Kamis, Juni 10, 2021
Catatan Pandemi : Ramadhan
Rabu, Maret 03, 2021
Catatan Pandemi : Masker
Pandemi Covid-19 yang telah berlangsung selama setahun mulai mencapai ujung terowongan dan sedikit demi sedikit terlihat cahaya dari ujungnya. Baru-baru ini telah ditemukan vaksin oleh beberapa perusahaan farmasi. Negara-negara di seantero dunia sedang berlomba-lomba untuk mendapatkan dan memberikan vaksin kepada seluruh warga negara, pejabat, maupun b̶u̶z̶z̶e̶r̶n̶y̶a̶ influencernya. Semoga dengan ditemukannya vaksin ini gelombang pandemi bisa segera surut dan hidung serta mulut kita terbebas dari masker.
Sebelum pandemi, masker selalu saja dipandang sebelah mata. Masker hanya dipakai pada saat sakit flu ketika mulai bersin-bersin atau pada saat membersihkan kotoran kucing di halaman depan. Heran juga, padahal gue gak melihara kucing tapi setiap hari selalu aja dikasih end product metabolisme mereka. Apakah mungkin di mata mereka halaman depan gue bermerk TOTO? Sungguh sebuah misteri alam.
Oke, saatnya kembali ke masker.
Semasa pandemi, masker sekonyong-konyong berpansos ria dan menjadi primadona. Jika sebelumnya masker hanya tersedia satu atau dua kotak saja di pojok bawah etalase Apotek, sekarang banyak box masker tersedia di depan kasir. Etalase utama, setara dengan Kinderjoy dan Tissue Magic.
Tingginya permintaan masker bahkan sampai memunculkan kriminalitas jenis baru, yaitu Kartel Masker. Kartel masker ini merupakan kumpulan para spekulan yang menyadari betapa pentingnya masker pada saat pandemi dan menumpuk masker di gudang mereka dengan harapan harga masker mengikuti prediksi Femmy Rose, "Hari Senin harga naik!"
Melonjaknya demand masker dalam waktu singkat yang tidak mampu diimbangi oleh supply yang memadai, menyebabkan harga masker melambung tinggi. Hal ini sesuai dengan teori ekonomi yang dikemukakan oleh Adam Smith, Bapak Ilmu Ekonomi, yang tentu saja tidak berhubungan darah dengan Adam Suseno, Bapaknya Anak Inul Daratista.
Imbasnya, satu box masker medis yang berisi 50 pcs dapat mencapai harga Rp 500.000 alias Rp 10.000 per masker. Sebuah harga yang sangat tinggi, mengingat adanya himbauan bahwa masker harus diganti minimal 2x sehari. Sehingga kalau himbauan diikuti dengan baik, minimal satu orang butuh Rp 4.000.000 sebulan hanya untuk beli masker medis sekali pakai.
Namun bukan masyarakat negara berkode telp +62 jika tidak kreatif pada saat kepepet. Harga masker medis yang mahal merupakan peluang bagi para produsen baju batik, beha, dan bahkan sampai celana dalam untuk melakukan pivot. Kondisi penjualan pakaian jadi yang sedang lesu membuat mereka berbondong-bondong memproduksi masker kain walau tanpa standarisasi.
Masker kain terus ber eveolusi menjadi berbagai macam bentuk dan motif yang secara berangsur-angsur mengikuti standarisasi WHO. Ada yang satu lapis, dua lapis, atau ada juga yang berfitur ruang selipan tisu. Harga masker kain yang relatif murah seakan menjadi jawaban atas demand masker yang menggila.
Kemudian di saat kita kalap memesan masker kain dari marketplace, muncul saingan masker berbahan kain. Bahan kain mulai tersaingi oleh bahan scuba yang cenderung lebih elastis. Rendahnya fleksibilitas masker kain terkadang membuat pembeli kecewa pada saat barang sampai ke tempatnya.
Bisa jadi sang pembeli wajahnya lebar sedangkan masker kain yang dia pesan ternyata ukurannya terlalu kecil. Walhasil dia akan merasakan sesak napas karena memaksakan tali masker untuk nyangkut ke kuping. Selain sesak napas, masker kekecilan juga menurunkan nilai estetika seseorang. Seperti pepatah, "Mati segan hidup tak mampu," masker kekecilan juga seperti itu. Nutup idung enggak, nutup mulut juga enggak. Pada akhirnya akan nyangkut di tengah-tengah hidung dan mulut kayak kumis Hitler versi kegedean.
