Minggu, November 23, 2014

Gede Jalur Selabintana

Pada pendakian pertama ke Gede, gue sempat bersumpah serapah untuk tidak kembali kesana. Bahkan tidak mau mendaki lagi. Capek. Lebih enak di rumah nonton soft copy film bajakan sambil minum susu coklat hangat dan berlindung di balik hangatnya bed cover yang menjaga kulit dari dinginnya AC kamar. Tidak adak logika yang tepat apabila harus menjawab pertanyaan, "Kok lo mau hiking? Kan capek."

Namun Indonesia terlalu cantik untuk sekedar dinikmati melalui layar televisi, terutama melalui Indonesia Bagus, program andalan NET. yang baru saja menang KPI Awards 2014 untuk kategori Program Televisi Best Feature Budaya. Promosi dikit.

Tidak. Cara untuk menikmati Indonesia adalah dengan keluar rumah dan merasakannya. Selagi bisa dan selagi mampu. Oleh karena itu, gue menerima ajakan teman untuk kembali ke Gunung Gede. Walaupun gunung itu pernah bikin gue terlentang diatas batu dengan kaki beset sana-sini. 

Pada perjalanan sebelumnya, gue mendaki Gede melalui jalur Putri dan turun di Cibodas. Kali ini gue diajak untuk naik melalui jalur Selabintana dan turun di jalur Putri. Mendaki di Sukabumi dan turun di Bogor dalam jangka waktu satu hari tanpa camp seperti sebelumnya. Lebih capek, jelas. Namun alam selalu menggoda untuk dihampiri.

***

18 September 2014 Pukul 2100, perjalanan dimulai. Memanfaatkan jasa busway, gue berangkat ke Cawang-UKI untuk naik omprengan ke Ciawi dengan tarif 15.000. Pukul 0000 gue sampai di Ciawi dan lanjut naik L300 yang bertarif 20.000. Tidak pakai menunggu lama, karena sudah banyak yang mengantri dan konsumen nya pun banyak. Sehingga mobil tidak butuh waktu lama untuk penuh. Walaupun tetap ada drama, "Masih muat satu orang!" padahal sisa tempat cuma cukup untuk satu curut.

L300 mungkin satu-satunya angkot menuju Sukabumi yang ada sampai larut malam. Supir-supirnya adalah jebolan pengendara F1 yang tidak lulus psikotes karena tidak mampu memahami fungsi pedal rem pada mobil. Style mengemudinya ugal-ugalan cenderung nekat. Jalur Ciawi-Sukabumi pada larut malam mayoritas dilewati truk-truk pengangkut material yang berjalan lambat. Apabila jalan L300 terhalang, maka supir akan mencari jalan apapun untuk bisa melewatinya. Garis bawahi kata apapun.

Di malam gelap yang sunyi tersebut, terlihat seberkas kecil cahaya merah di ufuk gelap. Sambil memicingkan mata, supir L300 menganalisa jalan dua arah yang hanya muat untuk dua mobil tersebut. Sebelah kiri got dan dari arah berlawanan muncul cahaya putih yang terlihat semakin mendekat. Sepertinya ada truk. Melalui kalkulasi yang bisa membuat seorang Albert Einstein tercengang kaget, supir memutuskan untuk memacu gas ke arah berlawanan.

Berbekal mesin mobil yang (mungkin) pada siang harinya dipakai sebagai mesin parutan kelapa, percepatan L300 untuk mendahului truk sangat payah. Namun insting supir mengalahkan logika, injakan di pedal gas malah  ditambah. Deru mesin semakin berteriak kencang dan seakan mau meledak ke 7 arah mata angin. Truk di arah berlawanan pun sudah semakin mendekat, mengedipkan lampu dan membunyikan klakson. Sambil memekik tertahan, gue menyaksikan flashback kehidupan dan berpikir kenapa gue mempercayakan sisa nyawa ke supir yang nyalip truk dengan tangan kiri memegang stir dan tangan kanan bersandar di jendela menopang pipi.

Mobil akhirnya berhasil menyalip truk dengan selisih jarak yang sangat tipis dengan truk di arah sebaliknya. Lampu truk dari arah yang berlawanan sampai bisa menerangi seluruh kabin mobil dan memperlihatkan para penumpang yang rata-rata sedang memejamkan mata. Entah tertidur atau berpura-pura tidur. Oke. Gue coba cara mereka dan mulai merunduk sambil memejamkan mata.

Posisi tempat duduk gue yang berada di sisi kiri mobil tepat di samping jendela membuat kepala dan badan gue terantuk-antuk saat mobil bermanuver menantang maut. Tanpa melihat pun badan gue bisa merasakan kalau mobil berjalan miring kiri saat menyalip kendaraan lain lewat kiri jalan yang off-road dan berbeda ketinggian dengan jalan aspal.

Karena mata susah terpejam, sesekali gue mengangkat kepala untuk mengecek keadaan jalan, namun apa yang gue saksikan sangatlah membuka tabir jiwa. Mendekatkan gue ke Yang Maha Kuasa. Gue melihat batang kayu. Yak, tumpukan batangan kayu yang mungkin hanya berjarak 30cm dari jendela L300. Shocking. Ternyata dia lagi nyalip truk bermuatan kayu batang dan dari arah berlawanan ada motor. Jadilah L300 dempet-dempet mesra dengan truk, memaksa motor untuk akrobat di ujung aspal.

Pukul 00.45 kita sudah sampai di kota Sukabumi. Jarak +/- 50km yang lazimnya ditempuh dalam waktu 1,5 jam hanya ditempuh dalam jangka waktu 45 menit. Hebat. Bahkan mungkin seorang Fernando Alonso pun tidak bisa melakukan hal tersebut. Oleh L300 kita diturunkan di sebuah mesjid besar yang ada di tengah kota Sukabumi. Sambil menunggu dua orang anggota tim yang masih dalam perjalanan ke Sukabumi. Gue dan 2 orang teman keliling untuk cari carteran angkot ke Pondok Halimun dan makanan untuk makan  siang. 

Sekitar pukul 0200 2 orang temen gue dateng dan lengkaplah tim pendakian kami yang terdiri dari 5 orang. Dengan tarif 20.000 /orang, berangkatlah kita menuju Pondok Halimun menggunakan jasa angkot carteran. 

Pukul 0300, kita sampai di Pondok Halimun. Jalur dari Sukabumi - Pondok Halimun bisa dibilang sangat hancur dan membingungkan.Kita sempat nyasar dan berkali-kali kolong angkot terbanting ke lubang-lubang yang tersebar di sepanjang jalan. Pekatnya malam yang  bersekongkol dengan liukan pohon bambu membentuk bayangan yang terlihat seperti lambaian tangan. Seperti film Nightmare Before Christmas. Atau Malam 1 Suro. Untungnya di sepanjang jalan gak ada tukang sate.

Sesekali gue khawatir angkotnya rontok karena menghujam lubang yang tak kunjung ada habisnya. Namun tentu saja itu tidak terjadi. Segala kalkulasi dan hitungan fisika tidak berlaku untuk angkot-angkot di Indonesia. 

Di Pondok Halimun kita mampir ke salah satu warung, sarapan, packing ulang, dan persiapan pendakian (baca : buang muatan). Pukul 0400, kita mulai mendaki Gunung Gede via Selabintana.




***

Pintu masuk jalur Selabintana kecil dan sering membingungkan pendaki yang terjebak mengikuti jalan besar menuju air terjun. Vegetasinya rapat dan langsung menanjak. Seketika nafas gue tersengal-sengal. Suatu kondisi yang wajar karena biasanya 1 jam di awal pendakian badan gue beradaptasi, ber-resisten, dan berpikir ulang kenapa mau-maunya gue capek mendaki. Biasa lah, lamunan si bodoh.

Gelap demi gelap kita tembus dan dari kejauhan terdengar suara adzan subuh berkumandang. Kita memutuskan berhenti sejenak untuk sholat. Walaupun tidak terlalu suci, menurut gue sholat di jalur pendakian atau di puncak gunung terasa lebih khidmat dan syahdu. Cuma ada kita, Allah SWT, dan alam.

