Sabtu, Maret 20, 2010

Random Confession

DOREMILSA DOREMILSA: Pas un bisa niron g?
the Mirzals: apaan lagi tuh niron?
DOREMILSA DOREMILSA: Nyontek. Kicepkicep
the Mirzals: ooo
the Mirzals: kagak kepikiran
DOREMILSA DOREMILSA: Ga gaul bgt sih. Semua bhasa jawa aj ak bisa

Pada Sabtu siang yang panas tapi mendung, di saat baru bangun tidur. Terjadi dialog via YM dengan temen gue di Bandung bernama Milyar . Oiya, nama itu bukan nama samaran. Beneran ada. Saat pertama kali tau juga gue bingung dan menganggap itu adalah nama samaran. Ternyata itu nama beneran. Mungkin kakaknya bernama Trilyun dan adeknya bernama Juta. Gue curiga adeknya yang paling kecil namanya Recehan. Entahlah.

Dari penggalan percakapan di awal itu, ada dua kata kunci yang bisa dibahas panjang lebar. UN (Ujian Nasional) dan nyontek. Tahun ini gue ngerasa kalo UN dibikin sebagai makhluk menyeramkan yang gak pantas hadir di bumi ini. Facebook membuktikan hal itu. Coba deh cari gerakan 1.000.000 orang Facebooker menolak UN, niscaya akan muncul banyak group-group bermunculan. Kesimpulannya, gak bakal ada satu group pun yang bakal mencapai 1 juta orang. Lagian istilah dari mana sih Facebooker? Terdengar sepert sejenis sekte sesat. Apalagi kalo 'O'-nya dikurangin satu. Faceboker. Muka e'e.

Adanya banyak gerakan di Facebook itu, ditambah dengan banyaknya demo menolak UN sebelomnya, membuat gue berpikir. Apakah UN se-horor itu? Atau emang anak-anak jaman sekarang aja yang takut diuji? Setau gue, UN udah diadakan dari dulu dengan nama yang berbeda-beda. Mulai dari EBTANAS sampe UAN. Sedari dulu, setahu gue juga, belom ada yang protes tentang ujian itu. Gue jadi curiga, jangan-jangan yang protes itu gak mewakili aspirasi semua anak SMA. Itu cuma sebagian kecil anak SMA penakut yang gak berani untuk diuji dengan orangtua yang sama takutnya. Maybe. Mungkin juga enggak.

Pada saat UN dulu, gue sama sekali gak kepikiran untuk demo. Protes. Menggerutu gak akan menyelesaikan masalah. Yang ada di pikiran gue cuma belajar sampe muak. Kebetulan gue juga udah ikutan les di NF, tinggal dimanfaatkan secara maksimal. Gue sendiri udah les di NF sejak kelas 2 SMP, sejak NF-nya masih di Cempaka Putih. Mengingat NF, mengingat juga masa jahiliyah gue disana yang membuat gue merasa berdosa sampe sekarang.

Seringkali gue bolos pas NF. Sebagai anak sekolah, gue gak menghargai hasil jerih payah yang dikeluarkan orangtua gue untuk membuat gue menjadi lebih pintar. Alesan gue bolos sebenarnya simple, gue benci pelajaran IPA. Terutama Fisika. Pendalaman materi atas pelajaran itu cuma berhasil ngebuat kepala gue serasa kebelah dua, jatoh ke jalan, dan dilindes truk pengangkut beras. Kebencian itu sampe berimbas ke guru Fisika-nya.

Kebencian yang amat sangat mendalam itu, membuat guru Fisika terlihat sangat sangat menyebalkan. Wajahnya terlihat seperti sedang mengejek padahal dia sedang mengajar. Rambutnya yang keriting-klimis terlihat seperti tanduk kambing iblis Lucifer. Teguran dia karena gue berisik di kelas -walaupun gue tau itu salah gue- seperti pernyataan perang dari dia ke gue. Kejadian-kejadian itu menyimpukan bahwa : He's my enemy. Gue pun memasang ikat kepala imajiner warna merah ala Rambo.

