Sabtu, Juni 06, 2009

Berkenalan Lewat Korek

Alhamdulillah, akhirnya ada juga konsultan pajak yang mau menerima gue magang di tempat dia. Konsultan itu bernama Soeripto, Hary & Co. atau biasa disingkat SHC. Gue berdoa semoga kantor itu gak cepat menyadari bahwa mereka mempekerjakan seekor ikan setengah gila yang selalu basah, ngotorin lantai. Disana gue tidak sendiri, tapi gue bertiga. Dua makhluk penempat kantor lainnya bernama Aan dan Mo. Kita bertiga sepakat membentuk sebuah geng yang bernama Tiga Perawan Pemburu Janda (kata perawan lebih enak dipakai dibandingkan perjaka).

Di hari pertama magang, gue belum dikasih kerjaan yang berat-berat seperti ngangkut beras dengan Ade Namnung di atasnya, gue cuma disuruh rekap data gaji dan tunjangan. Sekitar jam setengah 6 sore, kita udah boleh bubar menuju rumah masing-masing. Berhubung hari pertama magang gue hari Jum'at dan besoknya libur, sungguh kesempatan baik untuk jalan-jalan.

Gue sama Aan sepakat menuju Mall Kelapa Gading, Mo gak doyan sama kayak begituan, dia langsung balik. Di daerah itu udah menunggu dua temen gila gue bernama Apis dan Eki. Apis adalah teman sejurusan gue yang dituduh mahful (apa artinya? cari sendiri..) oleh teman-temannya yang lain. Julukan dia adalah MaMo (Manusia H**O), sedangkan Eki adalah barudak Unpad yang sedang bermain ke Jakarta. Sangat ahli dalam membuat wanita menangis, cukup dengan bilang "Aku suka kamu.." ke cewek, dia langsung menangis. Entah karena terharu udah ditembak atau merasakan tekanan hebat karena ditembak dedemit. Hehee.

Pokoknya kita ber-empat seperti pasangan Homo sedang double date keliling mall. Kerjaan kita cuma keliling-keliling, dan akhirnya nongkrong di Food Court. Disana kita bisa kreatif berkomentar tentang orang di sekitar. Ketawa-ketiwi melepas lelah. Di depan kita bahkan ada mas-mas dengan baju ketat berwarna pink, jeans gombrang dengan aksen belel, dan yang paling gak tahan adalah kacamata hitam gede yang dipakai dia. "Liat tuh, terminator homo", kata gue sambil nunjuk si mas-mas diikuti ketawa ngakak kita bersama. Misi dia ke masa lalu untuk memperkosa John Connor biar trauma dan gak jadi pemimpin perang di masa depan. Senjata dia bukan machine gun, tapi dildo yang berputar asimetris.

Kelar makan, tiga orang perokok (Aan, Eki, dan Apis) udah mulai resah, gak nyentuh rokok abis makan kata mereka ngebuat mulut asem. Kalo gue sih abis makan bikin pantat gue asem, kebelet pengen boker. Kita bergerak lagi dari food court di Gading 3 menuju La Piazza. Jalan menuju kesana seperti petualan Tom Sam Chong mencari kitab suci. Jauh banget. Untungnya gak ada monster laba-laba. Sampe di La Piazza ternyata lagi ada live performance band gitu. Entah band apa namanya. Cocok banget. Kita jadi punya tontonan. Kita langsung duduk-duduk ti tangga sambil ngeliatin band itu membawakan satu demi satu lagu yang ada.

Saat lagi duduk-duduk itu, tiba-tiba ada dua orang cewek lewat depan kita dan duduk gak jauh dari kita. Dari dua cewek yang liwat, terlihat satu cewek yang cakep. Yang satu lagi? Ehm... Hanya Tuhan yang tahu. Gue, Eki, dan Aan langsung nantang Apis untuk kenalan dengan cewek itu. Alasannya sebagai pembuktian kenormalan dia di depan kita. "Oke" kata Apis meng-iyakan tantangan dari kita. Pertama-tama kita mencari alasan untuk ngobrol sama cewek itu, dari hasil rembukan ada tiga alternatif terbaik :
  • Belagak pinjem korek
  • Pura-pura jatoh di depan dia sambil guling-gulingan
  • Buka baju dan celana sambil lari keliling La Piazza
Berhubung alternatif kedua dan ketiga bakal membuat kita berurusan sama pihak berwajib atau Rumah sakit setempat, cara pertama dipilih sebagai metode pendekatan. Kita juga udah ngeliat cewek itu lagi nyulut rokok buat diisep dimulut (gak mungkin kan diisep di idung?). Dengan gagah rupawan dan elegan Apis langsung berjalan mendekati wanita itu. "Mbak, boleh pinjem korek gak?", cewek itu tentu saja mengiyakan. Anehnya, Apis gak berbicara apa-apa lagi dan langsung balik ke kita setelah rokoknya nyala.

"Ah, muke dempulan.." lapor Apis begitu balik ke kita. Ternyata dia males kenalan lebih lanjut begitu melihat lebih dekat. Yang dimaksud muka dempulan adalah wanita-wanita yang suka memakai make up terlalu tebal, sehingga jika ada nyamuk yang hinggap di muka itu akan terjebak gak bisa terbang lagi. Make up itu seperti pasir hisap saking tebalnya, mungkin sekitar 5 cm.

"LO NGAPAIN PINJEM KOREK!!?? GUE ADA KOREK!! AHH LO MAU KENALAN DOANK YA!" tereak gue, Eki, dan Aan begitu Apis menyampaikan laporan itu ke kita. Udah gitu Eki ngelempar 3 biji korek ke lantai deket cewek dempul itu. Teknik pelemparan itu secara pelan-pelan, satu per satu, untuk menimbulkan efek dramatis. "Nih!! Ada tiga biji!! Lo juga udah punya satu!! Ngapain minjem!? Mau kenalan aja pake gaya pinjem korek!!". Tentu aja si cewek dempul itu ngeliatin Apis, ditambah dengan palanya dia geleng-geleng kayak orang India. Berasa cakep karena diajak kenalan. Apis tentu aja tengsin berat. Muka-nya memerah kayak pantat babi kebanyakan ditampar. Pembuktian kejantanan dia dijadikan objek keisengan kita bertiga.

"Anjing lo semua.." kata Apis sambil sok cool ngerokok. Gak beberapa lama dia langsung bilang "Cabut yok!" karena udah gak tahan dikata-katain kita bertiga. Gak juga sih. Emang waktu udah terlalu malam. Takutnya kalo sampe rumah, rumahnya udah pindah. Kita pun pulang menuju rumah masing-masing. Dan untungnya, rumah gue masih ada di alamat yang sama. Hehee. Sapa juga yang kuat mindahin rumah?

Ciaoo...

2 komentar:

Indah Prawita mengatakan...

oohh.. ternyata ada juga perusahaan yg nerima org dengan rambut ky lo..
waw!

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

kurang azarr.. khan diskriminasi untuk orang-orang keriting udah diapus.. hahaaa