Selepas sholat, perjalanan kita lanjutkan. Pada saat matahari mulai terbangun dan cahaya mulai menyusup menyinari hutan, pada saat itu lah kami bertemu dengan para penghuni jalur Selabintana. Mereka dinamakan pacet, sebuah makhluk yang berbentuk seperti cacing dengan ukuran sebesar dua ruas jari kelingking dan bergerak menggunakan mulut. Begitu melihat ke bawah, ternyata perjalanan gue ditemani oleh 3 ekor pacet yang nangkring di celana dan baju.

Jikalau pacet itu sempat menyentuh kulit, maka darah kita akan dihisap olehnya. Mereka akan melepaskan gigitannya apabila badan mereka sudah bengkak dan penuh. Manusia perlu belajar dari pacet, mereka aja tahu kapan harus berhenti, tidak tamak dan kemaruk. 

Apabila ditarik paksa, kulit kita akan ikut ketarik dan terluka. Oleh karena itu kita siap sedia bawa minyak sereh supaya gigitan pacet akan terlepas sendiri saat diolesi minyak. Mungkin mereka males dengan bau minyak sereh yang sengit atau mungkin mereka sedih karena bau minyak sereh seperti bau nenek-nenek. Mungkin mereka ingat nenek mereka masing-masing di kampungnya.

Untungnya pacet yang nempel di baju dan celana gak sempat menyusup ke permukaan kulit. Belum perlu minyak sereh, hanya butuh daun kering untuk mencabut gigitan pacet tersebut. Sebelum mencabut, gue melihat cara mereka bergerak. Mereka memakai gigitan itu sebagai penampang untuk kemudian salto dan merambat pelan-pelan sampai menemukan kulit-kulit lezat yang siap dihisap. Mereka terlihat seperti cacing tanah psikopat.

Pukul 0700 kita sampai di pos pertama. Sambil duduk dan merenggangkan kaki, kita menikmati sajian Coki-Coki, biskuit gandum, dan madu sachet. Setengah perjalanan sudah kita lalui, di pos ini terdapat papan penunjuk jalan bertulisan : Surya Kencana 6,5KM. Lumayan, jalur Selabintana yang (konon) berjarak 11KM sudah kita lalui hampir setengahnya.

Perjalanan dilanjutkan melalui hutan-hutan yang masih rapat dan ditemani suara-suara binatang. Burung-burung berkicau riang di pagi hari yang hangat itu dan dari puncak pepohonan terdengar suara monyet-monyet yang sedang meloncat kesana kemari. Selain itu perjalanan kita juga ditemani seekor lebah (atau tawon?)  yang setia mengikuti kita di sepanjang perjalanan menuju Surya Kencana.

Sekitar 0930 kita sampe di pos Cileutik yang sering disebut sebagai pos air terjun oleh para pendaki. Namun kenyataan tak sesuai dengan namanya, air terjunnya sudah tidak ada dan mata airnya tidak melimpah. Entah apa yang terjadi dengan Gunung Gede, ada beberapa air terjun yang sudah tidak berfungsi lagi. Di pos ini, ada papan penunjuk jalan : Surya Kencana 2,5KM.

Mengingat pada pagi hari kita bisa menempuh jarak 4,5KM dalam tempo 3 jam, tentu jarak segitu bisa ditempuh lebih cepat. Perkiraan kita 1 jam udah bisa sampe di Surya Kencana. Tapi bohong. Nol besar.






Jalur 2,5KM terakhir menuju alun-alun Surya Kencana memiliki kontur sempit, menanjak curam, dan licin. Tanahnya lempung dan berliku-liku. Vegetasi nya juga sulit ditebak dan cenderung PHP. Biasanya tanda-tanda akhir jalur adalah vegetasi mulai renggang dan pohon-pohon semakin pendek. Namun ternyata kita malah dibelokin ke arah lainnya, mengitari berkas cahaya yang seakan memanggil di ujung pendakian.  Pola jalur di 2,5KM akhir adalah : Tanjakan curam, kemudian datar sedikit, mentok, belok, dan nanjak lagi. Begitu terus sampe pukul 1200.





Setelah melalui tanjakan yang cukup membuat frustrasi, akhirnya kita sampai di Surya Kencana. Pintu masuknya kecil menurun dan melalui semak-semak rapat. Setelah melalui semak-semak, kita disambut puncak gunung Gede yang berdiri kokoh dan angkuh menantang langit. Hamparan padang edelweiss tersebar indah, memanjakan mata dan menghapus lelah. Kaki gue seperti menerima injeksi adrenalin, dari lemas jadi semangat. Semangat untuk foto-foto. Ingat, jangan tinggalkan apapun selain jejak dan jangan ambil apapun selain foto.











Puas foto-foto dan berteriak-teriak, kita bergerak mendekati jalur ke puncak Gunung Gede. Setelah dapat lapak, kita langsung menggelar flysheet dan buka bekal makan siang. Istirahat dan santai-santai sejenak.

Baru juga mau bersantai, angin tiba-tiba bertiup kencang dan hampir menerbangkan flysheet. Bentuk Surya Kencana yang seperti lorong menambah kencangnya tiupan angin. Tak beberapa lama, hujan deras turun, padahal seluruh tas dan alat-alat masih diluar. Jadi lah kita kelimpungan masang dome di bawah terpaan hujan dan angin. Sambil menunggu dome berdiri, gue membelah jas ujan dan membungkus seluruh tas. Di sisi lain, temen gue menyalakan kompor untuk bikin kopi. Kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan walau badai sekalipun.

Kopi panas pun tidak terasa di kulit. Koalisi hujan, angin, dan suhu rendah membuat badan menggigil, seperti mati rasa. Namun saat air kopi mengalir di tenggorokan menuju perut, badan serasa hangat. Nyaman sekali rasanya. Selalu ada sisi positif disaat terburuk sekalipun, hanya perlu mengalihkan pandangan ke arah lain.

Pukul 1500 kita bergerak dari Surya Kencana untuk turun lewat jalur Putri. Kondisi cuaca yang mendung dan berangin membuat kita memutuskan untuk tidak ke puncak Gede. Selain tidak ada yang bisa dilihat karena berkabut, kita juga gak bisa foto-foto disana karena hujan.




Turun dari jalur Putri, gue seakan napak tilas pendakian pertama. Bahkan gue masih inget batu tempat gue tepar. Kondisi jalur pada saat itu cukup ramai, mengingat kita turun pada hari Sabtu, 19 September 2014. Beberapa kali orang menyapa dan bertanya, "Masih jauh gak mas?".

Jawaban gue selalu sama, "Dikit lagi, palim cuma 30 menit." Dimanapun. Kapanpun. Boongin anak orang.

Jalur Putri sebenarnya cukup singkat (untuk turun), tapi yang menyebalkan adalah kontur akhir jalur yang entah mengapa disemen. Sehingga sangat licin apabila setelah hujan. Hal ini cukup berbahaya dan bisa membuat orang terpeleset. Padahal kontur asli jalur putri berupa tanah gembur yang sangat nyaman untuk dipijak.




Pukul 1815 akhirnya kita sampe di posko Green Ranger. Perjalanan ke Gunung Gede via Selabintana resmi berakhir. Sempet juga terjadi drama karena pihak Green Ranger ngotot kalau surat izin seharusnya dikasih ke tim Panthera yang jaga di pintu masuk jalur Selabintana. Padahal waktu kita lewat, mereka masih sibuk mendaki gunung di alam mimpi. Heran, di gunung masih ada saja birokrasi rumit. Gak mungkin juga dong kita balik ke Pondok Halimun lagi untuk sekedar kasih kertas-kertas izin itu?

Pendakian one-day-trip ini merupakan pengalaman baru untuk gue. Ragu di awal nikmat di akhir. Ternyata segala kesusahan dan keraguan itu akan terasa indah di akhir, apabila kita yakin akan kemampuan diri sendiri dan sabar saat menjalaninyai. Akhir kata, mari keluar dan nikmati Indonesia.






mari kita lanjut...

