Minggu, September 28, 2014

Papandayan Punya Cerita

Tahun ini gue tidak bisa melaksanakan tradisi untuk membuat postingan setiap tanggal 7 Agustus. Setiap hari gue bangun jam 8 pagi (setengah siang), sampai kantor jam 10, dan kembali ke rumah sekitar jam 11 malam. Keinginan menulis sebenarnya ada namun otak sudah mengaktifkan fitur mode automatic shutdown dan niat menulis hanya tinggal menjadi kenangan.

Hari ini kebetulan gue bisa cabut kantor lebih cepat. Sebuah bbm dari dosen pembimbing memaksa gue untuk hadir di kampus tercinta untuk pengarahan sidang thesis. Ya, luar biasa. Thesis saya sudah selesai. Thesis yang pada akhirnya dikebut selama 11 hari, di bulan Ramadhan, dan mengakibatkan jidat bersisik karena kurang tidur. Pada saat tenang seperti ini akhirnya gue bisa bermesraan otak dan bermain dengan imajinasi, mencurahkan segala pengalaman dan imaji dalam satu tulisan sederhana.

Akhir-akhir ini gue lagi merintis hobi baru. Yah, dibilang merintis juga bukan. Mungkin kata mengembangkan lebih tepat dipakai dalam konteks ini. Pada dasarnya, gue menyenangi travelling.  Setiap tahun gue selalu memaksakan diri untuk mengunjungi, melihat, dan merasakan daerah yang belum pernah didatangi sebelumnya. Minimal satu tempat setahun.

Selama ini gue selalu mengunjungi tempat yang tidak butuh effort lebih untuk mencapainya, dalam artian gue tidak perlu bersusah payah secara fisik untuk dapat menikmatinya. Tempat seperti Yogyakarta, Sawarna, Kiluan, Pangandaran, dsb. relatif tidak membutuhkan aktivitas fisik berlebih untuk mencapainya. Gue cukup datang memakai kaos dan celana pendek, berlari-lari di pantai atau merambah ke tengah laut untuk snorkeling, walaupun pada akhirnya dasar laut menjadi buram karena pemandangan indah bawah laut tersebut tidak fasih diterjemahkan oleh mata minus gue.

Hobi baru yang gue rintis adalah hiking, mendaki gunung-gunung dan mencoba bermesraan dengan alam. Kesukaan ini bermula dari perjalanan gue ke Gunung Gede, sebuah perjalanan yang sangat menguras fisik dan mental. Perjalanan menanjak selama +/- 7 jam yang mengurangi nafas gue sampai 1/4.  Pikiran gue selalu saja mengeluh dan berteriak berteriak, "Lo ngapain sih disini begok!? Tuh liat tanjakan gak ada ujungnya!" 

Tapi walaupun Pikiran boleh ngamuk dan fisik boleh ancur-ancuran, sesampainya ke atas segala rasa capek, lelah, dan kelu lenyap dibawa sejuknya angin. Pemandangan indah menghipnotis mata dan gue merasa lebih akrab dengan alam. Walaupun pada saat turun dari Gede gue sempat bertitah untuk tidak naik gunung lagi, pada akhirnya gue kambali rindu bercengkrama dengan alam. Oleh karena itu, pada tanggal 9 Agustus 2014, gue menerima ajakan teman untuk pergi ke Gunung Papandayan yang terletak di Garut.

***

Perjalanan ke Gunung Papandayan dimulai dari terminal Guntur, Garut. Bus Prima Jasa seharga Rp 42.000,- menjadi pilihan kita untuk mencapai terminal tersebut. Jam 0200 kita sampai di terminal dan kita tidak bisa langsung berangkat ke Papandayan karena sudah tidak ada angkot-angkot ke arah sana. Oleh karena itu kita berkunjung dulu di basecamp yang terletak di gang kecil depan terminal. Teman gue, yang pada perjalanan ini mengajak teman ceweknya, sempat gelagapan saat diajak ngobrol penjaga basecamp.

"A, bukannya 2 bulan yang lalu pernah ke sini? Tapi sama cewek yang lain ya kalo gak salah?" tanya penjaga basecamp.

"Kang, udah pada rame yang ke Papandayan?" sahut dia. Tidak nyambung. Mengalihkan pembicaraan. Ketangkap basah.

Sekitar jam 0800 kita bergerak dari basecamp dan mencari angkot yang mengarah ke Papandayan. Melalui mekanisme tawar menawar dengan bahasa Sunda (yang terdengar seperti desingan peluru di kuping gue), sopir angkot sepakat mengantarkan kita dengan harga Rp 15.000,- /orang.

Moda transportasi publik Indonesia terbukti masih amat sangat terlalu ngaco. Walaupun kita sudah deal harga dengan angkot, tapi dia tetap nongkrong rapi di terminal. Seakan-akan tidak ada penumpang dan waktu seolah murah baginya. Setelah sekitar 30 menit menunggu, kita langsung marah-marah ke supir. Bukannya langsung jalan, dia malah meminta ongkos menjadi Rp 20.000,- /orang kalo mau langsung jalan. Abang angkot itu boleh ngancam, tapi tentu saja posisi kita lebih kuat. Kita balik mengancam untuk pindah ke angkot lainnya dan tentu saja dia kalah. Potensi kehilangan 6 penumpang lebih terasa efeknya.

Kita naik angkot sampai daerah bernama Cisurupan. Kedatangan kita disambut oleh mobil pick-up, pangkalan ojek, dan sebuah mesijid yang dilatarbelakangi Gunung Papandayan. Sebuah keindahan awal menyambut. Untuk menuju Gunung Papandayan, kita dihadapkan pada 2 pilihan : ojek atau pick-up. Bagi yang mendaki Papandayan pada saat weekend atau hari libur lainnya, gue menyarankan naik pick-up. Karena selain sensasi-nya lebih menyenangkan, ongkos juga bisa lebih murah. Tinggal tunggu aja pendaki-pendaki lainnya dan ajak mereka untuk barengan ke basecamp kaki gunung Papandayan (Camp David).

Perjalanan ke basecamp menggunakan pick-up seperti mengendarai Bajaj di planet Mars. Permukaan jalannya tampak jelek dan bolong, tanda pemerintah setempat tidak tanggap dengan potensi wisatanya. Trik nyaman duduk di pick-up adalah dengan meletakkan belahan pantat diantara tonjolan permukaan pick-up (entah namanya apa). Kalau duduk di pinggir, siap-siap pegangan erat kalau tidak mau terpelanting dan bermesraan dengan batu kerikil yang tersebar di sepanjang jalan.

Setelah berguncang-guncang diatas pick-up, akhirnya kita sampai di basecamp Gunung Papandayan. Pada pintu masuk basecamp, kita wajib lapor dan membayar tiket masuk sebesar 5.000 (hari biasa) / 7.500 (hari libur). Bagi yang butuh makan atau minum sebelum mendaki, di basecamp Papandayan terdapat beberapa warung yang menjual bermacam makanan dan minuman dengan harga yang tidak begitu mahal. Selain itu, terdapat juga fasilitas WC Umum dan beberapa warung semi permanen yang menjual peralatan mendaki.







Perjalanan mendaki gue mulai sekitar jam 1200. Trek awal pendakian berupa jalan batu landai yang menyenangkan. Pada 1 jam pendakian awal gue disambut oleh formasi asap belerang yang diapit oleh tebing-tebing tinggi. Semua tersaji indah dan mengagumkan untuk dipandang. Pada trek ini, pendaki harus mempersiapkan masker karena bau asap belerang yang menyengat seperti telur busuk yang ditaro di ketek keringetan. Selain itu, ada potensi bubuk-bubuk belerang masuk dan mengganggu sistem pernapasan.








Jalur kawah dan belerang tersebut berakhir pada sebuah pelataran. Sekedar mengatur nafas, gue beristirahat sejenak di warung yang berada di pelataran tersebut. Ngobrol-ngobrol dengan si abang-penjaga-warung, dia menyarankan kita untuk melalui jalur yang terletak di sebelah kanan warung. Menurut dia, sebenarnya di balik warung ada jalur yang langsung menuju daerah hutan mati. Namun karena kondisi jalur yang gampang longsor dan cukup beresiko, kita disarankan untuk lewat jalur lain yang lebih aman, walaupun sedikit memutar.



Selesai ngobrol-ngobrol, istirahat, dan foto-foto, kita melanjutkan perjalanan. Kontur jalur didominasi tanah dengan tingkat kemiringan yang tidak terlampau tinggi. Kondisi jalur Papandayan yang cenderung tidak terlalu menanjak ini sering dimanfaatkan orang untuk melakukan Trail Running. Beberapa kali kami berpapasan dengan orang yang lagi Trail Running. Biasanya mereka cuma pake kaos, celana pendek, tas kecil, dan sepatu Trail Running. Tidak ada peralatan berat yang mereka bawa karena pada dasarnya mereka jogging, namun di jalur yang lebih kompleks.



Setelah berjalan sekitar 2-3 jam, kita sampai di camping ground yang dinamakan Pondok Salada. Suasana camping ground lebih menyerupai pasar malam, imbas dari banyaknya orang yang mendirikan tenda. Untuk ukuran wisata alam, Pondok Salada memiliki fasilitas yang cukup lengkap. Di tempat ini kita bisa menemukan mata air yang selalu mengalir deras, WC Umum (walaupun antriannya semacam pembagian sembako oleh Ibu Camat), warung kopi-mie-gorengan, abang tukang bakso, dan abang tahu. 

Kita sendiri baru dapet tempat di pojokan Pondok Salada, bersebelahan dengan rombongan pendaki dari Bintaro dan dekat semak-semak yang bisa difungsikan sebagai WC Umum. Selesai mendirikan tenda dan mempersiapkan area camp, akhirnya kita bisa bersantai ria.

