Kamis, April 12, 2012

Belalang

Ilmu itu seperti lautan. Sebanyak apapun gue mengambilnya, ilmu tidak akan pernah ada habisnya. Di usia muda, saat daya tangkap gue masih tokcer dan waktu masih cukup banyak tersedia, gue memutuskan untuk menambah kompetensi, melanjutkan kuliah ke strata 2.

Proses pencarian universitas yang kredibel dan bisa (bayar) kredit dimulai. Ada universitas yang dibilang nomer satu di Indonesia, tapi biaya kuliahnya selangit. Gak kuat. Ada juga universitas yang memperlakukan kuliah seperti kursus jahit menjahit, 6 bulan bisa dapet gelar, lewat dari waktunya-uang kembali. Usut punya usut, dengar mendengar, dan maaaf memaafkan, pilihan gue jatuh ke Universitas Trisakti (UT). Dari segi biaya tidak terlalu menguras kantong, syarat-syarat yang tidak ribet, dan jadwal kuliah fleksibel.

Untuk bisa masuk ke UT, gue harus menjalani beberapa macam tes terlebih dahulu. Mulai dari tes tertulis Bahasa Inggris, Ekonomi, Matematika, Statistika, dll. sampai dengan tes wawancara dengan dosen. Sialnya, gue gak lulus tes Matematika sehingga diwajibkan untuk ikut kelas matrikulasi, semacam kelas pendalaman untuk orang-orang yang nilai-nya masih kurang.

Sebenernya tes-nya gak begitu susah, statistika aja gue bisa lolos dengan sukses. Padahal pas ngambil kuliah statistika dulu, pengetahuan gue cuma mean, median, modus, dan melirik jawaban teman. Khusus matematika, ada satu soal yang menimbulkan rasa greget di hati sanubari birahi. Soal-nya seperti :

Saat istirahat sekolah, Amir mendorong tembok. Apa yang dirasakan Amir?

Tentu saja pertanyaan ini menggelitik rasa kemanusiaan gue. Normalnya, seorang anak yang istirahat sekolah itu biasanya jajan ke kantin, maen gerobak sodor, atau bercengkrama dengan teman-temannya yang lain. Tapi lihat apa yang dilakukan Amir? Dia mendorong tembok. Sendirian.

"Tembok, cuma kamu yang mau dengerin aku..."


Analisis gue, Amir adalah seorang anak yang selalu di bully di sekolahnya. Celananya dipelorotin, duitnya dipalakin, dan disuruh ngangkatin tas. Tidak ada satu orang pun yang berani berteman dengannya, karena takut menjadi sasaran bullying anak-anak lain. Dia hanya bersosialisasi dengan benda mati dan menganggap tembok sebagai teman baiknya. Menurut gue perasaan Amir : Tercabik-cabik. Lihat betapa sedihnya wajah si Amir. Dia adalah anak yang butuh pertolongan, bukan dibikinin soal.

Soal tes masuk UT mirip-mirip dengan pemaparan di atas, bentuknya kurang lebih seperti ini :

Ada 5 orang : Rudi-Andi-Susi-Jaelani-Nisa

Mereka ingin memarkirkan mobil mereka, dengan syarat :
* Susi tidak mau di sebelah Nisa
* Jaelani hanya mau parkir di urutan ke-3
* Andi hanya mau parkir di sebelah Susi
* Rudi mau dimana saja, asal bukan di akhir
* Nisa hanya mau di urutan pertama dan tidak mau di sebelah Andi atau Susi

Ini menggambarkan sebuah hubungan persahabatan yang sangat tidak harmonis. Terjadi keretakan dan friksi di antara mereka. Andi dulu pernah pacaran dengan Nisa tetapi selingkuh dengan Susi. Jaelani seorang paranoid, selalu mau terlindungi oleh orang lain. Rudi merupakan orang ambisius yang tidak ingin menjadi yang terakhir dalam kondisi apapun, dimanapun, kapanpun.

Kemudian saat susunan parkir tertata rapi dan sesuai dengan keinginan masing-masing, tiba-tiba Nisa mau deket-deket sama Rudi, Susi selingkuh sama Jaelani dan mereka berdua gak mau deket-deket Andi, sedangkan Rudi pusing dengan cekcok yang terjadi sehingga dia cuma mau di paling akhir. Pelik sekali permasalahan mereka.

