Selasa, Januari 11, 2011

Garuda Di Dadaku

First of all :

HAPPY NEW YEAR!!

Semoga tahun 2011 bakal jadi lebih baik dari tahun 2010. Baik dari dalam maupun luar, depan maupun belakang, kiri maupun kanan, lurusin, mentok, stop. Jangan lupa kasih duit dua ribu sama tukang parkir.

Sebenarnya cerita ini udah sangat telat gue tulis. Kejadiannya udah sejak 29 Desember 2010 yang lalu dan gue baru nulis sekarang, 11 Desember 2011. Udah beda setahun. Gak kerasa ya. Padahal baru kemaren gue bisa ngerangkak, jalan, dan main galaksin. Sekarang udah gede dan bisa pipis sambil telentang.

Pada saat itu, 30 Desember 2010, gue nonton final AFF langsung dari Senayan untuk mendukung tim Garuda Indonesia. Walaupun tahu kans menang mereka menipis, setipis kertas tisu yang dibelah dua, gue tetep keukeuh untuk nonton langsung ke Senayan. Membaur dengan ribuan suporter lain, mendukung garuda agar tetap mengangkasa.

Pukul 17:00, gue berangkat dari kantor. Naik motor Mo', dengan kostum nyaris seragam. Dia memakai kaos timnas warna merah, sedangkan gue pake jaket timnas warna merah. Berdua kita menembus jalan Jendral Gatot Subroto yang mulai ramai. Penuh dengan orang-orang berpakaian merah. Suasana stadion sudah mulai terasa, padahal gue masih berjarak +/- 8 km dari Senayan. Ini membuat gue senang. Nasionalisme ternyata masih ada. Nasionalisme belum mati.

Sesampainya di daerah Senayan. Keramaian berlipat ganda. Jalanan macet bukan kepayang. Pada awalnya, gue berencana parkir di Plaza Bapindo yang terletak tepat di pintu masuk komplek Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK). Tapi ngeliat ada 4 satpam yang ngusir-ngusirin orang yang mau numpang parkir, gue mengurungkan niat tersebut. Takut dinikahin. Siapa tahu satpamnya gay dan membuat penawaran, "Mas boleh masuk, asal mau menjadi yang halal untuk saya."

Sambil melipir ke kiri, kita nyari gedung yang rela untuk diparkirin. Setiap gedung selalu dijaga satpam di depannya. Semua siap sedia mengusir para suporter yang nekat untuk numpang parkir di gedung itu. Anyep. Untung gue ketemu satu gedung yang rela untuk dijadiin tempat parkir. Gedung itu adalah gedung Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Perusahaan Masuk Bursa. Udah gitu letaknya enak. Tepat sebelum jembatan penyebrangan. Yahud deh. Akhirnya gue merasakan timbal balik langsung atas pembayaran pajak. Biarpun gak sampe seperti Gayus, yang bisa beli wig pake duit pajak.

Turun dari motor, gue langsung mengganti sepatu pantofel ala orang kantoran gue dengan sepatu kets Converse robek-robek. Lebih enak buat dipake lari dan lebih ikhlas kalo suatu waktu ilang.

Begitu kelar markir motor, kita langsung bergerak ke SUGBK. Menyeberangi jalan via jembatan busway yang ramai dan macet karena orang-orang yang bertumpuk dan para pedagang yang membuat jembatan semakin penuh. Ampun.

Sesampainya di dalam komplek SUGBK menuju patung panahan, berbagai macam orang ada disana. Ada yang jualan, pacaran, dan kebingungan nyari temennya. Ada yang pake baju Indonesia warna merah atau putih dan ada juga suporter MU atau Liverpool nyasar. Asesoris yang dipakai juga beragam. Ada yang pake bando bertanduk, stiker merah-putih di pipi, dan topi pesulap bermotif merah-putih. Bahkan gue sempet ngeliat orang pake bulu mata palsu dengan kaos Indonesia yang sangat ketat. Rambut hitamnya pun berbando dengan potongan manis ala Farah Quinn. Aih, seksi nian gerangan. Mungkin ada urgensi lain dibalik nonton bola. Mungkin dia sedang mencari jodoh atau pelanggan. Dan sayang sekali saudara-saudara, dia bukan wanita.

***

Gate XII, gerbang yang tertulis di tiket gue. Sesampainya gue di tempat itu, ratusan bahkan ribuan orang udah lebih dulu ngantri disana. Yang bikin gue kecewa, hanya 1 pintu yang dibuka oleh panitia. Mereka seperti menutup mata pada antrian yang ada. Gimana mau jadi tuan rumah Piala Dunia coba kalo cuma buat pertandingan yang disaksikan oleh masyarakat sendiri aja belum becus ngurusnya. Walhasil antrian menjadi padat dan emosi orang semakin memuncak. Gue gak bakal heran kalo keesokan hari muncul berita 'PENONTON MAU NONTON BOLA, EH KEGEMPET-GEMPET KEABISAN NAPAS. MATI.'

Di dalem stadion, keadaan gak jauh berbeda. Penuh sesak tak bersisa. Meluber sampe ke pintu masuk tribun atas. Berbekal pengalaman gue naek kereta ekonomi Jakarta-Bogor, gue nyelip-nyelip untuk dapet tempat yang enak. Walaupun tidak nyaman, tidak masalah. Yang penting gue ngeliat pemain timnas lagi main bola di lapangan rumput. Bukan kutu lagi main bola di kepala orang. Bahkan ada satu orang nekat yang nonton di langit-langit stadion yang tingginya bisa bikin orang vertigo mati mendadak. Itu baru dedikasi.

Dikawal oleh nyanyian "Garuda Di Dadaku," timnas Indonesia memulai perjuangannya menaklukkan Malaysia. Untuk timnas Malaysia, sorakan, "Maling... Maling..." meneror kuping mereka.

Menit-menit awal pertandingan, Indonesia sangat mendominasi permainan. Pertahanan Malaysia terus ditekan sampai membuahkan satu kesalahan. Pemain Indonesia di-tackle di dalam kotak terlarang. Penalti. Stadion langsung bergemuruh saat melihat keputusan wasit menunjuk titik putih. Permukaan tanah bergetar hebat sampai terasa mau rubuh.

Firman Utina mengambil tanggung jawab sebagai penendang penalti. Walaupun dari jauh, gue bisa melihat dan merasakan ketegangan dalam raut wajahnya. Harapan 220 juta masyarakat Indonesia membebani pundaknya. Setelah menarik napas panjang. Dia mengambil ancang-ancang. Gemuruh stadion mendadak hilang. Semua ikut berkonsentrasi. Terpaku kepada satu bola dan satu orang, Firman Utina.

Firman Utina bergerak menendang bola dan ternyata bola meluncur pelan. Sangat pelan. Bahkan terlalu pelan. Terlihat seperti mengoper bola ke kiper, bukan menendang. Teriakkan kecewa suporter langsung membahana di seantero stadion. Di sebelah gue orang Medan yang jauh-jauh dateng untuk menonton bola. Dia memaki, "BERENGSEK ITU FIRMANNN...!!"

Rasa kecewa berkali-kali ditumpahkan ke Firman atas kegagalannya. Tapi itulah sepakbola. Pemain sekelas Roberto Baggio aja gak kuat menanggung beban sebagai penendang penalti saat Piala Dunia 1994. Dan pada akhirnya, penyesalan itu merubah permainan Indonesia secara keseluruhan. Sampai pada akhirnya mereka kebobolan lagi. Agregat 4-0 untuk Malaysia.

Akibat gol tersebut, serangan yang dibangun mulai asal-asalan. Kembali ke pola Kick & Rush & Do Nothing. Firman Utina yang bertugas sebagai jendral lapangan tengah mulai kehilangan ide. Operannya banyak salah dan terlihat gagap seperti Azis OVJ. Pada babak kedua dia diganti oleh Eka Ramdhani.

"Kalau saja itu Firman masukkin pinalti, akan lain ceritanya! Bodoh itu Firman! Kalau begini udah tak seru lagi!" orang Medan di sebelah gue berkali-kali ngomel. "Iya pak... Iya... Maaf," tanggap gue sampe bingung. Mungkin dia melihat muka gue mirip kayak Firman Utina, makanya dia ngomel ke gue terus. #NGOK

Seisi stadion udah mulai sunyi senyap tanpa harapan. Dari belakang terdengar yel-yel, "Yang diem nonton bokep" yang disuarakan oleh para The Jak. Berusaha memunculkan kembali semangat di awal. Percuma. Penonton udah terlanjur kecewa. Harapan telah pupus, hangus jadi abu.

GOL! Pada sekitar menit 70, Indonesia berhasil menyamakan kedudukan melalui kaki Muhammad Nasuha. Gemuruh kembali terasa. Muncul harapan baru. Seenggaknya mereka bisa menang melawan Malaysia di kandang sendiri, walaupun nggak jadi juara. Jangan sampai kita dipermalukan oleh peng-klaim Reog Ponorogo dan Rasa Sayange di kandang kita sendiri. Para penonton kembali bersorak sorai.

Menit 80-an, gol kedua kembali tercipta. Indonesia berhasil unggul atas Malaysia. M. Ridwan jadi pencetak gol terakhir pada laga final itu. Para penonton kembali bersorak. Kali ini mereka cukup puas walaupun tidak berhasil jadi juara. Perjuangan itu lah yang mereka apresiasi.

Saat peluit panjang berbunyi. Penonton bubar dengan tertib. Menurut data yang ada, 95.000 orang hadir disana untuk mendukung timnas Indonesia. Sebuah kebanggaan sendiri bisa hadir disana, mendukung langsung Indonesia, melihat perjuangan mereka dengan mata kepala sendiri. Merasakan bulu kuduk yang merinding oleh lagu "Indonesia Raya" yang dinyanyikan oleh 95.000 orang. Dan yang membuat gue semakin bangga, saat ada orang tak bertanggung jawab mengarahkan laser hijau ke kiper Malaysia, seantero stadion langsung berteriak, "Matiin lasernya... Matiin lasernya!!"

Ini membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang tidak suka bermain curang, dan menjunjung tinggi sportivitas. Maju terus Indonesia-ku.

Garuda di dadaku
Garuda Kebanggaanku
Kuyakin hari ini pasti menang
Kobarkan semangatmu
Tunjukkan SPORTIVITASMU
Kuyakin, hari ini pasti menang!!




0 komentar: