Sabtu, Februari 20, 2010

Hospital Madness

Hari Jum'at yang tenang. Sebuah hari agamais dimana, khusus laki-laki, berkewajiban untuk sholat Jum'at di mesjid terdekat. Pada awalnya, gue cuma pengen di rumah aja, kecanduan serial Psych , sebuah serial detektif yang menyamar jadi cenayang yang pada awalnya gue pandang sebelah mata. Saat lagi asik nonton DVD tersebut sambil tiduran di tempat tidur empuk dengan sprei bergambar lambang Liverpool, pintu kamar gue terbuka tiba-tiba. Itu bukan polisi yang grebek kamar gue karena dicurigai menyimpan obat-obatan terlarang. Gue gak bakal nyimpen atau make barang laknat kayak gitu. Kalo boleh jujur, mungkin satu-satunya obat terlarang yang gue punya adalah kalpanax yang disamarkan jadi selai roti tawar.

"Dek, gak ada kerjaan kan?", ternyata yang buka pintu adalah nyokap.

"Gak ada sih"

"Anter Disa ke Rumah Sakit yok, udah 3 hari demam gak turun-turun"

Disa adalah sepupu baru gue. Baru dalam artian dia belum lama lahir ke planet yang bernama bumi ini. Bukan baru yang berarti saudara yang terpisah karena saat baru lahir dia gak sengaja masuk ke kotak parsel lebaran dan kekirim ke Ambon, kemudian setelah beberapa tahun secara ajaib muncul lagi. Dia lahir bulan September tahun lalu dan pada saat ini, dia sedang sakit.

Sebenarnya, gue sangat malas menggerakkan badan dari tempat tidur empuk itu. Udara terlalu sejuk dan bersahabat, gak cocok untuk dipake berkegiatan. Lebih cocok dipake untuk tidur-tiduran, malas-malasan, dan melancong ke alam mimpi. Namun, nolak permintaan nyokap akan membuat beliau mengeluarkan kata-kata bijak yang membuat gue skak mat. Perasaan yang mungkin dirasakan oleh seorang terdakwa saat hakim menjatuhkan vonis bersalah dan gue bakal jatuh di level pesakitan, seperti Baekuni.

Singkat kata, permintaan itu gue penuhi. Selesai sholat Jum'at kita berdua berangkat ke RS Harapan Bunda di daerah Pasar Rebo. Perjalanan kesana berlangsung penuh emosi mengingat angkot yang selalu aja mepet-mepet, ngerem mendadak, dan beragam hal bodoh lainnya. Ya begitulah sopir angkot, kalo mereka pintar, mungkin sudah jadi astronot. Berkat mereka, perjalanan pendek menjadi terasa panjang, bertabur makian dan umpatan. Terima kasih. Saya akan berikan penghargaan berupa lemparan sendal jepit buluk yang di dominasi bau jempol.

Sesampainya di lobby, banyak terlihat anak kecil lari-larian. Gue harus menjaga langkah biar gak keinjek. Kan gak etis kalo ada yang patah tulang karena gak sengaja gue injek. Mau bilang apa gue? "Maaf bu, kaki anak ibu gak sengaja keinjek. Tenang, cuma kebelah dua kok, nanti saya beliin Power Glue deh." Mau dibikin variasi bagaimanapun, cara itu pasti gak bakal berhasil . Yang akan gue dapat hanya tanda biru memutar di kedua mata gue.

Saat gue berjalan di lorong ramai itu, mata gue tertuju ke satu ruangan disana. Gue inget, dulu gue pernah ada disana. (Dengan suara ala chipmunks, disamarkan) Waktu itu, aku dibawa seorang suster dengan iming-iming sebuah permen. Sesampainya di ruangan, aku dipojokkan, pakaianku dipreteli, dan aku difoto-foto. Weh, jadi kayak pengakuan bocah berbau stensilan gini? Hehee. Alhamdulillah, kejadian yang gue bilang barusan itu hanya fiksi belaka.

***

Waktu itu gue masih make baju putih-merah ala anak SD. Baju kemeja putih, pake dasi, dan celana merah pendek dengan pinggang memakai karet. Gue ada disana bersama bokap, abang gue, dan beberapa sepupu gue. Gue mau imunisasi campak. Dokter yang nyuntik gue pada saat itu adalah kakek gue sendiri. Dengan modal pernyataan standar 'Seperti digigit semut', gue memberanikan diri pamer pantat untuk disuntik imunisasi. Prosesnya berlangsung cepat dan gak terasa, gue ngobrol-ngobrol tau-tau udah disuruh pake celana lagi. Gue kecewa gak bisa buka celana lebih lama. Gue pikir suntik itu amat sakit, bikin darah keluar gak bisa berhenti.Setelah dijalanin, ternyata enggak. Suntik itu gak sakit. Sebuah pendapat yang gue pegang sampe saat gue sakit DBD yang mengharuskan gue suntik ambil darah tiap hari di lengan, sampe biru.

"Bang, suntik juga", kata bokap ke abang gue yang lagi main-main sama sepupu gue.

Abang gue langsung syok. Ekspresi mukanya seperti orang ketauan nyontek di dalem kelas. "Abang udah disuntikkk...!!", kata abang gue membela diri. Kakek gue, yang berperan sebagai dokter, tentu aja gak percaya sama perkataan anak kecil yang gak ngerti sama sekali tentang imunisasi dan sebagainya. Dengan ekspresi dingin layaknya Hannibal sedang mengasah pisau untuk ngebelah kepala korbannya, dia nusukkin jarum suntik ke botol obat untuk ngambil cairan di dalamnya.

Abang gue mulai ketakutan. Saat si kakek mulai bergerak ke dia dengan jarum suntik terhunus, muka dia pucet parah. Kemudian seperti orang kerasukan setan, dia lari keliling ruangan. Muter-muter kayak gangsing. Kakek gue kelimpungan ngejar bocah hiperaktif kayak abang gue itu. Dia bener-bener terlihat kayak pembunuh berantai yang bernafsu mengejar mangsanya. Mangsanya sendiri semakin cepat larinya sambil tereak, "ABANG UDAH DISUNTIKKK!!! ABANG UDAH DISUNTIKKK!!! AAAAAA....!!".

Perburuan ala Cheetah dan Rusa di National Geographic terjadi di ruangan yang cukup besar dan didominasi warna putih itu. Dimana Cheetah diperankan oleh kakek gue dan Rusa diperankan oleh Abang gue. Sang Cheetah pun lambat laun mulai menjadi payah, gak kuat lagi ngejar sang rusa yang berlari terlalu cepat. Mungkin dia pusing juga karena ngejarnya muter-muter berbentuk lingkaran sempurna.

Bokap gue merasa terpanggil dan bertanggung jawab karena udah nyuruh abang gue untuk disuntik. Dia ikutan lari untuk ngejar abang gue, jadilah mereka bertiga lari-larian. Gue cuma bisa bengong ngeliatin kejadian itu. Gak beberapa lama, mungkin gara-gara denger tereakkan kenceng dari dalem, dateng 2 orang suster ke dalam ruangan. Dengan 4 orang yang mengejar, akhirnya abang gue berhasil ketangkep juga.

Ternyata abang gue mempunyai mental seorang Spartan, walaupun ketangkep dia masih bisa berontak dengan tereak, "UDAH DISUNTIKK.. UDAH DISUNTIKK!!!". Kalau di Spartan teriakannya adalah, "THIS IS SPARTAAAANNNN!!!". 4 orang pengejarnya tentu aja kelimpungan dengan mental perang dia itu. Akhirnya diambil tindakan pemasungan. Tangan abang gue dipegang bokap dan kaki-nya dipegang suster yang baru dateng itu. Keadaan dia saat itu tengkurep di tempat tidur dengan pantat menghadap langit. Masih terdengar teriakan tertahan, "ABANG UDAH DISUNTIIKKK.... ABANG UDAHHH....". Teriakan itu udah gak terdengar jelas karena mulutnya mentok ke tempat tidur. Dia terlihat seperti mau di-gangbang dengan celana yang sedikit dipelorotin itu. Kalau aja Kak Seto dateng, dia bakal marah-marah sambil nyuruh si Komo untuk nyerang mereka semua.

Secepat kilat, abang gue akhirnya berhasil disuntik. Proses yang sangat lama untuk nyuntik seorang anak bocah. Setelah selesai disuntik, pegangan pun dilepas.

"Tuh, gak sakit kan?", kata kakek gue nenangin dia yang lagi sesenggukan.

"Tapi kan harusnya udah", kata abang gue tetep dengan argumen awalnya.

Setelah kejadian itu, muka abang gue menekuk terus ke bawah. Ceritanya ngambek ke bokap. Gue sendiri cuma geli-geli sendiri ngeliat abang gue dikerjain sampe nangis kayak gitu. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, gak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut dia. Sesampenya di rumah, dia langsung ngadu ke nyokap.

"Bu, abang disuntik"

"Hah, suntik apaan?"

"Imunisasi campak", kata bokap gue.

"Hah!? Kan udah!! Dia ikut kan buat nemenin ade doank!!", nyokap gue menjelaskan.

Mata abang gue langsung melotot, "TUH KANNNN!!!!".

***

Hikmah dari kejadian ini, abang gue mungkin bakal punya kekebalan abadi atas penyakit campak, seperti Obelix yang mempunyai kekuatan abadi karena overdosis minum jamu yang dibuat oleh Panoramix (bener gak yah? Nama dukun Galia).

Yang pasti,kenangan itu sangat berharga dan masih teringat, untuk gue, tau deh kalo buat abang gue. Hehee.


0 komentar: