Senin, November 20, 2017

Akad

Bila nanti saatnya t'lah tiba
Kuingin kau menjadi istriku
Berjalan bersamamu dalam terik dan hujan
Berlarian kesana-kemari dan tertawa
(Akad - Payung Teduh)


Lagu Akad - Payung Teduh mendadak merangsek menempati posisi teratas dalam daftar lagu-lagu yang wajib dimainkan pada saat resepsi pernikahan jaman sekarang. Mengalahkan lagu "Dengarkanlaah... Wanita pujaanku... Malam ini akan kusampaikan..." yang sudah gue dengar melewati berbagai macam jenis tenggorokan dengan output yang terkadang merdu, terkadang sember, dan terkadang membuat kuah Bakso Malang bergetar hebat apabila kebetulan kita berdiri di sebelah speaker saat mendengarnya.

Akad.

Ah.

Mungkin hal ini masih menjadi khayalan liar pada saat 2 tahun yang lalu.

Berada di ujung cerita tanpa tahu bagaimana cara menulis kata pada bab berikutnya sukses membuat gue diam bermuram durja. Apalagi kesibukan dunia kerja cukup membatasi cakupan kehidupan sosial dan membatasi diri pada rutinitas yang itu-itu saja. Boro-boro mikirin akad, ngebayangin calonnya aja gak bisa.


***


Stasiun Manggarai, 10 Mei 2015


Kantuk adalah musuh terbesar pada hari itu dan keadaan kaki yang pegal menambah keengganan gue untuk beranjak dari tempat tidur yang empuk nan membuai. Ahoy rasanya.

Keadaan tepar tersebut disebabkan karena sehari sebelumnya gue baru pulang nanjak one-day-trip dari Gunung Salak, berjalan kaki selama 8 jam dan malam harinya lanjut bawa mobil dari Cimelati, Sukabumi, ke Jakarta. Patut digarisbawahi, mengendarai mobil lewat jalur Sukabumi dengan keadaan mata yang baru tidur +/- 4 jam merupakan pengalaman yang sangat-sangat mendebarkan. Banyak lubang-lubang kejutan, manuver kanan-kiri angkot setan, dan motor-motor terminator (motor yang body nya dicopot sehingga terlihat rangka kurusnya) bersliweran liar ngepot gak keruan.

Ada semangat luar biasa yang menarik gue keluar dari lapisan-lapisan belenggu tempat tidur. Di hari itu gue janjian ketemu dengan seorang wanita yang belum lama gue kenal. Perkenalan lewat udara yang singkat nan berwarna membawa kita untuk bertemu di stasiun kereta. Dia adalah seorang mahasiswi tingkat akhir di salah satu Universitas mahsyur di Surabaya. Kebetulan pada saat itu dia balik ke rumahnya di Bekasi, Kota Seribu Matahari, untuk sejenak mencari inspirasi buat menyusun skripsi.

Berhubung pada tanggal 10 Mei tersebut dia mau balik ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah dan belum tau kapan lagi akan balik ke Jakarta, maka buru-buru gue ajak dia ketemuan pada saat itu juga. Bagai N'Golo Kante yang jago memotong jalur operan bola, gue berhasil memotong rencana dia. Dimana modus operandi yang gue pakai adalah nganterin dia ke Stasiun Gambir. Mungkin apabila pergerakan gue dikomentari oleh Valentino 'Jebret' Simanjuntak dia akan berteriak, "SEBUAH INTERCEPT MEMBELAH LAUTAN YANG SEMPURNA!!!"

Pada saat itulah gue melihat dia berjalan menyusuri jalan setapak dari pintu keluar stasiun Manggarai. Kalau kata Afgan, senyumnya mengalihkan dunia, teguran satpam stasiun, dan bunyi klakson yang bersahut-sahutan dari belakang mobil akibat gue berhenti persis di depan stasiun untuk menjemputnya. Pada saat itu, seluruh suara berada pada posisi mute.

"Chima," kata dia.

Pada pertemuan pertama itu, kita berdua jalan untuk dinner ke Hollycow Steak Sabang. Di dalam pertemuan singkat itu kita berbagi cerita.  Di pertemuan singkat itu, kita memulai cerita.

***


Bulan Ramadhan merupakan pertemuan kedua kita, setelah sebelumnya sempat LDR beberapa bulan karena dia sedang kuliah di Surabaya. Rencana nya kita mau buka puasa bareng di daerah Epicentrum.

Seperti biasa,  mencari restoran saat buka puasa susahnya kayak nyari jerami di tumpukan jarum. Nyakitin. Banyak bangku gaib, yaitu bangku yang keliatan kosong tapi ternyata udah ada penghuni bernama Reserved.

Bingung mau kemana, semua tempat sudah tak ada.

"Di sini ada supermarket kan?" tanya dia.

"Ada sih Ranch Market dibawah," jawab gue.

"Yaudah beli bukaan aja dulu, nanti makan nya gampang"

Akhirnya kita berdua turun ke Ranch Market membeli roti dan bukaan lainnya. Kemudian kita ke pinggir sungai depan Mall Epicentrum, duduk berbuka puasa disana. Pada saat itu langit malam terlihat cerah dan bulan bintang sedang bermain riang di dalamnya.

Di bawah langit, kita berdua melepas rindu. Bercerita apa saja dan tidak sengaja menumpahkan kuah lupis sembari melepas tawa. Kita berdua menikmati momen bersama tanpa butuh apa-apa. Tidak butuh bangku indah karena senyumnya kadung membuat nyaman, tidak perlu Ice Mojito karena momen berdua ini sudah terlampau manis, dan tidak perlu Candlelight karena suasana sudah begitu hangat.

Hanya kita berdua.

Pada saat itulah gue membatin, sepertinya pencarian gue akan segera berakhir.

***

Kisah kita berdua berlanjut hingga beberapa bulan. Kuliah dia sudah selesai dan dengan mengucap Bismillah gue berniat melamarnya. Jika memang telah menemukan seseorang yang pantas mendampingi hidup, kelebihan dan kekurangan dia bukan alasan untuk tidak hidup bersama. Cukup hadirnya yang membuat kita bahagia.

Pada saat itu kita lagi jalan ke Gn. Puntang, Bandung.

"Mau nyoba naik gunung," kata dia.

Batin gue langsung merencanakan skenario melamar dia, karena kisah ini terlalu berharga untuk tidak dibawa ke KUA. Melamar dia di atas puncak gunung adalah rencana yang gue bawa di perjalanan.

Malang seribu sayang, Malang ada di Jawa Timur. Saat itu jalur pendakian sedang ditutup. Setelah tanya sana sini, ternyata ada spot lain yang masih bisa kita kunjungi sambil hiking. Kita diarahkan ke Curug Siliwangi yang masih ada di area Gn. Puntang.

Kita mendaki sekitar 2,5 jam, menyebrangi sungai, dan menembus hutan untuk sampai ke Curug Siliwangi. Rasa hati gue deg-deg an tak menentu. Semacam deg-deg an waktu nembak namun versi upgrade. Takut ngomong di moment yang gak tepat.

Pada saat istirahat di Curug Siliwangi, sembari disinari matahari yang menyusup dari balik derasnya air, serta ditemani hijaunya pepohonan yang menghias Curug Siliwangi, gue memberanikan diri untuk melamar dia.

Pada saat itu, tanggal 01 November 2015, she said yes.

Kalau aja ga inget musti ngelamar ke Papa nya, pengen rasanya loncat terjun dari atas curug saking seneng nya.

Deg-deg an itu bertambah 10x lipat saat gue ngelamar ke Bapaknya. Gimana enggak, kita sebagai lelaki harus meyakinkan dia kalau anaknya diberikan ke orang yang tepat. Banyak pikiran negatif menyeruak, seperti:

Apakah nanti ditolak dan dikasih ceban buat ongkos pulang?

Apakah nanti gue dites hafalan dulu?

Apakah nanti gue disuruh ikut Psikotes, Kraeppelin, dan tes medis?

Semua apakah-apakah dan kekhawatiran itu ternyata hanya distraksi saja. Kalau kita memang berniat baik dan mengutarakan niatan itu dengan baik juga, maka orangtua pasti menyetujui, Insya Allah.


