang ada di rumah, hanya dua ruangan yang aman dari bocor dan jebol plafon. Mantap.

"Beybiii.... cepetan kesini!" teriak istri gue dari kamar tidur utama.

Seketika gue langsung kembali ke kamar tidur utama dan merasa takjub serta terkesima. Gue menyaksikan fenomena alam yang belum pernah gue lihat sebelumnya : Terciptanya air terjun di kamar tidur. Rintikan air di sela-sela plafon berubah menjadi air terjun akibat semakin derasnya hujan yang turun dan semakin jebolnya plafon kamar. Yang lebih fenomenal nya lagi, air terjun tersebut jatuh tepat di atas lemari baju. Mantap.

Air terjun yang jatuh ke lemari pada akhirnya jatuh ke lantai sehingga seantero kamar sudah mulai digenangi air. Derasnya hujan belum ada tanda-tanda mereda dan bahkan intensitas nya semakin meninggi pada saat mendekati subuh. Air di dalam kamar bahkan sudah semata kaki dan air mulai menjalar ke ruang tamu.

Handuk, kemeja, selimut, dan segala macam hal yang bisa menyerap air telah kita terjunkan untuk mengurangi penyebaran air. Kita menjaga agar air gak sampai ke sumber listrik dan menimbulkan korsleting. Lama-lama kita merasa hal itu gak berguna, karena seberapa sering nya kita melakukan rutinitas serap, peres, dan buang air ke luar pake ember tetap aja gak berhasil mengurangi banjir lokal di kamar.

Bongkar-bongkar seantero rumah, akhirnya kita nemu sodetan. Alhamdulillah. Lebih efektif buat nyingkirin air ke luar ketimbang peres handuk ke ember. Jadi lah kita berdua kerja bakti sampe kira-kira jam 8 pagi, mencoba mengeringkan rumah apa ada nya sampai hujan mereda.

Seluruh kejadian yang menimpa kita di malam itu menimbulkan kebutuhan mendesak akan tukang renovasi. Problematika yang tentu belum pernah gue alami sebelum berkeluarga. Rumah masa kecil yang telah diamanahkan ke gue sekarang perlu operasi besar.

Masalah renovasi rumah memiliki beberapa elemen yang harus dipecahkan masing-masing. Persoalan pertama, nyari tukang. Secara garis besar, hanya ada dua hal yang membuat kita tidak menemukan tukang yang cocok : Biaya dan Jadwal. Sedangkan sistem deal tukang biasanya terbagi menjadi dua : Harian atau Borongan.

Tukang harian lebih baik kita pakai apabila sudah punya pengetahuan yang baik soal dasar-dasar pertukangan sehingga kita bisa menghitung dengan tepat waktu pengerjaan untuk suatu proyek. Namun apabila pengetahuan kita mengenai dasar-dasar pertukangan hanya sebatas membangun istana pasir di Ancol pada waktu kecil dahulu, lebih baik kita pakai sistem borongan ketimbang stres dan suhudzon karena kerjaan berasa gak beres-beres.. Karena istana pasir yang kita bangun aja ancur pas ketendang badut lewat, apalagi bangun rumah. 

Berdasarkan pertimbangan tersebut, maka gue sempat beberapa kali ketemu dengan tukang agar dapat tukang dan biaya yang cocok dengan kantong. Kemudian pada saat sudah menemukan tukang yang cocok dan memilih sistem borongan, maka mandor tukang akan menawarkan harga borongan untuk pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan dengan kesepakatan mengenai bahan-bahan apa saja yang termasuk dalam harga borongan tersebut. Kita memutuskan untuk untuk memborong pekerjaan ganti plafon dan bagian-bagian lain rumah yang sudah rusak.

Harga borongan yang kita pilih mencakup biaya upah dan bahan dasar seperti semen, pasir, gypsum, dan rangka plafon. Sedangkan untuk bahan-bahan yang membutuhkan model dan selera seperti keramik, pintu, jendela, atau cat dibeli sendiri. Takutnya kalo dipilihin tukang, tau-tau keramik gambar ikan koi udah rapi kepasang di lantai dengan maksud agar kita bisa merasakan sensasi jalan di atas danau.

Setelah harga borongan sudah deal, petualangan kita mencari material pun dimulai.

Petualangan dimulai di Mitra 10 Percetakan Negara yang berlokasi dekat dengan rumah. Sesampainya di sana, kita malah kebingungan sendiri dengan banyak nya varian keramik yang tersedia, berbagai macam cat yang ada, sampai ragam model pintu dari harga yang terjangkau atau bikin terpana. Awalnya kita excited untuk milih-milih model yang disuka, tapi sayang terkadang terbentur dinding bernama budget. Tetapi ada juga yang sesuai budget, warna cocok, model oke, namun stok barang gak ada. Pada saat itu terjadi, ingin rasa nya keramas pake Semen Tiga Roda.

Departemen pemilihan warna gue tanggung jawabkan ke istri, mengingat ke tidak estetika an gue dalam bidang padu padan warna. Jika diukur dari fashion gue sehari-hari, maka pengetahuan gue akan padu padan warna hanya terbatas pada kaus hitam dan jeans biru. Plus sepatu biru. Plus pemakaian lima tahun ke depan. Sehingga dapat disimpulkan apabila padu padan warna diserahkan ke gue, niscaya kombinasi warna yang gue pilih akan membuat rumah terlihat seperti Kubus Rubik.

Petualangan kita berlanjut ke toko-toko keramik di sekitar Rawasari. Ada beberapa warna keramik yang cocok tapi ternyata stok nya tidak ada di Mitra 10, sehingga kita harus mencari ke toko-toko lain. Sesampainya di toko, kita disambut oleh cici-cici yang mungkin berumur sekitar 50 tahun.

"Permisi Ci, punya keramik Platinum seri Salvatore?" kata istri gue ke cici penjaga toko.

"Bentar yak, saya telepon gudang dulu. Apa tadi namanya, seri Master?" balas cici.

"Salvatore Ci."

"Apa? Silver?" kata si cici belum mudeng juga

"SAL... VA.. TORE Ci," istri gue udah hilang batas kesabaran nya.

"Salpatore yah, ada katanya. 75 rebu. Mau berapa dus, jadi yeh?"

Harga yang ditawarkan ternyata cukup jauh beda nya dengan di Mitra 10. Namun ini lah keuntungan belanja di toko biasa, kita bisa melakukan tawar menawar harga dan ini adalah saat yang tepat untuk mengasah skill negosiasi kita. Perkiraan waktu yang kita habiskan untuk negosiasi harga kurang lebih satu jam. Segala macem kita bahas, mulai dari keadaan penjualan toko keramik sampai ke siapa penerus toko ini.

Cici penjaga toko sedikit mengeluh karena anak dia tidak mau meneruskan usaha toko keramik. Anaknya lebih memilih untuk jualan pomade di platform online, "Panas ah, kalo jaga toko" begitu kata Cici menirukan alasan anaknya tidak mau meneruskan usaha toko keramik.

Keterangan Cici memberikan penjelasan mengenai pomade-pomade yang berjejer rapi di etalase. Gue sempat berpikir keras tentang apa hubungan antara pomade dengan keramik. Gue sempat curiga kalau bahan dasar Keramik adalah tanah lumpur yang dicampur pomade  dengan sedemikian rupa sehingga bisa keras pas kering.

Usaha kita ngobrol ngalor ngidul pada akhirnya membuahkan hasil manis, harga keramik yang kita pengen berhasil turun 9 ribu per dus. Pantes aja dulu pas kecil kalo diajak Bokap main ke toko material dia selalu lebih lama ngobrol ketimbang milih bahan. Gue udah korek-korek pasir, bengkok-bengkokin kawat, dan main kendang pake ember cat tetap aja Bokap belom beres ngobrol. Begitu kelar ngobrol, eh ternyata Bokap cuma beli cat dan thinner sekaleng kecil.

Setelah menjalani seluruh kegiatan belanja, tawar menawar, dan permandoran, akhirnya proses renovasi rumah Alhamdulillah selesai dalam jangka waktu tiga minggu. Apakah masalah selesai? Tentu tidak. Karena rumah masih ancur lebur diselimuti debu konstruksi, barang-barang tersebar acak di seantero sudut rumah, serta berbagai varian sampah konstruksi menumpuk untuk dibuang. Saatnya kita menyingsingkan lengan baju dan kerja, kerja, kerja!

Tapi gak deh, lengan baju gue pendek. Takut nyembul bulu ketek nya.







mari kita lanjut...

