Jumat, Juli 23, 2010

Perubahan

5 tahun hidup gue di kampus tak akan lekang oleh apapun. Bab kehidupan ini akan resmi ketutup saat 26 Agustus nanti, saat gue pake toga tanpa pakaian di dalamnya. Nanti pas salaman sama Rektor sambil nunduk, bagian depan dan belakang gue akan sama-sama tersenyum. Mungkin kalau itu gue lakukan, video gue yang berjudul Wisuda Mesum akan menggeser popularitasnya Peterporn. Tapi enggak ah, pantat gue buluan. Malu.

Kampus yang gue datengin ini -FISIP UI DEPOK-, pada awalnya rindang dan banyak space untuk bernapas. Ada ruang besar bernama plaza di tengah kampus dengan pohon yang tak kalah besarnya. Pohon beringin, itu jenisnya. Kata anak-anak yang bisa ngeliat setan, pohon itu digelantungin oleh banyak makhluk halus. Tapi selama gue gak bisa ngeliat mereka dan meraka juga ogah diliatin gue, peduli amat. Gue dan kawan-kawan tetap senang duduk di sekitarnya.

Di plaza itu, terdapat 2 buah bangku yang terbuat dari kayu. Kita senang duduk disana sambil menunggu jam pertama dimulai. Bangku itu pada awalnya kokoh, namun terpaan hujan, angin, dan koloni rayap sukses mengubah bangku kokoh itu menjadi kopong dan lapuk. Pernah gue bermain kungfu dengan berlagak mematahkan kayu lapuk itu dengan teriakan ala Bruce Lee. Bangku itu patah sebagian dan gue merasa kuat. Dari dalam kayu itu muncul ratusan rayap bergerak panik, muter-muter tak jelas dan berhamburan keluar. Kalau saja gue bisa denger suara mereka, mungkin gue bisa denger mereka memaki, "Manusia bangsat! Udah keriting, gendut lagi! Gue sumpahin lulusnya lama!".

Oh, akhirnya gue tau kenapa gue lama di kampus.

Selain di plaza, kita juga punya tempat tongkrongan bernama Batang (Bawah Tangga). Batang itu terletak di lantai 1 MBRC, di sebelah warnet bernama M-WEB (dulunya). Warnet ini masih ada dan berfungsi saat gue masuk, dimana belum ada tren nyetrika celana pake leptop. Satu komputer dapet satu cubicle dan harga per jam nya 4.000 rupiah. Detik pertama diitung seribu, culas sekali, padahal kalo di warnet pada umumnya, detik pertama diitung 500 perak. Selain tarif internet yang kapitalis, M-WEB juga menerapkan tarif eksekutif untuk print. Print item-putih disitu harganya 1.000, kalo warna 2.500. Pasti prinsip hidup warnet itu Gold, Glory, dan Gospel.

Warnet itu ramai pada awalnya. Namun seiring adanya fasilitas hotspot dan semakin umumnya kepemilikan atas leptop, warnet itu ditutup.

Kembali ke Batang. Tempat ini biasa jadi tempat gue tidur siang dan berkumpul sama teman-teman. Lantai ubin itu bikin siang jadi sejuk walaupun banyak debu berterbangan dimana-mana. Di depan gue, banyak orang yang mau naik-turun tangga sliweran tak henti, tak peduli. Gue seperti kerikil, terlihat nyata dianggap tak ada.

Kalau Batang penuh sesak, biasanya gue ke Gazebo, tempat yang sekarang udah luluh lantak menjadi jalan setapak. Gazebo adalah sejenis rumah kecil yang didalamnya ada tukang somay, bakso, dan koperasi FISIP. Pada saat itu koperasi FISIP bentuknya seperti toko kelontong yang tak terurus. Barang-barang berserakan tak tertata dengan penjaga yang culas. Tapi menurut gue itu lebih baik ketimbang sekarang. Bentuk itu terasa lebih 'ngampus'. Kalo sekarang bentuknya kayak toko souvenir di Dufan. Tolong diluruskan lagi yah, ini kampus apa taman hiburan?

Perubahan-perubahan itu mengiringi kisah gue selama di kampus. Termasuk perubahan di kantin bernama Takor. Pada awalnya, kantin itu bertingkat dua. Jauh sebelum Skywalk di Plaza Semanggi, FISIP UI udah punya Skywalk sendiri. Walaupun gak tinggi-tinggi amat, yang penting tetep bisa jalan di langit. Atau mungkin lebih tepatnya Headwalk, karena gue bisa jalan di atas kepala orang yang lagi makan.

Pada saat ini, kantin atas itu udah berubah jadi ruang Sekber (Sekretariat Bersama). Semacam ruang rapat yang bisa dipake oleh siapa aja, organisasi apapun, dan bahkan jadi tempat buka puasa bersama oleh angkatan gue. Bilangnya sih kebersamaan, aslinya pengiritan. Kalau ada tempat gratis, kenapa musti bayar?

Ngomongin kantin, tentu saja gak bisa lepas dari es teh manis, minuman sejuta umat, dimana fluktuasi harganya juga gue ikuti. Saat gue masuk, harganya 1.000 perak. Masih murah. Abis itu naik jadi 1.500. Sekarang 2.000. Fenomena ini seharusnya dijadikan skripik yang berjudul : Fluktuasi Harga Es Teh Manis Ditinjau Dari Resesi Global Yang Dipicu Oleh Runtuhnya Ekonomi Amerika Serikat. Kalau ada yang mau ngambil judul ini, hubungin saya. Dengan senang hati saya akan jadi narasumber. Tapi perlu diingat, nama saya harus disamarkan dan muka saya dibikin mozaik. Terima kasih.

Bergerak ke depan gedung G. Tempat ini dulunya hanya lapangan kosong yang berisi pasir dan tanah keras. Persis seperti setting-an film koboy. Luasnya kira-kira sebesar lapangan futsal. Di pinggir-pinggirnya masih ada bangku tempat tongkrongan dan kantin kecil yang bernama Takoru. Kantin yang menyediakan minuman dengan rasa sabun yang kental. Motto kantin ini adalah : "Apapun minumannya, rasa sabun ada disana!".

Kantin sabun itu udah gak ada lagi sekarang, dirombak lebih bagus dengan tukang jualan yang lebih bermoral. Salah satunya diurus sama junior gue bernama U.N.I Coffe, kalau sempet cobain aja kesana, enak lho *sambil tagih upah promosi*. Kalau lapangannya udah jadi ruang dosen, koperasi, IT Center, toko souvenir, Bloc, dan Restoran korea. Dua nama yang gue sebutin terakhir adalah nama tempat makan di kampus yang harganya kantoran. Untuk Bloc, gue kesana kalo ada yang nraktir atau nebeng ngadem sama yang pesen makanan. Untuk restoran Korea, terus terang gue gak pernah makan disana. Lagian gue gak rela kalo disuruh makan Indomie rebus yang dihias pake kol dan sumpit dengan kuah dimerah-merahin, dipakein nama Korea, dan dihargain 25 rebu. Sungguh, gue sama sekali gak rela.

Agak masuk ke dalam kampus, ada selasar gedung E. Semacam tempat sakral untuk anak ADM dari tahun ke tahun. Disaat semua tempat tongkrongan udah diberangus, dibongkar paksa, dan digusur, tempat itu tetap berdiri kokoh tanpa ada yang mengganggu. Tempatnya luas dan asik, udah gitu adem, betah lama-lama disini.

Tempat ini serasa Catwalk di sore hari. Banyak mahasiswa dan mahasiswi bolak-balik dengan pakaian unik. Ada yang pake dress panjang macam baliho, ada yang pake bando pita segede bayi merah di kepala, dan bahkan ada cowok yang pake mini shirt, flat shoes, dan -mungkin- BH. Siapa namanya? Angkatan 05 pasti tau siapa yang gue maksud.

Oiya, gue lupa. Di belakang FISIP, dibalik pohon-pohon kurus, jalan setapak, dan rumput hijau, ada sebuah taman bernama taman Teletubbies. Itu nama umumnya. Kalo buat gue -dan angkatan gue-, tempatitu bernama Taman Penyiksaaan. Di tempat itu -pada awal masuk- kita sering dikumpulin untuk evaluasi buku angkatan -buku yang isinya tanda tangan senior-, latihan salam angkatan, mentoring, dan dimarahin kalo hasil evaluasinya jelek. Selain ada senior yang senang marah, tempat ini juga punya semut galak, dan matahari terik yang bisa melelehkan kulit. Percampuran tiga elemen itu lah yang membuat taman ini lebih tepat disebut Taman Penyiksaan. Sebuah tradisi yang gue turunkan ke angkatan ganjil di bawah gue. Hehee. Taman ini sampe sekarang masih ada, gak ada yang berubah, tetap menyiksa seperti biasa. Tapi gak afdol rasanya membahas tempat di FISIP tanpa membahas tempatyang satu ini.

Wah. Ternyata banyak juga yah yang berubah sejak gue masuk sampai sekarang. Dari FISIP yang lowong menjadi FISIP yang penuh sesak dengan orang. Seperti pasar. Gue curiga FISIP nerima murid baru setiap bulan, karena semakin hari semakin ramai saja kampus ini. Tapi gue yakin, saat gue melangkah nanti, tempat ini akan selalu ada di hati. Suasana ini gak bakal ada di lain tempat. Kenangan yang kuat memberi warna lekat di suatu tempat. Warna itulah yang akan selalu terngiang di kepala.




mari kita lanjut...

Sabtu, Juli 17, 2010

Garis Itu Bernama Tanda Tangan

Sidang skripik telah selesai. Dilanjutkan dengan masa hibernasi, dimana otak dijauhkan dari hal-hal terkutuk seperti persentase, Undang-Undang, Teori, Operasionalisasi Konsep, dan segala hal yang berhubungan dengan skripik.

Masa hibernasi itu gue sebut masa idah. Masa idah ini jaraknya sebulan dari tanggal sidang, itu kalau untuk sidang outline. Untuk sidang akhir, atau sidang skripik, atau sidang pembantaian, masa idah gak boleh lama-lama karena deadline pengumpulan skripik final adalah tanggal 9 Juli sedangkan gue sidang 28 Juni. Masa idah dalam sidang skripik gue patok 2 hari.