***


20 November 2016


Tanggal ini adalah tanggal kelahiranmu
Tepat di tanggal ini juga kisah kita terlahir
Pasang surut kisah menjadi badai pengganggu
Sampai ijab kabul terucap, mengikat janji denganmu


Meja itu berada di depan panggung yang sudah dihias indah. Semalaman gue gak bisa tidur membayangkan kejadian di meja itu. Di meja itu gue akan menggenggam  tangan Papa Chima untuk melaksanakan ijab kabul.

Dengan memakai baju beskap putih adat Sunda dan dengan kepala nyut-nyutan karena dapet topi yang kesempitan, gue duduk di meja itu. Rasa nervous beberapa kali mendesak masuk ke kepala dan gue bersusah payah untuk menangkisnya.


 sempit banget dah ini topi


Setelah berhasil mengatasi semua rasa nervous dan sakit kepala, akhirnya gue berhasil melaksanakan akad nikah. Suatu hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Alhamdulillah.

Seusai ber ijab kabul dia datang.

Seorang wanita cantik yang memakai baju khas Sunda berwarna putih. Senyumnya teduh dan menawan, senyum yang membuat gue di klakson di Manggarai. Saat dia datang, gue bingung harus gimana.

"Ayo deketin istrinya," kata Pak Penghulu.

Gue pikir Pak Penghulu mau melontarkan jokes standar, "Ayooo ini istrinya bukaan? Gak ketuker kan Mas?" Kemudian gue senyum-senyum tengik menanggapi jokes yang tak lucu itu.

Ternyata tidak.

Tangan gue disuruh pegang ubun-ubun Chima. Gue lebih bingung lagi. Perasaan di briefing cuma disuruh tanda tangan di buku nikah. Daripada diem gak keruan, gue gerakin bibir ke jidat Chima, gue pikir disuruh cium jidat.

"Eh bukan! Main nyosor aja," kata Pak Penghulu.


Ternyata gue disuruh baca doa yang disunnahkan Rasulullah SAW :


اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِهَا وَخَيْرِ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ ، وَأَعُوْذَ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا جَبَلْتَهَا عَلَيْهِ


"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepadaMu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepadaMu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya."


Gedung Sinema, Cawang, menjadi saksi dimulainya kisah kita berdua. Sebuah kebahagiaan yang sungguh luar biasa melihat teman-teman dan para saudara datang hadir di acara kita.

Sesekali kami mengintip dari balik kepala para tamu yang berbondong datang bersalaman. Ketakutan terbesar kami adalah makanan kurang dan mengecewakan tamu. Sedih rasanya membayangkan tamu datang jauh-jauh menyempatkan waktu namun pulang dengan perut kosong kelaparan.

Lagi-lagi itu hanya ketakutan saja, karena Alhamdulillah acara akad dan resepsi kami berlangsung lancar. Bahkan di tengah acara gue berhasil mencuri senyumnya dengan membawa kue ulang tahun ke pelaminan dan merayakannya di atas panggung bersama para tamu undangan. Sebuah rasa bahagia yang tak terkira.


***

Wahai istriku, tulisan ini aku persembahkan sebagai kado ulang tahun mu.

Wahai istriku, tawa dan tangis akan selalu ada di kisah kita namun percayalah aku akan selalu membuatmu bahagia. 

Wahai istriku, jangan lah engkau bersedih apabila dunia membuatmu terjatuh karena aku akan selalu ada menopang tubuhmu.

Wahai istriku, sabarlah jika kita dihantam dunia karena kesabaran kita akan diganjar surga.

Wahai istriku, jika aku sudah menua nanti tetaplah manja padaku karena itulah makanan hatiku.

Wahai istriku, tetaplah sayang padaku sampai tiba di rumah surga bersama keluarga kita nanti.

Aaamiin.





mari kita lanjut...

Jumat, November 03, 2017

Moto G5s Plus, Smartphone Wah Harga Murah!

Seiring berjalannya waktu, kebutuhan pokok manusia semakin berubah dan bertambah. Pelajaran yang kita dapat pada saat belajar IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) dahulu menyebutkan bahwa  kebutuhan pokok manusia adalah : Sandang, Pangan, dan Papan. Pada saat ini, klasifikasi kebutuhan pokok manusia berubah menjadi : Sandang, Pangan, Papan, dan Selfie.


Oleh karena itu, kebutuhan akan kamera smartphone yang bagus menjadi penting. Karena  dengan kamera yang bagus, setiap momen-momen penting kita akan terekam dengan jelas dan tentu saja kita akan menjadi lebih eksis di media sosial. Tak ada yang lebih berharga untuk anak muda jaman sekarang selain Selfie Yang Sempurna.


Sayangnya, tingginya teknologi kamera smartphone akan memaksa kita untuk menggali kocek kita lebih dalam, lebih dalam lagi, dan lebih dalam sampai kita semaput. Mungkin kita bisa foto selfie bagus, detil, dan cantik, namun imbasnya kita hanya bisa makan nasi garem plus cuka secukupnya selama 3 bulan ke depan .


... ditambah kuah sayur asem sebagai penambah rasa.

... itupun ngutang.


Motorola menyadari kebutuhan ini dan mempersembahkan smartphone dual kamera pertamanya ke Indonesia. Smartphone anyar dari produsen handphone yang sangat berpengalaman dan dikenal dengan desain-desain produk nya yang keren ini dinamakan Moto G5s Plus.

 Apa saja kelebihan-kelebihan Moto G5s Plus? Let's check it out!

1. Dual Camera 13MP

Kamera belakang Moto G5s Plus mengusung dual camera yang terdapat pada smartphone premium. Moto G5s Plus menggunakan dua sensor 13MP untuk kamera belakangnya dengan bukaan F/2.0. Dengan teknologi kamera ini, kita seakan meringkas kamera SLR Profesional di dalam smartphone sehingga dapat menghasilkan hasil gambar kamera yang detil dan tingkat keseimbangan warna yang mumpuni . Plus, seperti namanya, Moto G5s Plus memiliki mode selective focus yang memudahkan kita untuk mengatur fokus dan kekuatan blur, mengkombinasikan foto hitam putih dan warna, serta mengganti gambar background.




2. Kamera Depan 8MP dengan Panoramic Selfie dan LED Flash


Apakah anda sering meminta tolong pelayan restoran saat mau wefie dengan teman-teman?

Apakah anda sering meminta pelayan restoran mengambil ulang foto karena ada salah satu teman anda yang terlihat gendut atau sedang merem?

Well, dengan Kamera Depan 8MP dan Panoramic Selfie Moto G5s Plus, masalah itu teratasi dan anda terhindar dari senyum kecut para pelayan restoran. 

Fitur Panoramic Selfie memungkinkan kamu foto bareng teman-teman. Bukan hanya itu, lingkungan sekitar juga dapat ditangkap dengan menggunakan fitur ini. Fitur yang sangat menggiurkan, apalagi untuk para traveler yang ingin di selfie di tempat-tempat baru. Dimana terkadang tidak ada orang yang bisa diminta tolong akibat daerah yang terpencil atau terkendala masalah bahasa. 



3. Desain Premium


Sedari dulu, Motorola selalu menghadirkan keunikan desain pada setiap produknya dan memberikan nilai tambah bagi pemakainya. Body Moto G5s Plus menggunakan balutan bahan metal yang elegan dengan desain yang berkelas dan kualitas body yang mantap.



4. Baterai + TurboPower


Di dalam Moto G5s Plus tertanam baterai berukuran 3.000 mAh yang dapat mendukung kebutuhan kita akan pemakaian aplikasi, kamera, menonton video, atau bermain game sepanjang hari. Selain itu, Motorola juga memberikan teknologi TurboPower yang memungkinkan smartphone mengecas baterai untuk pemakaian selama 6 jam hanya dengan 15 menit pengisian baterai. Luar biasa bukan?





5. Performance dan Fitur Lainnya


Moto G5s Plus memiliki layar Corning Gorilla Glass 3 dengan ukuran yang cukup lapang sebesar  5,5" untuk memanjakan para pencinta multimedia dalam menikmati video dengan kualitas layar HD beresolusi 1080p.

