Rabu, Agustus 01, 2012

Review Batman : The Dark Knight Rises

Hari Sabtu kemarin akhirnya gue kesampean juga nonton The Dark Knight Rises (TDKR) di Setiabudi One. Sebuah film yang sangat ditunggu-tunggu, mengingat sukses film sebelumnya, The Dark Knight (TDK), yang mengusung Joker sebagai musuh Batman. Karakter Joker bahkan bisa dibilang lebih kuat dibandingkan Batman itu sendiri. Prinsip, pemikiran, dan kegilaan dia dijelaskan dengan detil, sampai-sampai terjadi tragedi penembakan pada pemutaran perdana TDKR di Colorado yang pelakunya diduga dipengaruhi oleh karakter Joker dan berusaha menampilkan tokoh tersebut di dunia nyata.

Tentu saja dengan kualitas film pendahulu dan fakta bahwa sekuel tetap digawangi Christoper Nolan, ekspektasi gue akan TDKR sangat tinggi. Apalagi kalau dilihat dari trailer maupun teaser yang keluar, sepertinya film TDKR dapat menjadi sebuah penutup yang kolosal untuk franchise Batman versi Nolan.

Sebagai penikmat film, gue mau mencoba menulis review seadanya tentang TDKR. Dipandang dari seberapa terbiusnya gue saat menonton film tersebut tanpa muncul pertanyaan-pertanyaan dan pikiran yang mengganggu saat menonton film. Untuk kualitas, sudut pengambilan, atau hal-hal sinematografi lainnya, gue serahkan pada ahli-ahli dunia perfilman untuk mengkritisi hal tersebut.

README:

Disclaimer :
Review ini sarat spoiler. Jadi untuk yang belum nonton film ini diharapkan jangan dulu membaca agar uang yang dikeluarkan untuk nonton di bioskop, bandwith yang dipakai untuk download, atau duit yang dipakai untuk beli DVD bajakan, tidak terbuang sia-sia.


TDKR mengusung Bane sebagai musuhnya, karakter yang pertama kali muncul pada komik Batman : Vengeance Of Bane #1 yang dirilis pada Januari 1993. Sebelum di TDKR, Bane juga pernah muncul pada Batman & Robin (1997) sebagai anak buah Mr. Freeze. Bane pada film tersebut digambarkan hanya berfungsi sebagai senjata tidak berotak dengan mengandalkan fisik yang besar (segede gunung Merbabu) dan kekuatan yang melebihi kuli belerang Kawah Ijen.

Pada film TDKR, Bane berperan sebagai otak kejahatan yang berusaha menghancurkan Gotham dari bawah tanah, memanfaatkan hilangnya Batman yang telah menjadi musuh publik #1 karena dituduh sebagai pembunuh Harvey Dent (lihat TDK). Rencana dimulai saat Dagget, yang dimanfaatkan Bane sebagai sumber dana, memerintahkan Catwoman yang sexy, cakep, semlohei, bohai, suit suitt wohooo.... ups, maafkan saya karena hilang kontrol, untuk mengambil sidik jari Bruce Wayne.


Puasa dilarang masuk:

sedikit intermezzo


Pergerakan Bane dimulai setelah sidik jari tersebut didapat. Dia mengacak-acak Wall Street, melakukan transaksi-entah-apalah-itu yang pada intinya membuat Bruce Wayne bangkrut dengan memanfaatkan sidik jari yang telah didapat sebelumnya. Pada saat mau kabur, tiba-tiba Batman mendadak muncul dari sarangnya, menggunakan motor canggih yang menjadi trendsetter penggunaan ban besar pada motor bebek di Indonesia.

Singkat kata karena Batman muncul, polisi-nya jadi galau. Yang tadinya ngejar Bane malah jadinya ngejar Batman. Padahal udah jelas Bane sedang berusaha kabur setelah ngacak-acak Wall Street. Tampaknya pemikiran Polisi Gotham begitu bodoh sehingga semua polisi dipakai untuk mengejar Batman tanpa mempedulikan suatu kejahatan yang sedang berlansung. Bane akhirnya bisa melenggang cantik, kabur menuju tempat persembunyiannya.

Skip, skip, skip, Batman berhasil dijebak Bane dan digebukin sampai topengnya hancur berantakan. Setelah itu, cara eksekusi Bane untuk Batman terlihat sangat aneh. Ketimbang langsung membunuh Batman, dia lebih memilih mengasingkan Batman di penjara tempat dia dulu dengan sel yang tidak dikunci, rute kabur yang jelas, dan seorang dokter ahli tulang. Motif Bane menempatkan Batman disini tidak jelas, apakah mau mengasingkan atau justru melatih Batman.