Minggu, November 16, 2014

Rejeki Anak Soleh

Musik adalah aktualisasi diri. Marah? Bisa dilampiaskan dengan Marilyn Manson - Beautiful People. Butuh semangat?  Slipknot - Wait and Bleed bisa jadi pelecutnya. Saat sendiri dan butuh diskusi dengan pikiran? Cobalah mendengar Sigur Ros - Fjögur píanó. Sedih? Silahkan akrab dengan lagu-lagu Adele yang konon memiliki notasi orang patah hati. 

Setiap orang memiliki lagu favorit sesuai dengan keadaannya masing-masing. Layaknya film, setiap orang memiliki soundtrack yang berbeda-beda dalam hidupnya.

Setiap tahun gue selalu menyempatkan diri untuk nonton minimal satu konser. Tapi karena kesibukan yang cukup menyita waktu, akhir-akhir ini gue bahkan tidak sempat untuk sekedar melihat-lihat jadwal konser yang ada. Sampai suatu hari ada ajakan dari temen gue, Ise, untuk nonton Soundsfair di JCC Senayan hari Jum'at, 24 Oktober 2014.

Tanpa ragu, gue meng-iya kan.

Tentu saja untuk bisa nonton Soundsfair, gue butuh benda yang namanya 'Tiket'. Namun karena jadwal konser tepat di ujung nafas gaji bulanan, gue harus bijak memilih antara beli tiket konser tapi makan siang pakai "Krupuk Putih Siram Kecap Manis" atau gak beli tiket konser tapi makan siang pake Burger King.

Keadaan kritis membuat otak berpikir lebih kreatif. Tidak punya budget untuk membayar harga tiket yang cukup mahal (+/- 300rb), gue mencoba mencari peruntungan di Google.

Kata kunci : "Kuis Tiket Soundsfair Gratis".

Voila. Google menuntun gue ke forum Okezone. Mereka sedang mengadakan kuis untuk acara hari Jum'at. Pertanyaannya gampang, "Apa artis yang ingin kamu tonton pada hari Jum'at?"

Aliran ska merupakan musik tumbuh kembang gue. Pada saat SMP dahulu, musik -musik Noin Bullet, Jun Fan Gang Foo, Reel Big Fish, Goldfinger, Save Ferris, etc. telah kusut gue putar di Stereotape Sony. Sampai-sampai butuh bantuan pensil Staedler untuk meluruskan pita kaset-nya. 

Tanpa pikir panjang lebar, gue langsung menulis keinginan gue nonton Tokyo Ska Paradise Orchestra. Sebuah band beraliran ska asal Jepang dengan musik yang enerjik, brutal, namun tidak meninggalkan kesan elegan di dalamnya.

Hari demi hari berlalu.

Tepat pada hari Rabu, 22 Oktober 2014 gue dapet konfirmasi dari admin forum Okezone. Gue menang! Saking senangnya menang, gue sampai berteriak dan mengangkat tangan di meja kantor. Jadilah semua orang menatap ke arah gue. Awkward. Usut punya usut, ternyata peserta kuisnya cuma ada 4 dan gue adalah salah satu dari 3 orang pemenang. Rejeki anak soleh. Nemu kuis yang partisipannya lebih sepi dari kuburan.

Satu tiket sudah ditangan dan gue bisa bernapas lega karena tinggal beli tiket Magic! on the spot. Walaupun sebenarnya gue tidak begitu suka dengan band itu dan sudah cukup muak dengar, "Saturday moorning jumped out of bed..." Tapi ya, cuma butuh 50rb untuk menyaksikan band yang lagi hit ini. Apa mau dikata, sikat saja. Selagi hangat.

Mendengar gue dapet tiket gratis hasil kuis, temen gue panik. Tentu saja dia gak mau kalah, walaupun pada kenyataannya sudah terlambat. Sudah H-1 menuju konser dan semua kuis sudah ditutup. Apa mau dikata, pada akhirnya dia pasrah dan berniat untuk beli tiket di calo yang biasanya menjamur di sekeliling venue konser. Berharap tiket-tiket dijual murah apabila kita datang terlambat.

Namun siapa sangka, rejeki datang disaat yang sangat tidak terduga. Saat gue iseng nanyain temen gue nonton Soundsfair atau enggak, dia malah nawarin gue tiket gratis. Bukan cuma 1, tapi 2. Olala. Sebuah keberuntungan beruntun. Benar-benar rejeki anak soleh. Kalau saja diperbolehkan, gue bakal loncat-loncat kegirangan layaknya Chunli menang berantem. Namun tentu saja lingkungan kantor menghalangi saya untuk berbuat itu. Daripada diusir satpam?

***

Pada hari H, beberapa jam menjelang konser, lapisan kulit gue melakukan kegiatan sekresi . Mengeluarkan keringat dingin. Gue dapet kerjaan yang harus diselesaikan hari itu juga. Sambil dag-dig-dug gue menyelesaikan pekerjaan tersebut secepat mungkin dan pada akhirnya rampung pada pukul 8 malam.

Semacam telah menjadi kesepakatan umum, Jum'at merupakan hari macet sedunia. Rutinitas para commuter memaksa jalan raya menanggung beban sebegitu banyaknya. Yang biasanya naik angkot dari kos menuju kantor, berbondong-bondong mengeluarkan mobil atau kendaraan lainnya untuk pulang ke rumah-rumah kota satelit. Di kota Jakarta, rutinitas mudik berlangsung setiap pekannya.

Tapi entah mengapa, pada hari Jumat 24 Oktober 2014 pukul 20.00, jalanan kosong melompong tanpa hambatan. Perjalanan dari Gatot Subroto - Senayan hanya ditempuh dalam 10 menit saja. Selain itu, sesampainya di Senayan, petugas parkir langsung mengarahkan gue ke jalan di balik lapangan ABC yang mengarah ke lapangan D, dimana spot parkir masih tersedia luas dan lapang. Lagi-lagi saya dapet rejeki anak soleh. Hanya butuh 15 menit untuk sampai ke Senayan plus parkir dan gue masih sempat makan. Jam menunjukkan pukul 20.30 dan Tokyo Ska Paradise main pukul 21.30, masih ada waktu untuk mengisi tenaga. Bekal riang berdansa pogo. Walaupun tetap saja gue gak dapet nonton salah satu band favorit gue, SORE.

Tepat pukul 21.20 gue mulai masuk venue, langsung menuju panggung Garuda, tempat dimana Tokyo Ska Paradise Orchestra (TSPO) manggung.

Panggung masih gelap dan hanya terlihat beberapa crew band yang sliweran di sekitar panggung. Di seberang panggung para sound engineer bertindak seakan-akan tukang parkir, selalu menggerakkan tangan dan berteriak-teriak. Tapi walaupun mereka orang Jepang, ilmu ninja mereka kalah dengan tukang parkir Indonesia. Tukang parkir Indonesia selalu muncul disaat yang tidak terduga. Sirna saat tiba, nyata saat pergi.

Tak beberapa lama satu persatu anggota TSPO muncul dan mereka langsung menggebrak dengan lagu theme song Godfather. Tentu saja versi ska. Para penonton langsung tersentak dan mulai bergoyang pogo tanpa harus dikomando. Seru!

Musik adalah bahasa universal. Pada beberapa lagu yang berbahasa Jepang, gue sama sekali gak ngerti dia nyanyi apa. Bahkan bisa jadi dia ngata-ngatain penonton atau bahkan lagi baca dialog film bokep Jepang. Tapi itu tidak masalah, musik bagus tetaplah pantas untuk diajak bergoyang. Apapun liriknya.

Beberapa kali personil TSPO bergonta-ganti posisi. Para brass section bergantian menyanyi, begitupun para perkusi. Walaupun secara kasat mata mereka terlihat tua, penampilan mereka amat sangat enerjik dan hiperaktif. Tiupan saxophone dan trombone begitu lantang menghempas telinga. Lagu-lagu seperti Pride Of Lion, Natty Parade, dan Lovers' Walk sukses membius para penonton yang tampak memakai bretle dan topi pet. Seragam wajib para penggemar ska.

