Senin, Februari 01, 2010

Symphaty for The Devil

Hari Sabtu kemaren, 30 Januari 2010, gue pergi ke sebuah acara musik gratisan bernama New Days 2010. Acara yang pada awalnya gue gak percaya ada. Seperti utopia. Karena promosi cuma dilakukan lewat Facebook, gratis, sponsor cuma satu, tapi punya line-up artis yang keren-keren. Ada SORE, Efek Rumah Kaca, The Banery, Maliq & D' Essentials, RAN, The Upstairs, dan Pee Wee Gaskins. Dari sederetan artis yang ada, gue paling penasaran sama yang terakhir. Bukan karena gue suka musiknya, tapi gue penasaran sama isu yang beredar kalo penggemar-penggemar mereka yang disebut "Party Dorks" selalu berpenampilan lucu (dalam artian yang negatif).

Datanglah gue ke panggung Pee Wee Gaskins (PWG). Musik "Tuit-tuit" mereka gak terdengar jelas di kuping gue, gue lebih suka ngeliat panggung lain di depan panggung. Panggung itu berisi sekumpulan anak-anak bocah, kemungkinan masih SMP, yang pakaiannya full merah-putih dari atas ke bawah. Topi merah putih dengan tulisan "DORKS" (Apakah mereka tau kalo artinya adalah BODOH?) , jaket merah dengan tulisan PWG di punggungya, dan tak lupa celana putih. Kacamata besar yang lebih tepat disebut kacamuka kepasang di bawah jidat, seperti orang gila mereka loncat-loncatan tak jelas arah, mengangguk-angguk seperti resleting naik-turun.

Gue memandang mereka seakan berkaca di depan cermin besar. Gaya lucu mereka yang terlalu mengikuti jaman sama persis kayak gue dulu, tepatnya kelas 1 SMP. Gue baru aja ganti bet kemeja gue dari merah jadi kuning dengan tulisan "OSIS". Bangga. Celana gue berubah juga menjadi biru, berikut topi, dan gue mulai memakai dasi.

Pada saat itu gue baru mengenal musik dari temen gue yang bernama Tobing. Jika pas SD gue cuma tau Lingua, Project P, dan Stinky. Pokoknya musik-musik yang ada di Delta, yang video klipnya selalu disertai dengan lirik. Dengan racun yang dia cekokin ke gue, perlahan-lahan gue mulai bisa mengerti musik yang menjadi tren masa kini. Pada masa itu, musik yang menjadi tren adalah musik SKA.



Menganggap kalo suka hal-hal yang berbau ska adalah hal yang keren, gue mulai mengendus-endus segala hal yang berbau ska. Majalah gue berubah dari BOBO dengan Oki Nirmala -nya menjadi HAI dengan ulasan lengkap tentang ska. Dari situ gue belajar tentang gaya-gaya paling mutakhir ala ska. Pertama-tama gue belajar goyang Pogo, goyang ala ska, seperti terlihat pada gambar di atas. Gerakannya seperti gerak jalan seperti biasanya, namun dibuat jauh lebih hiperbolis. Untuk latihan, gue make musiknya Tipe-Ex yang berjudul "Genit"

Aa... entah sampai kapan
Aa... ku mampu bertahan
Hindari kenyataan
Entah sampai kapan
Aa... ku mampu bertahan
Hindari kenyataan
Mungkinkah terpikir lepas belenggu hitam

Pada bagian reff-nya, gue menari seperti orang gila, sendirian di kamar. Rusuh. Gue seperti menemukan musik yang pas untuk jadi identitas. Abis itu gue liat MTV (waktu itu masih gabung sama ANTV). Televisi terbukti menjadi guru yang efektif. Gue ngeliat video klip Tipe-Ex dengan anggotanya yang memakai topi pet ala Pak Tino Sidin dan kemeja hawaii bercorak pantai. Tak lupa pake celana kargo 3/4 sebagai pelengkap. Kalau kehidupan gue digambarkan jadi manga atau anime, tangan gue akan terkepal dan mata gue berbinar-binar memancar cahaya.

"Ini baru keren", batin gue dalam hati.

Mulai lah pencarian gue akan pernak-pernik ska. Tren pada saat itu belum difasilitasi seperti saat ini, contohnya melalui distro-distro yang tersebar di penjuru kota. Pencarian gue lakukan di daerah Tanah Abang, di sebuah pasar yang bernama "Sogo Jongkok". Untuk yang gak tau apa Sogo Jongkok, itu adalah sebuah pasar pagi yang cuma ada pas hari minggu. Barang-barang yang disana kualitasnya gak kalah dari yang dijual di Sogo, bahkan menurut klaim penjualnya barang-barang ini emang barang Sogo yang di-reject. Tempatnya di tengah jalan, di atas aspal, dan cuma beralas tikar. Untuk milih-milih barang yang disukain, kita harus jongkok. Pembeli jongkok, penjual juga jongkok, jadilah tempat itu dinamakan Sogo Jongkok.

Sogo Jongkok cukup memenuhi nafsu pengumpulan pernak-pernik ska gue. Disana ada kemeja hawaii. Gue beli yang warna biru dengan motif siluet pulau kelapa yang gagah berdiri di depan sunset. Keren. Selain kemeja, ada juga topi pet yang terbuat dari kulit. Gue gak tau itu kulit apa, entah sapi atau trenggiling. Sambil matut-matut di cermin kecil seadanya, gue merasa bangga telah mengikuti tren yang ada. Terakhir, gue beli celana kargo 3/4 berwarna krem. Oiya, demi menambah gaya gue berencana gak mau ngancingin kemeja hawaii gue. Gue pengennya kemeja hawaii itu terlihat seperti jubah yang melambai-lambai. Untuk itu gue beli baju bertulisan Billabong warna ijo yang bakal gue pake sebagai daleman. Kemudian saat gue ngeliat benda bagus yang bisa gue pake sebagai variasi, inovasi ala gue. Gue ngeliat ada dompet merah yang pake rantai untuk dikaitin ke celana. Entah buat apa itu rantai, dompet gue kebanyakan isinya duit cepe'an kertas, siapa juga yang mau nyopet?

Dengan setumpuk perlengkapan yang udah lengkap, gue berniat mempraktekkan kemampuan gue untuk ber-ska di pentas seni SMA 68 yang bernama Carasel. Beh. Gue udah berasa keren.

  • Pake topi pet, sadis.
  • Di bawah topi, gaya rambut gue modis masa kini. Belah tengah ala Bertrand Antolin di Clear Top 10. Dengan rambut gue yang keriting, rambut gue keliatan kayak dua perosotan didempetin.
  • Kemeja hawaii, ciamik!
  • Daleman ijo dengan tulisan Billabong, mencolok!
  • Celana kargo 3/4 warna krem, cadas!
  • Sepatu Converse warna abu-abu gelap, classy.
  • Tak lupa kaos kaki agak tinggi, sehingga terlihat nyambung dengan celana kargo. *speechless*
  • Rantai bernuansa perak menyembul di paha kanan, sangar!
Itu konser pertama yang gue datengin, tempatnya di Senayan, gue lupa dimana tepatnya, dan gue terlihat seperti badut kecil yang didandanin aneh. Tapi itu menurut gue yang sekarang, kalo menurut gue pada saat itu (Mirzal kecil jaman SMP), dandanan itu adalah dandanan paling keren sedunia. Dengan PD gue maju, sok-sok goyang pogo tapi gak ngarti apa yang dimaenin. Mungkin orang-orang ngeliat gue seperti gue ngeliat Dorks-nya PWG. Seorang anak kecil hiperaktif yang bahkan gak ngerti musik apa yang mereka maenin. Tapi tentu aja gue gak peduli, karena gue sedang melakukan hal yang menurut gue keren. Seenggaknya menurut temen gue dan gue berusaha untuk diterima di lingkungan sosial gue pada sat itu.

***

Terus terang, menurut gue fenomena pemuda-pemudi berpakaian aneh dan nabrak-nabrak yang pada saat ini sering disebut Alay (Anak Lebay) itu mempunyai sisi positif. Fanatisme berlebihan yang mereka anut ngebuat mereka alergi untuk beli barang bajakan, mereka bakal lebih merasa keren beli yang asli. Selain itu soal pakaian. Mayoritas pakaian mereka adalah buatan lokal . Udah gitu, mereka selalu mengikuti tren baru yang ada tanpa peduli pendapat orang lain. Implikasinya, barang-barang tersebut selalu laku dijual dan dengan banyaknya orang-orang seperti mereka, secara otomatis membantu dapur industri lokal tetep ngebul. Well, walaupun nabrak-nabrak dan terlihat norak, gue masih bisa menghargai mereka. Karena gue pernah menjadi seperti itu.


Dengan bangga gue mengakui :

Gue mantan Alay (Anak Lebay).





8 komentar:

aan mengatakan...

Tren datang dan pergi, para remaja selalu memiliki panutan baru untuk diikuti. remaja menjadi sasaran empuk bagi musik. Anak muda mempunyai banyak aspirasi yang harus dikeluarkan. Yang penting seimbang dan terkendali..

koment perdana n follow
salam kenal sobat...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@aan : terima kasih kawan udah mampir dan komen :D . Itulah yang dinamakan Ababil, ABG labil. Masih bisa disetir! eheheee.

uci cigrey mengatakan...

aduhhh 2 jempol :))
ikan keriting tinggalin jejak disni deh,,,shoutmixnya koq ngga bisa sih kan :D

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

Thanks uci..!! Tetap membaca yaa.. :D

Ajeng mengatakan...

ahaha.. lo sangat ABABIL yeeee...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@Ajeng : ABABIL itu duluu.. pada jamannyaa.. heee

Anonim mengatakan...

hhhhh,,,
npe lo SIRRIIIIK!
susaaaaaah sih..
klo gk suka DIEM AJA..
gk usah komend...
LO TUH CMA TUKANG GOSSIP
YG SUKA NGOMONGIN ORG...
dsar FREAK...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@anonim : thanks banget atas komentarnya. Sangat berguna kok.