Oke. Gue bo'ong.

Patokan bukan berarti sama dengan kenyataan. Patokan adalah harapan, harapan adalah angan-angan, angan-angan adalah mimpi, mimpi biasanya jauh dari kenyataan. Sebenar-benarnya benar, masa idah gue adalah 5 hari. Selama 5 hari itu kerjaan gue cuma jalan-jalan, tidur di sofa, guling kiri-guling kanan, gelantungan di kusen buat olahraga, dan Poker Superstar II.

Pada hari ke-6 gue baru ngerjain revisi berdasarkan koreksi penguji saat sidang sebelumnya, bertempat di rumah, di atas sofa item, di temani Football Manager. Ternyata revisiannya gak ribet-ribet banget. Sehari langsung kelar. Tinggal nambahin satu atau dua kalimat, apus tulisan 'dalam' di awal paragraf, dan bikin matriks hasil penelitian. Kata' dalam' ternyata gak boleh ditaro di awal paragraf. Mungkin sesuai dengan arti kata-nya yaitu sesuatu yang ada di balik sesuatu. Seperti contohnya pada kalimat 'Dunia Dalam Berita' yang selalu motong keasyikan gue nonton Layar Emas di RCTI saat gue kecil dulu. Apalagi kalo ditambah Laporan Khusus, pengen rasanya gue demo Departemen Penerangan. Oke, ngaco.

Yang susah dalam revisi itu adalah nyocokin halaman. Terkadang penambahan 1 kalimat bisa merubah keseluruhan skripik. Membuat gue harus merombak ulang nomer halaman di dalam daftar isi dan di pojok kanan atas tiap halaman skripik. Belum lagi dengan persoalan teknis penulisan yang harus sesuai dengan SK Rektor. Puter puter diputer puter.

Setelah dipastikan benar skripiknya, baru gue print. Untuk kali ini gue gak perlu ngeluarin biaya gede, karena gue berhasil ngebajak printer yang diboyong abang gue ke kantornya. Kurang lebih seratus dua puluh-an halaman gue print. Sempet juga ngadat printer-nya. Entah kenapa. Mungkin dia ngambek, kerja banyak tapi gak dikasih makan. Sedikit ketukan lembut di badannya cukup untuk mengakhiri itu semua. Skripik final resmi dirilis.

Skripik final itu belum tentu final. Artinya, skripik itu masih mungkin di otak-atik lagi kalo misalnya tim penguji belum setuju sama isinya. Untuk itu dibuat yang namanya lembar pengesahan, sebagai bukti kalo skripik gue udah bener dan disetujui oleh mereka. Lembar itu harus ditandatangani oleh para penguji:
  1. Bapak Sanur, Ketua Sidang
  2. Bapak Awan, Sekretaris Sidang
  3. Bepe (Babe Pembimbing)
  4. Mbak Miss, Penguji Ahli
  5. Rektor UI*
  6. Presiden Indonesia*
Ket : * DUSTA

Pencarian tanda tangan ini mengenal sistem hirearki, dimana penguji ahli duluan, kemudian pembimbing, sekretaris, ditutup ketua sidang sebagai pentolannya. Hari Rabu, 7 Juli 2010, petualangan gue dimulai. Gue berangkat ke FISIP UI, tempat dimana Mbak Miss sering berada. Dari jam 12 siang gue udah sms dia, janjian mau ketemu minta tanda tangan. Ternyata dia lagi gak ada di kampus, baru ada jam 4 sore. Demi dia, gue nunggu sampe jam 4 sore.

Jam 4 sore, dia gak ada kabar. Baru ada kabar jam 5, katanya dia udah dijalan menuju kampus tapi masih kejebak macet. Jam 6, tepat abis adzan maghrib terdengar lantang, dia baru bisa ditemuin ke ruangannya.

"Mbak, ini revisinya..."

"Beneran udah dibenerin kan?"

"Pastinya mbak" kata gue. Yakin. Di mulut, bukan di hati.

Dia pun langsung tanda tangan di lembar pengesahan. Gue kasih dia 5 biji lembar pengesahan, buat jaga-jaga. Setelah tanda tangan baru dia liat skripik gue, bagian kata pengantar. Dicorat coret lagi. Dia mencoret tulisan 'sobat kentel macem kopi' dan 'J'taime!'.

"Ini apaan coba!?"

"Ucapan terima kasih mbak"

Ternyata dalam situ pun kata-katanya harus ilmiah. Untung gue gak jadi masukkin ucapan terima kasih ke Amerika Nakal, Raja Realitas, Apartemen Si Mike, atau Saya Mau Bercinta Dengan Emak-Emak.

Selesai minta tanda tangan Mbak Miss, selanjutnya, gue mau nyari Bepe.

Bepe gue orangnya sibuk, dia adalah praktisi perpajakan yang kerja di Kantor Akuntan Publik di daerah Kuningan. Nama perusahaannya bisa diliat di papan iklan pinggir lapangan kalo lagi maen PES. Untuk memastikan dia ada dimana, gue sms dia. Gue memilih kata-kata terbaik. Kata-kata sopan untuk ngajak ketemuan, istilah jaman sekarangnya Kopi Darat. Kopi darat kayak tren ababil jama sekarang sama temen Fesbuknya. Gue sms dia malah balik tilpun.

"Oi jal! Ketemu besok pagi aja ya di Pengadilan Pajak!"

"Jam brapa ya pak?"

"Yaa kira-kira jam 10 lahh. Gue ada sidang soalnya"

"Kalo sekarang bisa gak pak?"

"Waduh, kalo malem ini gue mau wara-wiri, susah ditemuin"

Ternyata dia mau wara wiri, kayak Komeng sama Adul. Gue cuma bisa pasrah, nurut. Gue curiganya sih dia mau nonton bareng, karena malemnya ada pertandingan Argentina-Jerman.

~o~

8 Juli 2010, H-1 deadline pengumpulan skripik.

Gue bangun jam 1.45, nonton Argentina-Jerman sambil nge-print skripik dengan format bolak balik. Hasil print skripik gue sebelumnya resmi tak terpakai. Menambah sampah kertas di dunia dan memberi kontribusi nyata ke global warming. Greenpeace bisa marah-marah kalo tau hal ini.

Ternyata repot juga ngeprint bolak-balik. Semua karena konsep UI sebagai Green Campus yang meminimalkan penggunaan kertas dengan format bolak-balik. Alih-alih hemat kertas, malah banyak kertas yang kebuang karena gue gak biasa nge print bolak balik. Ini sangat merepotkan, apalagi dengan konsentrasi yang terpecah antara nge-print, ngantuk, dan ngeliat gol Thomas Mueller. Seringkali hasil print-annya gagal, dibalik halaman 1 bukannya halaman 2 malah halaman 8. Jelas aja harus diulang. Mencintai lingkungan memang bagus untuk anak cucu . Tapi untuk kali ini, anak cucu gue sangat merepotkan.

Jam 5 subuh gue baru selesai nge-print skripik. Abis itu tidur sampe jam 8 pagi. Jam 8 bangun, tidur lagi. 8.05 bangun, tidur lagi. 8.10 bangun, tidur lagi. 8.15 bangun dan hape gue lempar. Fungsi snooze sangat menggoda untuk dipencet. Gue langsung loncat dari tempat tidur, menuruti lagu 'Bangun Tidur', kecuali pada bagian ngompol dan menolong Ibu.

Jam setengah 10 gue baru sampe di Kemenkeu, gedung Dhanapala, tempat dimana Pengadilan Pajak berada, diiringi oleh ujan deras yang mengguyur Jakarta. Derasnya luar biasa. Bumi seakan disemprot pake selang pemadam kebakaran. Yang nyemprot anak umur 2 tahun yang suka nyiram sarang semut pake selang aer. Selain ujan deras itu, angin juga bertiup sangat kencang. Payung gue yang tadinya berbentuk tutup panci berubah jadi corong minyak karena ketiup angin. Sampe-sampe ada nenek terbang... Naek pesawat tentunya, bukan karena ketiup angin.

Setelah masuk ke lobby gedung, gue langsung sms Bepe.

Pak, ada dimana ya? Saya udah di Pengadilan

Setelah beberapa lama menunggu, sms balesannya baru masuk.

After lunch ya, sekitar jam 2

Percuma gue bangun pagi, ternyata dia belum bisa ditemuin juga. Gue kebingungan di lobby gedung. Lama gue bengong disana, mikirin langkah selanjutnya. Akhirnya gue berinisiatif untuk nyari ketua sidang dulu, Bapak Sanur. Ternyata dia lagi ada di kampus Depok sampe jam 2. Tanpa pikir panjang, gue langsung meluncur kesana. Naik mobil Livina dengan temen satu bimbingan gue bernama Za. Ngebut. Menembus ujan yang derasnya membuat jarak pandang cuma sekitar 5 meter ke depan. Itu dilakukan untuk ngejar ketemu Bepe jam 2 nanti. Gue berubah jadi Jason Statham, minus badan sterek dan muka tampannya.

Parahnya, saat gue jadi Jason Statham, setelah keluar dari tol, tepatnya di daerah Lenteng Agung, tilpun gue berbunyi.

"Dimana kamu?" Ternyata cewek gue, Ode, nelpon.

"Aku lagi di Lenteng Agung, mau ke kampus"

"Hah? Aku dari tadi nungguin di Dunkin Tanjung Barat, kirain mau bareng ke kampus"

"Ya ampun, LUPA!"

Gila, demi mendapat garis-garis bernama tanda tangan gue sampe lupa pacar sendiri. Kemaren gue sempet bilang untuk barengan ke kampus begitu gue dari Kemenkeu. Tapi apa lacur, nasi udah menjadi bubur, dan bubur itu harus dimakan. Setelah minta maaf lewat sms, gue tetep meluncur ke kampus begitu aja. Dia pasti marah, tapi ya sudahlah, gak semua bubur rasanya enak.

Jam 11 gue berangkat dari Kemenkeu, 11.45 gue udah sampe kampus. Langsung ke ruangan Bapak Sanur. Sesampainya di depan ruangan Bapak Sanur, gue mendengar musik ala Frank Sinatra sedang diputer di dalam. Saat gue ngintip ke dalem, ternyata Bapak Sanur lagi santai-santai menjelang tidur. Kakinya dilurusin sambil dengerin musik dengan suara vokal yang berat itu. Mungkin saat-saat santai seperti itu adalah surga dunia bagi dia. Datanglah gue sebagai iblis mengetuk pintu. Merusak surga dunia. Untung aja dia gak kaget dan kejengkang dari tempat duduknya. Kalau itu terjadi memang sangat lucu sekali, tapi jadi tak enak hati.

"SIAPA ITU!?"

"Saya pak". Gue malah ngasih jawaban absurd. Goblok.

"SAYA SIAPA!?"

Pengen rasanya gue jawab "Saya adalah Jin dari Timur Tengah", tapi gue baru inget kalo masa tayang Jin dan Jun udah abis.

"Mau ngasih revisi pak"

"MASUK!"

Setelah disuruh masuk dan duduk di bangku yang telah disediakan, gue langsung ngasih skripiknya, tepat di lembar pengesahan, biar gak dibaca dulu. Licik memang.

"Saya jadi apa ini?"

"Ketua sidang pak"

"Mana bisa saya tanda tangan? Pembimbing aja belum. Saya kan yang terakhir. Gini aja, kamu kejar dulu pembimbing, saya masih disini sampe jam 3"

"Gitu ya pak? Makasih." Gue langsung keluar dari ruangannya. Kembali bingung. Jauh-jauh gue dari Kemenkeu di daerah Senen dan ngebut sampe ngelupain pacar sendiri hanya untuk ditolak.

Daripada usaha gue kebuang percuma, gue memutuskan untuk ngejar Bapak Awan dulu sebagai Sekretaris Sidang. Kebetulan dia lagi ada di kampus. Untungnya saat gue datengin ke ruangannya, tanpa banyak argumen dia langsung tanda tangan di lembar pengesahan gue. Selanjutnya, kembali ke Kemenkeu.

Jam 12.00 gue berangkat dari kampus, Depok-Senen gue tempuh untuk kedua kalinya. Pada kali ini, gue kejebak macet di jalan tol dan berkhayal kalo mobil gue bisa berubah jadi Transformer. Bakal gue injek-injekkin mobil yang lain sambil ketawa ngenyek. Yang bikin iri, arah sebaliknya lancar jaya makmur sentosa, pengen rasanya nabrak pager pembatas dan jalan ngelawan arah. Sayang, ini kehidupan nyata bukan GTA.

Jam 13.00 gue kembali sampe ke Kemenkeu, gedung Dhanapala, buat ketemu Bepe. Sesampainya di lobby, secara gak sengaja gue ketemu sama Bepe. Berpapasan. Dia lagi jalan menuju ruang sidang diiringin sama dua orang ajudannya yang nyeret-nyeret koper gede berisi dokumen pajak. Tanpa banyak cing cong dia langsung gue todong Bepe buat tanda tangan.

Dia sempet nanya-nanya apa aja revisi gue, tapi belum sempet gue jelasin dia udah bilang "Oke". Semua itu hanya berlangsung 5 menit. Oret-oret 5 halaman pengesahan. Bolak-balik Jakarta-Depok 2x hanya untuk itu, seharga 5 menit umur dan 10 liter bensin, mungkin.

Ah, sudahlah. Yang penting gue udah dapet tanda tangannya dan tinggal melengkapinya dengan kembali ke Depok untuk minta tanda tangan boss terakhir, Pak Sanur sebagai Ketua Sidang. Kalo dia gak mau tanda tangan juga, ruangannya gue konciin, lampu gue matiin, dan gue kasih bom kentut di ruangannya. Kalau gak ada yang jual bom kentut, dengan senang hati saya kasih sumbangan kentut berbau Lavender.

Jakarta-Depok kembali gue lalui untuk yang ketiga kalinya. Lalu lintas di depan mata seakan melaju lebih cepat dari mobil, gue seperti terhisap di dalamnya. Dengan mata gue yang udah pice' itu, gue ngelirik indikator bensin. Ternyata tinggal satu tingkat di atas E, udah sekarat dan beresiko mati di jalan.

Oleh karena itu sebelum masuk ke jalan tol gue meraba jalan untuk nyari pom bensin. Ternyata gak ketemu. Gue nekat. Jakarta-Depok yang kira-kira berjarak 30 Km gue babat dengan bensin sekarat. Musik gue matiin dan AC gue bunuh untuk menghemat bensin, tanpa musik dan AC gue menerabas jalan tol. Anehnya -dan sialnya- jalan yang tadinya terlihat sepi jadi rame begitu gue ada di dalemnya. Gue cuma bisa manyun sambil kepanasan.

Begitu turun di Tanjung Barat, gue langsung ke pom bensin. Sempet juga ngeliat keadaan mobil gue yang terlihat seperti abis berkubang sama babi. Bodo amat lah. Itu bisa dipikirin nanti. Yang gue pikirin pada saat itu cuma lengkapnya lembar pengesahan.

15.00, gue kembali sampe di Depok. Tangan dan kaki udah gemeter. Kepala tengleng kayak orang India. Jalan udah sempoyongan. Barang apapun yang gue pegang pasti jatoh-jatohan. Efek kecapekan, sakit,dan belum makan. Gue langsung hubungin Bapak Sanur. Lagi nguji, ternyata. Dengan setia gue nungguin dia kelar nguji di luar ruangan.

15.30, dia keluar dari ruangan sidang untuk kembali ke ruang kerjanya. Tanpa banyak tanya, dia langsung tanda tangan di lembar pengesahan. Alhamdulillah. Tuntas sudah. Lembar pengesahan yang udah lengkap ditanda tangan langsung gue gabung ke dalam skripik untuk kemudian dijilid hard cover. Abang-abang penjilidan bilang jadinya besok. Yaudah lah. Pas. Emang besok deadline-nya.

Nulis cerita ini aja bikin gue ngos-ngosan karena harus mengingat kembali semua kejadian itu. Ampun. Ngebayanginnya aja bikin capek. Abis naro skripik di abang fotokopian, gue kembali ke kampus. Jalan-jalan sebentar sama pacar, cuci mobil, dan tepar. Hari esok menunggu. Hari pengumpulan skripik dan berkas-berkasnya. Salah satu berkasnya adalah pembayaran ijazah sebesar 75ribu. Dengan pengetahuan gue tentang dunia percetakan, gue tau akan ada yang mendadak kaya.


mari kita lanjut...

Jumat, Juni 25, 2010

Cerita Seonggok Sekripik

Sekripik.

Sungguh sulit menyebut kata yang aslinya hanya terdiri dari 7 huruf tersebut dengan benar. Skrippp.... ik. Skkkk....ripik. Susah lah pokoknya. Nyebutnya aja susah, apalagi ngerjainnya. Selain harus nurut sama ketentuan yang berlaku, nulis skripik tidak bisa hanya mengandalkan imajinasi belaka. Gak mungkin gue nulis tentang pajak yang dipungut oleh manusia pohon yang berkepala durian. Kalo gak mau bayar pajak, disundul. Biar nuncep duriannya.

Nulis skripik membutuhkan data-data yang diperoleh melalui hasil wawancara, yang kemudian direduksi sebagai dasar analisis untuk menjelaskan fenomena yang menjadi masalah dalam penelitian. Damn. Sindrom skripik membuat tulisan gue (berupaya) ilmiah. Intinya, wawancara. Bikin daftar pertanyaan dan mendatangi orang bersangkutan, yang dirasa kompeten untuk dijadikan informan. Sempat juga diomelin sama informan sendiri, dibilang tidak valid dan sebagainya. Gue cuma bisa mengurut dada... dan kaki karena pegel ngejar informan.

Permasalahan dari wawancara selain congek adalah ilangnya rekaman wawancara. Seperti yang gue alami saat proses pengumpulan data. Saran saya, kalau anda mengalami kasus ini, panggillah teman anda yang bernama imajinasi. Bayangkan apa yang terjadi sebelumnya dan gambarkan imaji yang diciptakan oleh otak melalui 26 huruf yang ada. Kalo lupa, jadilah seorang novelis fantasi.

Kalau informan yang terkumpul dirasa cukup, saatnya bikin analisa. Maksud dari kata 'analisa' disini adalah : Mengarang bebas sampe otak berasa kaku, badan lemes, dan semangat hidup terkuras abis. Prosesi gue membuat analisa dimulai dari pagi hari. Jam 10 pagi gue udah nongkrong di perpustakaan FISIP, MBRC tercinta. Duduk di pojokkan tepat di bawah router wireless yang berkedip-kedip. Sahabat gue beranalisa pun berubah-ubah. Dari mahasiswi, mahasiswa, sampai bapak-bapak botak berkacamata. Entah itu bapak itu mahasiswa atau nungguin anaknya abis bagi rapport.

Kegiatan analisis data berlangsung sampai jam 11 malem, bertempat di pelataran gedung dekanat FISIP UI yang lampunya udah dimatiin. Pada saat itu, ngeliat tuts keyboard meningkatkan risiko bertambahnya minus mata sebesar 905% (nama bis jurusan Pulo Gadung yang jalannya miring 45 derajat). Keadaan gelap dan huruf-huruf terlihat samar. Pikiran udah mentok dan gue udah gak tau mau nulis apa lagi. Otak seperti disisir pake sikat kawat. Perih. Saat pulang ke rumah, jalan gue sempoyongan saking lemesnya. Ancur badan, ancur otak, kliyengan.

~o~

Tiba hari dimana gue ketemu bapak dosen pembimbing, berbekal skripik yang baru di print jam 9 pagi di daerah Kelapa Dua. Satu skripik harganya 27 rebu. Gue nyetak dua jadinya 54 rebu. Tekor. Dengan skripik yang masih anget itu, gue ketemu bapak pembimbing (Bepe). Ternyata dia lagi nyidangin anak orang. Sidang magang sepertinya. Karena satu-lawan-satu, bukan keroyokan kayak sidang skripsi.

"Ini pak, skripiknya"

Tangannya langsung ke halaman judul dan langsung tanda tangan, "Udah? Sidang aja langsung ya"

Draft pertama gue langsung disetujuin Bepe untuk disidang. Draft pertama yang dikerjain dengan metode Sangkuriang, sehari jadi. Draft pertama yang dikerjain sampe otak gue belah pinggir. Disidang. Entah
valid apa enggak itu analisis. Awalnya gue seneng udah disetujuin, lama kelamaan malah panik. Pikiran jelek menyeruak. Jangan-jangan nanti pas sidang langsung diusir karena skripiknya ngaco. Jangan-jangan gak ada dosen yang mau nyidangin gue, jadinya gue disidang sama OB gedung. Pikiran jelek kayak begitu muncul satu persatu dan status YM pun gue ubah :

"Padahal hatiku deg-degan kalo mikirin penguji, tapi, kenapa sih, mama, bilang, kalau sidang ini sidang monyet..."

~o~

28 Juni 2010
[Hari Penentuan]

Jadwal menetapkan kalo gue sidang jam 11.00. Kenyataannya waktu berjalan sangat cepat, berlari, sepertinya. Jam 10.00 gue udah disuruh masuk ke ruang sidang. Bertempat di H 102, gue duduk di depan 4 penguji yang siap menilai apakah skripsi gue layak lulus atau bladus. Leptop item gue, Shamira, gue buka dan gue setting, sinkronisasi dengan In Focus yang bertugas munculin
slide presentasi gue di tembok ruangan.

Sidang sekripik pun dimulai dengan membaca basmalah serta kalimat, "Selamat pagi kepada bapak dan ibu penguji...".

Sekitar 45 menit sidang berlangsung dengan aman, lancar, dan terkendali. Tidak terjadi pelemparan sepatu oleh penguji atau
hyportemia karena gue sidang di bawah AC yang suhunya amat sangat dingin. Jurus sapu jagad pun urung gue keluarkan. Apa itu Jurus sapu jagad? Jurus sapu jagad adalah jurus yang diciptakan oleh teman saya yang bernama Mo. Jurus ini sangat cocok bagi orang-orang yang gak tau mau jawab apa saat dicecer pertanyaan oleh penguji. Bagaimana cara untuk melakukan jurus ini dengan tepat? Berikut petunjuknya.

  1. Dengarkan pertanyaan penguji dengan seksama.
  2. Karena gak ngerti mau jawab apa, jangan memperlihatkan muka panik, langsung nunduk aja. Arahkan pandangan ke skripsi yang ada di depan anda.
  3. Bolak-balik halaman skripsi anda dari depan sampai ke belakang.
  4. Kalo halamannya udah mentok, ulang kembali nomer 4.
  5. Terus lakukan nomer 4
  6. Terus.
  7. Terus.
  8. Terus.
  9. Pertajam telinga anda untuk mendengarkan penguji berkata, " Udah?"
  10. Sudahi kegiatan nomer 4 dan pasang senyum termanis dan terindah di dunia. Kalaupun itu dosen gak terpesona, seenggaknya dia akan mual dan konsentrasinya akan buyar.
  11. Kalau gak bisa senyum manis, pasang muka melas kayak Puss In The Boots di film Shrek.
  12. Voila! Pertanyaan itu akan menguap begitu saja.
Alhamdulillah gue bisa menjawab setiap pertanyaan yang dilancarkan oleh penguji dengan argumentasi yang tepat. Entah tepat entah dia udah nyerah denger jawaban gue yang ngaco tapi dibungkus dengan muka serius dan bahasa yang (sok) ilmiah. Yang pasti jurus sapu jagad itu gak sempet gue pake. Diganti sama jurus ngasih-penguji-nasi-padang-Sederhana, dimana kalo misalnya gue gak dilulusin, nasi padang itu gak bakal gue kasih ke mereka. Biarin aja kelaperan *ketawa jahat ala Suneo saat gak ngajak Nobita liburan*.

Setelah gue sidang, gue disuruh keluar. Gue bergabung dengan 4 orang yang sidang sebelum gue. Mereka semua panik takut gak lulus. Gue santai. Karena gue punya nasi padang.

Sesi bertanya-tanya dan dag dig dug der Daia! berakhir. Salah satu penguji gue keluar dan memanggil kita ber-empat. Kita dijejerin satu-satu kayak lagi audisi Indonesia Idol. Bedanya di depan gue bukan Anang, Rossa, dan Erwin Gutawa. Di depan gue ada 4 penguji yang kompeten di bidang pajak, bukan nyanyi atau meluk-melukin Syahrini.

Ketua sidang mulai angkat bicara,"Menimbang dari presentasi yang telah kalian sajikan..."

[diem]

"Kami membuat keputusan berat..."

[diem]

"Dimana, banyak kekurangan yang masih harus diperbaiki dalam sekripik itu"

[diem]

"Untuk itu kami memutuskan..."

[diem]

Ini pengumuman lama bener jeda-jedanya. Sengaja didramatisir. Gue curiga jangan-jangan setelah ini dia bakal bilang,"SETELAH PESAN-PESAN BERIKUT INI!"

Ternyata enggak. Pada akhirnya beliau berkata,"Kalian ber-empat... dinyatakan LULUS!"

Gue girang bukan kepayang. Plong di ujung kepala. Seperti Kuntilanak yang ditarik pakunya. Dalam kasus gue, yang ditarik adalah otaknya. Otak gue yang tadinya beku, kaku, dan mungkin belah pinggir -udah bukan belah tengah saking puyengnya- serasa dibawa kabur entah kemana. Kepala terasa ringan. Spontan langsung gue salam-salamin itu tim penguji. Menghaturkan terima kasih dan memberikan nasi padang. Mereka berusaha sembunyi, tapi tetap terlihat girang dapet nasi padang.

Euforia lulus langsung menghinggapi gue, 5 tahun yang ada terbayar sudah. 1 tahun pengerjaan skripik sudah berakhir. Well, belom sih. Masih ada revisi yang harus dikerjain untuk melengkapi gelar sarjana. Selain resmi jadi sarjana, gue juga resmi masuk ke dalam data BPS pada bagian faktor penghambat pertumbuhan ekonomi. Pengangguran. Tapi,
the hell with that. Yang penting :

SAYA LULUS


mari kita lanjut...

Kamis, Juni 03, 2010

Di Sudut LIA Depok

LIA Depok, pukul 20:17.

Di depan gue ada dua anak perempuan lagi maen bola pake boneka Winnie The Pooh. Ada dua kemungkinan dari kejadian tersebut. Pertama, dua anak perempuan kecil yang memakai baju putih itu lagi terkena demam bola. Efek bakal dimulainya Piala Dunia. Kedua, mungkin mereka telah nonton serial kartun atau film Winnie The Pooh dan menyadari bahwa suara Winnie The Pooh kalo lagi ngomong terdengar mengejek dan dia sangat layak untuk ditendang-tendangin. I prefer the second one, I think.

Di sebelah kanan gue ada bapak-bapak berbaju polo shirt berwarna hijau dengan garis berrwarna putih-hitam memakai celana pendek berwarna biru dongker. Dia sedang main BB - Blackberry -, bapak-bapak gaul rupanya dia. Entah dia sedang maenin itu BB atau dia sedang bingung untuk menemukan cara untuk menelepon. Sepertinya alasan kedua yang lebih tepat. Karena saat dia ngeliatin BB itu, matanya sangat serius. Seperti seorang maniak Teka-Teki Silang (TTS) yang sedang pusing mencari kata apa yang pas untuk dimasukkan ke dalam kotak-kotak kosong yang ada. TTS yang biasanya ber-kover artis panas masa kini, memakai bikini, dan kadang berbulu ketek. Harganya 2.500, bisa ditawar. Biasa ditemukan di stasiun Manggarai.

Dengan dahi mengkerut itu, bapak berbaju hijau itu akhirnya nemu juga cara nelepon. Sekarang dia lagi asik nelepon sambil ongkang-ongkang kaki-nya. Ah sudahlah, kita tinggalkan saja dia. Ada pemandangan lebih seru lagi. Di sebelah gue, bangku sebelah gue mengetik blog ini, datang 3 orang cewek berbaju putih-abu abu. Dua orang berjilbab, satu lagi enggak. Yang gak jilbab-an make bando berwarna krem. Selain bando, dia juga memakai jaket abu-abu dengan cetakan berlebih di sekujur jaket. Kata orang sih namanya full print. Kata orang juga, cewek-cewek kayak begini dinamakan Ababil. ABG labil. Entah dari mana sebutan itu berasal. Kadang gue kagum dengan persepsi yang muncul tiba-tiba tanpa ada pencetusnya. Biasanya persepsi itu berkembang menjadi sangat detil dengan sendirinya. Seperti sebuah teori.

Dua orang ababil jilbab duduk dan si jaket fullprint berdiri sambil memagang tangan salah satu ababil jilbab. Jaket Fullprint curhat, "Tadi si Tono curhat gitu sama gue, dia bilang cariin gue cewek tapi deskripsinya itu gue banget. Rambut ikal-ikal gitu, kulit sawo mateng. Hihihihiii...".

Jaman memang sudah berubah. Jaman dahulu kala, curhat -curahan hati- biasanya dilakukan dalam konteks pembicaraan empat mata dengan nada suara pelan dan kecil. Hanya si pencurah hati dan si penadah hati yang bisa mendengarnya. Pada saat ini, curhat dilakukan di tempat umum, di depan semua orang, dan di ruangan terbuka dengan suara lantang bergema. Seantero Depok, mungkin sampai Nur Mahmudi sekalipun, bisa tau kalau Tono sedang flirting dengan si Jaket Fullprint dan dia tersipu malu akan hal tersebut.

Ada juga yang di dalem angkot sambil nelepon, seperti yang gue alamin kemaren. Secara kebetulan gue barengan sama seorang cewek golongan ababil yang lagi telponan dengan entah siapa. "Dia emang bangsat! Tega-teganya dia ngelakuin itu ke gue, padahal gue udah sayang banget sama dia". Si ababil awalnya marah-marah. Kemudian ada balesan panjang dari ujung teleponnya. Suaranya kecil dan tidak terdengar jelas. Suaranya terdengar seperti kicauan burung kutilang yang dicekek.

"Trus gue harus gimana dong?", kepala dia menghadap ke luar jendela, menatap jalan yang bergerak mengalir seperti air. Air comberan. Karena jalanannya item. Beh. Melankolis abis kan. Kalau aja dia disorot dari luar, soundtrack yang pas untuk ekspresi dia adalah lagu Mungkinkah yang dibawakan oleh Stinky.

"Iya sih, gue nya juga yang salah yak gara-gara jalan sama Wawan gak bilang-bilang", kata dia sambil garuk-garuk kaki. Terlihat lah kaos kaki yang dia pake. Kanan dan kirinya beda. Oke, mungkin itu adalah tren masa kini yang gak bisa gue pahami apa maksud dan tujuannya.

"Eh tunggu bentar ya, gue mau ganti angkot"

Hape dia pun digantung begitu aja. Ternyata hape GSM yang tarif nelpon per menitnya bernilai sama dengan satu buah Ipod di Zimbabwe. Haduh. Gue ketularan labil. Kalo kata orang, sindrom ini dinamakan lebay.

Sayangnya, gue bareng dia lagi dan angkotnya penuh. Saat angkot penuh dan untuk bernapas susah pun, dia tetap curhat dengan volume maksimal. Satu angkot sepertinya sepakat kalau perilaku ini masuk dalam kategori annoying dan orang ini layak dibasmi. Dikurung dalam Pandora Box bersama setan Yunani. Untungnya, dia turun duluan dan gue dikasih hadiah dari dia. Gue disuguhkan aksi akrobatik nelepon, berentiin angkot, dan bayar dalam satu waktu bersamaan. Jahatnya, gue berharap dia jatoh dan menghibur gue yang sedang penat pulang malem sambil puyeng karena sekripik. Ternyata enggak. Gue kecewa.

Well, that's all dah. Gue harus cabut karena sang pacar yang ditunggu LIA udah dateng. Saatnya jalan-jalan!! Let's go ahay ahay...

Cabut!


mari kita lanjut...

Rabu, Mei 05, 2010

Verbatim, Itu Namanya

Wah, ternyata udah sebulan gak update blog-nya. Lama sekali. Gak terasa. Ini bukan disebabkan karena gue lagi bulan madu ke bulan atau matahari, tapi lebih dikarenakan kebingungan gue dalam proses pengerjaan tugas akhir yang rambut gue keriting (Maksud gue, jauh lebih keriting).

Sebenarnya, gue udah dapet data dari Direktorat Jenderal Pajak, wawancara dengan informan disana. Untuk dapat menemui informan itu (sekitar 25 menit) gue harus melalui proses panjang yang dinamakan “Birokrasi” yang penuh dengan “Disposisi” selama kurang lebih 3 minggu. Sebuah jangka waktu yang sangat lama untuk meminta sesuatu yang begitu sebentar. Mungkin biar puas seharusnya gue ngajak itu informan minum kopi atau maen karambol.

"Pak, ada kerjaan lagi gak? Maen karambol yuk” terus gue keluar ngambil papan karambol yang udah gue tenteng dari rumah ke meja kerja dia, niscaya pertemuan itu akan menjadi sangat berharga. Tentu aja dengan resiko kepala gue gegar otak dikeprok papan karambol sama satpan.

Ketimbang cuma ngobrol 25 menit, wawancara mabok. Kenapa gue namain wawancara mabok? Karena saat gue wawancara itu, entah kenapa informan yang gue wawancara seperti ketarik ke belakang. Seolah-olah ada black hole di belakang tubuh dia. Informan gue semakin lama semakin terasa menjauh, membuat gue bingung untuk wawancara dan mencerna.

Well, itulah manipulasi pikiran yang dihasilkan oleh tidur jam 3 pagi.

Setelah wawancara rampung, tentu gue meng-konversi hasil wawancara yang berupa audio menjadi visual. Caranya adalah dengan menuangkan suara yang ada teresebut ke kertas kerja Microsoft Word, Notepad, atau apapun lah itu. Hasil pengetikan suara itu disebut verbatim.

Hambatan yang paling mendasar dalam membuat verbatim adalah congek. Apalagi kalo congek itu nempel di gendang telinga, membentuk membran baru. Suara informan mungkin beberapa saat terdengar jelas, tapi saat pikiran meleng sedikit, entah kenapa dia seperti bergumam. Mengoceh tak keruan. Solusi dari masalah ini adalah melambatkan tempo rekaman yang pada akhirnya akan membuat suara informan terdengar seperti pengakuan pedofil yang telah menggagahi 13 anak. Berat dan kayak ngomong dari balik air.

Untungnya, gue ngerjain sekripik baru-baru ini, jadi bisa pake Winamp, Aimp, atau pemutar file audio sejenis. Jadinya untuk rewind cukup dengan sekali klik saja, gue bisa mendengarkan suatu dialog sampe nempel di kepala gue seperti hipnotis. Gak kebayang kalo misalnya dulu saat blom ada perangkat lunak dan rekaman cuma bisa diputer di tape, dan direkam di kaset. Bisa keriting itu pita kaset. Rewind, fast forward, rewind, rewind, fast forward, KREKK...!! Pita kasetnya keluar-keluar. Itu berarti pita kasetnya udah matang, nikmati dengan keluarga terdekat anda. Hehee. Emangnya pita kaset Pop Corn, yang bleberan kalo udah mateng.

Ngomong-ngomong kaset dan tape, jadi inget kalo dulu gue pernah punya hobi ngerekamin lagu di radio. Jaman dulu kan gak kayak sekarang, dimana dengan adanya internet kita bisa nyari lagu apapun yang kita mau. Dulu kalo mau dengerin lagu yang kita suka semaunya tanpa membeli album penuh, harus mantengin radio dengan kaset di dalamnya. Udah gitu, kaset yang gue pake buat ngerekam itu bukan kaset kosong, tapi kaset LIA yang sampe sekarang gue gak pernah tau isinya apa. Gue inget banget waktu itu ngerekam lagu Boyzone - Baby Can I Hold You Tonight. Pas lagi enak-enak ngerekam itu lagu, radio dengan seenak udelnya motong itu lagu, diganti sama penunjuk waktu "Waktu menunjukkan pukul 6 sore, persembahan dari BB Harum Sari... Nempel dehh kayak perangkoo... ". Gue pun langsung mencak-mencak.

[Kembali ke masa sekarang]

Pada akhirnya verbatim itu jadi juga. Proses selanjutnya adalah konsultasi dengan dosen. Mangkuk perasaan gue penuh terisi dengan rasa percaya diri. Mungkin kalo jidat gue dikerok pake duit gocapan, bakal muncul tulisan "Percaya Diri Akut". Seperti tulisan dajjal di jidat dia. Tapi dalam kasus gue, tulisannya dalam artian positif.

"Mbak, ada waktu gak? Saya mau ketemu", kata gue begitu sampe ke ruangan dosen. Dosen yang gue maksud itu lagi ngetik, entah ngetik apa. Mungkin surat kelulusan gue, karena gue udah dapet verbatim (khayalan si bodoh).

"Ya ada apa?", kata mbak dosen begitu sampai ke mejanya.

"Ini mbak saya udah dapetin data dari hasil wawancara, valid gak?"

"Coba liat pedoman wawancaranya"

Gue langsung ngasih pedoman wawancara yang dimaksud. Seketika itu wajah dia berubah. Bukan berubah dalam artian : Berubah bentuk jadi muka Budi Anduk, raut mukanya yang berubah. Tadinya dia datar-datar aja saat ngomong sama gue. Begitu liat pedoman wawancara, alis dia naik turun dan jidatnya berkerut, dan jari telunjuk-jempolnya ngelus-ngelus dagu. Kalo muka dosen itu gue lambangkan jadi koran dan gue sedang membacanya, maka pada saat ini gue membaca berita yang sangat buruk. Berita Liverpool pindah ke Indonesian Super League, misalnya.

"Ini wawancara siapa?", tanya dia memastikan

"Orang DJP mbak"

"Siapanya?"

"Staff bagian Peraturan"

"Cuma staff? Gak valid dong, ulang lagi ya"

"Ulang mbak? Prosesnya aja 3 minggu", gue membela diri.

"Iya, ulang"

Jleb. Gue ngulangin proses itu lagi. Bolak-balik ke DJP kayak polisi nyariin Gayus. Vonis gak valid itu ditambah lagi dengan dicoretnya lembar pedoman wawancara gue. Seperti seorang samurai yang ngebunuh lawannya, dosen gue ngasih tanda silang "X" gede di lembar A4 skripsi gue, "Seharusnya enggak begini wawancaranya". Tinggal gue mangap, meratapi nasib, dan menerima kenyataan keji. Sinar di jidat gue udah ilang, jalan mendongak jadi menunduk.



mari kita lanjut...

Selasa, Maret 30, 2010

Mengarungi Jeram Deras

Berenang adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, dimana gue bisa bermain-main air meng-kecipak kecipukkan diri seperti seorang model panas yang memiliki bulu ketek pada tahun 90'-an awal. Air, seperti yang kita ketahui, bisa membawa kesegaran. Dengan catatan air itu dingin atau sejuk. Kalau panas, bisa membawa kesengsaraan. Lagian iseng, air mendidih malah dipake mandi. Emang sih warna merah di kulit sangat unik, tapi kalo dipegang orang malah panik.

Pada hari Kamis (25/3/2010), bertempat di kost-an Windra yang sedang memiliki masalah hati, berkumpullah anak-anak ADM 2005 yang memiliki kegilaan maksimal. Awalnya, kita ngumpul tanpa tujuan apapun. Kerjaannya cuma duduk dan ngata-ngatain orang. Ngakak sampe rahang mau copot rasanya.

Semua itu berubah dengan kedatangan kawan kita, anak ADM 2005 juga, yang bernama AntoBojong. Semenjak dia dateng, pembicaraan berubah menjadi penyusunan rencana untuk rafting. Kebetulan dia berpengalaman dalam dunia rafting dan ngerti segala tetek-bengek nya. Pertanyaan yang dapat disimpulkan dari kalimat terakhir adalah : Emang tetek bisa bengek?