Kalau saja gue jadi tukang parkir yang disuruh menghadapi keadaan seperti itu, gue bakal berangkat ke Korea Utara, beli bom nuklir, naikin ke pesawat B2 Stealth Bomber, dan menjatuhkan bom tersebut tepat di muka mereka tepat setelah gue berteriak, “LO MAMAM INI BOM!” Niscaya dunia akan kembali aman, tentram, dan damai.

Dan dunia pun kembali tersenyum

Saat imajinasi gue mengutuk kelima orang tersebut, waktu semakin habis dan kandas. Masih banyak soal-soal lain yang belum terjawab dengan baik. Pada akhirnya gue bisa mengandalkan jurus rahasia yang telah lama tak terpakai. Jurus yang sangat efektif bila dipakai saat menghadapi soal-soal pilihan berganda. Jurus yang mengantarkan saya masuk SMA 68 dan Administrasi Fiskal. Mantra dari jurus tersebut adalah :

Cap cip cup gerabang kuncup
Kuda lari di atas genteng
Mak lampir pake baju rombeng
Cap cip cup

Hasilnya, gue harus ikut kelas matrikulasi Matematika. Jelas. Karena hampir 80% jawaban soal didapat dari jurus rahasia yang telah diwariskan secara turun temurun oleh penduduk sekitar Gunung Nancep tersebut. Imbasnya, gue harus merogoh kocek sedikit lebih banyak dan harus berkorban waktu 1 bulan untuk mengikuti kelas matrikulasi.

***
Gue dateng telat saat hari pertama kelas matrikulasi. Sialnya, saat baru sampai di kelas sehabis lari-larian naik busway dan masih dalam tahap mengatur napas, dosen pengajar sudah nanya, “(a-b)(a-b)(a-b) berapa?”

Respon maksimal yang bisa diberikan saat keadaan itu hanyalah,”Eeehhh...”

Tanpa rasa iba, tenggang rasa, dan gotong royong, dosen mencecar pertanyaan selanjutnya, “SMP kemana aja? Kalau segitiga Pascal tau?”

Otak gue sudah berteriak-teriak, “Mantan bek Arsenal!” Tapi tentu saja bukan itu jawaban yang diinginkan dosen. Pertama, ini bukan kelas Penjaskes. Kedua, setau gue Pascal Cygan enggak pernah nerbitin buku matematika apapun, walaupun kepalanya botak. Ketiga, pandangan dosen yang intimidatif membuat gue kembali bersuara, “Eeehhhh...”

“Makanya kamu ikut matrikulasi,” kata Bapak dosen sambil ngeloyor pergi. Buyar sudah niat gue menjadi seseorang yang berwibawa di tempat yang baru. Kalau begini caranya, sama padang sama belalang namanya. Tidak apa-apa, penampilan boleh sama tapi tidak dengan kemampuan. Semoga bisa menjadi belalang yang dapat meloncat lebih tinggi dari belalang-belalang lainnya.

Semoga keputusan yang diambil ini akan jadi fondasi yang kokoh untuk kehidupan di masa mendatang.



7 komentar:

ika hardy mengatakan...

keren!!!
good luck buat semua rencananya! ;-)

*salam buat Amir dan para boy-slash-girl band di soal parkir mobil* :D

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@ika :

Thanks yaa!!

Maximum mengatakan...

iya benar om,, ilmu itu tidak akan pernah mati dan tidak akan pernah habis om,, ilmu itu berumur panjang sampai dunia ini sirna pun.. hehe,, :)

Outbound Training Malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

Outbound Training Malang mengatakan...

salam sukses gan, bagi2 motivasi .,
Hargailah hari kemarin,mimpikanlah hari esok, tetapi hiduplah untuk hari ini.,
ditunggu kunjungan baliknya gan .,.

Belajar Forex mengatakan...

Ikut menyimak artikelnya gan :-)

Salam,

Iklan Baris Tanpa Daftar mengatakan...

Ikut menyimak artikelnya gan :-)

Salam,