Minggu, Juli 14, 2019

Annabelle Tak Bisa Diam

Selasa, 09 Juli 2019

"Malem nanti nonton Annabelle yok," kata bini gue melalui pesan masuk di WA.

Sebuah tawaran yang menarik.

Annabelle adalah boneka ke-empat yang sempat gue kenal sejauh ini setelah Unyil, Susan, dan Cepot di Asep Show di TPI di Asep Show di TPI di Asep Show di TPI yang nyanyian nya akan terus looping di ingatan gue sampai kapan pun.

Ngomongin Annabelle tentu tidak bisa lepas dari sepak terjang dua pasangan supranatural Anang & Ashanty Ed & Lorraine Warren yang diperkenalkan kisahnya melalui film The Conjuring yang udah masuk seri kedua dan akan menuju seri ketiga. Dimana pasangan tersebut sudah sukses mengangkat karir dua dedemit yang sebelumnya tidak dikenal khalayak ramai, Annabelle dan Valak.

XXI City Plaza Jatinegara jadi pilihan kita untuk nonton film Annabelle yang kali ini bertajuk Annabelle Comes Home. Jam tayang yang kita pilih adalah pukul 21.30 dengan harapan penonton yang hadir tidak begitu banyak karena larut nya malam dan posisi hari yang terletak di tengah pekan.



Namun kenyataan yang terjadi sedikit di luar ekspektasi. Setelah kita masuk ke dalam Studio 4 dan melewati lorong bertembok hitam nan kelam, kemudian berjalan menuju kursi yang telah dipesan, serta merasakan hembusan AC yang dingin mencekam, ternyata bangku studio hampir terisi penuh.

"ITU ADA YANG BERDIRI!" komentar seorang (terduga) Ibu-ibu dengan suara yang mengalahkan teknologi DTS 7.1 (All Around You) pada saat film Annabelle baru memulai adegan pembuka.

Ya, kami semua di studio 4 kebetulan melihat layar dan adegan yang sama. Sepertinya penjelasan Ibu tersebut tidak diperlukan sama sekali oleh para penonton di studio 4. Kecuali apabila di dalam studio 4 diputar empat film yang berbeda dan penonton diminta menyampaikan cerita melalui permainan kata berkait.

Ini adalah awal dari keseruan nonton Annabelle.

Adegan film berlanjut ke Warren's Occult Museum yang berisi berbagai macam benda terkutuk dan berisi energi-energi jahat nan negatif. Salah satu tokoh di film tersebut, Daniela, sedang mengendap masuk untuk membuktikan apakah pasangan Warren benar-benar pakar dalam dunia spiritual atau hanya sekedar penipu belaka.

Daniela kemudian menemukan lemari kaca yang berisi boneka Annabelle. Ada tulisan, "Warning Positively Do Not Open" menempel di pintu lemari kaca tersebut yang sebenarnya memperingatkan orang-orang agar tidak membuka lemari tersebut. Pada awalnya Daniela tidak mau membuka lemari tersebut, namun dia jadi penasaran karena bunyi benturan kepala boneka Annabelle yang tiba-tiba menyundul pintu lemari kaca.



"Nanti pas diangkat sama mbak nya, tau-tau pala Annabelle benjol," kata seorang bocah di depan bangku gue yang kira-kira berumur 13 tahun kepada teman yang duduk berjarak 3 bangku ke samping dari tempatnya.

Sebuah lelucon yang sebenarnya sangat cocok disampaikan pada saat mereka nonton film hasil unduhan ilegal dengan subtitle yang berisi iklan judi poker, berlima di rumah orangtua mereka masing-masing. Namun sayang sekali, lelucon itu disampaikan di bioskop dalam suasana mencekam yang susah payah dibangun oleh sutradara sehingga lelucon tersebut menjadi sesuatu yang sangat menyebalkan.

Seiring berjalan nya waktu, gue terpaksa harus menerima fakta bahwa kemungkinan hanya gue dan istri yang merasa bahwa berbicara selama film berlangsung di bioskop adalah hal yang menyebalkan. Karena intensitas suara orang-orang meningkat linear seiring dengan meningkatnya adegan film menuju klimaks.