Kebetulan juga, temen-temen gue disana ikut membenci dia. Padahal gue gak pernah menghasut. Mungkin karena otak kita setipe. Mulai lah kita berembuk berkonspirasi untuk melakukan kejahatan terencana, ngerjain itu guru Fisika. Organized Crime.

Rencana dimulai saat guru itu meninggalkan kelas untuk ke WC. Saat dia keluar kelas, gue dan temen-temen yang sekitar 4 orang ngikutin dia dari belakang. Ternyata dia gak mau ke WC, tapi ke sekretariat dulu yang ada di depan. Layaknya seorang tokoh spionase yang harus terus berada di balik bayangan, kita semua ngumpet di Musholla yang terletak tepat di depan WC. Sebuah keburukan dalam kebaikan. Tapi mau gimana lagi, musholla adalah tempat pengintaian terbaik untuk saat itu. Lampu musholla pun kita matikan untuk membuat keberadaan kita semakin samar.

Saat terdengar suara langkah mendekat dari luar,. Kemudian, di balik kegelapan Musholla, kita mengintip. Guru itu udah masuk ke dalem WC. Dalam hati gue tereak, "AHA!". Tau deh dalam hati yang lain. Seperti mafia yang mau berangkat berperang, kita semua bergerak ke depan WC. WC itu terletak di bawah tangga, tempatnya sempit dan tak ada ventilasi disana. Sumber penerangan satu-satunya cuma bohlam kuning kecil yang saklarnya terletak diluar. Garis bawahi dua kata terakhir. Terletak di luar.

Kalau aja kejadian ini direkam, muka kita akan terlihat licik, jahat, iseng, dan sedikit brengsek. Kita adalah para begundal nakal yang binal. Mata kita semua tertuju pada dua benda. Benda pertama adalah saklar lampu berwarna hitam. Kedua adalah grendel pintu yang juga terletak di luar. Secepat kilat kita geser grendel pintu menjadi terkunci dan saklar lampu diubah dari posisi ON menjadi OFF. Sebuah kejahatan sempurna. Apa lagi yang ditakutkan selain terkunci di tempat sempit yang sangat gelap, saat sedang buang aer? Semoga aja dia cuma lagi pipis. Kalo lagi boker, itu adalah sebuah kejahatan berganda.

Setelah itu. Kita lari ke atas. Menuju kelas.

"WOYYYY SAPA YANG MATIIN LAMPU DAN KONCI PINTUUU....!!!!", kata guru malang itu sambil gedor-gedor pintu. Gue dan teman-teman penjahat udah pada ke atas, sambil cekikikan ketawa-ketawa. Puas. Seperti menang perang atas musuh abadi. Akhirnya gue tau gimana rasanya jadi Presiden Amerika saat memenangi Perang Dunia Ke-II. Anak-anak yang lain pada bingung begitu kita masuk langsung berisik ketawa-ketawa heboh di belakang.

Belum sempet mereka nanya ada apa, pintu kelas langsung terbuka tiba-tiba. Guru Fisika itu muncul dengan muka merah terbakar amarah, pucat, rambut lecek, dan baju ikutan lecek. Berdua dengan orang sekretariat yang sepertinya menolong dia dari ruang kegelapan itu.

"Siapa yang ngunciin saya di kamar mandi!!??"

Terus terang, gue pengen ketawa ngakak guling-gulingan di lantai sampai lantainya jebol. Tapi pada saat ini gue gak boleh melakukan itu. Bisa-bisa gue diracun pake sampah serutan pensil, atau ditanduk dengan rambut-tanduk-domba nya itu.

