Kamis, Juni 03, 2010

Di Sudut LIA Depok

LIA Depok, pukul 20:17.

Di depan gue ada dua anak perempuan lagi maen bola pake boneka Winnie The Pooh. Ada dua kemungkinan dari kejadian tersebut. Pertama, dua anak perempuan kecil yang memakai baju putih itu lagi terkena demam bola. Efek bakal dimulainya Piala Dunia. Kedua, mungkin mereka telah nonton serial kartun atau film Winnie The Pooh dan menyadari bahwa suara Winnie The Pooh kalo lagi ngomong terdengar mengejek dan dia sangat layak untuk ditendang-tendangin. I prefer the second one, I think.

Di sebelah kanan gue ada bapak-bapak berbaju polo shirt berwarna hijau dengan garis berrwarna putih-hitam memakai celana pendek berwarna biru dongker. Dia sedang main BB - Blackberry -, bapak-bapak gaul rupanya dia. Entah dia sedang maenin itu BB atau dia sedang bingung untuk menemukan cara untuk menelepon. Sepertinya alasan kedua yang lebih tepat. Karena saat dia ngeliatin BB itu, matanya sangat serius. Seperti seorang maniak Teka-Teki Silang (TTS) yang sedang pusing mencari kata apa yang pas untuk dimasukkan ke dalam kotak-kotak kosong yang ada. TTS yang biasanya ber-kover artis panas masa kini, memakai bikini, dan kadang berbulu ketek. Harganya 2.500, bisa ditawar. Biasa ditemukan di stasiun Manggarai.

Dengan dahi mengkerut itu, bapak berbaju hijau itu akhirnya nemu juga cara nelepon. Sekarang dia lagi asik nelepon sambil ongkang-ongkang kaki-nya. Ah sudahlah, kita tinggalkan saja dia. Ada pemandangan lebih seru lagi. Di sebelah gue, bangku sebelah gue mengetik blog ini, datang 3 orang cewek berbaju putih-abu abu. Dua orang berjilbab, satu lagi enggak. Yang gak jilbab-an make bando berwarna krem. Selain bando, dia juga memakai jaket abu-abu dengan cetakan berlebih di sekujur jaket. Kata orang sih namanya full print. Kata orang juga, cewek-cewek kayak begini dinamakan Ababil. ABG labil. Entah dari mana sebutan itu berasal. Kadang gue kagum dengan persepsi yang muncul tiba-tiba tanpa ada pencetusnya. Biasanya persepsi itu berkembang menjadi sangat detil dengan sendirinya. Seperti sebuah teori.

Dua orang ababil jilbab duduk dan si jaket fullprint berdiri sambil memagang tangan salah satu ababil jilbab. Jaket Fullprint curhat, "Tadi si Tono curhat gitu sama gue, dia bilang cariin gue cewek tapi deskripsinya itu gue banget. Rambut ikal-ikal gitu, kulit sawo mateng. Hihihihiii...".

Jaman memang sudah berubah. Jaman dahulu kala, curhat -curahan hati- biasanya dilakukan dalam konteks pembicaraan empat mata dengan nada suara pelan dan kecil. Hanya si pencurah hati dan si penadah hati yang bisa mendengarnya. Pada saat ini, curhat dilakukan di tempat umum, di depan semua orang, dan di ruangan terbuka dengan suara lantang bergema. Seantero Depok, mungkin sampai Nur Mahmudi sekalipun, bisa tau kalau Tono sedang flirting dengan si Jaket Fullprint dan dia tersipu malu akan hal tersebut.

Ada juga yang di dalem angkot sambil nelepon, seperti yang gue alamin kemaren. Secara kebetulan gue barengan sama seorang cewek golongan ababil yang lagi telponan dengan entah siapa. "Dia emang bangsat! Tega-teganya dia ngelakuin itu ke gue, padahal gue udah sayang banget sama dia". Si ababil awalnya marah-marah. Kemudian ada balesan panjang dari ujung teleponnya. Suaranya kecil dan tidak terdengar jelas. Suaranya terdengar seperti kicauan burung kutilang yang dicekek.

"Trus gue harus gimana dong?", kepala dia menghadap ke luar jendela, menatap jalan yang bergerak mengalir seperti air. Air comberan. Karena jalanannya item. Beh. Melankolis abis kan. Kalau aja dia disorot dari luar, soundtrack yang pas untuk ekspresi dia adalah lagu Mungkinkah yang dibawakan oleh Stinky.

"Iya sih, gue nya juga yang salah yak gara-gara jalan sama Wawan gak bilang-bilang", kata dia sambil garuk-garuk kaki. Terlihat lah kaos kaki yang dia pake. Kanan dan kirinya beda. Oke, mungkin itu adalah tren masa kini yang gak bisa gue pahami apa maksud dan tujuannya.

"Eh tunggu bentar ya, gue mau ganti angkot"

Hape dia pun digantung begitu aja. Ternyata hape GSM yang tarif nelpon per menitnya bernilai sama dengan satu buah Ipod di Zimbabwe. Haduh. Gue ketularan labil. Kalo kata orang, sindrom ini dinamakan lebay.

Sayangnya, gue bareng dia lagi dan angkotnya penuh. Saat angkot penuh dan untuk bernapas susah pun, dia tetap curhat dengan volume maksimal. Satu angkot sepertinya sepakat kalau perilaku ini masuk dalam kategori annoying dan orang ini layak dibasmi. Dikurung dalam Pandora Box bersama setan Yunani. Untungnya, dia turun duluan dan gue dikasih hadiah dari dia. Gue disuguhkan aksi akrobatik nelepon, berentiin angkot, dan bayar dalam satu waktu bersamaan. Jahatnya, gue berharap dia jatoh dan menghibur gue yang sedang penat pulang malem sambil puyeng karena sekripik. Ternyata enggak. Gue kecewa.

Well, that's all dah. Gue harus cabut karena sang pacar yang ditunggu LIA udah dateng. Saatnya jalan-jalan!! Let's go ahay ahay...

Cabut!


6 komentar:

crazy lil outspoken girl mengatakan...

jadi lo cerita panjang2..ujung2nya cuman mau bilang kalo mau jalan2 sama pacar???
yayayayyaya...org baru jadian emang suka gitu! *ngais2 tanah*

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

Ahahaha... bukan bgituu.. gue gak ada kerjaan di LIA, ya gue nulis ajah.. hahaa

samuel mengatakan...

waduhh...

postingnya menarik nih!

hehehehe

pendeskripsian lingkungan yang emang bener" dialamin...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@samuel : Thanks bro..!!

Yohan Wibisono mengatakan...

Cerita yang menarik,ku tunggu cerita2 lain yang lebih menarik.thx salam kenal

Ipah mengatakan...

niceee :D