Ambience sempat turun saat TSPO mengundang bintang tamu dari Indonesia... Fade 2 Black. Oke, mungkin mereka adalah artis hip hop yang baik, tapi musik mereka seakan-akan menutupi irama ska yang sudah terjalin rapih sebelumnya. Seperti pada saat kita sedang asik ngobrol dengan teman-teman dan tiba-tiba ada satu orang menyebalkan nimbrung dan sok asik, "Lagi ngomongin apa nih? Gue ikutan dong." Bubar semua.

Konser TSPO ditutup oleh Down Beat Stomp dan Ska Me Crazy, dua lagu wajib band yang terbentuk dari tahun 1988 ini. Kakek-kakek enerjik pun semakin menggila di dua lagu terakhir ini, begitu juga dengan penonton. Badan mereka seakan-akan memiliki mode otomatis goyang pogo. Seluruh orang bergoyang tanpa diganggu tangan-tangan yang memegang tempayan bersinar. Indah sekali. Terima kasih TSPO yang telah menyadarkan bahwa saya masihlah anak ska dan goyang pogo masih menjadi ekstasi sempurna. Luar biasa.




Setelah nonton TSPO, gue dan Ise bergerak ke venue utama untuk nonton Magic! . Berbekal tiket tribun, gue akhirnya bisa duduk manis dan melihat band yang akrab disebut 'Wahyu' ini.

Kesan pertama yang gue tangkap dari penampilan Magic! adalah : Biasa aja. Mungkin ini disebabkan oleh habisnya hormon endorphin gue di TSPO, sehingga  melihat penampilan Magic yang beraliran reggae-pop ini terasa membosankan. Ditambah dengan penonton yang lebih senang melihat Magic! melalui layar ajaib buatan manusia ketimbang menyaksikan langsung secara HD melalui bola mata sendiri. Penonton monoton, bahkan sekedar bergoyang pun mereka emoh. Untung gue cuma harus bayar gocap untuk melihat mereka. Bahkan sekedar mengambil foto pun gue enggan.

Penampilan lebih seru justru ditampilkan oleh Asian Dub Foundation, dengan kualitas sound yang jauh lebih megah dan penampilan vokalis yang ikonik. Bahkan kalo gue ketemu di pinggir jalan, gue bakal ngira dia dukun pengusir hujan. Wajahnya seram, rambutnya dreadlock, kulitnya sehitam malam, dan wajahnya dipenuhi rambut. Seakan-akan rambutnya berpindah ke depan wajah. Saat tidak bernyanyi, dia seperti sedang melakukan ritual dengan memutar tangannya di kepala. Bahkan terkadang dia terlihat sedang bermunajat dan berlutut di atas panggung. Saya tidak mengerti, itu vokalis apa tukang santet.




Asian Dub Foundation tidak gue saksikan sampai habis, karena takut macet apabila keluarnya bareng acara selesai. Sesampainya di pos parkir dan menyerahkan karcis, ternyata gue gak diminta bayar parkir. Cuma bayar lima ribu untuk 1 jam pertama di awal, sedangkan untuk jam-jam selanjutnya tidak dihitung. Entah mengapa di karcis gue ada tulisan 'voucher' dan akibat tulisan sakti tersebut sisa uang parkir tidak ditagih. Rejeki anak soleh.

Pada hari minggu, kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa ku duduk di muka.

Oke. Saya salah ketik.

Maksudnya pada hari Minggu, 2 hari setelah acara Soundsfair, gue iseng buka twitter. Ada sebuah twitpic dari @dissidents_ :



Lagi-lagi rejeki anak soleh. Ketidakpuasan gue yang gak sempet nonton SORE pada hari Jum'at bakal terbayar oleh acara Seperlima ini. Apalagi dengan tambahan Dialog Dini Hari dan Tika yang luar biasa. Tanpa sempat mencari teman nonton, gue berangkat sendiri ke Taman Menteng.

Temaram lampu Taman Menteng terasa hangat menyentuh kulit. Tiupan lembut angin malam seakan membuai kuping yang disuguhi musik Dialog Dini Hari dan Tika. Sembari duduk diatas rumput yang sedikit basah dan ditemani langit hitam yang bersembunyi malu dibalik awan kelabu, pikiran gue berkelana menyusuri ruang-ruang masa lalu. Memandangi kisah-kisah yang seakan berputar di kepala, menyusuri sudut-sudut etalase otak. Konser Seperlima seakan jadi ruang renung akan perubahan yang terjadi, kembali menjadi penyendiri.




SORE menutup hari dengan lantunan lagu yang tak lekang dilindas jaman. Mata Berdebu, Etalase, dan Aku mengembalikan imaji ke masa-masa gue aktif menjadi Kampiuns. Sebuah istilah bagi para penggemar SORE. Bahkan gue sempat tergabung dalam panitia acara Las Familias, yaitu sebuah konser tunggal SORE yang berkolaborasi dengan para musisi-musisi lain seperti The Adams dan White Shoes & The Couples Company.



Ssssst...!! Pada akhirnya menutup penampilan SORE dan acara Seperlima. Seluruh kejadian yang terjadi pada gue akhir-akhir ini memang gila. Segala senang, bahagia, murung, sedih, dan menyebalkan bercampur aduk dalam satu rentang waktu yang cukup singkat. Yah, seperti saat mendaki, trek akan semakin susah dan variatif saat mendekati puncak. Namun percayalah, keindahan selalu berkuasa di puncak.


mari kita lanjut...

Jumat, Oktober 10, 2014

Suka Duka Kencan Pertama

"Ada yang mau ikut ke gunung Gede?" kata temen gue, Windra, via group Whatsapp yang isinya kumpulan cowok-cowok seperkuliahan dengan topik kebanyakan membahas olahraga, gunjingan, dan pornografi. Sebuah ajakan yang menggelitik jiwa petualang gue. Kegiatan mendaki gunung dan terjun ke alam menimbulkan rasa penasaran gue untuk mencoba sensasi hiking.

Selama ini sebenarnya gue iri melihat orang-orang yang memajang foto di gunung. Pemandangan indah di belakang mereka seakan memanggil dan menggoda gue untuk kesana. Namun apa daya, karena fisik gue yang cuma kuat untuk lari sejauh 5 meter, gue merasa bakal menjadi beban apabila tiba-tiba gue kolaps di gunung karena sakaw mau makan Whopper Burger King.

"Tenang aja, nanti sama temen-temen gue juga. Senior pas di pencinta alam SMA. Lagian kita semua pada santai-santai kok. Maklum faktor umur," sambung Windra. Seakan-akan bisa membaca keraguan yang ada di pikiran gue.

Setelah pikir-pikir sejenak, akhirnya gue menetapkan untuk ikutan trip ke Gede. Yah setidaknya kalo gue kolaps minta Whopper, bisa minta tolong temen-temennya Windra lari ke bawah. Ninggalin gue. Untuk makan bekicot dan ulet daun. Atau mengais-ngais tanah untuk sekedar menemukan kulit pisang. 

Bodo amat.

Gunung Gede, saya datang.


***

Sabtu, 10 Mei 2014.

Perjalanan gue mendaki Gunung Gede dimulai di warung entah-Ibu-siapa-namanya. Warung tersebut terletak di awal jalur Gn. Putri. Sebuah jalur yang kita pilih di antara 3 jalur yang ada : Selabintana, Cibodas, dan Gn. Putri. Rencananya kita mendaki via Gn. Putri dan turun lewat Cibodas. Estimasi waktu naik adalah 7 jam  Jalan kaki. Dimana pada saat itu satu-satunya olahraga yang gue lakukan adalah mengisi ulang botol air minum dari meja kerja ke pantry.