Ditanya kayak gitu, tentu aja gak ada yang mau ngaku. Hey, kalo semua penjahat ngaku, penjara bisa penuh dan negara bangkrut. Gue dan teman-teman memilih diam. Guru Fisika itu pun terlalu baik, gak mau menuduh siapa-siapa. Mungkin karena lingkungan Islami di NF membuat dia dilarang untung Suhudzon dengan orang lain. Setelah bertanya, dia keluar sebentar, kemudian balik lagi dengan pakaian dan rambut yang sudah rapi.

Pada saat itu, secara sembunyi gue tos-tosan dengan teman gue. Tapi kalo dipikir-pikir lagi sekarang, perbuatan itu sangat keji untuk guru sebaik itu. Gimana enggak. Setelah dikerjain kayak gitu dia bukannya berhenti ngajar atau ngajar sambil marah-marah, dia malah keluar sejenak hanya untuk bersih-bersih dan kembali mengajar. Mengajar anak-anak yang kemungkinan udah ngerjain dia. Bukan kemungkinan lagi. Tapi emang ngerjain dia.

Saya mohon maaf pak. Itu masa labil.

Dosa terbesar lain juga adalah gue gagal masuk IPA. Pada saat itu gue digadang-gadang untuk masuk IPA sampe diikutin les sama orangtua gue. Tapi apa yang gue lakukan sangat jauh dari eskpektasi yang ada. Gue banyak cabut dan gak serius saat disana. Kalo gak ke warnet atau ngobrol, gue tidur di dalem kelas. Sesekali gue juga pergi maen bola, studio band, atau sekedar main ke rumah temen. Pada akhirnya gue masuk IPS dan penyesalan yang gue alami adalah karena gue udah ngebuang-buang hasil jerih payah orangtua gue bekerja sepanjang hari. Masuk IPS pun mungkin emang takdir gue. Dari situ juga lah gambaran impian gue saat SMA dulu menjadi suatu hal yang nyata. Gue bisa kuliah di Universitas Indonesia. Suatu impian yang pada saat ini menjadi mimpi buruk karena tak kunjung lulus.

Penyesalan memang selalu datang terlambat, tetapi jangan sampai lupa ambil hikmah di dalamnya.

Kembali ke UN, gue dengan bangga bilang kalo gue sama sekali gak berpikir buat nyontek. Ujian idup-mati kayak gitu, masak gue ngegantungin nyawa gue ke orang lain? Berpikir sendiri dan kerja keras kayaknya jawaban yang lebih tepat.

Tapi bukan berarti gue gak pernah nyontek. Untuk ujian-ujian yang sifatnya rutinitas, prinsip 'Posisi menentukan prestasi' sangat gue terapkan. Segala macem cara nyontek udah gue pelajarin, mungkin gue bisa menulis Kitab Suci Untuk Sang Pencontek. Tapi ujung-ujungnya, gue juga bisa menyimpulkan belajar lebih efektif ketimbang nyontek kok. Terbukti pada saat ini, saat gue kuliah tanpa teman-teman seangkatan lagi. Lagian kalo nyontek tanpa belajar, sama aja dongo kuadrat.

Gue juga mengakui kalo gue pernah nemenin temen gue keliling Jakarta untuk beli soal. Damn. Harganya sangat beragam, mulai dari 500 rebu sampe 5 juta. Pada akhirnya gue bilang ke temen gue, "Lo yakin itu bakal keluar?" Sebuah pertanyaan yang membuat dia mengurungkan niat membuang uang dengan risiko tertipu mentah-mentah. Toh, pada akhirnya kita semua lulus dengan hasil memuaskan.

Semangat untuk anak-anak yang mau UN! Be your best, not just anybody's best!


4 komentar:

ijjal mengatakan...

walah dari UN ..jadi ke curhat masa lalu..
hehe..untung gak masuk BP ya? ckck

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@ijjal : gak ketangkep soalnya. hahaa

Ipah mengatakan...

kekekee.. keren..

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@ipah : thankss...!! :D