Kita pada akhirnya dipaksa untuk memaklumi bahwa ada berbagai macam reaksi orang pada saat menghadapi ketakutan di depan mata. Ada yang pasif seperti nutup mata pakai tangan, merem, atau tutup kuping sampai ada yang aktif seperti ngobrol dengan teman nya, ngelawak, atau main handphone. Sayang demi sayang, di studio 4 ini berkumpul orang-orang yang cenderung aktif dalam mengatasi ketakutan nya.

Berkali-kali istri gue menegur dengan, "SSSSTTT....!!" pada saat penonton lain berbicara. Teguran tersebut malah ditanggapi dengan komentar, "Hihihi... kita berisik banget yah" yang tentu saja disampaikan dengan suara yang keras.

Ada juga pencemaran lain yang terjadi pada studio 4 selain polusi suara, yaitu polusi cahaya. Tidak tanggung-tanggung, cahaya yang muncul dari handphone aktif tersebut bahkan masih terasa oleh istri yang duduk sejajar dan hanya dipisahkan oleh tangga studio dengan si pelaku. Kegiatan main handphone di dalam bioskop ini sebenarnya memiliki dua gangguan kronis : 


  • Matae Kecototus : Pernah kebangun pada malam hari dan langsung melihat handphone dengan brightness tinggi pada keadaan lampu kamar mati? Mata akan terasa perih seakan dicolok lightsaber oleh Darth Vader.
  • Matae Ranglaen Gafocus : Orang, pada umumnya, ke bioskop untuk nonton film yang ditembak dari proyektor ke layar di depannya. Seiring dengan munculnya duplikasi layar akibat handphone maka tentu saja penonton lain akan terdistraksi, padahal logika nya apa yang dilakukan saat main handphone di dalam bioskop juga dapat dilakukan di luar bioskop dengan cahaya yang memadai tanpa harus membuat orang lain melihat dia main Mobile Legends atau sekedar liat timeline sosmed.

Gue lebih memilih tertawa dan mengamati situasi ketimbang marah-marah tersulut emosi akibat situasi, karena sepertinya mayoritas penduduk studio 4 sudah mengadakan konsensus yang membolehkan komentar netijen disampaikan pada saat film masih berlangsung. Hal ini membuat keadaan studio 4 lebih terasa seperti layar tancep gratisan yang ramai dengan celotehan iseng, senda gurau, serta tepukan tangan ketimbang bioskop XXI yang mengharuskan orang membayar sejumlah uang yang tidak sedikit untuk nonton film.

Film Annabelle Comes Home sendiri kalau menurut gue kurang mengalami pengembangan cerita dibanding dua seri sebelumnya, karena film ini lebih terasa seperti media presentasi studio untuk mengorbitkan karir dedemit-dedemit yang belum se terkenal Annabelle dan Valak tanpa memiliki dasar cerita yang kuat.  Film ini semacam showcase untuk dedemit.

Dedemit yang paling memorable di film ini tentu saja Annabelle sebagai dedemit utama yang memiliki kemampuan pindah-pindah tempat kayak pedagang kopi keliling / Starling (Starbak Keliling). Selain dia, film Annabelle juga memperkenalkan dedemit materialistis bernama Ferryman. Dimana dia selalu meminta ongkos 2 koin perak agar korban yang dibunuh olehnya tidak ikut dibawa ke dunia dedemit.

Adegan paling epik di film ini adalah pada saat tokoh utama film, Mary Ellen, berjalan melewati jalan setapak yang dikelilingi oleh korban-korban Ferryman. Mereka terbujur kaku dengan muka yang dingin. Keadaan jalan gelap dan satu-satunya cahaya bersumber dari lampu teplok yang dibawa Mary Ellen. Di ujung jalan, salah satu korban Ferryman memeluk boneka Annabelle dan Mary Ellen harus merebut boneka itu dari pelukannya.



Tangan Mary Ellen perlahan-lahan mendekat dan meraih boneka Annabelle...


"WAKWAW...!" terdengar suara misterius dari belakang bangku gue.

Rusak sudah seluruh kerja keras aktor, aktris, sutradara, produser, penulis skenario, ahli efek khusus, procurement, UPM, bahkan sampai cleaning service studio yang sudah mencurahkan seluruh tenaga, pikiran, dan waktu untuk menciptakan adegan yang seram, tegang, dan mencekam untuk film Annabelle Comes Home.


mari kita lanjut...