Namun seiring berkembangnya kajian mengenai COVID, semakin terkuak cara mengatasi dan mencegahnya. Setelah popularitas masker scuba meningkat karena kemudahan produksi serta harga kompetitif, penelitian terakhit menemukan bahwa jenis bahan tersebut tidak efektif dalam mencegah masuknya droplet ke sistem pernapasan kita. Di beberapa Mall bahkan sudah ada larangan masuk apabila pengunjung hanya memakai masker berbahan scuba. Ternyata masker berbahan scuba hanya efektif bagi bapak-bapak agar terlihat lebih jenaka.
Efektifitas pencegahan droplet yang tinggi dapat ditemukan pada masker kain minimal berlapis 3 atau masker medis yang juga minimal berlapis 3. Sehingga dengan semakin matangnya kesiapan para produsen masker medis dalam menyediakan supply yang berakibat pada semakin murahnya harga, maka orang-orang cenderung lebih memilih untuk kembali menggunakan masker medis dalam menunjang kegiatan mereka sehari-hari.
Masker, baik dengan nama dan bentuk apapun, pada akhirnya seakan-akan menjadi kebutuhan pokok pada saat kita melakukan kegiatan di tempat umum. Pada saat kerja kita wajib pakai masker, pada saat jalan-jalan ke mall kita wajib pakai masker, dan bahkan pada saat jogging atau naik sepeda pun kita wajib pakai masker.
Hal ini mungkin akan menyulitkan kita dalam melakukan aktivitas tersebut, terutama pada saat olahraga. Masker yang dipakai dengan sempurna akan membuat napas kita akan cepat tersengal-sengal karena hidung dipaksa menghirup CO2 yang terjebak dalam masker. Bahasa ilmiahnya : Ngap-ngapan. Kesulitan ini semakin diperparah apabila kita lupa sikat gigi sewaktu jogging di pagi hari. Aroma semerbak El Jigonge Nyempilus Digusi akan selalu tercium untuk kemudian berkolaborasi dengan bau keringat yang merembes hebat di masker. Amboi ambune.
Berjalan tanpa masker di tempat umum pun bukanlah sebuah opsi yang bijak di masa pandemi seperti ini. Selain resiko menghirup droplet yang membawa virus meningkat, berjalan tanpa masker juga akan membuat kita menjadi pusat perhatian khalayak ramai. Di masa pandemi, berjalan di tempat umum tanpa masker sama dengan berjalan memakai baju tanpa pakai celana. Udah gitu pahanya panuan.
Orang-orang akan melihat kita dengan tatapan sinis, jijik, dan curiga. Judgement mereka akan terngiang di kepala pada saat kita menyambut pandangan mereka.
"Dih ini orang gila banget keluar rumah gak pake masker, membahayakan orang!"
"Jaman lagi banyak penyakit gini masih ada aja orang ignorant!"
" Pelit banget sih ini orang, beli masker aja gak mau!"
Padahal mungkin juga pada saat itu kita sekedar lupa memakainya atau ketinggalan di suatu tempat, seperti yang pernah gue alami pada saat masker gue ketinggalan di meja kantin dekat kantor.
Kegiatan makan merupakan satu-satunya kegiatan yang bisa dilakukan di khalayak ramai tanpa perlu memakai masker. Karena gak lucu juga kalau masker medis kita berwarna ijo di tengah akibat kena sambel bebek. Akibat setelah makan gue nerima telpon dan langsung bergerak, maka masker medis yang sebelumnya gue pakai tertinggal di meja kantin.
Saat gue jalan dari kantin menuju kantor, gue selalu cengar cengir saat berpapasan dengan orang yang entah mengapa selalu menatap gue dengan tajam. Pada saat itu, gue gak tau apa yang sebenarnya terjadi sampai akhirnya ketemu dengan security, "Pak, maskernya tolong dipake."
Saat gue menyadari kenyataan tersebut, sontak gue merasa malu dan salah tingkah. Bibir gue terasa seperti aurat yang harus gue tutupi dengan tangan atau ujung kaus di sepanjang jalan. Situasi kemudian menjadi bertambah akward saat gue masuk lift yang sedang terisi penuh oleh orang-orang bermasker. Gue terlihat seperti orang yang sedang kebauan oleh kentut sendiri di dalam lift dan dikucilkan oleh orang-orang sekitar. Aku merasakan sebuah kehinaan saat hidung dan mulutku tak tertutup masker.