Kondisi hari yang belum terlalu sore (1500) memunculkan semilir angin sejuk nan ramah. Kulit serasa dibelai dan dimanja saat angin mengalir di permukaan. Langit biru yang terlihat malu-malu, bersembunyi di balik awan putih yang lembut dan menambah syahdu suasana. Gue langsung menggelar matras diatas rumput dan merebahkan badan untuk beramah tamah dengan alam.

Saat sore aplusan dengan malam, udara dingin semakin menggigit. Lambat laun suhu yang pada mulanya sejuk dan menyenangkan berubah menjadi dingin dan menusuk. Bermaksud mengurangi dingin, gue berjalan mengelilingi Pondok Salada. Beruntungnya di dekat warung ada yang lagi bikin api unggun, sehingga gue bisa join dan berbagi panas api unggun dengan para pendaki lain yang ikut berkumpul. Hangatnya api unggun mengizinkan gue untuk melupakan dingin dan memandang langit yang bertabur bintang. Amboi, indahnya.


***

Hari kedua di Gunung Papandayan, spot yang kita kejar adalah Tegal Alun. Sebenarnya kebanyakan orang prefer bangun pagi-pagi buta untuk menikmati sunrise di puncak Gunung Papandayan. Namun karena mata terlalu nyaman terpejam dan badan terlalu nikmat dibuai semilir angin dingin, kita baru berangkat ke Tegal Alun sekitar jam 0700.

Jalur menuju Tegal Alun pada awalnya berupa hutan rimbun dengan pohon yang menjulang. Setelah kita menyebrangi got kecil yang berlumpur, kontur jalan berubah menjadi tanah kering berlapis kerikil yang dikelilingi pohon-pohon mati. Daerah ini sering disebut areal Hutan Mati.


Setelah itu, perjalanan mulai menanjak dan didominasi oleh tanah dan berbagai macam pohon dan semak. Sekitar 1 jam perjalanan, kita sudah bisa sampai di Tegal Alun. Namun sebelum sampai di Tegal Alun, kita harus melalui tanah kering dan bebatuan rapuh dengan tingkat kemiringan yang cukup signifikan. Harus ekstra hati-hati untuk memanjatnya.

Tegal Alun merupakan sebuah pelataran luas dengan padang rumput yang terhampar indah. Di ujung Tegal Alun masih terdapat bukit-bukit yang masih bisa didaki lebih lanjut, tapi waktu yang terbatas menghalangi kita untuk bisa mendaki sampai ke ujung. Selesai foto-foto, kita kembali ke areal Hutan Mati.


Pada areal Hutan Mati, kita bergerak ke ujung tebing dan melihat kawah yang terdapat dibawahnya. Kawah tersebut terlihat besar dan gagah dengan kepulan asap tebal seperti kapas. Hamparan hutan mati yang berbaris indah dan berpadu dengan tanah kerikil membuat areal ini terlihat seperti ada di planet lain, memanjakan mata dan menenangkan pikiran.


Pukul 1200 kita udah kembali ke camp dan bersiap-siap packing untuk pulang. Pukul 1400 kita udah siap berjalan kembali. Jalur pulang yang kita pilih beda dengan diawal, kali ini kita lewat jalur yang terdapat di belakang warung pada saat awal pendakian. Jalur yang disebut sering longsor dan cukup berbahaya.

Untuk mencapai jalur tersebut, kita kembali bergerak ke ujung hutan mati, tepatnya di sekitar tebing kawah. Keraguan sempat muncul saat melihat kondisi jalan yang menurun curam. Kondisi jalur berupa kerikil dan batu-batu yang tidak stabil tanpa ada pegangan pohon di pinggirnya. Hal ini memperbesar resiko tergelincir jatuh ke dasar jurang yang menunggu angkuh di depan. Berbekal keyakinan di dalam hati dan tentu saja berdoa kepada Sang Pemilik alam, gue meniti jalur dengan perlahan.

Hanya 1 jam meniti jalur, gue sudah sampai di warung lagi. Sangat benar apabila jalur ini disebut lebih cepat namun dengan resiko yang cukup pantas untuk dipertimbangkan. Alhamdulillah gue bisa meniti jalur dengan selamat dan dapat menceritakannya ke khalayak ramai.

Setelah melewati warung, gue menemukan beberapa pasangan yang asik bermesraan di pinggir tebing. Berpeluk dan berangkulan seakan-akan tidak ada manusia lain di dunia ini. Mungkin prinsip mereka sama dengan orang-orang yang pacaran di jembatan Pasar Rebo. Jika terlibat cekcok, jorokin aja ke bawah. Kemudian pura-pura tidak kenal pasangannya,  bersiul-siul dan memasukkan tangan ke dalam kantong celana. Mungkin mereka pula yang menyusun batu-batu di pelataran jalur sehingga membentuk tulisan-tulisan yang sering ada di dinding WC Umum.






Pada 1600 kita udah sampai di bawah dan langsung bergerak menuju Jakarta. