Senin, Juli 18, 2011

Mocca Last Show : Anabelle And The Music Box

Gramedia Matraman, sekitar tahun 2002. Seorang anak berambut botak (sisa) 1 cm sedang berdiri mematung di pojok toko kaset. Niat dia bukan mau nyolong, pastinya, karena anak itu dikenal suka mengaji, membaca buku tentang sejarah Islam, dan selalu membaca buku PPkn di saat malam. Tangannya menggenggam sebuah kaset dengan kover warna krem dan berisi gambar seorang gadis bergaya logo restoran cepat saji Wendys sedang menari dengan manusia berbulu domba.

Di pojok kanan atas ada dua tulisan bertumpuk : Mocca - My Diary. Album ini berisi satu tembang yang sangat populer (pada jamannya), Secret Admirer. Ah, gue ingat keadaan saat itu. Disaat galau, memendam perasaan ke salah satu teman sekelas gue. Melihat dan menikmati, namun hanya sebatas memandang.

Jaman SMP adalah sebuah masa dimana gue gak bisa melakukan apa-apa saat berhadapan dengan cewek yang gue suka. Jangankan bertatapan langsung, saat dia duduk di sebelah gue jantung serasa mau copot, jatoh ke pasir isap, masuk ke inti bumi. Keringat dingin bercucuran, membuat kulit terasa lengket seperti siput. Ujung-ujungnya gue memilih pindah ke tempat duduk yang lain. Kalah melawan rasa gugup.

Saat SMA, musik Mocca mempunyai andil besar dalam peristiwa yang sangat bersejarah dalam hidup. Pacaran pertama kali, setelah 17 tahun menjomblo dan bermuram durja. Pas lagi PDKT, gue dikasih CD album kedua Mocca yang berjudul Friends. Gue gak mau kalah, gue kasih dia CD Burning-an lagu-lagu yang dia suka (Baca : Gak modal). Lagu I Think I'm In Love selalu berputar di CD Player, membawa pikiran berandai-andai, badan guling-gulingan, jatoh dari kasur, benjol. Dan pada saat angan menjadi kenyataan (jadian), lagu My Only One menjadi soundtrack of my life.

Begitulah, gue mulai suka Mocca sejak SMP. Lagu-lagu mereka sempat menjadi melodi pengiring hidup. Menjadi dasar emosi dan peristiwa. Namun ironisnya, gue sama sekali belom pernah ngeliat mereka konser secara langsung. Entah mengapa. Setiap ada kesempatan untuk nonton mereka, selalu aja ada halangan. Sampai pada akhirnya gue menerima kabar kalo mereka akan menggelar konsernya yang terakhir.

Jelas gue heran. Gak ada angin gak ada kabar tiba-tiba mau bubar. Untungnya konser terakhir ini bakal diadakan di Jakarta, Balai Kartini. Sangat dekat dari rumah dan kantor. Lewat Twitter @moccaofficial gue dapet informasi kalo cuma 900 tiket saja yang bakal dijual untuk konser tersebut. Jadi lah gue mulai kegiatan berburu tiket. Pertama-tama di Bandung, tempatnya di Distro Lou Belle di daerah Setiabudi. Sampe disana, ternyata tiket belom dijual. Diundur. Berikutnya, berburu di Jakarta. Ticket Box ada di kantor Mlive Muzic di Wisma Alia Cikini. Udah dibela-belain telat kerja, tiket gak dapet juga. Setengah jam ngantri, tiket udah ludes. Harapan resmi terkubur.

Tapi ya, yang namanya kalo emang udah jodoh, gak bakal lari kemana. Harapan kembali muncul ke permukaan. Jumlah tiket ditambah dan venue konser dipindah ke tempat yang lebih besar, hall basket Senayan. Lewat perantara abang gue, yang bela-belain dateng ke JakCloth cuma buat beli tiket ini, akhirnya harapan gue resmi menjadi nyata. Mocca Last Concert, here I come!

***

15 Juli 2011, hari yang sudah dinanti-nantikan. Berangkat dari kantor jam 5 sore dengan menggunakan fasilitas Bus TransJakarta. Kebetulan pula jalanan belom macet. Gak sampe setengah jam gue udah nyampe di halte JHCC-Senayan. Setelah itu, demi mencanangkan gerakan jantung sehat (gak ada duit buat naik ojek), gue jalan kaki menuju venue acara.

Pada awalnya, gue niat barengan nonton sama Arin, sobat berantem gue dari SMA. Tapi entah kenapa, jodoh gue kalo nonton konser selalu Ian (@iansricahyono). Mulai dari Java Jazz, Jamiroquai, Franz Ferdinand, dll selalu barengan dia. Saat gue lagi celingak celinguk di depan pintu masuk, gue ketemu dia & pacarnya (Icus) tanpa ada janji terlebih dahulu. Pas bener. Yaudah lah daripada gue nunggu Arin yang tak kunjung datang dari kantornya, mendingan gue jadi lalet-nya mereka berdua.

Karena Ian lagi ngobrol-ngobrol sama temennya, gue sama Icus yang nuker tiket di loket. Loket yang bentuknya kayak penjara kecil yang dikasih lobang tikus untuk tempat menyorongkan makanan. Begitu dapet tiket kita kembali lagi ke pintu masuk.

Saat sampai di pintu masuk, antrian sudah sangat mengular. Anyep. Padahal belum ada tanda-tanda kalo pintu bakalan dibuka. Bahkan gue sampe gak ngeliat ujung antrian-nya dimana. Persis kayak emak-emak lagi berantem, gak keliatan ujungnya. Kita pun sepakat untuk gak ngikutin antrian tersebut. Karena Icus udah kebelet pipis, kita mau cari WC dulu.

Kita kelilingin gedung sampe ke satu pintu kaca gede berwarna hitam. Menurut intuisi kita, di dalem sini pasti ada WC. Setelah kita masukke dalem, nengok kiri nengok kanan. Gak ada tanda-tanda WC. Yang ada Ringgo Agus, Endah & Rhesa, Float, dan macam-macam performer pada hari itu. Ternyata kita masuk ke backstage. Segitu gampangnya masuk kemari. Coba kalo ini konser Justin Bieber, pasti pintu kaca itu udah dijaga sama bodyguard yang bodi-nya segede truk sampah. Sekali ditabok dia bakal langsung amnesia.

Icus dapet WC di dressing room peserta kabaret. Saat dia lagi menunaikan panggilan alam tersebut, Ian nelfon temennya yang tadi diajak diajak ngobrol di pintu masuk. Nama dia adalah Ruli dan pada saat itu dia sedang bertugas sebagai sound man White Shoes & The Couples Company (WSATCC). Gatekeeper kita untuk bisa tetap di backstage. Tempat yang sangat strategis, dimana kita bisa dapet tempat duduk tanpa harus main 'Uler Naga Panjang' di pintu depan. Gak lama setelah Ian nelfon, dia langsung dateng.

"Cuy, kita udah disini nih. Boleh stay aja gak sampe pintu dibuka? Begitu pintu dibuka kita bakal langsung ke tempat penonton," Ian bernegosiasi dengan Ruli.

"Yaudah gak apa-apa. Duduk aja bareng gue di situ. Lo punya tiket kan?" kata dia sambil menunjuk kursi panjang di lorong backstage.

"Ada nih," sahut gue sama Ian sambil nunjukin tiket dan menutupi raut wajah kegirangan. Jadilah kita nunggu pintu masuk dibuka sambil nongkrong bareng performer. Pasang muka meyakinkan, berasa jadi artis. Lalu saat pintu masuk udah dibuka, kita langsung ngacir ke belakang mixer. Karena spot terbaik untuk nonton konser apapun adalah daerah sekitar mixer, entah itu di depan atau belakangnya, dari tempat itu lah suara yang muncul tidak mono atau berat sebelah. Lebih tepatnya, tepat di garis tengah panggung. In case kalo mixernya ada di samping atau di belakang panggung.

Saat seluruh bangku sudah dipadati penonton, riuh ramai mengisi udara, dan para sound engineer mulai bersiap-siap, lampu venue mulai dimatikan. "Selamat datang di Mocca Last Show, Anabelle & The Music Box!" suara storyteller (merangkap MC) Soleh Solihun dan Ringgo bergema di dalam venue. Konser ini resmi dibuka.

sumber : deathrockstar.info

Konsep konser terakhir ini adalah kabaret, dimana setengah penampilan Mocca didampingi oleh kabaret tentang Anabelle yang terperangkap masuk ke dunia dalam Music Box (sebenarnya dia mau masuk ke Dunia Dalam Berita, tapi sayang acara itu udah gak ada). Anabelle jatuh cinta dengan pangeran pemimpin dunia itu, tapi entah mengapa Buddy Zeus tidak suka. Mungkin dia suka penyuka sesama jenis yang tidak rela kalau pangeran pujaannya itu diambil oleh Anabelle. Pada akhirnya, pangeran itu mati karena dipanah Buddy Zeus dan dia sendiri mati tercabik-cabik pedang yang diayunkan oleh Anabelle yang sedang kalut karena pacar barunya mati penasaran. Setelah itu, entah dengan rapal sakti apa pangeran bisa idup kembali dan membuat Anabelle menjadi Bang Toyib yang gak pernah pulang sampe-sampe Wali takut disamain sama dia. The end, happily ever after.

Sumber : Mlivemuzic.com

Yah, walaupun penampilan para adik-adik kecil dari SMA 7 tersebut tidak bisa dibilang jelek, tetap saja penampilan mereka hanya terlihat sebagai pelengkap. Ini juga terkait dengan beberapa kesalahan teknis yang membuat penonton tidak peduli dengan jalannya cerita. Point of interest pada acara ini tetap : Arina-Toma-Rico-Indra (MOCCA).

Konser terakhir ini dimulai dengan lagu Happy. I Think I'm In Love dan Secret Admirer seakan membuai ingatan gue akan masa-masa SMP dan SMA. Ade Paloh, ex personil SORE, naik ke panggung untuk membantu Arina membawakan This Conversation. Memberikan rasa baru atas lagu tersebut. Kemudian datang pasangan suami istri ajaib, Endah & Rhesa, membawakan lagu Me & My Boyfriend dengan apik dan luar biasa. Nyanyian mereka bukan hanya dari mulut, instrumen mereka pun ikut berbunyi. Sulit rasanya menahan diri untuk tetap duduk manis di kursi, apalagi setelah mendengar The Object Of My Affection yang semakin terdengar enerjik oleh Float.

Kejadian unik terjadi saat Mocca membawakan lagu Let Me Go dengan backdrop memutar video rintik-rintik hujan. Tiba-tiba saja hujan deras turun dengan hebatnya, seakan-akan sengaja dipakai sebagai efek untuk menambah syahdu suasana konser. Begitu lagu itu selesai dinyanyikan, hujan itu perlahan-laha berhenti. Sungguh aneh. "Sebagai informasi kepada para penonton, hujan tadi memang sengaja dipanggil sebagai konsep konser pada malam ini," begitu komentar Soleh Solihun yang terlihat kompak dengan Ringgo dalam membawakan acara dan mendiskusikan isu dan gosip-gosip kocak yang seringkali tidak berhubungan dengan konser itu sendiri.

Hyper-Ballad, lagu Bjork yang dibawakan ulang oleh Mocca, sukses membuat gue merinding. Tarikan vokal Arina yang tinggi meresap sampai ke tengkuk. Luar biasa. Sedangkan I Remember lagi-lagi memutar video kenangan di otak gue. Saat-saat dimana cerita-cerita kecil dalam hidup gue diisi oleh melodi-melodi yang diciptakan oleh Mocca.

Nona Sari dari WSATCC naik ke atas panggung untuk duet bersama Arina dalam lagu I Would Never, menggantikan Karolina Komstedt dari Club 8. Setelah itu Nona Sari membawakan single Mocca, What If. Tapi sayang seribu sayang, dia tidak afal liriknya, sehingga lagu tersebut terasa hampa karena dia masih terdengar seperti mengeja lirik. Setelah itu gantian Arina manggung bersama WSATCC membawakan lagu Senandung Maaf, menggantikan Sari sebagai vokalis.

Tanah Air, lagu nasional yang diciptakan oleh Ibu Soed dibawakan oleh Arina dengan haru. Perlu diketahui Mocca memilih untuk vakum saat Arina berencana untuk menikah di negeri Paman Sam, Amerika. Oleh karena itu mereka menamakan konser ini sebagai konser terakhir karena mereka sendiri belum tahu sampai berapa lama Mocca akan bersembunyi. Lagu tentang kecintaan akan Indonesia ini seakan-akan menjadi sarana komunikasi Arina untuk berkata, "Selamat tinggal Indonesia."

Sumber : muthia-noesjirwan.blogspot.com

Life Keeps On Turning dipilih sebagai lagu pamungkas pada malam itu. Seluruh performer yang mengisi konser naik ke atas panggung. Luar biasa memang suara Arina. 23 lagu dibawakan, tidak ada satu nada pun yang luput dari jangkauan pita suaranya. Standing applause for her.


sumber : whatzups.com

Kemudian setelah selesai membawakan lagu tersebut, pecah lah tangis Arina saat menyambut para Swinging Friends memberikan ucapan selamat tinggal berikut bunga ke dia. Rasa sedih dan haru terasa sampai ke tempat gue yang berjarak kurang lebih 20 M dari panggung. Indonesia akan kehilangan salah satu vokalis terbaiknya.

sumber : enadjuanda.blogspot.com

Puas. Itulah yang gue rasakan. Apalagi setelah tau kalo gue duduk di kelas Gold, yang berarti gue naik kelas dari kelas Silver, kelas yang tertera di tiket gue. Akhirnya gue bisa menyaksikan penampilan band favorit gue sedari dulu. Ini adalah pertama kalinya gue melihat penampilan Mocca secara langsung dan semoga ini bukan (benar-benar) yang terakhir.

sumber : whyopu.blogspot.com




1 komentar:

Persistent Giselle mengatakan...

Muahaha, masih ada tuh CDnya, masih kesimpen di CD player, tp udah lama gak disetel