Sejujurnya, gue merindukan kegiatan diluar tanpa masker. Kita bisa bergerak kemanapun, ngobrol dengan siapapun, dan menyentuh apapun tanpa harus khawatir dengan virus yang tersebar di sekitar kita. Namun bagaimanapun tidak ada yang meminta kondisi seperti ini dan sayangnya kondisi ini sedang terjadi tanpa terlihat titik terang kapan akan berhenti. Hal-hal yang perlu kita jalani hanyalah mematuhi protokol kesehatan, jaga 3M, dan tetap saling melindungi sambil berharap pada ampuhnya vaksinasi.
Jumat, Juni 12, 2020
Pandemi Normalisasi
Sebagai hiburan sehari-hari, televisi hanya mampu menyediakan siaran ulang kuis Piramida, Kata Berkait, dan Famili 100 sehingga orang-orang akan dibuat bosan oleh wajah Soni Tulung.
Di beberapa acara talk show, artis-artis yang hadir bahkan wajib mengenakan Face Guard saat shooting. Sehingga dengan dipakainya Face Guard tersebut maka istilah cupika cupiki akan berubah menjadi cutika cutiki (Cium Plastik Kanan Cium Plastik Kiri). Semua jenis pekerjaan dituntut adaptif dalam menghadapi perubahan yang gencar disebut "New Normal".
Istilah New Normal ini, setelah dijalankan, ternyata memiliki bumerang tersendiri. Sesuai dengan definisinya, New Normal adalah kondisi dimana kita kembali ke kegiatan sehari-hari dengan tambahan protokol kesehatan yang lebih ketat. Hand sanitizer wajib dibawa sebagai teman setia, masker selalu siap sedia, dan jidat kita akan selalu rela ditembak alat pengukur suhu dalam berbagai macam wujud dan rupa.
Negara Indonesia memiliki budaya gotong royong serta kebutuhan bersosialisasi yang tinggi. "Makan gak makan asal kumpul," adalah jargon yang mahsyur di masyarakat dan sempat dijadikan lagu oleh Slank.
Sebelum pandemi Covid-19 kita terbiasa kumpul-kumpul di berbagai macam tempat sesuai dengan kapasitas dompet masing-masing. Anak-anak muda gemar ngumpul di kafe mahal beralaskan sofa empuk sambil minum kopi seharga 5 kg beras Sentra Ramos. Ramai-ramai mereka berkumpul mengelilingi meja sembari kepala tertunduk menatap layar handphone masing-masing dan saling berinteraksi melalui fitur chat Mobile Legends atau berbincang melalui fitur bicara PUBG. Saling berdialog di balik avatar.
Bapak-bapak komplek gemar ngumpul di meja depan toko kelontong beralaskan bangku plastik sambil minum kopi ABC dengan mekanisme pembayaran melalui dua kali cicilan. Gaplek, catur, atau domino adalah permainan yang biasa mereka mainkan sembari bercanda ria melepas penat.
Ibu-ibu perumahan biasanya suka kumpul di depan, tengah, atau tiap-tiap bagian gang yang memiliki jarak pandang luas sehingga bisa memantau para tetangga yang lewat sembari saling bertukar informasi paling up to date mengenai tetangga tersebut.
"Eh masak Ibu Broto kemarin beli kulkas 4 pintu dari Electronic City, dianterin pake mobil gede! Deilah. Padahal biasanya juga beli sayur kangkung di warung Cici Meng aja ngutang! Mentang-mentang suaminya baru dapet proyek tol langit Jakarta-Papua begayaan bener. Bayar utang dulu oi!" cerita mereka sambil pura-pura berteriak padahal tentu saja resonansi suara mereka tidak akan sampai ke telinga Ibu Broto.
Setelah diberlakukannya New Normal, maka hal pertama yang mereka lakukan adalah mengembalikan kegiatan sehari-hari mereka seperti sebelumnya. Tongkrongan dan kumpul-kumpul tetap ada namun ditambah masker dan sanitizer. Bapak-bapak komplek tetap duduk di tetap sama, dempet-dempet berhadapan sambil main gaplek, karena permainan tersebut tidak akan asyik apabila dilakukan dengan menerapkan protokol physical distancing.