Pertemuan itu berhasil merumuskan suatu acara. Kita bakal rafting di daerah Cireuteun, Bogor pada hari Minggu, 28 April 2010. Mulai hari Jum'at-Sabtu, gue sebagai orang yang ikut merencanakan bertugas mencari massa dengan kuota yang telah ditentukan. 12 orang saja. Setelah melalui lika-liku pertanyaan dan jawaban, negosiasi dan reboisasi, tapi tidak sampai impotensi, ditentukanlah 13 orang pengarung jeram.

Mereka adalah : Gue, Aan, Windra, Isa, Blun, Gimbal, Miranti, Inggar, Heru, Ojan, Apank, dan satu temennya Heru bernama Andi, dan Duti.

Keberangkatan kali ini mencatatkan rekor fantastis untuk anak 2005. Biasanya rencana dan realisasi keberangkatan beda 2 jam, contoh : Rencana jam 6 pagi, baru berangkat jam 8. Untuk acara kali ini, waktu keberangkatan hanya bergeser setengah jam. Hebat! Perlu dicatat di dalam buku rekor buatan kita sendiri. Sayang, buku-nya sendiri tak pernah ada. Jadi, mungkin itu semua akan terlupa.

Janjian jam 7, jam setengah 8 kita udah berangkat. Namun, kita masih harus nunggu sekitar setangah jam di daerah Cibinong. Menjemput seorang anggota yang lama sekali datangnya. Setelah itu, ngambil perahu di daerah kota Bogor, kemudian kena macet karena salah jalan. Nyasar di depan kampus IPB yang sangat macet. Jalanan untuk 2 mobil secara ajaib berubah jadi 4 mobil. Sampe di tempatnya, kita belum bisa langsung ke sungai. Perahu yang udah kita ambil tentu harus ditiup dulu. Untungnya sih gak pake mulut, bisa-bisa kita menjadi Geng Bibir Jontor. Niup-nya pake alat yang mirip vacuum cleaner mini dan pompa kaki. Setelah ditiup, barulah berasa kalo kapal itu sangat berat.


cara mompa kapal (diperagakan oleh model)

Jam 12 kita baru turun sungai dalam arti sebenarnya. Jalanannya sangat menurun dan licin berkat jasa tanah yang basah. Berkali-kali kita hampir kepeleset dan kepelanting. Udah gitu, kita musti ngangkat kapal yang beratnya naudzubillah. Bener-bener sebuah latihan fisik sebelum mengarungi liarnya sungai. Teknik mengangkat kapal itu pun gak sembarangan. Teknik-nya adalah :
  • 4 orang berdiri sejajar
  • Taro kapal di atas kepala
  • Jangan lupa kedua tangan memegang badan kapal untuk menjaga keseimbangan
  • Tambahkan kebaya, maka kita akan terlihat seperti Mbok-mbok penjaja gado-gado
Sesampenya kita di sungai, nafas udah ngos-ngosan. Tapi begitu naik kapal dan ngeliat jeram yang ada di depan sana, semangat berkobar kembali. Namun, berhubung semangat belum tentu membuat kita semua selamat, kita semua harus latihan mendayung dulu. Pelatih di kapal yang gue naikin adalah si Bojong. Dia berada di bagian paling belakang kapal, bertugas mengarahkan kapal menuju arah yang benar. Nama kerennya Skipper. Sedangkan 6 orang di depannya, termasuk gue, dinamakan Diaper.

Namanya juga amatir, dayungan kita suka gak kompak antara yang kanan dengan kiri. Kapal sering muter-muter kayak gasing atau ngesot kemana-mana. Kalo aja kita langsung masuk ke jeram, kita cuma berharap pertolongan Allah SWT untuk selamat. Jadinya, kita bakalan ngaji di kapal, bukan mendayung.

Setelah dirasa siap, dengan semangat tak terhingga kita semua masuk ke dalam jeram pertama. Niat awal kita mau masuk dengan moncong kapal duluan, tapi berkat skill mendayung yang sangat hebat, masuknya malah miring dan kapal sukses nyangkut di batu. Dengan miringnya kapal itu, air mulai masuk ke kapal hingga memenuhi setengahnya. Kita pun pindah-pindah tempat untuk ngerubah condongnya berat kapal, kemudian njot-njotan biar kapalnya bisa lepas dari batu. Saat kita melakukan proses itu, terpaan air gak henti-hentinya menyerang, membuat kita panik diskotik.

Kapal pun akhirnya lepas dari batu, kembali ke derasnya arus jeram. Kkta harus secepat kilat balik ke pos yang udah diatur sebelumnya untuk mengatur kembali laju kapal. Kapal kita udah semakin gak jelas arahnya dihajar sama arus yang sangat deras. Celakanya lagi, ketenangan kita udah ilang, dayung pun asal-asalan. Apalagi pas liat ke belakang, Bojong udah ilang. Kemana kah dia? Setelah kita cari, ternyata dia jatoh ke sungai!

Serempak 6 orang tersisa di kapal bilang, "KITA NGAPAIN LAGI NIH JONG....!!!!!???"

Gimana gak makin panik. Skipper itu seharusnya ngasih tau ke kita apa yang harus dilakukan malah jatoh. Apakah kita harus ikutan terjun dan ngebiarin kapal hanyut sampe Tangerang? Terus mendayung? Atau buka Al-Qur'an untuk memohon keselamatan!? Yang bikin kita panik : GAK ADA YANG BAWA AL-QUR'AN!!! .

"DAYUNG TEROSS...!!" tereak Bojong dari permukaan air. Kita pun dayung dengan teknik panik. Sempet nabrak pinggiran sungai, sebelum pada akhirnya masuk ke arus tenang. Begitu Bojong balik ke kapal, kita ketawain. Sekarang udah bisa ketawa, tadi meregang nyawa.

Kita pun lanjut mengarungi sungai. Nemu ada gelondongan kayu berayap ngapung. Tapi kok bisa bergerak? Ternyata begitu diselidiki lebih teliti, ternyata itu bukan gelondongan kayu. Itu adalah Gimbal yang jatoh dari kapal yang satu lagi dan ditinggal. Sadis benar kapal itu.

Setelah gue tolongin, gue akhirnya mengerti alesan kenapa mereka meninggalkan dia. Udah capek-capek kita tolongin, dia malah langsung loncat ke sungai lagi. Sok-sokan mau berenang ngejar kapal tempat dia bernaung. Ditolongin malah arogan. Ujung-ujungnya malah dia gak bisa ngejar itu kapal dan dia resmi kita tinggal. Hanyut, hanyut dah. Salah sapa arogan? Untungnya orang-orang dari kapal dia masih memiliki rasa iba, dia pun kembali diangkut ke kapal tempat dia bernaung.

gelondongan kayu berayap


Pada saat di tengah-tengah sungai, Bojong bercerita.

"Nanti ada jeram yang sangat berbahaya, paling berbahaya di antara semua jeram yang ada. Kita tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali. Bisa berbahaya. Nama jeram itu Jeram Naga"

Cerita itu membuat bulu kuduk gue merinding. Apalagi begitu Miranti mengeluarkan pertanyaan yang berpotensi membawa kesialan, "Maksud lo berbahaya, bisa bikin mati Jong?"

"Ya, bukan gitu sih. Tapi bisa celaka aja karena disana banyak batu. Jadi musti hati-hati", kata Bojong dengan raut muka yang sebenarnya mengatakan : Salah dikit, siap-siap nyuruh orang tua pesen batu nisan dengan nama lo tertulis di atasnya.

Kemudian kita semua diam. Hening. Sebelum Bojong memecah kesunyian itu.

"Eh, itu dia Jeram Naga di depan!!"

Serempak kita semua bengong. Seperti disuruh perang saat lagi sikat gigi di pagi hari, cuma pake kutang dan celana kolor bunga-bunga. Dimana gue harus menghadapi risiko mati tinggi dengan persiapan yang rendah. Sang Skipper pun langsung berteriak untuk mendayung. Kita semua mendayung sekuat-kuatnya, mengarungi ombak sungai yang tingginya melebihi kepala. Kapal kita serasa ditampar-tampar oleh kekuatan sungai yang maha dahsyat. Berkali-kali air bertamu ke kapal dan sesekali masuk ke mulut gue. Hoek. Air-nya warna coklat, entah isinya apa.

Seselesainya jeram itu, perjalanan berlangsung cukup tenang. Kalau pun ada jeram, tidak terlalu ramai dan berbahaya, walaupun tetap bisa membuat kapal terombang-ambing sampai kita menuju finish di sungai Cisadane.

Kita pun istirahat sejenak dan merencanakan kegiatan selanjutnya. Diputuskanlah kalau kita bakal mengarungi sungai itu dua kali. Yang membuat keputusan itu berat adalah : Kapal gak boleh dikempesin. Kapal besar yang pada awalnya dibawa pada jalan yang menurun, harus dibawa kembali ke atas dengan teknik yang sama. Atas = Jalan Menanjak = Gempor. Ini benar-benar olahraga ekstrim. Membuat nafas gue yang tinggal setengah menjadi seperempat saja.

Sesampainya di atas, kapal langsung kita jogrokkin di pinggir jalan dan gue lupa berada di negara mana gue sekarang berada. Mabok. Gue langsung duduk mengatur nafas yang ngos-ngosan itu. Kemudian setelah menunggu 1 jam untuk mencari angkot yang rela untuk ditaro dua kapal gede di atasnya, kita pun kembali ke tempat awal untuk kembali mengarungi sungai itu.

Pada perjalanan kedua ini, skipper kapal gue diganti sama anak Mapala bernama Duti. Entah karena skippernya lebih oke atau emang kita-nya yang semakin jago, perjalanan kedua ini terasa lebih mudah dan lurus. Lurus disini bukan berarti kita mengarungi sungai menuju mesjid. Lurus disini maksudnya adalah jalannya kapal. Pada perjalanan pertama, kapal sering muter-muter kayak komedi puter. Perjalanan kedua, arah kapal lebih jelas dan sangat penurut.