Demi mendukung resolusi tajam tersebut, Moto G5s Plus menanamkan chipset Qualcomm Snapdragon 625 Octa-Core 2.0 GHz dan RAM 4GB agar proses tidak nge-lag, tersendat, dan menyebabkan emosi sesaat. Apalagi kalau kita memakai Moto G5s Plus untuk browsing informasi-informasi terkini di Jalan Tikus, dijamin lancar!


Fitur kamera yang keren dengan kualitas perekaman video hingga 4K Ultra HD tentu membutuhkan kapasitas memory penyimpanan besar. Moto G5s Plus memberikan kelapangan dalam hal penyimpanan data dengan memory internal sebesar 32 GB  yang dapat di-expand melalui slot microSD hingga 128 GB.

Sistem operasi Moto G5s Plus yang memakai Android 7.1 Nougat yang pastinya dapat di upgrade menjadi Android 8.0 Oreo menyempurnakan smartphone ini untuk menjadi gadget unggulan.



Sudah cukupkah seluruh fitur keren di atas? Belum cui!

Moto G5s Plus dengan segudang fitur kerennya ditawarkan dengan harga yang sangat terjangkau. Hanya dengan Rp 2.999.000 kita dapat memakai Moto G5s Plus untuk men support kebutuhan sosial, hiburan, dan hidup kita.

Untuk para traveler, kamera depan 8MP dengan panoramic selfie dan LED Flash Moto G5s Plus bisa menangkap setiap keindahan tempat dan alam yang dikunjungi.

Untuk para food traveler, Dual Camera 13MP Moto G5s Plus dapat menangkap tekstur makanan dengan detil sehingga pengalaman makan kamu dapat ter-deliver dengan baik.

Untuk para gamer, processor Qualcomm Snapdragon 625 Octa-Core 2.0 GHz dan RAM 4GB Moto G5s Plus bisa memainkan game yang membutuhkan spesifikasi tinggi.

Untuk para Jomblo.... Well, dengan kapasitas memory internal 32 GB yang dapat di-expand 128 GB ditambah resolusi HD 1080p, bisa lah mengganti hangatnya malam mingguan bersama pasangan dengan marathon nonton film drama romantis sambil ditemani susu coklat manis, selimut, bantal, guling, dan sesekali SMS Notifikasi dari provider selular atau Mama yang sedang minta pulsa.

Moto G5s Plus menjawab kebutuhan kita akan smartphone yang memiliki fitur-fitur keren nan menawan bak smartphone premium namun dengan harga yang terjangkau. Get Plus, Get More with Motorola Moto G5s Plus!



Tunggu apalagi? Grab it fast!
 



 
mari kita lanjut...

Selasa, Oktober 18, 2016

Menari Bersama Kopi

Hiking menurut gue adalah sebuah kegiatan yang membuat kita lebih menghargai proses. Lelah, letih, dan lutut yang bergetar saat mendaki puncak ibarat halangan / rintangan yang kita hadapi apabila ingin mencapai suatu tujuan atau pencapaian dalam hidup. Selalu ada pilihan untuk menghadapinya : menyerah dan mundur atau berjuang dan menjejakkan kaki diatasnya.

Terkadang, proses mendaki gunung tidak berhenti sampai di puncak. Proses masih berlanjut sampai di bawah dan bahkan setelah pulang ke rumah. Hal ini gue rasakan saat melakukan perjalanan ke Gunung Burangrang, Bandung.

Pada mulanya, nama Gunung Burangrang masih sangat terdengar asing di telinga. Namanya tenggelam di deretan gunung-gunung lain di Jawa Barat seperti Ciremai, Cikuray, Papandayan, dan Tangkuban Perahu. Dengan ketinggian yang mencapai 2.064 mdpl, Gunung Burangrang bersembunyi di balik ketenaran Dusun Bambu. Sebuah tempat makan yang sangat hype bagi para aktivis instagram yang gemar posting #OOTD dengan latar belakang rumah danau atau rumah pohon-yang-berbiaya-sewa-seratus-ribu.

Walaupun Dusun Bambu adalah tempat yang instagram-able, gue mendapat info Burangrang bukan dari instagram. Gue mendapat info Burangrang dari artikel mengenai Willem Tasiam yang berhasil mendaki tiga puncak gunung dalam 1 hari (Gede, Pangrango, dan Burangrang). Penasaran dengan nama Burangrang pada artikel tersebut, gue langsung konsul dengan Mbah Google demi mendapat informasi yang dibutuhkan.

Gunung Burangrang ternyata dipakai sebagai tempat pelatihan sekaligus markas tentara Kopassus. Letaknya ada di sebelah kota Bandung, tepatnya di daerah Cimahi. Dari cerita-cerita pendakian yang gue baca, jarak tempuh ke puncak Burangrang hanya 3-4 jam, sehingga diputuskan untuk tidak bermalam di sana. Cukup tektok saja. Peserta perjalanan kali ini adalah 3 orang : Gue, Andi, dan Rizki.

Rencana yang disusun adalah : 


  1. Berangkat dari kantor hari Jum'at
  2. Sampai di basecamp Burangrang Sabtu dini hari
  3. Muncak jam 7 pagi dan turun paling lama jam 11 siang
  4. Lanjut ke kawinan temen kantor di Setiabudi jam 4 sore
  5. Memohon tumpangan pada siapa saja yang mau ke Jakarta selepas kawinan
  6. Pergi Haji bila mampu

Rencana yang disusun rapi, toh keadaan lapangan yang menentukan. Di Cimahi kita sempat kebingungan cari angkot ke basecamp Burangrang. Tol Cikampek yang luar biasa macet menyebabkan kita sampai ke Cimahi pukul 02.30. Keadaan sudah sepi mencekam dan jarang angkot yang lewat. Pada akhirnya kita charter angkot sampai Gerbang Komando dan sampai disana sekitar pukul 03.30. Biaya charter-nya kalau tidak salah sekitar 120.000 (Rupiah, bukan Dollar, apalagi Poundsterling).

Gerbang Komando merupakan pintu masuk sebelum sampai ke Basecamp Burangrang. Dari tempat itu kita berjalan +/- 1 Km, melewati Dusun Bambu dan perumahan warga. Jangan kaget apabila mendengar suara,"MOO...!!" saat melewati perumahan. Karena jalan yang kita lalui tepat di sebelah kandang sapi.

Sekitar 30 menit jalan, kita sampai ke Basecamp Gunung Burangrang. Di depannya terdapat pos penjagaan kecil dan bangunan musholla yang terbuat dari kayu dengan kaca yang penuh stiker komunitas-komunitas pendaki. Apabila berjalan ke belakang musholla, terdapat warung yang disinari cahaya redup bohlam kecil. Waktu menunjukkan pukul 04.00 dan tidak ada tanda-tanda kehidupan pada tempat kita berdiri, baik di pos jaga maupun warung.



Ini Rizky, masih Jomblo

Kita memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dan tidak melapor apa-apa di pos tersebut. Setelah 5 menit berjalan kaki kita menemukan pos lainnya. Seperti pos sebelumnya, cahaya lampu pijar seakan lelah bertarung dengan gelapnya subuh. Cahaya nya redup dan samar. Di depan pos ada seekor anjing herder yang menyalak keras mengikuti langkah kita mendekati pos.





Bermodalkan tekad dan nekat, kita mendekati pintu pos untuk mencari penjaga yang mungkin sedang tertidur di dalam. Pos yang kita datangi adalah pos penjagaan KOPASSUS dimana menurut penuturan beberapa catatan perjalanan diwajibkan untuk melapor ke pos ini sebelum naik ke Burangrang. Sebuah pilihan yang cukup bijak dibanding menyusup masuk dan disergap pake bayonet karena dikira mau nyolong sepatu Boots tentara.

Anjing herder itu ternyata cuma bluffing. Semakin kita mendekat semakin dia mundur teratur dan akhirnya lari ke belakang pos. Sambil sesekali dia mengintip penasaran ke arah kita yang sedang mengetuk pintu depan pos jaga. Pintu terbuka setelah kita mengetuk pintu +/- 15 menit. Seorang bapak-bapak gemuk dengan model rambut cepak ala tentara membuka pintu dengan wajah yang masih berada di antara dua dunia  Mimpi indah dan kenyataan pahit.

Sembari menggaruk-garuk kepala dia bertanya," Pada mau ngapain?"

"Ini Pak, kita mau izin main ke Burangrang. Boleh kan Pak?" jawab gue ke Bapak itu. Jaket army nya yang kegedean melambai-lambai seiring makin derasnya garukan tangan dia ke kepala.

"Ini hari apa? Sabtu yah. Yaudah gak apa-apa. Gak ada latihan gunung hari ini," jawab Bapak tentara itu.

"Kita perlu daftar sama biaya nya berapa Pak?"

"Halah, gak usah. Yang penting lapor aja biar kita tau ada yang naik. Takutnya kalo kamu nyelusup, bakal kena peluru nyasar. Hati-hati juga nyasar ke atasnya, jalurnya given kok tinggal melipir ke kiri. Kalo kamu ke kanan bisa ke danau Situlembang, tempat latihan Kopassus, bakal digampar Kapten Mustari kamu."

Dari pembicaraan tersebut, kita bisa menarik dua topik utama : Peluru nyasar dan digampar. Ok. Sebuah pesan yang akan kita ingat sampai kapanpun.

"Ok pak, kalo gitu kita lanjut jalan dulu ya,"  kata gue sembari berjalan menuju jalan setapak yang sudah ditunjuk Bapak Tentara.


***

Waktu menunjukkan pukul 05.00, keadaan masih cukup gelap sehingga kita harus menyalakan senter di awal jalur. Tiga lampu senter menerangi hamparan hutan pinus di trek awal Burangrang. Pikiran gue membatin dan curiga akan adanya pasukan Kopassus yang sedang latihan sembunyi di dalam rapatnya hutan pinus. Imajinasi gue membayangkan kaki gue menginjak perut tentara yang sedang kamuflase di tanah, kemudian gue disergap bayonet, kemudian gue disuruh jalan jongkok naik-turun gunung.

Trek hutan pinus nan datar tersebut ibarat makan pembuka yang membangkitkan selera sebelum lanjut ke menu utama : Tanjakan curam tak kunjung padam. Jarak tempuh Burangrang yang hanya sekitar +/- 3 jam perjalanan menyebabkan tajamnya sudut kemiringan jalur. Ditambah sehari sebelumnya hujan, sehingga jalur menjadi berlumpur dan licin.








Sekitar 2 jam perjalanan, setelah mengalami kebingungan di persimpangan, kita sampai di puncak Burangrang. Namun sayang pemandangan di puncak tertutup rapatnya pohon-pohon yang mengelilingi puncak tersebut. Sebagai dokumentasi, kita mencari tugu batu penanda Puncak Burangrang.

Puncak sudah kita kelilingi tapi tidak ada tanda-tanda keberadaan tugu puncak Burangrang. Takutnya kita nyasar dan dari balik semak-semak muncul Kapten Mustari dengan telapak tangan terhunus. Siap menggampar pipi-pipi gembil kita yang terkontaminasi Burger King & KFC. Akhirnya kita kembali ke persimpangan sebelumnya.

Ternyata puncak yang kita datangi itu adalah Puncak Bayangan. Terkuak sudah misteri kenapa tidak ada tugu di tempat itu. Pada jalur terdapat dua cabang, ke kanan menuju Puncak Bayangan dan ke kiri menuju jalur yang menurun dan mengarah ke Puncak Burangrang sebenarnya.

Kontur jalur setelah Puncak Bayangan berbentuk seperti mangkok yang memiliki pemandangan indah di sela-sela nya. Jika beruntung, kita akan melihat pemandangan danau Situlembang yang menyembul di balik hamparan awan, serta hutan pinus yang mengelilingi nya. Tempat ini seperti doping sebelum kita melangkah lebih lanjut ke Puncak Burangrang.






Jalur Puncak Burangrang memiliki kontur tanah liat yang berdebu saat musim kering dan licin saat musim hujan. Kita bahkan akan menemukan tali bantuan saat beberapa meter sebelum puncak sebagai pegangan kita saat memanjat jalur yang curam.






Puncak Burangrang akhirnya berhasil kita capai pada pukul 08.30, tepat setelah 3.5 jam perjalanan. Puncak nya kecil dan tertutup oleh pepohonan. Sebagai penanda, terdapat sebuah tugu tepat pada pintu masuk puncak. Tugu semen berbentuk balok tersebut seperti pita garis finish para pelari marathon. Menandakan bahwa kita sudah sampai di Puncak Burangrang, 2.050 mdpl.





Sembari melepas lelah, kita buka nesting untuk masak Kopi. Karena tak ada yang mengalahkan nikmatnya menyesap kopi di puncak tertinggi, sembari memandangi burung yang terbang kesana kemari, dan dibuai angin seakan tak ada esok hari. Tapi jangan lupa, hari esok tetap menanti dan kehidupan tetap harus dijalani. Yang pasti, kehidupan yang berat akan sedikit teringankan saat kita bersembunyi sembari menyeduh kopi di puncak tertinggi.






Vandalisme murahan
di tugu Puncak Burangrang




Pukul 10.00 kita memulai perjalanan turun dan sekitar 11.30 kita sudah sampai di perkampungan warga. Dikarenakan di tempat ini sinyal handphone sudah pulih, gue langsung menyalakan handphone untuk memberi kabar. Tak beberapa lama ada sms masuk dari nomor yang sudah lama dikenal :

[Kalau sudah dapat sinyal kabarin aku. Kita harus ketemu, we need to talk.]

Seketika perasaan gue tidak enak.



***

Tepat pukul 12.00 kita sudah sampai lagi di Gerbang Komando. Badan dekil dan mata sudah berat mengantuk akibat cuma tidur 2 jam. Namun sayangnya, perjalanan kita belum usai. Kita masih harus melanjutkan perjalanan  ke acara resepsi pernikahan teman kantor di daerah Setiabudi.

Pukul 14.00 kita sampai di tempat resepsi dengan mengenakan celana pendek dan baju basah bersimbah keringat. Pada saat itu sedang akad nikah dan kita tidak mungkin menghadiri acara tersebut dengan pakaian seperti itu. Ditambah lagi muka kita berlapis debu tebal Gunung Burangrang. Dekil. Kita kemudian mencari teman yang dititipkan baju dari Jakarta dan mencari kamar mandi.

Mencari kamar mandi di venue resepsi merupakan hal yang cukup sulit. Karena banyak tersedia namun tak bisa dipakai sama sekali. Karena kamar mandi itu ada di dalam kamar yang tentu saja dihuni oleh orang lain. Apabila kita masuk dan memakainya, niscaya satpam akan mencekik kita dengan kerai Gordyn.

Daripada dicekik satpam, kita lebih memilih bekerja sama dengan mereka. Kita memutuskan untuk mandi dan bersiap di kamar mandi satpam. Satu-satunya kamar mandi umum yang memiliki bak mandi. Karena tidak mungkin kita mandi di urinoir, apalagi urinoir sensor. Coba dihitung, berapa kali kita harus bolak balik maju-mundur untuk dapat membasuh seluruh badan dengan air bersih?

Selesai mandi, rapi jali, tiba saatnya kita berpesta. Dari yang tadinya make celana pendek, kaos oblong, dan sepatu gunung berganti menjadi celana panjang, kemeja lengan panjang, dan sepatu pantofel. Penampilan berubah 180 derajat, namun muka (tetap) pas-pasan.

***

Resepsi pernikahan selesai kira-kira pukul 18.00. Dikarenakan lokasi pernikahan di Bandung, maka gue harus mencari tebengan untuk balik ke Jakarta. Walaupun pada saat itu masih hari Sabtu dan besoknya hari Minggu dan besoknya Senin dan besoknya Selasa itulah nama-nama hari, gue sama sekali tidak berniat untuk menginap di Bandung. Badan sudah capek dan mata sudah berat mengantuk, sehingga cukup bijak apabila gue memutuskan untuk istirahat di rumah.

Gue berhasil menemukan tebengan untuk pulang ke Jakarta. Ada beberapa teman yang sewa mobil dari Jakarta dan pulang balik malam itu juga. Pada saat mereka ke Bandung, ada yang bisa bawa mobil. Sedangkan saat balik dari Bandung, gak ada yang bisa bawa mobil karena orang yang bisa mau stay dulu di Bandung.

Sehingga dari total 7 orang penumpang hanya gue yang bisa nyetir. Seseorang yang baru tidur selama 2 jam dengan fisik terkuras akibat jalan naik-turun gunung selama 5,5 jam. 

"Yakin gue yang nyetir?" kata gue sambil menjelaskan kondisi fisik pada mereka.

"Iya lah, daripada kita semua gak pulang?"

Jika kata Vito Corleone, itu adalah, "An offer I can't refuse." Daripada gue gak pulang, lebih baik gue menerima tawaran tersebut. Sembari menarik kesadaran yang sedang tersesat di ufuk kantung mata, gue terpaksa membawa mobil mengarungi Dago Atas Bandung - Jakarta dengan jarak +/- 165 km.

Malam gelap terasa syahdu akibat kelopak mata yang berat. Setiap tikungan ibarat buaian tangan Ibu saat menggendong anaknya. Buaian tangan yang selalu berhasil mengantarkan anaknya ke gerbang mimpi. Walhasil, mau gak mau kita harus berhenti di 2 Rest Area untuk sekedar menyesap tiga gelas kopi sebagai motivator mata agar tetap kuat untuk terjaga.

Sekitar pukul 23.00 akhirnya kita semua sampai di Jakarta tanpa kurang apapun. Alhamdulillah.

Masalah besar masih menanti untuk diselesaikan esok hari, terkait sms yang gue terima di siang tadi. Namun  pada saat itu, fokus gue terpusat pada tempat tidur. Kedua kelopak mata sudah memberontak marah dan mereka meminta untuk terlelap.


***

Keesokan harinya, hari Minggu 19 Oktober 2014, gue berangkat ke Cilandak Town Square. Mata masih berat, badan serasa melayang, dan pikiran menerawang. Seperti zombie yang sedang menyetir mobil.

Setelah mengarungi tol JORR dan sampai ke Cilandak Town Square dengan selamat, gue langsung ke Restoran Seruput dan memesan secangkir es kopi. Secangkir es kopi yang jenisnya tidak cocok untuk keadaan pada saat itu. Gue memesan Double Shot Espresso hanya karena gambarnya menarik. Yah, keadaan tiga perempat ngantuk pada saat itu membuat gue tidak dapat berpikir jernih. 

Benar saja. Efek double shot espresso secara luar biasa membuat jantung gue berdegup kencang. Seperti ada serdadu yang sedang baris-berbaris di rongga dada. Kemudian terjadi selisih paham di antara serdadu, kemudian mereka berantem dan kemudian timbul tawuran massal antar serdadu. 

Sesampainya dia datang dan kami bulai berbincang, pandangan gue maju mundur. Kemampuan gue mencerna percakapan menurun drastis. Kepala gue seakan muter tak menentu. Pandangan seakan maju menembus kepala lawan bicara, bergerak liar bagai kecoak terbang. Padahal pembicaraan pada saat itu berisi hal yang sangat serius.

Ya. Kisah kasih gue (yang bukan di sekolah) berakhir di Warung Seruput dengan ditemani kopi pahit yang semakin terasa masam.

Sapaan, "Sukses terus ya" di balik kaca mobil dia yang terbuka seperempatnya merupakan sapaan terakhir yang menutup cerita yang sudah berlangsung selama 4 tahun. Ah, betapa lelahnya badan, pikiran, dan perasaan yang ditempa banyak kejadian selama dua hari.

Sayangnya walaupun badan lelah dan perasaan gundah, asupan kopi dingin Double Shot Espresso menghalangi niatan gue untuk beristirahat saat sampai di rumah. Batin gue terjaga sampai sekitar jam 4 pagi walaupun badan terasa lemas. Memang hebat pengaruh kafein yang bersemayam di balik pekatnya bubuk kopi. Kopi dapat memacu hati walau dia lelah untuk berlari.

Namun sayang sekali, pada saat itu saya lebih butuh tidur, bukan pikiran yang menari.




mari kita lanjut...

Selasa, Februari 09, 2016

Sebuah Cerita Tentang Film


Masyarakat Jakarta, yang terdiri dari banyak keluarga, memiliki kecenderungan untuk menghabiskan hari libur, baik Sabtu - Minggu maupun libur nasional, di banyak mall yang tersebar di sekujur Jakarta. Kegiatan yang dilakukan dalam mall pun beragam seperti window shoppingshopping beneran, makan, atau nonton di bioskop. Hal ini tidak bisa dihindari lagi, mengingat minimnya ruang terbuka di Jakarta yang (semakin) sempit ini.

Film merupakan hiburan terjangkau bagi masyarakat kaum perkotaan, khususnya kota Jakarta, tempat gue hidup, bernafas, berjalan, dan pipis di WC Umum dengan biaya Rp 2.000. Jumlah mall di Jakarta yang mencapai 170 buah semakin memudahkan kita untuk memilih bioskop sesuai dengan budget yang tersedia.

Kita bisa menikmati film dengan harga Rp 100.000 pada bioskop Premiere XXI atau bahkan menikmati film sambil tiduran pada Satin Class seharga Rp 75.000 pada bioskop CGV Blitz. Sebaliknya, kita juga bisa menikmati paket nonton film murah meriah seharga Rp 25.000 - Rp 35.000 di Hollywood XXI. Film sama dengan fasilitas yang berbeda. Semua tergantung selera.

Pada saat libur Imlek tanggal 8 Februari 2016, secara random gue pergi ke Gandaria City. Tujuan gue kesana untuk nonton film terbaru Quentin Tarantino : Hateful Eight. Walaupun hujan badai, banjir, dan macet menghadang perjalanan dari Tanjung Barat ke Gandaria City, gue tetap berkeras nonton film itu. Pasalnya, Gandaria City XXI merupakan satu-satunya bioskop yang memutar Hateful Eight dan gue merasa sayang jika hanya menonton film itu melalui soft copy berjudul Hateful_Eight_UNRATED1080p.MKV.

Mengingat keberadaan film Hateful Eight yang cepat hilang pada bioskop-bioskop di Jakarta, gue gak berharap banyak orang tertarik nonton film itu. Karena biasanya jumlah penonton sedikit mengakibatkan pendeknya masa tayang film di bioskop. Namun pada saat sampai di bioskop dan bertemu dengan embak loket berbaju terusan hitam, dugaan gue terbukti salah. Ternyatacukup banyak penonton mengisi Studio 5 Gandaria City XXI.


Salah satu penontonnya adalah keluarga kecil yang terdiri dari Ibu, Bapak, dan anak perempuannya yang berumur kira-kira 7 atau 10 tahun. Suatu hal yang sungguh mengejutkan. Di era internet seperti saat ini dengan informasi yang bisa diakses melalui ujung jari, seharusnya orangtua tahu film apa yang akan mereka tonton dengan anaknya.

Sebelum mengajak anaknya nonton film, ada baiknya mengunjungi situs yang bernama IMDB.com. Bahkan situs itu punya aplikasi yang bisa diakses melalui Android atau iOS. Hey sesuatu yang amat mudah bukan? Kecuali mungkin anda termasuk orang yang masih menggunakan Nokia 8250 Monochrome dengan ringtone Polyphonic dan game Snake yang melegenda.

Quentin Tarantino, seperti dikutip pada situs IMDB.com, merupakan salah satu sutradara yang memiliki nama besar di ranah Hollywood. Judul-judul film seperti Pulp Fiction, Kill Bill, Reservoir Dogs, Inglorious Basterds, dan Django Unchained mentasbihkan dia sebagai sutradara yang menghasilkan film-film penuh dengan unsur kekerasan. Saking kerasnya film Tarantino, bisa dibilang selain aktor dan aktris, orang yang paling banyak meraup untung pada proses pembuatan film dia adalah para penyedia darah-darahan.

Oleh karena itu, gue cukup kaget saat melihat keluarga kecil tersebut duduk manis di samping kanan tempat duduk. Kedua orangtua itu mengajak anak perempuannya yang manis, yang seharusnya lebih cocok nonton Frozen atau Petualangan Singa Atlantos, menonton Hateful Eight karya Quentin Tarantino.

Lampu diredupkan, layar dilebarkan, dan film pun dimulai. Pada awalnya, film hanya menampilkan dialog-dialog antara para tokoh yang penuh kata-kata kotor, ciri khas lain dari fim Tarantino.

Menjelang akhir, film Hateful Eight mulai menunjukkan taring nya, diawali adegan muntah darah yang menyembur layaknya semprotan air menerjang tanaman. Setelah adegan tersebut, film menjadi semakin keras. Aksi koboi adu tembak dengan penggambaran yang eksplisit saat peluru merobek perut dan dada ditampilkan. Sekilas gue lihat ke samping kanan untuk melihat keadaan si anak perempuan. Dia terlihat gelisah namun Bapaknya terpaku geming menonton adegan demi adegan

Puncaknya pada saat adegan hancurnya kepala salah satu tokoh akibat ditembak pistol Magnum laras panjang. Melihat adegan otak berhamburan ke muka, si anak perempuan memekik tertahan, menutup mata, dan bergerak ke pangkuan Bapaknya. Mungkin ketakutan, mungkin jijik, atau mungkin trauma. 

Entahlah.

Yang pasti si Bapak tetap asik nonton dan memeluk anaknya tanpa berusaha menutup matanya. Sambil membenamkan kepala ke dada Bapaknya, sang anak yang penasaran mengintip adegan mutilasi lengan dan eksekusi gantung leher. Tangannya sontak menggenggam kemeja Bapaknya. 

Saat film selesai, si anak perempuan tetap membenamkan kepala ke dada Bapaknya sampai lampu studio dinyalakan. 


***

Menurut gue, film bukanlah suatu media hiburan yang bisa dinikmati semua kalangan. Ada rating-rating yang memisahkan antara tontonan anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Atau bahkan menurut gue ada usia-usia dimana anak belum bisa diajak nonton di bioskop. 

Sebelumnya pada hari Sabtu, 6 Februari 2016, Grand Metropolitan Bekasi. Gue nonton The Revenant nya Leonardo Di Caprio. Dikarenakan film tersebut cukup populer dan pada hari itu merupakan awal long weekend, studio cukup penuh dengan penonton. Gue sendiri dapat tempat di pinggir kiri baris ke empat.

Film The Revenant merupakan film petualangan yang natural dan terasa sangat nyata. Tokoh utama film, dalam keadaan sekarat akibat serangan beruang, berusaha bertahan hidup di tengah pegunungan bersalju dengan peralatan minim. Untuk bertahan hidup dia terpaksa makan bangkai hewan, ikan mentah, dan liver bison. Bahkan ada satu adegan dimana dia harus bermalam di dalam perut kuda yang sudah dibelah dan dikeluarkan isinya.

Pada saat seru menonton adegan Leonardo Di Caprio kelaperan makan liver Bison, terdengar suara tangisan bayi. Ya, tangisan bayi. Dan gue yakin itu bukan salah satu adegan film dimana Leonardo menemukan bayi raja yang tertinggal di tengah hutan, merawatnya, dan pada saat anak itu besar sang Raja datang membawa anak tersebut. Sebagai ucapan terima kasih Leonardo dijadikan penasihat Raja dengan diiringi lantunan musik Lyla - Magic dan di akhiri tagline "Satu Untuk Semua."

Bukan.

Itu adalah suara tangisan bayi dalam gendongan yang dibawa Bapaknya nonton The Revenant. Mungkin bayi itu terganggu oleh suara membahana Studio dengan teknologi THX, DTS, DLL, DHL, etc. Masih dalam gendongan bayi si Bapak membawa bayi nya keluar studio untuk mendiamkannya. Kemudian setelah anaknya diam dia kembali masuk studio dan melanjutkan nonton The Revenant. Melihat Leonardo Di Caprio main tusuk-tusukan pake pisau.

Pikiran anak kecil ibarat kertas putih yang masih polos tanpa tulisan.

Dua kejadian yang gue alami saat long weekend seakan menyadarkan gue akan sulitnya mencari hiburan yang pantas untuk anak-anak. Waktu kecil dulu, gue masih bisa melihat Bambi yang lucu berkeliling hutan ditemani kelinci putih yang berlari riang. Sekarang gue melihat sendiri seorang Bapak mengajak anaknya nonton Bambi dibelah perutnya untuk dijadikan selimut atau nonton koboi yang biji-nya ditembak oleh pistol magnum.

Yah, kejadian-kejadian yang kita alami sehari-hari dapat diambil sebagai refleksi diri. 

Semoga gue bisa lebih kreatif dan cerdas dalam menciptakan atau mencari hiburan apabila sudah punya anak nanti. Semoga juga gue bisa menghindari godaan untuk mengajak anak duduk 2 jam di ruangan gelap, dimana satu-satu nya hal yang bisa dilihat adalah peluru yang menembus kepala orang.




mari kita lanjut...

Kamis, September 03, 2015

Ceremai, Sang Penguasa Jawa Barat

Selepas perjalanan ke Gunung Puntang, gue langsung mencari info trip ke Gunung Ceremai. Titik tertinggi di Jawa Barat. Rasa penasaran menyeruak saat memandang puncaknya dari Gunung Puntang, Bandung. Puncak Gunung Ceremai, yang berdiri kokoh melawan langit di tengah kepungan awan. Dia terkesan kokoh, megah, dan angkuh. Memang, tidak ada gunung yang bisa ditaklukan oleh manusia. Namun sungguh amat sayang apabila memiliki sepasang kaki yang masih kuat tapi tidak dimanfaatkan untuk menjejakkan kaki di atasnya.

Keinginan disambut kesempatan, kesempatan yang langsung dikonversi jadi kenyataan. Pada suatu pagi di dalam kamar tua yang sudah gue tinggali sejak kelas 4 SD, masuk pesan whatsapp di hape. Pesan itu berisi undangan perjalanan sharecost ke Ceremai dari Abi, seorang trip organizer yang mengusung merk Bulaba (Buat Langkah Baru) pada tanggal 3-4 April 2015.

"Book 1 orang, tau jadi apa enggak, yang penting book," balas gue.

Gayung pun bersambut, niatan gue ke Ceremai dijawab oleh ajakan trip. Tentu saja gayung bersambut. Karena kalau gayung bersambit, berarti lagi ada tawuran antar tukang gayung.

Karena model trip nya sharecost, maka gak ada istilah 'Tau beres'. Setiap orang harus berbagi biaya perjalanan dan paham mengenai kebutuhan-kebutuhan saat hiking. Oleh karena itu walaupun informasi ini disebar melalui broadcast message dan forum backpackerindonesia, peserta yang ikut tidak begitu banyak. Hanya ada 8 orang yang sepakat berkumpul di Kp. Rambutan pada tanggal 3 April 2015.

***

Malam hari di terminal Kampung Rambutan, pada saat tanggal muda dan long weekend. Suasana terminal sangat lah padat, beberapa kura-kura yang berjalan tegak (orang-orang yang membawa carrier) terlihat berkeliaran, bergerombol, dengan masing-masing tujuannya. Selain itu, ada beberapa rombongan keluarga dengan berbagai macam model tas berjalan beriringan. Raut muka mereka terlihat bersemangat untuk sampai ke tempat tujuan mereka, bertemu dengan keluarga nun jauh disana. 

Kita berkumpul di dekat parkiran motor yang terletak di depam terminal Kp. Rambutan. Tanpa tedeng aling-aling, ada seorang Bapak nyamperin rombongan kita. Bapak-bapak itu terlihat bingung dan bajunya lusuh. Sepertinya dia disuruh nanya ke kita, karena gak beberapa jauh dari Bapak-bapak itu ada sekelompok anak muda yang sedang mengamati pergerakan dia. Seakan menunggu keputusan yang diambil dari pertemuan dengan kita.

"Dek, mau naik gunung kemana?" tanya dia.

"Ke Ceremai, Kuningan Pak," jawab kita.

"Oooh... Berat gak trek-nya? Kalau enggak, barengan kita aja ke sana. Kebetulan kita pake mobil travel," kata dia sambil menunjuk mobil ELF yang sedang dikelilingi beberapa orang.

"Berat maksudnya gimana? Memang Bapak mau kemana?" balas kita bingung. Baru kali ini orang ngajakin bareng tapi nanya berat apa enggak. Orang mau hiking normalnya tau tempat mana yang akan dituju dan sudah mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan tempat tersebut. Lah ini nanya berat apa enggak. Aneh. 