"Masak ngomong jauh-jauhan tong!? Yang bener aje. Tereak-reak bikin aus! Lagian yang kumpul orang sini doang. Make ribet segala lo ah!" kata Bapak Jumadilaki yang sedang serius bermain gaplek sambil mengambil dan menyulut rokok Dji Sam Soe milik Bapak Ma'mun yang duduk di sebelahnya. Raut muka Bapak Ma'mun terlihat tak suka.
Anak-anak muda di media sosial berteriak gelisah dan bertanya kapan mall buka. Mereka sudah terlalu lama di rumah karena status sekolah yang masih tutup. Saat pemimpin kita meninjau salah satu mall di Indonesia, muncul antrian mengular di depan wastafel yang disediakan manajemen mall pada pintu masuk. Berdekat-dekatan tak apa demi kembali normal di dalam mall.
Ibu-ibu, terutama menjelang lebaran, bersatu padu kembali ke pasar. Baik pasar yang besar seperti Tanah Abang atau sampai pasar kaget di pinggir jalan. "Ya kan besok Lebaran. Kesian anak-anak gak punya baju baru," begitu kata Ibu Jumadiperem, istri dari Bapak Jumadilaki, saat ditanya alasan kenapa nekat berdesak-desakan di pasar pada saat Covid-19 merebak luas. Seakan tanggul air yang jebol, masyarakat membanjir keluar rumah setelah sebelumnya diminta di rumah aja selama kurang lebih tiga bulan.
Padahal sesungguhnya penyebaran virus Covid-19, khususnya di Indonesia, belum mereda. Sampai saat tulisan ini dikerjakan, sudah ada 35.000 kasus positif COVID-19 dengan tingkat kematian tembus di angka 2.000 orang tanpa ada tanda-tanda melambat atau berhenti.
Walaupun Indonesia bangsa yang damai dan setiap insan di bumi selalu berlomba mencari kedamaian, namun untuk saat ini sesungguhnya kita belum bisa berdamai dengan Covid-19. Mau dipaksa bagaimanapun dengan menggunakan jubir secantik apapun, kita tetap belum bisa berdamai. Karena sesungguhnya damai pada saat musuh tanpa ampun menyerang adalah bunuh diri. Karena sesungguhnya propaganda normalisasi tanpa melihat situasi adalah pandemi.
Sementara vaksin belum ditemukan maka kondisi yang kita alami saat ini belumlah normal sehingga alangkah bijaknya bila kita menghindari kerumunan untuk sementara waktu. Entah itu 1, 3, 6, atau bahkan 12 bulan ke depan sampai kondisi sudah dinyatakan stabil dan kehidupan kita kembali normal. Apa itu kehidupan normal? Kehidupan dimana kita bisa berinteraksi dengan sesama tanpa was-was, berpergian ke suatu tempat dengan bebas, dan orangtua bisa melepas anaknya menuntut ilmu di sekolah tanpa cemas.
Kurangi kegiatan kumpul-kumpul tanpa faedah dan biarkan pikiran kita berbicara dengan diri sendiri atau dengan orang-orang terdekat kita di rumah. Karena sesungguhnya seringkali kita belum mengenal dengan baik orang-orang yang secara fisik ada di sekitar kita atau bahkan belum mengenal dengan baik siapa kita. "Siapa kita? Siapa Kita? Siapa kita...!?" (Seorang Ketua Parpol, 2019).
Kurangi mobilisasi yang bisa ditunda atau tidak diperlukan. Bagi yang terpaksa bergerak karena harus mencari nafkah, maka proteksi kegiatan kalian dengan menggunakan masker, hand sanitizer, dan berhati-hati saat interaksi dengan orang lain. Bagi yang tinggal di wilayah zona merah, usahakan tetap berada di tempat masing-masing. Ikuti lirik nyanyian para menteri walau terdengar menyayat di telinga dan terasa pedih di hati. Gue yakin Indonesia adalah bangsa yang kuat dan apabila kita bersatu maka cobaan ini Insya Allah akan segera berlalu.
[INSERT DRAMATIC THEME SONG HERE]
Rabu, Juni 03, 2020
#DiRumahAja
![]() |
| Apelu ngomongin gue!? |
| Naek pesawat aja 13 jam Bor |



