Selasa, Maret 30, 2010

Mengarungi Jeram Deras

Berenang adalah kegiatan yang sangat menyenangkan, dimana gue bisa bermain-main air meng-kecipak kecipukkan diri seperti seorang model panas yang memiliki bulu ketek pada tahun 90'-an awal. Air, seperti yang kita ketahui, bisa membawa kesegaran. Dengan catatan air itu dingin atau sejuk. Kalau panas, bisa membawa kesengsaraan. Lagian iseng, air mendidih malah dipake mandi. Emang sih warna merah di kulit sangat unik, tapi kalo dipegang orang malah panik.

Pada hari Kamis (25/3/2010), bertempat di kost-an Windra yang sedang memiliki masalah hati, berkumpullah anak-anak ADM 2005 yang memiliki kegilaan maksimal. Awalnya, kita ngumpul tanpa tujuan apapun. Kerjaannya cuma duduk dan ngata-ngatain orang. Ngakak sampe rahang mau copot rasanya.

Semua itu berubah dengan kedatangan kawan kita, anak ADM 2005 juga, yang bernama AntoBojong. Semenjak dia dateng, pembicaraan berubah menjadi penyusunan rencana untuk rafting. Kebetulan dia berpengalaman dalam dunia rafting dan ngerti segala tetek-bengek nya. Pertanyaan yang dapat disimpulkan dari kalimat terakhir adalah : Emang tetek bisa bengek?

Pertemuan itu berhasil merumuskan suatu acara. Kita bakal rafting di daerah Cireuteun, Bogor pada hari Minggu, 28 April 2010. Mulai hari Jum'at-Sabtu, gue sebagai orang yang ikut merencanakan bertugas mencari massa dengan kuota yang telah ditentukan. 12 orang saja. Setelah melalui lika-liku pertanyaan dan jawaban, negosiasi dan reboisasi, tapi tidak sampai impotensi, ditentukanlah 13 orang pengarung jeram.

Mereka adalah : Gue, Aan, Windra, Isa, Blun, Gimbal, Miranti, Inggar, Heru, Ojan, Apank, dan satu temennya Heru bernama Andi, dan Duti.

Keberangkatan kali ini mencatatkan rekor fantastis untuk anak 2005. Biasanya rencana dan realisasi keberangkatan beda 2 jam, contoh : Rencana jam 6 pagi, baru berangkat jam 8. Untuk acara kali ini, waktu keberangkatan hanya bergeser setengah jam. Hebat! Perlu dicatat di dalam buku rekor buatan kita sendiri. Sayang, buku-nya sendiri tak pernah ada. Jadi, mungkin itu semua akan terlupa.

Janjian jam 7, jam setengah 8 kita udah berangkat. Namun, kita masih harus nunggu sekitar setangah jam di daerah Cibinong. Menjemput seorang anggota yang lama sekali datangnya. Setelah itu, ngambil perahu di daerah kota Bogor, kemudian kena macet karena salah jalan. Nyasar di depan kampus IPB yang sangat macet. Jalanan untuk 2 mobil secara ajaib berubah jadi 4 mobil. Sampe di tempatnya, kita belum bisa langsung ke sungai. Perahu yang udah kita ambil tentu harus ditiup dulu. Untungnya sih gak pake mulut, bisa-bisa kita menjadi Geng Bibir Jontor. Niup-nya pake alat yang mirip vacuum cleaner mini dan pompa kaki. Setelah ditiup, barulah berasa kalo kapal itu sangat berat.


cara mompa kapal (diperagakan oleh model)

Jam 12 kita baru turun sungai dalam arti sebenarnya. Jalanannya sangat menurun dan licin berkat jasa tanah yang basah. Berkali-kali kita hampir kepeleset dan kepelanting. Udah gitu, kita musti ngangkat kapal yang beratnya naudzubillah. Bener-bener sebuah latihan fisik sebelum mengarungi liarnya sungai. Teknik mengangkat kapal itu pun gak sembarangan. Teknik-nya adalah :
  • 4 orang berdiri sejajar
  • Taro kapal di atas kepala
  • Jangan lupa kedua tangan memegang badan kapal untuk menjaga keseimbangan
  • Tambahkan kebaya, maka kita akan terlihat seperti Mbok-mbok penjaja gado-gado
Sesampenya kita di sungai, nafas udah ngos-ngosan. Tapi begitu naik kapal dan ngeliat jeram yang ada di depan sana, semangat berkobar kembali. Namun, berhubung semangat belum tentu membuat kita semua selamat, kita semua harus latihan mendayung dulu. Pelatih di kapal yang gue naikin adalah si Bojong. Dia berada di bagian paling belakang kapal, bertugas mengarahkan kapal menuju arah yang benar. Nama kerennya Skipper. Sedangkan 6 orang di depannya, termasuk gue, dinamakan Diaper.

Namanya juga amatir, dayungan kita suka gak kompak antara yang kanan dengan kiri. Kapal sering muter-muter kayak gasing atau ngesot kemana-mana. Kalo aja kita langsung masuk ke jeram, kita cuma berharap pertolongan Allah SWT untuk selamat. Jadinya, kita bakalan ngaji di kapal, bukan mendayung.

Setelah dirasa siap, dengan semangat tak terhingga kita semua masuk ke dalam jeram pertama. Niat awal kita mau masuk dengan moncong kapal duluan, tapi berkat skill mendayung yang sangat hebat, masuknya malah miring dan kapal sukses nyangkut di batu. Dengan miringnya kapal itu, air mulai masuk ke kapal hingga memenuhi setengahnya. Kita pun pindah-pindah tempat untuk ngerubah condongnya berat kapal, kemudian njot-njotan biar kapalnya bisa lepas dari batu. Saat kita melakukan proses itu, terpaan air gak henti-hentinya menyerang, membuat kita panik diskotik.

Kapal pun akhirnya lepas dari batu, kembali ke derasnya arus jeram. Kkta harus secepat kilat balik ke pos yang udah diatur sebelumnya untuk mengatur kembali laju kapal. Kapal kita udah semakin gak jelas arahnya dihajar sama arus yang sangat deras. Celakanya lagi, ketenangan kita udah ilang, dayung pun asal-asalan. Apalagi pas liat ke belakang, Bojong udah ilang. Kemana kah dia? Setelah kita cari, ternyata dia jatoh ke sungai!

Serempak 6 orang tersisa di kapal bilang, "KITA NGAPAIN LAGI NIH JONG....!!!!!???"

Gimana gak makin panik. Skipper itu seharusnya ngasih tau ke kita apa yang harus dilakukan malah jatoh. Apakah kita harus ikutan terjun dan ngebiarin kapal hanyut sampe Tangerang? Terus mendayung? Atau buka Al-Qur'an untuk memohon keselamatan!? Yang bikin kita panik : GAK ADA YANG BAWA AL-QUR'AN!!! .

"DAYUNG TEROSS...!!" tereak Bojong dari permukaan air. Kita pun dayung dengan teknik panik. Sempet nabrak pinggiran sungai, sebelum pada akhirnya masuk ke arus tenang. Begitu Bojong balik ke kapal, kita ketawain. Sekarang udah bisa ketawa, tadi meregang nyawa.

Kita pun lanjut mengarungi sungai. Nemu ada gelondongan kayu berayap ngapung. Tapi kok bisa bergerak? Ternyata begitu diselidiki lebih teliti, ternyata itu bukan gelondongan kayu. Itu adalah Gimbal yang jatoh dari kapal yang satu lagi dan ditinggal. Sadis benar kapal itu.

Setelah gue tolongin, gue akhirnya mengerti alesan kenapa mereka meninggalkan dia. Udah capek-capek kita tolongin, dia malah langsung loncat ke sungai lagi. Sok-sokan mau berenang ngejar kapal tempat dia bernaung. Ditolongin malah arogan. Ujung-ujungnya malah dia gak bisa ngejar itu kapal dan dia resmi kita tinggal. Hanyut, hanyut dah. Salah sapa arogan? Untungnya orang-orang dari kapal dia masih memiliki rasa iba, dia pun kembali diangkut ke kapal tempat dia bernaung.

gelondongan kayu berayap


Pada saat di tengah-tengah sungai, Bojong bercerita.

"Nanti ada jeram yang sangat berbahaya, paling berbahaya di antara semua jeram yang ada. Kita tidak boleh melakukan kesalahan sama sekali. Bisa berbahaya. Nama jeram itu Jeram Naga"

Cerita itu membuat bulu kuduk gue merinding. Apalagi begitu Miranti mengeluarkan pertanyaan yang berpotensi membawa kesialan, "Maksud lo berbahaya, bisa bikin mati Jong?"

"Ya, bukan gitu sih. Tapi bisa celaka aja karena disana banyak batu. Jadi musti hati-hati", kata Bojong dengan raut muka yang sebenarnya mengatakan : Salah dikit, siap-siap nyuruh orang tua pesen batu nisan dengan nama lo tertulis di atasnya.

Kemudian kita semua diam. Hening. Sebelum Bojong memecah kesunyian itu.

"Eh, itu dia Jeram Naga di depan!!"

Serempak kita semua bengong. Seperti disuruh perang saat lagi sikat gigi di pagi hari, cuma pake kutang dan celana kolor bunga-bunga. Dimana gue harus menghadapi risiko mati tinggi dengan persiapan yang rendah. Sang Skipper pun langsung berteriak untuk mendayung. Kita semua mendayung sekuat-kuatnya, mengarungi ombak sungai yang tingginya melebihi kepala. Kapal kita serasa ditampar-tampar oleh kekuatan sungai yang maha dahsyat. Berkali-kali air bertamu ke kapal dan sesekali masuk ke mulut gue. Hoek. Air-nya warna coklat, entah isinya apa.

Seselesainya jeram itu, perjalanan berlangsung cukup tenang. Kalau pun ada jeram, tidak terlalu ramai dan berbahaya, walaupun tetap bisa membuat kapal terombang-ambing sampai kita menuju finish di sungai Cisadane.

Kita pun istirahat sejenak dan merencanakan kegiatan selanjutnya. Diputuskanlah kalau kita bakal mengarungi sungai itu dua kali. Yang membuat keputusan itu berat adalah : Kapal gak boleh dikempesin. Kapal besar yang pada awalnya dibawa pada jalan yang menurun, harus dibawa kembali ke atas dengan teknik yang sama. Atas = Jalan Menanjak = Gempor. Ini benar-benar olahraga ekstrim. Membuat nafas gue yang tinggal setengah menjadi seperempat saja.

Sesampainya di atas, kapal langsung kita jogrokkin di pinggir jalan dan gue lupa berada di negara mana gue sekarang berada. Mabok. Gue langsung duduk mengatur nafas yang ngos-ngosan itu. Kemudian setelah menunggu 1 jam untuk mencari angkot yang rela untuk ditaro dua kapal gede di atasnya, kita pun kembali ke tempat awal untuk kembali mengarungi sungai itu.

Pada perjalanan kedua ini, skipper kapal gue diganti sama anak Mapala bernama Duti. Entah karena skippernya lebih oke atau emang kita-nya yang semakin jago, perjalanan kedua ini terasa lebih mudah dan lurus. Lurus disini bukan berarti kita mengarungi sungai menuju mesjid. Lurus disini maksudnya adalah jalannya kapal. Pada perjalanan pertama, kapal sering muter-muter kayak komedi puter. Perjalanan kedua, arah kapal lebih jelas dan sangat penurut.

Perjalanan kedua itu terjadi sekitar jam setengah 5 sore. Sepanjang perjalanan itu, kita banyak menemukan orang mandi di pinggir sungai. Cowok. Memakai celana dalam pink. Membuat gue ingin muntah darah dan cuci muka 7 kali pake tanah. Ditambah lagi ada yang buka celana di pinggir sungai. Tadinya gue kira dia mau pipis dan gak sampe morotin celana. Ternyata enggak, dengan PD-nya dia morotin celana sampe keliatan cacing kremi di tengah rimbunan hutan hitam. Yang lebih menjijikkan, dia bukan berpose layaknya orang yang lagi pipis. Dia malah ngegoyangin itu cacing kremi ke kanan dan ke kiri ala Sinchan. Gue coba berpikiran positif disana, "Mungkin dia enggak gila, tapi emang mau mancing ikan piranha"

Pemandangan itu merupakan penutup pahit dari perjalanan gue yang manis ini. Bersama-sama teman mengarungi sungai, berpetualang bermain air. Satu-satunya efek samping dari arung jeram adalah ketagihan. Gue jadi pengen untuk melakukan hal ini beberapa kali lagi. Selain untuk olahraga, kegiatan ini menghilangkan stress melalui tereak-tereak saat diombang ambing arus liar. Seselesainya dari sungai, gue langsung ambil beberapa pelampung dan tas punggung, kemudian kabur.

Takut diminta ngangkat kapal, yang walaupun udah dikempesin, tetep aja berat.


*kabooeeeerrrrr*

Tim pengarung ADM 2005




2 komentar:

apank mengatakan...

another great journey with ADM FUNTASTIC... :D:D:D:D
NB: bawa perahu yang udah dikempesin di jalan menanjak plus glap gulita = merasa dekat dengan kematian.. don't try this at home daaah...
hehehe

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@apank : itu hukuman dari kita pank. hahahhaa