Sabtu, Desember 18, 2010

Batu Pertama

Terhitung 20 tahun sudah sejak terakhir kali gue menulis. Rambut dan jenggot sudah beruban, kulit keriput jarang disetrika, dan tulang-tulang terancam osteoporosis. Teman-teman, itu lah yang dinamakan lebay. Bahasa gaul untuk kosakata 'Berlebihan'. Gue udah cukup lama gak nulis, tapi gak sampe 20 tahun. Ya kira-kira 12 1/4 lah.

Ketidak-pernahan gue menulis disebabkan oleh masuknya gue ke dunia baru. Dunia pekerjaan. Suatu tempat dimana seluruh pengetahuan akademis gue mendapatkan tantangan dari sisi praktis. Gue harus mengimplementasikan teori-teori yang udah gue pelajari ke dalam suatu tindakan konkrit, konkret, dan kroket.

"Selamat datang di dunia kerja," batin gue saat diterima kerja di sebuah stasiun TV swasta yang identik dengan seragam item-itemnya. Di tempat ini, gue dikasih kesempatan untuk belajar, mendapat lebih banyak ilmu, dan menjadi profesional. Dan di tempat ini juga, tidak ada internet. Oleh karena itu, gue sama sekali gak sempet nulis apapun.

Pada saat itu tanggal 29 November. Hari Senen, kalau gak salah, gue mulai masuk ke bilik yang bakal menjadi tempat gue ngejogrok sampai entah kapan. Gue dapet komputer jaman batu. Komputer bekas zaman Megalithikum yang dipake sama Pitechantropus Erectus. Disaat komputer sekarang didominasi warna hitam dengan pose vertikal tegak ke atas, komputer ini masih saja berwarna krem dengan pose horizontal. Ampun.

Mengikuti mayoritas orang tua jompo yang sudah pikun, komputer ini seperti tidak mau kalah dengan manusia. Seringkali saat dipake kerja dia mendadak diem di tempat. Entah ngambek atau lagi mikir. Malah kadang-kadang dia mati sendiri, restart ulang. Mungkin komputer ini bekas dipake pom bensin, yang harus memulai segala sesuatu dari nol. Kalau peristiwa itu terjadi, pose andalan gue adalah ngejambak rambut sendiri sambil tereak, "AAAAAAAAAAAAAAAAAAA..."

Selain kenalan dengan komputernya -sesepuh dari segala komputer di dunia-, tentu aja gue harus kenalan sama orang-orang yang ada di sekitar gue satu demi satu. Sambil ditemani seorang senior, gue keliling lantai 6, tempat dimana gue bekerja. Berbekal model muka cengar cengir ala kuda tetanus plus kata perkenalan standar, "Kenalin, Mirzal, anak Pajak baru..." gue nemuin semua orang yang ada disana.

Dan walaupun mulut gue sedikit berbusa gara-gara kenalan sama sekian puluh orang, tetep aja gue gak afal nama dan muka mereka. Gak apa-apa, yang penting gue gak lupa sikat gigi #gaknyambung.

Setelah selesai kenalan sama komputer dan orang-orang yang bakal bekerja sama dengan gue ke depannya, agenda gue selanjutnya adalah perkenalan dengan pekerjaan yang bakal gue hadapi entar. Ini adalah agenda yang paling penting.

Dengan menggunakan komputer keluaran pertama yang diciptakan oleh manusia nomaden dengan memakai kapak perimbas, gue dijelasin tentang detil pekerjaannya. Tugas gue adalah meng-handle seluruh pajak penghasilan. Terutama pajak penghasilan artis-artis ibukota yang bisa gue liat di layar kaca. Walhasil, gue jadi tau kalau nama asli Komeng adalah Alfiansyah dan Wildan Delta adalah nama Kiwil sebenarnya.

Proses pengajaran gue berlangsung +/- 4 jam. Kepala gue diisi semua pengetahuan, tata cara, dan proses yang diketahui oleh senior gue. Dan berhubung dia udah mau resign mau gak mau gue harus segera menguasai seluruh ilmu yang dia warisin. Otak gue yang lebarnya sejengkal dimasukki berbagai macam ilmu dalam tempo yang relatif singkat. Kalau aja isi kepala gue bisa di X-Ray, kontur otak gue bakal lempeng, gak kriting, dan belahannya udah bukan di tengah, tapi di pinggir kayak rambutnya Hitler.

Menjelang malam, saat gue udah bisa pulang, otak terasa beku. Segala pengetahuan yang didapet tadi harus segera dicairkan biar bisa meresap di otak. Capek, iya, tapi gue merasa tertantang. Ini adalah lembaran baru dalam hidup gue. Ibarat pembangunan gedung bertingkat, fase yang sedang gue alami ini adalah sebuah proses peletakan batu pertama. Apakah batu kecil itu bisa berkembang menjadi gedung yang tinggi dan menjulang?

Harapan tetap ada, ujung pelangi menunggu disana, saatnya bangun dan mengejarnya.


2 komentar:

Belly Surya Candra Orsa mengatakan...

Great Blog..!!!! Keep Blogging.... : )

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

Terima kasih sudah membaca!! ^_^