Terus terang, persiapan yang gue  lakukan sebelum ke Gede lebih bersifat material. Ketimbang jogging minimal 3x seminggu, gue lebih memilih untuk keliling toko Consina dan Adventurer di Rawamangun. Segala macem gue beli, mulai dari celana, jaket, dan senter sampai ke kaus kaki tebal dan sleeping. Senter aja sampe gue beli dua, headlamp dan batangan. Pokoknya persiapan maksimal.

Selain beli, gue juga minjem tas carrier dari temen gue.  Untuk alas kaki, gue dapet rejeki nomplok, seakan-akan alam seperti merestui gue untuk naik Gunung Gede. Om gue yang kerja di kilang minyak offshore punya lebihan sepatu safety merk Timberland. Sepatu berwarna coklat itu terlihat sangat kokoh. Jangankan buat naik gunung, sepatu itu gue yakin bakal masih kuat walaupun tiap hari dipake buat ngulek bumbu gado-gado.

Sepatu Timberland yang seperti tank kecil itu memiliki steel toe, "Liat nih! Gak bakal lecet kalo jalan!" pamer gue ke Tatak, teman seperjalanan gue yang didenda 15.000 karena gak pakai sepatu untuk naik, sambil nendang-nendang tembok warung. Sepanjang menunggu naik gue selalu ngeliat sepatu dan mengagumi kekokohannya. Selain ada steel toe, sepatu itu juga punya fitur anti-fatigue. Batin gue, sepatu ini gak bakal bikin gue capek karena anti = tidak, fatigue = capek. Ini sepatu gak bakal bikin capek! Udah gitu ada fitur waterproof, oil resistant & anti-slip , walaupun ujan badai menerjang sepatu ini akan terus nempel di tanah macam permen karet! Adalagi heat resistant, yang berfungsi untuk melindungi jempol kaki gue apabila daun-daun terbakar karena saking cepatnya gue berlari saat mendaki (seperti Sonic The Hedgehog). Dan walaupun di gunung gak ada listrik, sepatu ini bebas electrical hazard. Jika ada yang jatohin batere bocor ke kaki, niscaya jempol gue tidak bakal terkejut. Gila, sepatu ini punya segalanya!

"Liat dong kayak Mas ini, pake sepatu," kata petugas Green Ranger (pasukan pengaman Gunung Gede) saat mengurus berkas temen-temen gue yang didenda karena gak pake sepatu. Tentu saja gue semakin... jumawa. Juara makan dan ketawa. 

Sekitar 1100 kita memulai pendakian, dengan mantap gue meniti langkah melalui kebun-kebun yang ada di sebelah kiri jalur. Outfit gue di awal perjalanan adalah : Baju kaos, celana panjang Consina, dan tentu saja sepatu Timberland.


Terlihat gagah (awalnya)


10 menit melangkah, mulai terasa perih di tumit belakang. Kondisi sepatu gue yang sedikit kegedean membuat sepatu bergerak naik-turun saat berjalan. Lecet lah itu kulit.

20 menit, kulit mulai terkelupas. Gue minta rombongan untuk berhenti. Napas sudah mulai ngos-ngosan dan gue menempelkan plester diatas luka yang baru menganga tersebut.

30 menit, jalan mulai menanjak. Plester yang gue tempelin udah bergeser dan menambah ketidaknyamanan di dalam sepatu. Nempel-copot terus menerus. Sekujur kaki mulai terasa gerah, nafas semakin memburu, dan keringat mulai terjun bebas dari jidat ke tanah. Untuk kedua kalinya, gue minta berhenti.

Kali ini sepatu Timberland yang maha dahsyat nan penuh puja puji itu gue copot dan gue lempar ke tanah.  Kaki gue bahkan tidak lagi mampu mengangkat sepatu itu, apalagi dipakai jalan. Tanah pun berdebam saat menerima berat sepatu yang mencapai 2.1 pounds (hampir 1kg). Karir mendaki sepatu tersebut hanya 30 menit saja, diakhiri oleh bunyi berdebam saat sepatu terbanting ke tanah.

Agar bisa melanjutkan perjalanan, gue membuka resleting di tengah celana yang berfungsi mengalihfungsikan celana dari panjang ke pendek. Sebagai ganti sepatu, gue pake sendal Boogie item andalan sepanjang masa.

Segala macem slip dan anti apapun itu tidak berfungsi di perjalanan ini. Sepatu itu terlalu berat dan nyusahin untuk naik gunung. Bahkan saat ditaro di carrier sekalipun, sepatu itu tetap berat dan nyusahin. Asem.

***


Selepas dari tragedi sepatu laknat itu, gue melanjutkan perjalanan menuju Alun-alun Surya Kencana. 


sepatu lepas, celana pendek, 
dan sepatu laknat di dalam carrier
(mulai frustrasi)


Dikarenakan stamina gue udah terkuras karena ngangkat sepatu yang seberat batu kali, perjalanan gue ke Surya Kencana jadi tersendat-sendat. Apalagi ditambah dengan kondisi badan gue yang jarang bergerak dan malas berolahraga, walhasil perjalanan gue persis kayak Son Goku naik menara Karin. Lidah keluar, nafas ngos-ngosan, dan seakan tidak berujung. Namun tidak ada Kacang Ajaib.



kemudian terkapar...


Semakin menuju Surya Kencana, pemandangan semakin membuat frustrasi. Sepanjang mata memandang, hanya ada batang-batang pohon yang terlihat seperti kaki raksasa. Jalur pun semakin menanjak dan tidak ada seberkas pun tanda-tanda akan berakhir. Di kanan jalur terdapat sebuah pelataran, di pelataran itu ada beberapa cewek berjilbab yang sedang terkapar kecapekan.

"Tinggalin aja, aku gak apa-apa. Kamu duluan aja," rintih dia ke teman-temannya.

"Jangan! Kamu harus kuat! Sedikit lagi sampai," balas temannya. Mungkin dia khawatir kena hipothermia.

Di sisi lain, ada cewek berjilbab lainnya nunduk sambil komat-kamit dengan nafas tersengal-sengal. Keadaan ini seperti suatu adegan di sinetron Hidayah.

Menurut penelitian, lingkungan memiliki pengaruh paling besar dalam perkembangan anak dan barangsiapa yang bergaul dengan penjual parfum maka ia akan terkena bau harum. Semua pemandangan itu, menularkan rasa frustrasi dan putus asa ke gue. Jangan-jangan emang ini jalan tidak berujung, jangan-jangan gue kena setan keder, atau jangan-jangan gue salah naik gunung. Jangan-jangan di atas itu Gunung Agung. Kalau iya, mungkin gue akan menyempatkan diri beli bulpen Rotring atau kamus Karce disana.

"Ayo Kan! Sedikit lagi sampe! Liat diujung tuh, pohon-pohon udah mulai memendek," teriak Ojan, temen pendakian gue, sambil menunjuk ujung langit. Benar saja, vegetasi mulai jarang dan gue bisa melihat langit. Pohon juga semakin pendek, yang berarti perjalanan ini akan segera berakhir. Segala macam pikiran aneh gue kubur jauh-jauh dan gue mulai memaksakan diri untuk terus jalan dan berpacu diatas tanjakan. Sampai-sampai telapak kaki gue kapalan dan lecet.

Peduli amat. Gue harus menuju puncak.

***

Setelah sekitar 7 jam mendaki, akhirnya jalan mulai datar dan berlapis batu. Setengah berlari gue menyusuri lorong yang terbentuk dari ranting-ranting pepohonan, bergerak ke arah cahaya dan mulai mendengar keriuhan.

Selepas lorong, dalam keadaan lelah dan frustrasi yang memuncak, gue sampai di Surya Kencana. Sebuah pelataran luas yang berada tepat dibawah puncak Gunung Gede. Hamparan padang rumput nan indah menguapkan lelah, barisan bukit yang terhampar di kana-kiri Surya Kencana memupuk semangat gue untuk pecicilan foto-foto, dan udara dingin membuat... gigi gue beradu membentuk harmoni. Bentuk Surya Kencana yang seperti lorong membuatnya sering dilewati angin kencang bersuhu dingin. Dengan kondisi baju yang basah kuyup, udara dingin menusuk sampai ke sumsum tulang belakang. Langsung saja gue pake jaket dan topi ala-ala Jonsi Sigur Ros.

Dari pintu masuk Surya Kencana, gue berjalan sekitar 15 menit lagi untuk menuju camping ground yang letaknya dekat pintu masuk puncak Gunung Gede. Sesampainya disana, gue tertidur diluar tenda. Tepar. Gak beberapa lama tertidur, gue disuruh pindah ke dalam tenda yang suhu-nya lebih hangat. Lagi-lagi untuk menghindari ancaman hipothermia. Bahaya kan kalo hippopotamus diserang hipothermia.

Gue terbangun sekitar jam 9 malam dan perut bermusik Keroncong Kemayoran.

Karena gak bisa tidur lagi dan emang belum makan malam, gue beranjak keluar tenda. Niatnya bikin makanan (kayak ngerti aja).

Beruntung gue punya teman seperjalanan yang baik. Gue ternyata ditinggalin satu porsi spaghetti dan mereka pun sudah makan duluan. Tanpa ampun, gue lahap spaghetti itu dengan sukses. 

Sambil makan, gue mengarahkan pandangan ke langit. Satu hal yang gue sukai saat bermalam di gunung adalah hamparan indah bintang-bintang yang bersinar terang tanpa terhalang, berjajar rapi dalam satu sinergi keindahan alami. Di saat inilah alam bertukar pikiran dengan manusia. Makanan pun terasa lebih nikmat dibuatnya.




***


Sebuah tendangan keras membangunkan gue di saat suasana tenda masih gelap, "Bangun woy! Mau liat sunrise gak!?"

"Haahh... Hemmm.. Hahhh..." balas gue malas. Keadaan fisik yang capek  dan udara yang dingin membuat gue malas bergerak ke puncak Gunung Gede untuk menikmati sunrise. Logikanya dimana-mana yang namanya matahari terbit itu bentuknya sama. Kuning, naik pelan-pelan, dan bikin backlight kalo difoto. Sehingga gue lebih memilih bobo cantik di atas matras dengan badan berlapis jaket polar dan kaki terselimuti kaus kaki tebal.

0700 gue baru bangun dan terbius dengan hamparan padang rumput Surya Kencana yang seakan tak ada habisnya. Semak-semak Edelweiss mempercantik padu padan alam yang disusun cantik oleh Sang Pencipta. Diluar tenda temen-temen ternyata udah duduk jongkok mengelilingi kompor untuk masak nasi dan sup.



"Baru bangun bro?" sambut mereka saat gue sedang meninju langit.

"Iya nih, dingin banget ya," balas gue yang sebenarnya merasa bersalah karena tidak bantu apa-apa. Namun karena memang pengalaman kemping gue masih nol besar, lebih baik gue diam dan melihat cara kerja mereka. Karena apabila gue membantu, takutnya seluruh tenda kebakaran karena gue nyemprot kompor parafin yang lagi nyala dengan gas. Duar.




1100, saat matahari sudah bangkit seutuhnya, rombongan berangkat menuju puncak Gunung Gede.

sebelum muncak

Perjalanan ke puncak lumayan terjal dan menguras napas walaupun secara jarak dan waktu relatif lebih singkat (+/- 45 menit). Hal ini dikarenakan tipisnya udara di sepanjang perjalanan, sehingga saat menghirup gue cuma bisa dapet udara setengahnya.

Seperti biasa, dengan cara ngos-ngosan gue sampai ke puncak.

Puncak Gede. Finally.

Bersikap dramatis, gue langsung bergerak ke pinggir jurang dan membentangkan kedua tangan. Udara segar puncak gunung langsung gue hirup semaksimal mungkin dan dalam hati gue teriak, "GILA, SAMPE JUGA!"



Di satu sisi gue merasa sangat kecil di alam raya ini. Keberadaan gue di puncak gunung seakan menjelaskan bahwa manusia hanyalah satu titik kecil di dalam alam yang tidak akan bisa berbuat apa-apa tanpa bantuan dan pertolongan-Nya. Alam mengajarkan gue untuk rendah diri dan sadar bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari alam. Pendakian pertama ini lebih bersifat filosofis, hangat, dan menyentuh.

Keadaan puncak Gede pada saat itu cukup ramai dan beberapa rombongan juga baru sampai disana. Bahkan kita harus antri dengan pendaki lainnya untuk sekedar foto di tulisan Puncak Gede 2958 MDPL.





Yang patut disayangkan, pada saat itu keadaan puncak Gede sedang berkabut sehingga gue gak bisa menikmati pemandangan dengan jelas. Pemandangan dibawah puncak cuma bisa gue intip di sela-sela kabut yang tersingkap. Namun gue tetap bisa menikmati puncak dengan menikmati udara sejuk dan lelahnya jalur pendakian.




Tidak lupa makan Astor

***

Sekitar 1230 gue bergerak turun melalui jalur Cibodas. Jalur ini terletak di ujung puncak Gede dan dimulai dengan jalur bebatuan yang cukup tajam nan menyiksa kaki (apabila memakai sendal ; seperti saya ; saya punya sepatu ; tapi nyusahin; ah sudahlah).

Setelah jalur bebatuan, kontur jalan mulai berupa tanah dengan tingkat kemiringan yang cukup tajam. Agar tidak nyusruk, gue memanfaatkan ranting-ranting sebagai pegangan. Kemudian setelah sekitar 3 jam perjalanan, gue sampai di pos Kandang Badak untuk istirahat, sholat, dan makan siang.

Pos Kandang Badak merupakan tempat camp di Gunung Gede selain Surya Kencana. Karena terletak di areal yang strategis (diantara puncak Gede & Pangrango), Kandang Badak sering dipakai oleh para pendaki yang mengincar pendakian langsung 2 puncak gunung. Selain itu, mata air di camp ini cukup mudah dan berlimpah ruah. Tinggal tampung, siap minum.

Pukul 1530 kita melanjutkan perjalanan turun dan pulang ke Jakarta.

Kelebihan dari jalur Cibodas adalah banyaknya spot-spot unik yang memanjakan mata, tidak seperti jalur Putri yang hanya pohon-pohon dan badan-badan pendaki yang tepar. Jalur Cibodas memiliki beberapa curug dan satu mata air panas yang pada awalnya hangat namun semakin panas di tengah... dan hanya berjarak 50cm dari jurang. Kacamata sudah tidak berfungsi di jalur air panas karena akan tertutup uap, walhasil gue melepas kacamata dan berharap tidak celaka karena mata yang siwer.



Selain itu, jalur Cibodas mempunyai kelebihan... jarak (8 Km). Perjalanan yang dimulai dari Kandang Badak pada 1500 belum selesai juga sampai 1900. Hari sudah mulai gelap dan setiap tikungan terlihat mirip satu sama lain. Saat berhenti di dekat Curug Cibereum, telapak kaki gue terasa sangat perih karena dihujam oleh ratusan batu yang menjadi alas jalur Cibodas. Keadaan bahu gue sangat pegal karena mengangkut carrier yang seakan bertambah berat seiring dengan berjalannya waktu.

"Kita nyampenya kapan sih?" tanya gue ke Windra. Putus asa dengan perjalanan yang tak kunjung habis.

"Bentar lagi, dari sini palingan tinggal 30 menit udah sampe pos. Yuk berangkat lagi biar gak kemaleman," balas dia sambil melanjutkan perjalanan. Menembus kegelapan malam.

... 2 jam kemudian.

Jalur tidak menunjukkan tanda-tanda selesai, tikungan demi tikungan yang terlihat identik sudah kita lalui. Perjalanan ini pada akhirnya mengajarkan gue untuk tidak mempercayai anak gunung. Standar waktu mereka berbeda.

Saking menyebalkannya perjalanan, gue sampai bertitah tidak akan mau ikut apabila diajak naik gunung lagi. Seenggaknya gue akan berpikir dua, tiga, atau bahkan ratusan kali sebelum mengiyakan ajakan untuk naik gunung.