Perjalanan kedua itu terjadi sekitar jam setengah 5 sore. Sepanjang perjalanan itu, kita banyak menemukan orang mandi di pinggir sungai. Cowok. Memakai celana dalam pink. Membuat gue ingin muntah darah dan cuci muka 7 kali pake tanah. Ditambah lagi ada yang buka celana di pinggir sungai. Tadinya gue kira dia mau pipis dan gak sampe morotin celana. Ternyata enggak, dengan PD-nya dia morotin celana sampe keliatan cacing kremi di tengah rimbunan hutan hitam. Yang lebih menjijikkan, dia bukan berpose layaknya orang yang lagi pipis. Dia malah ngegoyangin itu cacing kremi ke kanan dan ke kiri ala Sinchan. Gue coba berpikiran positif disana, "Mungkin dia enggak gila, tapi emang mau mancing ikan piranha"

Pemandangan itu merupakan penutup pahit dari perjalanan gue yang manis ini. Bersama-sama teman mengarungi sungai, berpetualang bermain air. Satu-satunya efek samping dari arung jeram adalah ketagihan. Gue jadi pengen untuk melakukan hal ini beberapa kali lagi. Selain untuk olahraga, kegiatan ini menghilangkan stress melalui tereak-tereak saat diombang ambing arus liar. Seselesainya dari sungai, gue langsung ambil beberapa pelampung dan tas punggung, kemudian kabur.

Takut diminta ngangkat kapal, yang walaupun udah dikempesin, tetep aja berat.


*kabooeeeerrrrr*

Tim pengarung ADM 2005




mari kita lanjut...

Sabtu, Maret 20, 2010

Random Confession

DOREMILSA DOREMILSA: Pas un bisa niron g?
the Mirzals: apaan lagi tuh niron?
DOREMILSA DOREMILSA: Nyontek. Kicepkicep
the Mirzals: ooo
the Mirzals: kagak kepikiran
DOREMILSA DOREMILSA: Ga gaul bgt sih. Semua bhasa jawa aj ak bisa

Pada Sabtu siang yang panas tapi mendung, di saat baru bangun tidur. Terjadi dialog via YM dengan temen gue di Bandung bernama Milyar . Oiya, nama itu bukan nama samaran. Beneran ada. Saat pertama kali tau juga gue bingung dan menganggap itu adalah nama samaran. Ternyata itu nama beneran. Mungkin kakaknya bernama Trilyun dan adeknya bernama Juta. Gue curiga adeknya yang paling kecil namanya Recehan. Entahlah.

Dari penggalan percakapan di awal itu, ada dua kata kunci yang bisa dibahas panjang lebar. UN (Ujian Nasional) dan nyontek. Tahun ini gue ngerasa kalo UN dibikin sebagai makhluk menyeramkan yang gak pantas hadir di bumi ini. Facebook membuktikan hal itu. Coba deh cari gerakan 1.000.000 orang Facebooker menolak UN, niscaya akan muncul banyak group-group bermunculan. Kesimpulannya, gak bakal ada satu group pun yang bakal mencapai 1 juta orang. Lagian istilah dari mana sih Facebooker? Terdengar sepert sejenis sekte sesat. Apalagi kalo 'O'-nya dikurangin satu. Faceboker. Muka e'e.

Adanya banyak gerakan di Facebook itu, ditambah dengan banyaknya demo menolak UN sebelomnya, membuat gue berpikir. Apakah UN se-horor itu? Atau emang anak-anak jaman sekarang aja yang takut diuji? Setau gue, UN udah diadakan dari dulu dengan nama yang berbeda-beda. Mulai dari EBTANAS sampe UAN. Sedari dulu, setahu gue juga, belom ada yang protes tentang ujian itu. Gue jadi curiga, jangan-jangan yang protes itu gak mewakili aspirasi semua anak SMA. Itu cuma sebagian kecil anak SMA penakut yang gak berani untuk diuji dengan orangtua yang sama takutnya. Maybe. Mungkin juga enggak.

Pada saat UN dulu, gue sama sekali gak kepikiran untuk demo. Protes. Menggerutu gak akan menyelesaikan masalah. Yang ada di pikiran gue cuma belajar sampe muak. Kebetulan gue juga udah ikutan les di NF, tinggal dimanfaatkan secara maksimal. Gue sendiri udah les di NF sejak kelas 2 SMP, sejak NF-nya masih di Cempaka Putih. Mengingat NF, mengingat juga masa jahiliyah gue disana yang membuat gue merasa berdosa sampe sekarang.

Seringkali gue bolos pas NF. Sebagai anak sekolah, gue gak menghargai hasil jerih payah yang dikeluarkan orangtua gue untuk membuat gue menjadi lebih pintar. Alesan gue bolos sebenarnya simple, gue benci pelajaran IPA. Terutama Fisika. Pendalaman materi atas pelajaran itu cuma berhasil ngebuat kepala gue serasa kebelah dua, jatoh ke jalan, dan dilindes truk pengangkut beras. Kebencian itu sampe berimbas ke guru Fisika-nya.

Kebencian yang amat sangat mendalam itu, membuat guru Fisika terlihat sangat sangat menyebalkan. Wajahnya terlihat seperti sedang mengejek padahal dia sedang mengajar. Rambutnya yang keriting-klimis terlihat seperti tanduk kambing iblis Lucifer. Teguran dia karena gue berisik di kelas -walaupun gue tau itu salah gue- seperti pernyataan perang dari dia ke gue. Kejadian-kejadian itu menyimpukan bahwa : He's my enemy. Gue pun memasang ikat kepala imajiner warna merah ala Rambo.

Kebetulan juga, temen-temen gue disana ikut membenci dia. Padahal gue gak pernah menghasut. Mungkin karena otak kita setipe. Mulai lah kita berembuk berkonspirasi untuk melakukan kejahatan terencana, ngerjain itu guru Fisika. Organized Crime.

Rencana dimulai saat guru itu meninggalkan kelas untuk ke WC. Saat dia keluar kelas, gue dan temen-temen yang sekitar 4 orang ngikutin dia dari belakang. Ternyata dia gak mau ke WC, tapi ke sekretariat dulu yang ada di depan. Layaknya seorang tokoh spionase yang harus terus berada di balik bayangan, kita semua ngumpet di Musholla yang terletak tepat di depan WC. Sebuah keburukan dalam kebaikan. Tapi mau gimana lagi, musholla adalah tempat pengintaian terbaik untuk saat itu. Lampu musholla pun kita matikan untuk membuat keberadaan kita semakin samar.

Saat terdengar suara langkah mendekat dari luar,. Kemudian, di balik kegelapan Musholla, kita mengintip. Guru itu udah masuk ke dalem WC. Dalam hati gue tereak, "AHA!". Tau deh dalam hati yang lain. Seperti mafia yang mau berangkat berperang, kita semua bergerak ke depan WC. WC itu terletak di bawah tangga, tempatnya sempit dan tak ada ventilasi disana. Sumber penerangan satu-satunya cuma bohlam kuning kecil yang saklarnya terletak diluar. Garis bawahi dua kata terakhir. Terletak di luar.

Kalau aja kejadian ini direkam, muka kita akan terlihat licik, jahat, iseng, dan sedikit brengsek. Kita adalah para begundal nakal yang binal. Mata kita semua tertuju pada dua benda. Benda pertama adalah saklar lampu berwarna hitam. Kedua adalah grendel pintu yang juga terletak di luar. Secepat kilat kita geser grendel pintu menjadi terkunci dan saklar lampu diubah dari posisi ON menjadi OFF. Sebuah kejahatan sempurna. Apa lagi yang ditakutkan selain terkunci di tempat sempit yang sangat gelap, saat sedang buang aer? Semoga aja dia cuma lagi pipis. Kalo lagi boker, itu adalah sebuah kejahatan berganda.

Setelah itu. Kita lari ke atas. Menuju kelas.

"WOYYYY SAPA YANG MATIIN LAMPU DAN KONCI PINTUUU....!!!!", kata guru malang itu sambil gedor-gedor pintu. Gue dan teman-teman penjahat udah pada ke atas, sambil cekikikan ketawa-ketawa. Puas. Seperti menang perang atas musuh abadi. Akhirnya gue tau gimana rasanya jadi Presiden Amerika saat memenangi Perang Dunia Ke-II. Anak-anak yang lain pada bingung begitu kita masuk langsung berisik ketawa-ketawa heboh di belakang.

Belum sempet mereka nanya ada apa, pintu kelas langsung terbuka tiba-tiba. Guru Fisika itu muncul dengan muka merah terbakar amarah, pucat, rambut lecek, dan baju ikutan lecek. Berdua dengan orang sekretariat yang sepertinya menolong dia dari ruang kegelapan itu.

"Siapa yang ngunciin saya di kamar mandi!!??"

Terus terang, gue pengen ketawa ngakak guling-gulingan di lantai sampai lantainya jebol. Tapi pada saat ini gue gak boleh melakukan itu. Bisa-bisa gue diracun pake sampah serutan pensil, atau ditanduk dengan rambut-tanduk-domba nya itu.

Ditanya kayak gitu, tentu aja gak ada yang mau ngaku. Hey, kalo semua penjahat ngaku, penjara bisa penuh dan negara bangkrut. Gue dan teman-teman memilih diam. Guru Fisika itu pun terlalu baik, gak mau menuduh siapa-siapa. Mungkin karena lingkungan Islami di NF membuat dia dilarang untung Suhudzon dengan orang lain. Setelah bertanya, dia keluar sebentar, kemudian balik lagi dengan pakaian dan rambut yang sudah rapi.

Pada saat itu, secara sembunyi gue tos-tosan dengan teman gue. Tapi kalo dipikir-pikir lagi sekarang, perbuatan itu sangat keji untuk guru sebaik itu. Gimana enggak. Setelah dikerjain kayak gitu dia bukannya berhenti ngajar atau ngajar sambil marah-marah, dia malah keluar sejenak hanya untuk bersih-bersih dan kembali mengajar. Mengajar anak-anak yang kemungkinan udah ngerjain dia. Bukan kemungkinan lagi. Tapi emang ngerjain dia.

Saya mohon maaf pak. Itu masa labil.