Saat Batman / Bruce Wayne diasingkan di penjara-entah-dimana itu, Bane sukses mengobrak-abrik kota Gotham. Yang pasti, sebelum mengobrak-abrik dia sempat narsis dulu mejeng di stadion Football sama di depan penjara. Ngebacot mau mengembalikan pemerintahan di tangan rakyat. Well, sebuah orasi yang tidak sesuai karena pada akhirnya Bane juga yang berkuasa, bukan rakyat. Semua polisi dijebak di dalam gorong-gorong. Yang gue maksud semua itu... SEMUA polisi satu kota ada di dalam gorong-gorong. Jenius. Adalagi pengadilan rakyat yang dipimpin Scarecrow. Hmm. Intinya Bane ini mau bikin Gotham tanpa hukum atau menciptakan hukum sendiri? Entahlah.

Selain membuat kacau Gotham, Bane juga merebut senjata-senjata Batman. Batmobile versi tank yang ada di Batman Begins sampai TDK direbut dan dipakai sebagai mobil patroli kota. Yang mengejutkan, penduduk Gotham tidak sadar juga kalau Bruce Wayne adalah Batman, padahal itu mobil jelas-jelas yang dipakai dia saat ngelawan Joker ataupun Scarecrow. Bahkan komisaris Gordon yang ikut bertempur bareng Batman tidak sadar. Yah, ini menggambarkan tingkat intelegensi polisi Gotham yang semuanya terjebak di dalam gorong-gorong. Komisaris nya aja begitu, apalagi anak buahnya.

Apa kabar si Batman? Ternyata dia semakin kuat di penjara, baik secara fisik maupun mental. Tentu saja begitu sudah siap, dia langsung ngacir keluar dari penjara. Cara keluarnya juga udah dikasih tau sama Bane, tinggal manjat dinding yang bentuknya melingkar seperti sumur. Hap hap hap, Bruce Wayne pun keluar. Dan hap hap hap, sudah sampai Gotham. Naik apa? Mungkin dia bertemu Doraemon dan meminjam Pintu Kemana Saja. Mungkin juga dia ketemu Superman dan minta dianterin. Mungkin juga... Ah, terlalu banyak kemungkinan itu. Namanya juga orang kaya.

Begitu sampai Gotham, Batman mulai beraksi. Tentu saja sebelum meringkus Bane, dia harus mengumumkan keadatangannya. Itu lebih seru dibanding dateng diam-diam dan langsung menjinakkan bom yang diaktifkan Bane untuk menghancurkan seisi kota Gotham. Logika menarik untuk seseorang yang (biasanya) beraksi di kegelapan. Canggihnya lagi, setelah memanjat dinding penjara dan berangkat ke kota Gotham, Batman sempet-sempetnya ngolesin bensin, minyak tanah, atau apapun cairan yang mudah terbakar ke sebuah gedung. Membentuk lambang Batman dari api, segede Nunung Srimulat.

Puas pamer lambang, Batman lanjut ke kota dan berantem ala anak STM dengan Bane. Disinilah semuanya terkuak. Ternyata Bane cuma alat. Semua rencana-rencana itu bukan dia yang bikin. Itu dibikin oleh anak cewek nya Ras Al Ghul dan Bane rela melakukan itu semua karena dia cinta sama dia. Bah! Ibarat dijebak nonton Twilight.

Dari semua kelebihan dan kekurangan, figur penjahat itu lah yang terlihat paling mengganggu. Seorang pria yang digambarkan kuat, tangguh, dan kejam ternyata seseorang yang lemah lembut yang rela melakukan apa saja untuk pujaan hati-nya. Atau mungkin juga dia kurang beruntung karena hadir setelah Joker, yang berbuat kejahatan hanya karena dia senang keadaan chaos, tanpa dipengaruhi ideologi apapun dan dikendalikan oleh siapapun. Joker juga tidak berniat membunuh Batman karena, "Too much fun to die."

Yah, mungkin salah gue juga menetapkan standar lebih untuk film Nolan yang satu ini. Seharusnya sebelum nonton gue cukup menetapkan standar film action Jason Statham dan berkata, "Why so serious?"


1 komentar:

unikgaul.com mengatakan...

mantap bos artikelnya, senang baca baca di sini. salam kenal ya,. :D