Jumat, Agustus 02, 2013

Masyarakat Gadget

Gadget. Suatu hal yang sangat lumrah didengar pada tahun 2013 ini. Sebuah barang yang seperti menjelma jadi indra keenam manusia. Wajar rasanya melihat orang yang panik dan gelisah apabila gadget nya ketinggalan di rumah. Biasanya mereka takut akan datangnya panggilan penting disaat mereka tidak berdaya menjawabnya, walaupun pada kenyataannya cuma ada 3 SMS dari operator, 1 Missed Call dari Telemarketing kartu kredit, dan 5 Broadcast Message downlink MLM.

Teknologi telah memudahkan kita untuk berkomunikasi. Masih jelas di ingatan gue beberapa tahun yang lalu saat komunikasi antar sesama sangat lah sulit. LDR menjadi sesuatu yang mahal pada saat itu. Mau telfon pulsanya mahal, interlokal. Apalagi kalau sambungan langsung internasional pake 001, dijamin setelah bayar tagihan telfon gak punya rumah lagi. Habis tergadai.

Update foto pacar pun prosesnya panjang sekali. Pertama dia harus foto pake kamera Fuji Film yang kalau udah selesai foto harus dielus-elus dulu biar filmnya ganti dan bagus atau enggaknya foto hanya bisa diketahui oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Mengingat  harga roll film yang cukup mahal dan ada kemungkinan film terbakar apabila kovernya dibuka sebelum roll terisi penuh, maka harus ada +/- 30 foto lagi yang harus diambil sebelum satu roll film penuh dan siap dicetak. Jadilah itu film dibawa jalan-jalan dulu untuk foto-foto rekreasi keluarga di Taman Mini. Proses ini kira-kira memakan waktu sekitar 1-2 minggu.

Roll film yang sudah penuh itu kemudian dibawa ke tukang foto. Setelah melalui negosiasi yang alot mengenai harga dan ukuran foto, kita harus menunggu (lagi) untuk proses cetak selama +/- 1 minggu. Sukur-sukur foto-foto di dalamnya bagus dan terlihat jelas. Andaikata fotonya jelek, mau gak mau proses diulang dari awal.

Selesai cetak dan hasilnya dianggap memuaskan, foto itu dikirimkan melalui pos beserta surat cinta yang berisi kata-kata mesra ala pujangga. Tertulis di atas kertas yang disemprot parfum wangi bunga kamboja. Air mata jatuh menetes membasahi dan tak lupa air liur membentuk pola sungai amazon akibat ketiduran karena capek nyuci foto dan beli kertas eagle di Gramedia.

Oiya, dikarenakan proses pengiriman yang cukup kompleks. Maka tahap ini memakan waktu sekitar 1 minggu. Sehingga kalau ditotal-total, butuh waktu 1 bulan untuk berkomunikasi dengan pacar. Maka dari itu gak heran Dewa 19 menciptakan lagu Kangen pada pertengahan 90-an.

Seperti yang dijelaskan diatas, dulu pacaran LDR hampir menjadi sesuatu yang mustahil dan Pak Pos merupakan idola di kalangan remaja. Kalau jaman sekarang, semua hal dipermudah. Teknologi berhasil mendekatkan yang jauh. Mau update foto pacar tinggal liat halaman Facebook atau minta kirim melalui YM, Twitter, BBM, Whatsapp, atau apapun. Kalau kurang puas ngeliat gambarnya doang, ada Skype yang siap membantu kita melihat gambar dan mendengarkan suaranya. Kalau dulu ada fenomena dulu-duluan nutup telfon. Sekarang muncul fenomena "Liat Pacar Tidur".

"Sayang kamu jangan matiin kamera-nya ya. Diarahin ke tempat tidur aja biar aku bisa ngeliat kamu tidur gimana"

Fenomena ini menurut gue cukup beresiko. Mungkin kalau cewek tidurnya fine-fine aja. Tidur manis dari balik selimut, kadang muter kanan atau muter kiri sambil rambutnya menutup setengah mukanya yang terlihat innocent saat tidur. Ingat. Hanya. Saat. Tidur.

Bandingkan dengan cara tidur cowok yang cenderung hiperaktif. Kaki bisa ke utara, tangan ke tenggara, dan kepala menghadap barat daya. Belum lagi kalo cowok mengeluarkan ritual wajib Galer. Kosek-kosek dengan raut muka mesum keenakan. Niscaya akan menimbulkan mimpi buruk saat diliat pacarnya di ujung sana.