Dosa terbesar lain juga adalah gue gagal masuk IPA. Pada saat itu gue digadang-gadang untuk masuk IPA sampe diikutin les sama orangtua gue. Tapi apa yang gue lakukan sangat jauh dari eskpektasi yang ada. Gue banyak cabut dan gak serius saat disana. Kalo gak ke warnet atau ngobrol, gue tidur di dalem kelas. Sesekali gue juga pergi maen bola, studio band, atau sekedar main ke rumah temen. Pada akhirnya gue masuk IPS dan penyesalan yang gue alami adalah karena gue udah ngebuang-buang hasil jerih payah orangtua gue bekerja sepanjang hari. Masuk IPS pun mungkin emang takdir gue. Dari situ juga lah gambaran impian gue saat SMA dulu menjadi suatu hal yang nyata. Gue bisa kuliah di Universitas Indonesia. Suatu impian yang pada saat ini menjadi mimpi buruk karena tak kunjung lulus.

Penyesalan memang selalu datang terlambat, tetapi jangan sampai lupa ambil hikmah di dalamnya.

Kembali ke UN, gue dengan bangga bilang kalo gue sama sekali gak berpikir buat nyontek. Ujian idup-mati kayak gitu, masak gue ngegantungin nyawa gue ke orang lain? Berpikir sendiri dan kerja keras kayaknya jawaban yang lebih tepat.

Tapi bukan berarti gue gak pernah nyontek. Untuk ujian-ujian yang sifatnya rutinitas, prinsip 'Posisi menentukan prestasi' sangat gue terapkan. Segala macem cara nyontek udah gue pelajarin, mungkin gue bisa menulis Kitab Suci Untuk Sang Pencontek. Tapi ujung-ujungnya, gue juga bisa menyimpulkan belajar lebih efektif ketimbang nyontek kok. Terbukti pada saat ini, saat gue kuliah tanpa teman-teman seangkatan lagi. Lagian kalo nyontek tanpa belajar, sama aja dongo kuadrat.

Gue juga mengakui kalo gue pernah nemenin temen gue keliling Jakarta untuk beli soal. Damn. Harganya sangat beragam, mulai dari 500 rebu sampe 5 juta. Pada akhirnya gue bilang ke temen gue, "Lo yakin itu bakal keluar?" Sebuah pertanyaan yang membuat dia mengurungkan niat membuang uang dengan risiko tertipu mentah-mentah. Toh, pada akhirnya kita semua lulus dengan hasil memuaskan.

Semangat untuk anak-anak yang mau UN! Be your best, not just anybody's best!


mari kita lanjut...

Selasa, Maret 16, 2010

Kisah Awal Masa

Hari sabtu, 13 Maret 2010 kemaren, gue pergi ke acara jurusan gue yang bertajuk MBJ ADM 2009 di Menara 165. Seumur-umur gue di ADM, baru sekali gue ngerasain MBJ diadain di sebuah gedung yang lebih cocok dipake untuk nikahan. Oiya, sebelumnya gue jelaskan dulu apa itu MBJ. MBJ merupakan singkatan dari Malam Balas Jasa, yaitu sebuah malam yang didedikasikan oleh anak-anak baru kepada para seniornya yang udah ngebimbing mereka di kampus. Well, lebih tepatnya ngerjain mereka. Kalau pada tahun ini, anak-anak baru hanya dikasih masa bimbingan selama 2 minggu saja. Berbeda sama gue waktu itu, 6 bulan.

Ikut di acara itu dan ngeliat ada name tag ditempel-tempel di tembok membuat gue inget tentang awal-awal gue masuk kampus. Gue sebagai anak SMA yang gak tau apa-apa di doktrin segala sesuatu tentang horor-nya senior. Saat itu gue make baju sma putih dengan celana putih, ditambah dengan jaket kuning, dan karton berbentuk persegi panjang berwarna oranye di kantong kanan yang berisi nama gue. Pada saat itu, gue dikasih tau kalo senior adalah sejenis makhluk buas berbahaya yang bisa menyerang tiba-tiba kalau gue gak pura-pura mati di depannya. Bahkan saat gue pulang dari acara orientasi yang diadain kampus, gue harus dikawal sampe ke stasiun.

"Takut nanti kalian ditarik senior sini", kata orang yang nganterin gue ke stasiun.

Seperti itu lah doktrin seniorisasi saat gue masuk kampus. Gimana gak bikin bulu kuduk gue merinding. Gue gak berani ngebayangin apa yang terjadi begitu gue ditarik senior. Mungkin badan gue bakal dicangkok rahim, terus dihamilin, dan dibuang di pinggir jalan. Apalagi begitu dateng senior jurusan gue, tepat setelah orientasi dari fakultas selesai.

Jadi ceritanya kalo di UI itu ada 3 masa orientasi. Yang pertama adalah orientasi Universitas yang kegiatannya itu disuruh jalan keliling kampus, ngangkat ketek, dan menyanyikan lagu perjuangan. Mungkin sejenis latihan demo dan baris berbaris. Di sini gue harus membawa seserahan aneh, tapi gue lupa barang apa aja yang diminta jadi sajen. Yang kedua itu orientasi fakultas, bentuk orientasi ini udah gue sebutin di awal tadi. Ketiga adalah orientasi jurusan, masa orientasi ini paling lama, yaitu 1 semester penuh alias 6 bulan.

Tugas-tugas yang diberikan mereka sungguh menyusahkan. Gue disuruh bikin name tag berwarna, tapi gak boleh menggunakan pewarna otomatis. Mmmm... Istilah 'Pewarna Otomatis' mungkin terdengar cukup aneh ya. Let's say, gak boleh dicetak! Nah, itu kosakata yang gampang. Name tag yang bentuknya berupa gabungan mahkota raja Inggris dengan kompas besar itu memiliki beberapa jenis warna yang berbeda dan gue diharuskan ngewarnain itu name tag pake crayon. Mengingat jumlah manusia di angkatan gue ada 146 dan gak semuanya mau kerja bikin name tag, jadi lah gue dan kawan-kawan lain ngewarnain 146 name tag sampe bego di kampus. Tepatnya di bawah pohon besar pada tempat yang dinamakan plaza. Efek dari ngewarnain banyak name tag itu, saat gue gak melakukan hal itu tangan gue berasa geter-geter sendiri kayak orang parkinson. Berasa masih ngewarnain pake crayon. Entah jadi kebiasaan atau trauma.

Selain itu ada yang namanya buku angkatan. Barang aneh ini lebih ribet lagi cara bikinnya. Halaman depannya pake kertas emas yang dibungkus semacam jaring putih. Di jaring putih itu harus ada jaitan yang membentuk bingkai foto, dimana di dalem bingkai itu ada foto gue seangkatan. Rame-rame. Kovernya aja udah ribet, apalagi dalemnya. Bukunya itu terdiri dari berlembar-lembar kertas dengan tabel yang harus diisi tanda tangan para senior. Mungkin kalo cuma tabel doank gampang. Tinggal cetak sebiji, abis itu fotokopi sampe seluruh kertas di bumi ini abis kebuang. Sayangnya ini tabel bukan sembarang tabel. Ini tabel bisa menyembuhkan penyakit kuning dan kelamin borokan *mental tukang obat*.

Garis tepi tabel itu harus terdiri dari 4 warna yang berbeda. Kuning, merah, biru, dan oranye kalo gue gak salah. Kalo salah maafkan saya. Dan seperti yang udah gue jelaskan sebelumnya, gak semua anak mau berkontribusi bersama. Imbasnya adalah, gue ngebawa berlembar-lembar kertas ukuran A5 ke rumah untuk di garis-garisin. Sejak gue pulang dari kampus, sekitar jam 6 sore, kerjaan gue di meja belajar. Ngegaris-garisin buku kayak anak TK lagi dihukum gurunya karena makan lilin prakarya pake kecap asin.

Pada awalnya, nyokap trenyuh ngeliat gue begitu serius di meja belajar, padahal hari udah menjelang malam. Mungkin dia terharu karena gue udah berubah menjadi mahasiswa kritis yang haus akan ilmu. Dalam imajinasi dia, gue lagi di meja belajar membaca berbagai literatur sebagai makanan untuk otak kiri. Mulai detik ini, pelan-pelan gue menjadi pemikir hebat seperti Aritoteles.

Sayang, itu semua imajinasi belaka. Hanya ada di kota yang bernama utopia. Begitu dia deketin dan ngeliat gue lagi ngegaris-garisin tabel dengan beberapa warna yang berbeda, dia langsung bilang, "Ya Allah! Lagi begini ternyata!!". Trus dia cabut.

Seselesainya ngerjain dua benda aneh itu, berada di kampus FISIP serasa di neraka dalam arti sebenarnya. Gimana enggak neraka, disaat cuaca panas terik, cuaca dimana kita bisa memasak telor mata sapi di atas aspal, gue diharuskan make jaket kuning yang lumayan tebel itu. Jaket kuning, name tag segede bagong, dan kepala gue yang masih botak secara otomatis memberikan cap "ANAK BARU IDIOT YANG SIAP UNTUK DIKERJAIN - BERDIRI SEJAK 2005".

name tag yang bikin tangan parkinson

Ke kantin FISIP, seperti masuk ke kandang macan. Sejak langkah pertama gue masuk itu kantin, sejak itu juga gue merasa diintai oleh orang-orang yang lagi duduk disana. Gue seperti sapi yang dimasukkin ke kandang raptor dalam film Jurrasic Park. Bedanya, gue gak punya tete yang menjuntai. Seringkali gue dipanggil ke meja para senior cuma untuk dikacangin, pernah juga disuruh nyanyi, dan disuruh pura-pura fitness di depan orang. Oleh karena itu, kantin FISIP merupakan Area 51 untuk gue.

Sebenarnya gue bisa menghindar dari itu semua. Berada di bawah tanah seperti tikus mondok dan hidup tanpa merasakan sinar matahari. Gue, lebih memilih gak melakukan itu. Bukan karena gue seneng dikerjain atau dipermalukan di depan umum. Tapi terus terang, tanpa itu semua hidup gue gak berasa apa-apa. Gak keren juga kalo misalnya nanti saat gue punya anak dan ditanya gimana rasanya pas masuk kuliah, gue menjawab, "Gak tau, bapak kabur".

Semua itu bakal menjadi cerita, mengisi lembar kehidupan gue, karena hal seperti ini gak bakal gue alamin dua kali. 10, 20, atau 30 tahun ke depan. Tergantung sampai dimana hidup gue. Kejadian seperti ini akan tetap menjadi kisah awal masa yang gak akan terlupa, dimanapun gue berada.



mari kita lanjut...