"Belom tau nih. Tapi kalo adanya temen ke Ceremai ya kita kesana. Tadinya kita mau ke Papandayan, Cikuray, atau Merapi."

Oke. Kita butuh beberapa waktu untuk mencerna statement tersebut. Walaupun kita bukan ahli di bidang Geografi, tapi kita jelas tahu kalo Papandayan, Cikuray itu ada di Garut dan Merapi itu ada di... Yogyakarta. Kita gak paham apakah Bapak itu sedang halusinasi akibat nyium bau pipis kering yang tersebar di pojok-pojok parkiran apa gimana.

"Liat nanti ya Pak, kita masih nunggu yang lain dulu." Balas kita sembari berusaha keras bersikap ramah dan seakan-akan paham akan maksud dan tujuan Bapak itu. 

Karena gak jelas, kita memutuskan untuk menolak ajakan Bapak itu. Lebih baik kita bergerak sedikit ke dalam terminal untuk naik bis umum ketimbang ikut barengan tanpa arah itu. Takutnya kita malah dibawa ke Gunung Sahari.

***

Pada perjalanan kali ini, gue sangat merasakan efek long weekend dan tanggal muda. Kita berangkat dari Kp. Rambutan pukul 01.00 dan baru sampe pertigaan kota Kuningan jam 10.00. Yak. 9 jam saja. Dimana normalnya perjalanan Jakarta-Kuningan memakan waktu 4-5 jam.

Selain akibat kemacetan di Cikampek dan Jalur Pantura yang seakan tidak ada habisnya, lama perjalanan juga diakibatkan oleh jalur bus yang diputar dulu ke Indramayu. Bis 45 seat segede Optimus Prime tidur tengkurap itu dipaksa masuk jalan kampung Indramayu yang sempit dan belum beraspal. Pada akhirnya bis kita sukses bikin macet jalan dan menghambat lalu lintas.

Selain korban waktu, bis kampret itu juga memakan korban lainnya. Topi fedora abu-abu kesayangan yang sudah melindungi kepala gue saat jalan-jalan ke Bali, Merbabu, Sawarna, Solo, dan berbagai tempat lainnya, resmi ilang. Hal terakhir yang gue inget, topi itu gue jadikan semacam bantal saat molor dengan gaya nemplok di jendela. Karena setengah sadar, gue gak sadar kalo jendela itu terbuka lebar. Sehingga bisa dipastikan, topi itu pasti terhempas ke ruas tol Cikampek. 

Ah, biarkanlah dia bebas diluar sana. Semoga pemilik barunya juga suka ngajak dia jalan-jalan.  #menangisterharu

Yang bikin bis itu makin kampret adalah : kita diturunin di tengah jalan. Padahal pada awalnya bis itu janji akan ngelewatin Linggajati. Gue lupa nama jalan tempat kita diturunin, pokoknya pertigaan antara tol - kota kuningan - Linggajati. Disitu kita dioper ke angkot yang ujug-ujug nembak 20 rb per orang untuk sampe pos Linggajati. Beruntung tim kita punya Andi, orang Sunda yang bisa debat pake bahasa Sunda. Jadilah kita bisa nolak pemalakan ter struktur tersebut dan berjalan sedikit untuk dapet angkot bertarif 10 rb untuk ke pos Linggajati, basecamp pendakian Ceremai.

Terhindar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau, Ternyata pos yang dimaksud abang angkot adalah POS POLISI. Mungkin bisa dimaklumi kalo jarak antara Pos Polisi dengan basecamp pendakian deket. Pada kenyataannya, basecamp Linggajati masih berjalan 2KM lagi. Kembali Andi bersuara dan pada akhirnya kita bayar cuma 7 rb. Dia harimau, kita T-Rex.

Turun di pos polisi, ada banyak angkot yang siap mengantar kita ke base camp dengan tarif 5-10rb. Namun sebelum perjalanan dilanjutkan, kita belanja dulu di Indomaret yang letaknya tepat di seberang pos polisi.

***

Setelah naik angkot, akhirnya kita sampai di Pos pendakian Gunung Ceremai Jalur Linggajati. Di pos ini, kita wajib mendaftar dengan menyerahkan fotokopi KTP/SIM. Jadi yang ingin ke Ceremai jangan lupa siapin dokumen tersebut. Selain itu, kita diwajibkan bayar uang masuk sebesar... Jeng Jeng Jeng! 50 Ribu rupiah. Kita shock. Gunung Gede via cibodas Simaksi nya 22,5 rb, via Selabintana 7,5 rb , Merbabu 5 rb, Puntang 10 rb, dan Burangrang Gratis. Walaupun keki, tapi apalah daya. Ga mungkin kita balik ke Jakarta karena gak mau bayar Simaksi. Semoga uang yang terkumpul bener-bener dipakai untuk merawat alam kita tercinta ini.




"Naik lewat sini, turunnya harus lewat sini lagi ya," kata Bapak penjaga pos saat kita mau jalan. Suatu hal yang bertentangan dengan rencana perjalanan kita, naik via Linggajati turun via Apuy. Sebodo teing lah. Kita sepakat mau nekat. Kalo misalnya pas sampe Apuy kita disuruh balik, kita akan pura-pura pingsan.

Sekitar pukul 13.00, perjalanan menuju Puncak Ceremai dimulai. Tak lupa kita berdoa dulu sebelum melanjutkan perjalanan, karena tidak ada perlindungan yang lebih aman dibanding perlindungan dari-Nya.

Dari basecamp, kita diarahkan melewati jalan aspal yang cukup menanjak. Di sepanjang jalan ini, terdengar teriakan burung-burung yang suaranya persis kayak orang buang reak. Entah burung apa. Setelah jalan sekitar 30 menit, kita sampai di sebuah bangunan kantor milik Bumi Perkemahan Cibunar. Di tempat ini orang-orang bisa buka camp dan menikmati pemandangan cantik ala kaki gunung Ceremai. Setelah pos Cibunar, perjalanan mulai memasuki hutan lebat dengan trek berupa tanah yang belum begitu menanjak.



Perjalanan mulai serius saat melewati pos Kuburan Kuda, yang konon katanya tempat ini dulu memang dipakai sebagai kuburan kuda tentara Jepang. Capek bener ya para tentara Jepang untuk nguburin kuda. Musti nanjak 2 jam dulu. Setelah pos ini, trek mulai menanjak curam dengan tanah yang dilapisi akar licin. Perlu sedikit berhati-hati karena apabila meleng sedikit kita bisa terpeleset akibat menginjak akar.

Sekitar pukul 18.00, matahari sudah tertidur dan gelap malam mulai menampakkan kuasanya. Kita memutuskan camp di pos Pangalap. Dari pos ini kita rencana bangun jam 3 pagi untuk melanjutkan perjalanan ke summit yang masih berjarak sekitar 6 jam lagi.

***

Keadaan dalam tenda yang sejuk dan gelap malam yang begitu pekat membuat tidur kita begitu lelap. Niatan bangun jam 03.00, jadinya malah jam 04.00. Segera kita beres-beres tenda karena niatan kita melintas jalur dan tidak melewati jalur yang sama, sehingga tenda tidak bisa ditinggal. Setelah berdoa, kita langsung melanjutkan perjalanan pada pukul 05.00.

Tanpa ampun. Itu lah deskripsi yang pas untuk jalur setelah pos Pangalap. Dimulai dari tanjakan Seruni yang konturnya sempit, membuat kita harus menyelip diantara tanah-tanah tinggi. Tanjakan Seruni selesai dilewati, lanjut ke Bapa Tere. Di pos ini, tanjakan nya sangat curam sehingga memaksa kita untuk merayap di antara tanah dan akar. Untungnya di ujung tanjakan ada bantuan tali yang cukup membantu kita saat melewati jalur Bapa Tere.


Batu Lingga, Sangga Buana I, dan Sangga Buana II adalah pos yang kita lewati selanjutnya. Kontur jalur berupa hutan lebat dengan tanjakan yang curam dan konsisten. Kondisi jalur yang berputar seringkali menurunkan motivasi dan menambah kelelahan. Pelan tapi pasti gue melalui pos demi pos sampai menemukan sebuah lapangan terbuka yang cukup besar. Lapangan itu sudah ramai diisi para pendaki yang sedang beristirahat cenderung tepar.