Selain mendekatkan yang jauh, gadget juga memiliki andil menjauhkan yang dekat. Sering gue liat 8 orang kumpul di satu meja panjang dengan makanan yang masih utuh. Kepala mereka semua tertunduk ke gadget di tangan masing-masing. Makanan tak tersentuh dan mereka diam satu sama lain. Beda cerita di media social masing-masing. 8 orang itu terlihat berkumpul ramai dan meriah karena masing-masing check in pake 4square, posting foto makanan pake Path, Twitter, dan sebangsanya, tak lupa update status di Twitter :

Kumpul bareng temen kuliah. KANGEEN KALIAN! @bejo4cool @belalaimerah @ntonGanteng @inahCuteZ @inemOKZ @sumijah @kartoMarz

Tak lupa posting foto lagi di Instagram :

Pecel Ayam! OMG ENAK BANGET #warungnasiIbuParjo #enak #makananIndonesia #kumpul #temen #kuliah #ayam #goreng #kremes #pake #lalapan #sama #nasi #uduk #sambel #dan #minum #aer #kobokan #pulangnya #sakit #perut #diare #1minggu #full

Hashtag demi hashtag rapi berbaris dalam satu posting macam pager SDN Inpres.

Selesai posting mereka tidak langsung meletakkan gadgetnya masing-masing di meja dan mulai berinteraksi dengan orang-orang nyata di sekitarnya. Mereka lebih memilih menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu. Dan menunggu ada yang comment di status mereka. Biasanya kalau sudah putus asa, mereka akan menyukai posting mereka sendiri atau mengambil foto dari sudut pandang lain, update lagi, dan mengulang eksploitasi hashtag.

Logika jaman sekarang terkadang kebolak-balik. Saat kumpul di meja yang sama mereka cenderung diam tak bertegur sapa dan sibuk berbicara dengan orang yang absen di hadapannya. Saat di atas motor, mereka jalan beriring dan berinteraksi dengan teman di sebelahnya. Tereak-tereak sambil menjaga motornya yang limbung agar tidak menghantam pot kembang atau banci nyebrang.

Nonton konser juga gak perlu repot lagi. Kalau dulu kita harus keliling Glodok, Mangga Dua, atau toko-toko CD bajakan terdekat demi mencari video konser artis-artis kesayangan. Sekarang video konser bisa didapat dengan mudah melalui Youtube yang bisa diakses melalui gadget-gadget canggih nan mahal. Tidak usah kita bertanya-tanya bagaimana rasanya nonton konser artis yang belum pernah datang ke Indonesia. Tinggal search dan klik, video dapat dinikmati dengan mudahnya.

Namun seperti pedang bermata dua, kemudahan ini juga menimbulkan kesulitan di lapangan. Jauh-jauh dan mahal-mahal kita nonton konser langsung demi merasakan sensasi bulu kuduk berdiri saat mendengar musik-musik yang ciamik dan melihat aksi panggung yang energik, malah dirusak dengan ratusan tempayan yang menjulang sombong menghalang pandang. Bahkan ada beberapa yang memakai blitz dan merusak tata cahaya yang telah diatur sedemikian rupa. Orang-orang ini mungkin tidak mengerti sensasi yang terjadi saat mendengar musik yang menjalar sampai ke urat nadi.

Gue jadi ingat berita dimana baru-baru ini Beyonce memarahi salah satu penggemar yang asyik merekam dirinya disaat dia ingin mereka bernyanyi bersama, "Shut that thing up already!" kata dia. Kejadian ini mungkin bisa menggambarkan ketidaknyamanan sang artis apabila melihat konser yang ditonton ratusan kameramen. Mungkin mereka ingin karyanya diapresiasi dengan koor, dansa dansi, dan hentakan kaki.

Gadget hanyalah alat yang sifatnya netral. Baik dan buruknya manfaat sangat tergantung pada pemakainya. Jika pemakainya kurang pintar, jadilah video-video 3GP yang menjamur di seantero dunia maya. Jika pemakainya pintar, gadget bisa bermanfaat sebagai jendela kita untuk mengintip dunia.

So, be as smart as your gadget are.




0 komentar: