Minggu, Januari 03, 2010

Tahun Baru di Bintaro

Tahun yang baru telah datang, 2010 dengan harapan-harapan dan tantangan-tantangan baru sudah sampai di rumah kehidupan gue. Pada malam tahun baru, untuk kali kedua, gue merayakan malam pergantian tahun ini di Bintaro. Tepatnya di rumah Jihan, temen kuliah gue yang mempunyai suara menggelegar seperti ledakan bom di pagi hari buta, yang terletak di daerah Bintaro Sektor 9.

Berbeda dengan tahun sebelumnya dimana gue gak ikut masak-memasak, lebih banyak main PS 3 di lantai 2 rumah sembari mengeluarkan banyak cacian dan makian ke televisi karena tim yang gue kendaliin kalah mulu. Pada malam tahun baru ini, gue ikutan memasak, mungkin lebih tepatnya memanggang karena media gue memasak bukan panci teflon, kuali, atau panci. Media gue memasak adalah panggangan bulat berwarna merah yang hanya bisa berfungsi jika ada arang membara di bawahnya.

Setelah gue menebar arang di bawah grill panggangan, proses selanjutnya adalah bagaimana menjadikan arang itu membara. Cara yang dipakai pertama kali adalah dengan menggunakan spirtus yang berwarna biru itu. Mo diberikan kehormatan untuk nyemprotin itu spirtus ke arang, kemudian Ojan bertugas nyulutin api.

Awalnya, api nyala dengan garang. Tapi lama kelamaan mengecil karena spirtus yang udah abis. Mo yang pintar itu mempunyai inisiatif untuk nyemprot-nyemprotin spirtus di botol lainnya ke api yang kecil itu. Emang sih api-nya nyala, tapi cuma sebentar. Ternyata niat dia bukan bikin arang-nya membara. Dia cuma seneng ngeliat pola yang dibikin gara-gara spirtus yang nyamber ke api. "Mau bikin tanda tangan", katanya.

Yakin itu arang gak bakal nyala oleh anak idiot yang belajar nulis dengan arang dan spirtus, mulai lah ditambahkan kertas di bawah arang-nya. Percuma. Kertasnya udah abis, arang yang nyala cuma tiga biji. Sebagai mahasiswa yang mempunyai jiwa peneliti yang cukup tinggi, kita terus mencari cara lain untuk menyalakan arang itu. Ditemukanlah metode menyalakan arang dengan bensin.

Bensin biasanya ada di dalam kendaraan bermotor, pom bensin, dan penjual bensin ketengan di pinggir jalan yang biasanya ibu-ibu pake daster. Karena kita gak nemu pom bensin dan Ibu-ibu pake daster, kita pun berniat untuk ngambil bensin dari salah satu motor yang ada di situ. Motor yang jadi korban adalah motor Mo, anak idiot yang sedang belajar menulis tadi.

Cara mengambil bensinnya adalah dengan menggunakan bekas botol spirtus yang lembek, bisa dipencet untuk nyedot bensin ke dalam. Sekali mencoba, bensin ternyata cukup berfungsi dengan baik. Api-nya nyala lebih lama. Tapi karena bensin yang diambil cuma sedikit, api yang dihasilkan juga dikit. Maka dari itu perlu diambil lebih banyak. Kembali ke jiwa peneliti, kita harus menggunakan berbagai macam metode untuk menyelesaikan masalah. Kali ini kita menggunakan botol aqua yang udah dipotong setengah sebagai wadah bensin.

Pertanyaan :
Bagaimana cara mengambil bensinnya dari tangki bensin motor?

Jawab :
  • Ambil sebuah sedotan.
  • Tempatkan salah satu ujung sedotan di mulut, yang digunakan untuk menyedot, sedangkan ujung yang lainnya taro di dalam tangki bensin.
  • Sedot bensin yang ada di dalam tangki tersebut sampai mendekati mulut. (Jangan sampe mulut! Nanti napasnya bau kilang minyak!).
  • Pencet sedotannya dengan tangan untuk mengunci bensin tetap di dalam sedotan.
  • Taruh bensin yang ada di dalam sedotan di dalam wadah yang telah disediakan.
  • Ulangi proses tersebut sampai bibir anda monyong permanen.
Cerdas, sungguh cerdas cara yang kita temukan ini. Mungkin ada baiknya cara ini dijadikan lomba ketangkasan untuk anak-anak TK lanjut usia. Dan tingkat kebodohan kita pun meningkat menjadi Grand Master karena mindahin bensin pake sedotan kecil. Sampe 2009 ganti jadi 2010 juga gak bakal keisi penuh itu gelas aqua. Akhirnya dibelilah minyak tanah sebagai pemecah kebuntuan. Arang itu pun (akhirnya) membara.

Setelah arang membara, kita memanggang disana. Yang dipanggang adalah daging bumbu yang dibeli Miranti sama Kipli dengan motor oranye ber-jok putih yang dijulukin "Bumblebee". Ada 4 pak daging, sama Miranti 4 pak itu dipisahin jadi dua-dua, ada yang harus dipanggang duluan, ada yang belakangan.

"Apa bedanya Mir?", gue bertanya kenapa daging itu harus duluan dipanggang.

"Kalo yang ini bagus, daging yang lain KW 2", jawab dia menjelaskan.

Buset. Ini daging apa celana? Cara ngebedainnya gimana lagi? Beda di jahitannya? Atau mungkin yang KW 2 itu merupakan daging sintetik yang dibuat dari bekas karet kondom? Entahlah.

Pokoknya gue manggangin itu daging, gak tau KW 2 apa original atau crispy atau black pepper. Pertama-tama pake alumunium foil. Daging-daging itu ditaro di tengah-tengah alumunium foil dan dengan lemah lembut gue selimutin. Daging-daging itu dianggap seperti bayi kecil dan gue adalah Ibu-nya. Pengen rasanya gue netein itu daging. Tapi gue lupa, karena diselimutin, daging itu udah tidur. Gak boleh diganggu.

Cara itu terbukti tidak efektif, dagingnya gak mateng-mateng. Lanjut dengan cara kedua yaitu nusuk-nusukkin itu daging pake tusukan sate dan manggangin langsung di grill-nya. Cara memanggangnya juga beragam. Gue manggang daging yang udah disulap jadi sate itu secara horizontal. Ada yang posisinya vertikal, tegak lurus, persis kayak pedang Excalibur-nya King Arthur. Gue gak tau tuh yang paling atas matengnya kapan. Ada juga yang manggang di bawah arang yang udah abis kebakar. Orang pintar itu bernama Kipli, dia gak tau kalau arang yang sudah jadi abu itu gak lagi memancarkan panas.

Bosan dengan yang itu-itu aja, kita teringat dengan panggangan daging orang Hawaii yang memakai buah-buahan di tengahnya seperti nanas dan lain-lainnya. Kita pun ingin menjadi orang Hawaii, kita memakai melon di tengah-tengah tusukan daging. Gak tau enak apa enggak, yang penting eksperimen. Kalo aja ada kamera, gue bakal bilang "Ala Cheff..." dengan tangan terlipat di bawah dada, mengangkatnya biar terlihat penuh seperti presenter acara tersebut.


Cheerioo...!!



-=M=-

2 komentar:

rafli mengatakan...

baru sebagian y ceritanya??bikin org ketawa nanggung aj sich..hehehhe...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@rafli : heh? sebagian apaan? udah kok. Hehee