Pos Pengasinan, itulah nama pos terakhir sebelum mencapai puncak Gunung Ceremai via jalur Linggajati. Dari pos ini sudah terlihat gagahnya puncak Gunung Ciremai yang berdiri tegak menantang langit dan awan. Sangat menggoda melihat tujuan akhir di depan mata. Seakan-akan mudah untuk digapai. Setelah cukup beristirahat di pos ini, gue melanjutkan perjalanan.





Jalur setelah Pos Pengasinan ibarat raja terakhir. Track-nya perpaduan batu dan tanah gembur yang mudah longsor. Bahkan gue sempat nyusruk masuk ke salah satu lubang di jalur ini.  Untung bukan nyusruk ke jurang. Karena sudah mendekati puncak vegetasi cenderung didominasi oleh pohon-pohon berukuran kecil seperti Edelweiss yang keindahannya luar biasa, sehingga bisa dipastikan jalur ini akan terasa panas menyengat apabila musim kemarau. Mungkin itu penyebabnya pos terakhir dinamakan Pengasinan. Trek-nya bikin kita kering kerontang macam ikan asin.


Tanjakan demi tanjakan dan berbagai formasi batu berhasil membuat paha dan betis gue kaku. Teknik dua-puluh-langkah-berhenti + ngap-ngapan gue pake. Salah satu motivasi gue untuk mencapai puncak adalah bayangan akan Colonel Sanders yang menyambut gue saat turun nanti. Bayangan 3 ayam crispy KFC memotivasi gue untuk segera mencapai puncak dan turun untuk mampir ke gerai KFC.

Pukul 11.30 akhirnya gue sampai ke puncak Panglongokan, SUMMIT!


Rasa puas langsung mengusir rasa lelah saat melihat paparan langit di sekitar puncak. Berdiri di dalam langit, di atas titik tertinggi Jawa Barat, membuat gue serasa terbang. Paparan kawah Gunung Ceremai yang tampak seperti wajah raksasa yang sedang tertidur merangsang bulu kuduk gue untuk berdiri. Kemegahan alam tampak sempurna di Puncak Ceremai.




Selesai foto-foto dan menikmati summit, gue langsung mencari tim yang sudah sampai duluan. Ternyata tim sudah siap dengan makanan berupa nasi putih dan sarden. Makanan paling enak sedunia. Terlebih lagi karena dari pagi gue cuma bisa ngemil Honey Star untuk makan.




***

Sekitar pukul 15.00 kita memulai perjalanan turun via jalur Apuy. Karena dari 8 orang anggota tim belum pernah ada yang ke Gunung Ceremai via Apuy, kita semua bergerak dengan petunjuk dari pendaki yang lewat. Pendaki yang kita tanya menunjuk salah satu ujung puncak Ceremai yang jika dari jalur Linggajati arahnya ada di sebelah kiri.

Permasalahannya, pada saat kita mulai bergerak ke daerah yang ditunjuk, hujan deras tiba-tiba turun. Selain itu, kabut tebal mulai berdatangan dan menyelimuti puncak Ceremai. Daerah yang menjadi patokan pun tertutup, membuat kita kehilangan arah. Orang-orang yang tadinya sliweran mendadak hilang, raib entah kemana. Akhirnya kita hanya mencari jalur dengan sistem trial & error. Beberapa tebing kita turuni demi mencari jalur namun hasilnya tetap hampa. Jalur Apuy belum berhasil ditemukan.

Kondisi puncak Ceremai yang botak dan minim pohon membuat gue berpikiran buruk. Kita ada di tengah awan mendung dengan kilat yang menyambar di kanan-kiri. Suaranya sangat tajam dan menggelegar, membangun rasa takut gue. Pikiran kebayang kalo kita tersambar petir. Rintik hujan yang deras juga menyulitkan pandangan kita dalam mencari arah, menambah rasa was-was. Di puncak Gunung Ceremai langit serasa mengamuk dan berperang dengan awan mendung. Satu persatu kita mulai putus asa.

Saat mulai putus asa tersebut, kita menemukan sebuah bivak oranye diantara selipan batu. Bivak itu berjendol dan berbentuk seperti kepompong, tanda ada orang di dalamnya.

Bergegas kita teriak untuk menanyakan arah, "Woi! Jalur Apuy lewat mana ya!?"

Tanpa dialog ataupun monolog, sebuah tangan menyembul keluar dari bivak tersebut. Tangan itu menunjuk suatu arah. Hey, dia menjawab pertanyaan kita!

"Terima kasih ya!" sahut kita yang dibalas oleh lambaian oleh tangan misterius penunjuk arah tersebut. Segera kita meneruskan perjalanan ke arah tersebut. Kondisi cuaca yang semakin memburuk membuat kita terburu-buru ingin meninggalkan puncak Ceremai.

Ternyata arah yang ditunjukkan adalah arah yang benar. Kita akhirnya sampai di puncak Palutungan, puncak lain dari gunung Ceremai. Dari puncak Palutungan, akhirnya kita menemukan jalur turun dari puncak Ceremai. Terima kasih wahai tangan misterius!

***

Track awal jalur turun Gunung Ceremai adalah track berbatuan yang curam dan labil. Di jalur ini kita harus berhati-hati agar tidak jatuh dan terkena batu-batu tajam. Kalau gak salah pos pertama yang ditemui di jalur ini adalah pos Goa Walet yang berisi beberapa tenda pendaki.

Sekitar 1-2 jam perjalanan, kita menemukan percabangan. Keberadaan petunjuk arah membuat kita tidak bingung menentukan jalur selanjutnya. Jalur kiri mengarah ke Palutungan, Kuningan sedangkan jalur kanan mengarah ke Apuy, Majalengka. Segera kita memilih dan bergerak ke jalur Apuy.

Setelah percabangan, kontur jalur berubah dari bebatuan menjadi tanah gembur / lempung yang licin akibat diguyur hujan. Sudut kemiringan cukup curam, mirip jalur Putri pada Gn, Gede, namun dengan tanah yang lebih dalam dan licin. Beberapa kali gue jongkok dan main perosotan akibat licinnya jalur. Celana gue udah abis belepotan lumpur akibat teknik tersebut. Abi, si empunya BuLaba, bahkan sukses kebalik badannya. Kepala di bawah kaki di atas, nyangkut di akar yang menyeruak di balik tanah.

Perbekalan yang sudah habis membuat kita mempercepat laju .Untuk tim 8 orang, kita hanya punya air 1 liter. Membuat kita harus irit dalam minum air. Selain itu, bekal makanan tinggal sebatang coklat Silverqueen. Lengkap sudah penderitaan. Saking cepatnya kita melaju, salah satu anggota tim ada yang terkena kram perut. Untungnya kejadian dia kram perut ada di pos 2, tidak jauh dari basecamp.

Sekitar pukul 22.00 kita sampai basecamp Apuy. Kelelahan menguasai kondisi fisik kita semua dan pakaian pun udah basah sampe ke kolor. Kita akhirnya selesai melintasi Kuningan - Majalengka dengan berjalan kaki. Setelah lapor ke penjaga, kita langsung ke warung pesen Indomie dan makanan apapun yang bisa dimakan.


Pukul 00.00, setelah selesai repacking dan bersih-bersih, kita numpang pickup tukang sayur ke terminal Maja, Majalengka untuk kemudian naik angkot ke Bandung. Dari Bandung, gue naik bis MGI jurusan Bandung - Depok. Sesampainya di Depok, sebelum pulang ke rumah, gue berhenti di sebuah warung bernuansa merah yang ditemukan oleh seorang Colonel Sanders. Segera gue pesan KFC Bucket yang berisi 9 ayam untuk dibawa ke rumah.

Sesampainya dirumah, 3 ayam Crispy KFC berhasil gue sikat.

Keberhasilan dalam mendaki gunung bukan pada saat sampainya kita di puncak, tapi pada saat kita berhasil pulang ke rumah dan membawa cerita yang akan kita kenang selamanya.




mari kita lanjut...