Perjalanan berakhir di sebuah pertigaan. Setelah pertigaan tersebut, akhirnya kita bisa melihat secercah cahaya dan mendengar suara riuh rendah para pendaki yang lebih dulu sampai. Bale-bale warung menjadi tempat dan saksi teparnya gue setelah mengakhiri pendakian pertama gue. Pendakian resmi berakhir pada pukul 2130. 

Pendakian ke Gunung Gede mungkin akan dianggap cemen oleh para expert pendakian dan tulisan ini mungkin akan ditertawakan. Gunung Gede mungkin bagi mereka hanyalah tempat rekreasi Sabtu-Minggu yang bahkan dapat didaki dalam jangka waktu 2,5 jam oleh para penggiat trail running. Namun bagi gue, Gunung Gede seperti kencan pertama yang melelahkan. Di satu sisi gue capek menghadapinya. Di sisi lain, gue jatuh cinta dengan keindahan lukisan alam, kesejukan udara segar, dan hamparan bintang indah yang berbaris rapi di langit.






Saya... jatuh cinta dengan alam.



mari kita lanjut...

Minggu, September 28, 2014

Papandayan Punya Cerita

Tahun ini gue tidak bisa melaksanakan tradisi untuk membuat postingan setiap tanggal 7 Agustus. Setiap hari gue bangun jam 8 pagi (setengah siang), sampai kantor jam 10, dan kembali ke rumah sekitar jam 11 malam. Keinginan menulis sebenarnya ada namun otak sudah mengaktifkan fitur mode automatic shutdown dan niat menulis hanya tinggal menjadi kenangan.

Hari ini kebetulan gue bisa cabut kantor lebih cepat. Sebuah bbm dari dosen pembimbing memaksa gue untuk hadir di kampus tercinta untuk pengarahan sidang thesis. Ya, luar biasa. Thesis saya sudah selesai. Thesis yang pada akhirnya dikebut selama 11 hari, di bulan Ramadhan, dan mengakibatkan jidat bersisik karena kurang tidur. Pada saat tenang seperti ini akhirnya gue bisa bermesraan otak dan bermain dengan imajinasi, mencurahkan segala pengalaman dan imaji dalam satu tulisan sederhana.

Akhir-akhir ini gue lagi merintis hobi baru. Yah, dibilang merintis juga bukan. Mungkin kata mengembangkan lebih tepat dipakai dalam konteks ini. Pada dasarnya, gue menyenangi travelling.  Setiap tahun gue selalu memaksakan diri untuk mengunjungi, melihat, dan merasakan daerah yang belum pernah didatangi sebelumnya. Minimal satu tempat setahun.

Selama ini gue selalu mengunjungi tempat yang tidak butuh effort lebih untuk mencapainya, dalam artian gue tidak perlu bersusah payah secara fisik untuk dapat menikmatinya. Tempat seperti Yogyakarta, Sawarna, Kiluan, Pangandaran, dsb. relatif tidak membutuhkan aktivitas fisik berlebih untuk mencapainya. Gue cukup datang memakai kaos dan celana pendek, berlari-lari di pantai atau merambah ke tengah laut untuk snorkeling, walaupun pada akhirnya dasar laut menjadi buram karena pemandangan indah bawah laut tersebut tidak fasih diterjemahkan oleh mata minus gue.

Hobi baru yang gue rintis adalah hiking, mendaki gunung-gunung dan mencoba bermesraan dengan alam. Kesukaan ini bermula dari perjalanan gue ke Gunung Gede, sebuah perjalanan yang sangat menguras fisik dan mental. Perjalanan menanjak selama +/- 7 jam yang mengurangi nafas gue sampai 1/4.  Pikiran gue selalu saja mengeluh dan berteriak berteriak, "Lo ngapain sih disini begok!? Tuh liat tanjakan gak ada ujungnya!" 

Tapi walaupun Pikiran boleh ngamuk dan fisik boleh ancur-ancuran, sesampainya ke atas segala rasa capek, lelah, dan kelu lenyap dibawa sejuknya angin. Pemandangan indah menghipnotis mata dan gue merasa lebih akrab dengan alam. Walaupun pada saat turun dari Gede gue sempat bertitah untuk tidak naik gunung lagi, pada akhirnya gue kambali rindu bercengkrama dengan alam. Oleh karena itu, pada tanggal 9 Agustus 2014, gue menerima ajakan teman untuk pergi ke Gunung Papandayan yang terletak di Garut.

***

Perjalanan ke Gunung Papandayan dimulai dari terminal Guntur, Garut. Bus Prima Jasa seharga Rp 42.000,- menjadi pilihan kita untuk mencapai terminal tersebut. Jam 0200 kita sampai di terminal dan kita tidak bisa langsung berangkat ke Papandayan karena sudah tidak ada angkot-angkot ke arah sana. Oleh karena itu kita berkunjung dulu di basecamp yang terletak di gang kecil depan terminal. Teman gue, yang pada perjalanan ini mengajak teman ceweknya, sempat gelagapan saat diajak ngobrol penjaga basecamp.

"A, bukannya 2 bulan yang lalu pernah ke sini? Tapi sama cewek yang lain ya kalo gak salah?" tanya penjaga basecamp.

"Kang, udah pada rame yang ke Papandayan?" sahut dia. Tidak nyambung. Mengalihkan pembicaraan. Ketangkap basah.

Sekitar jam 0800 kita bergerak dari basecamp dan mencari angkot yang mengarah ke Papandayan. Melalui mekanisme tawar menawar dengan bahasa Sunda (yang terdengar seperti desingan peluru di kuping gue), sopir angkot sepakat mengantarkan kita dengan harga Rp 15.000,- /orang.

Moda transportasi publik Indonesia terbukti masih amat sangat terlalu ngaco. Walaupun kita sudah deal harga dengan angkot, tapi dia tetap nongkrong rapi di terminal. Seakan-akan tidak ada penumpang dan waktu seolah murah baginya. Setelah sekitar 30 menit menunggu, kita langsung marah-marah ke supir. Bukannya langsung jalan, dia malah meminta ongkos menjadi Rp 20.000,- /orang kalo mau langsung jalan. Abang angkot itu boleh ngancam, tapi tentu saja posisi kita lebih kuat. Kita balik mengancam untuk pindah ke angkot lainnya dan tentu saja dia kalah. Potensi kehilangan 6 penumpang lebih terasa efeknya.

Kita naik angkot sampai daerah bernama Cisurupan. Kedatangan kita disambut oleh mobil pick-up, pangkalan ojek, dan sebuah mesijid yang dilatarbelakangi Gunung Papandayan. Sebuah keindahan awal menyambut. Untuk menuju Gunung Papandayan, kita dihadapkan pada 2 pilihan : ojek atau pick-up. Bagi yang mendaki Papandayan pada saat weekend atau hari libur lainnya, gue menyarankan naik pick-up. Karena selain sensasi-nya lebih menyenangkan, ongkos juga bisa lebih murah. Tinggal tunggu aja pendaki-pendaki lainnya dan ajak mereka untuk barengan ke basecamp kaki gunung Papandayan (Camp David).

Perjalanan ke basecamp menggunakan pick-up seperti mengendarai Bajaj di planet Mars. Permukaan jalannya tampak jelek dan bolong, tanda pemerintah setempat tidak tanggap dengan potensi wisatanya. Trik nyaman duduk di pick-up adalah dengan meletakkan belahan pantat diantara tonjolan permukaan pick-up (entah namanya apa). Kalau duduk di pinggir, siap-siap pegangan erat kalau tidak mau terpelanting dan bermesraan dengan batu kerikil yang tersebar di sepanjang jalan.

Setelah berguncang-guncang diatas pick-up, akhirnya kita sampai di basecamp Gunung Papandayan. Pada pintu masuk basecamp, kita wajib lapor dan membayar tiket masuk sebesar 5.000 (hari biasa) / 7.500 (hari libur). Bagi yang butuh makan atau minum sebelum mendaki, di basecamp Papandayan terdapat beberapa warung yang menjual bermacam makanan dan minuman dengan harga yang tidak begitu mahal. Selain itu, terdapat juga fasilitas WC Umum dan beberapa warung semi permanen yang menjual peralatan mendaki.







Perjalanan mendaki gue mulai sekitar jam 1200. Trek awal pendakian berupa jalan batu landai yang menyenangkan. Pada 1 jam pendakian awal gue disambut oleh formasi asap belerang yang diapit oleh tebing-tebing tinggi. Semua tersaji indah dan mengagumkan untuk dipandang. Pada trek ini, pendaki harus mempersiapkan masker karena bau asap belerang yang menyengat seperti telur busuk yang ditaro di ketek keringetan. Selain itu, ada potensi bubuk-bubuk belerang masuk dan mengganggu sistem pernapasan.








Jalur kawah dan belerang tersebut berakhir pada sebuah pelataran. Sekedar mengatur nafas, gue beristirahat sejenak di warung yang berada di pelataran tersebut. Ngobrol-ngobrol dengan si abang-penjaga-warung, dia menyarankan kita untuk melalui jalur yang terletak di sebelah kanan warung. Menurut dia, sebenarnya di balik warung ada jalur yang langsung menuju daerah hutan mati. Namun karena kondisi jalur yang gampang longsor dan cukup beresiko, kita disarankan untuk lewat jalur lain yang lebih aman, walaupun sedikit memutar.



Selesai ngobrol-ngobrol, istirahat, dan foto-foto, kita melanjutkan perjalanan. Kontur jalur didominasi tanah dengan tingkat kemiringan yang tidak terlampau tinggi. Kondisi jalur Papandayan yang cenderung tidak terlalu menanjak ini sering dimanfaatkan orang untuk melakukan Trail Running. Beberapa kali kami berpapasan dengan orang yang lagi Trail Running. Biasanya mereka cuma pake kaos, celana pendek, tas kecil, dan sepatu Trail Running. Tidak ada peralatan berat yang mereka bawa karena pada dasarnya mereka jogging, namun di jalur yang lebih kompleks.



Setelah berjalan sekitar 2-3 jam, kita sampai di camping ground yang dinamakan Pondok Salada. Suasana camping ground lebih menyerupai pasar malam, imbas dari banyaknya orang yang mendirikan tenda. Untuk ukuran wisata alam, Pondok Salada memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Di tempat ini kita bisa menemukan mata air yang selalu mengalir deras, WC Umum (walaupun antriannya semacam pembagian sembako oleh Ibu Camat), warung kopi-mie-gorengan, abang tukang bakso, dan abang tahu. 

Kita sendiri baru dapet tempat di pojokan Pondok Salada, bersebelahan dengan rombongan pendaki dari Bintaro dan dekat semak-semak yang bisa difungsikan sebagai WC Umum. Selesai mendirikan tenda dan mempersiapkan area camp, akhirnya kita bisa bersantai ria.

Kondisi hari yang belum terlalu sore (1500) memunculkan semilir angin sejuk nan ramah. Kulit serasa dibelai dan dimanja saat angin mengalir di permukaan. Langit biru yang terlihat malu-malu, bersembunyi di balik awan putih yang lembut dan menambah syahdu suasana. Gue langsung menggelar matras diatas rumput dan merebahkan badan untuk beramah tamah dengan alam.

Saat sore aplusan dengan malam, udara dingin semakin menggigit. Lambat laun suhu yang pada mulanya sejuk dan menyenangkan berubah menjadi dingin dan menusuk. Bermaksud mengurangi dingin, gue berjalan mengelilingi Pondok Salada. Beruntungnya di dekat warung ada yang lagi bikin api unggun, sehingga gue bisa join dan berbagi panas api unggun dengan para pendaki lain yang ikut berkumpul. Hangatnya api unggun mengizinkan gue untuk melupakan dingin dan memandang langit yang bertabur bintang. Amboi, indahnya.


***

Hari kedua di Gunung Papandayan, spot yang kita kejar adalah Tegal Alun. Sebenarnya kebanyakan orang prefer bangun pagi-pagi buta untuk menikmati sunrise di puncak Gunung Papandayan. Namun karena mata terlalu nyaman terpejam dan badan terlalu nikmat dibuai semilir angin dingin, kita baru berangkat ke Tegal Alun sekitar jam 0700.

Jalur menuju Tegal Alun pada awalnya berupa hutan rimbun dengan pohon yang menjulang. Setelah kita menyebrangi got kecil yang berlumpur, kontur jalan berubah menjadi tanah kering berlapis kerikil yang dikelilingi pohon-pohon mati. Daerah ini sering disebut areal Hutan Mati.


Setelah itu, perjalanan mulai menanjak dan didominasi oleh tanah dan berbagai macam pohon dan semak. Sekitar 1 jam perjalanan, kita sudah bisa sampai di Tegal Alun. Namun sebelum sampai di Tegal Alun, kita harus melalui tanah kering dan bebatuan rapuh dengan tingkat kemiringan yang cukup signifikan. Harus ekstra hati-hati untuk memanjatnya.

Tegal Alun merupakan sebuah pelataran luas dengan padang rumput yang terhampar indah. Di ujung Tegal Alun masih terdapat bukit-bukit yang masih bisa didaki lebih lanjut, tapi waktu yang terbatas menghalangi kita untuk bisa mendaki sampai ke ujung. Selesai foto-foto, kita kembali ke areal Hutan Mati.


Pada areal Hutan Mati, kita bergerak ke ujung tebing dan melihat kawah yang terdapat dibawahnya. Kawah tersebut terlihat besar dan gagah dengan kepulan asap tebal seperti kapas. Hamparan hutan mati yang berbaris indah dan berpadu dengan tanah kerikil membuat areal ini terlihat seperti ada di planet lain, memanjakan mata dan menenangkan pikiran.


Pukul 1200 kita udah kembali ke camp dan bersiap-siap packing untuk pulang. Pukul 1400 kita udah siap berjalan kembali. Jalur pulang yang kita pilih beda dengan diawal, kali ini kita lewat jalur yang terdapat di belakang warung pada saat awal pendakian. Jalur yang disebut sering longsor dan cukup berbahaya.

Untuk mencapai jalur tersebut, kita kembali bergerak ke ujung hutan mati, tepatnya di sekitar tebing kawah. Keraguan sempat muncul saat melihat kondisi jalan yang menurun curam. Kondisi jalur berupa kerikil dan batu-batu yang tidak stabil tanpa ada pegangan pohon di pinggirnya. Hal ini memperbesar resiko tergelincir jatuh ke dasar jurang yang menunggu angkuh di depan. Berbekal keyakinan di dalam hati dan tentu saja berdoa kepada Sang Pemilik alam, gue meniti jalur dengan perlahan.

Hanya 1 jam meniti jalur, gue sudah sampai di warung lagi. Sangat benar apabila jalur ini disebut lebih cepat namun dengan resiko yang cukup pantas untuk dipertimbangkan. Alhamdulillah gue bisa meniti jalur dengan selamat dan dapat menceritakannya ke khalayak ramai.

Setelah melewati warung, gue menemukan beberapa pasangan yang asik bermesraan di pinggir tebing. Berpeluk dan berangkulan seakan-akan tidak ada manusia lain di dunia ini. Mungkin prinsip mereka sama dengan orang-orang yang pacaran di jembatan Pasar Rebo. Jika terlibat cekcok, jorokin aja ke bawah. Kemudian pura-pura tidak kenal pasangannya,  bersiul-siul dan memasukkan tangan ke dalam kantong celana. Mungkin mereka pula yang menyusun batu-batu di pelataran jalur sehingga membentuk tulisan-tulisan yang sering ada di dinding WC Umum.






Pada 1600 kita udah sampai di bawah dan langsung bergerak menuju Jakarta. Kembali ke rutinitas yang membelenggu dan kepulan polusi yang menyesak paru-paru. Semoga hobi ini dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan memperbaiki kemampuan fisik maupun mental gue.

Agar dapat semakin kuat dan menjadi Super Saiya.




mari kita lanjut...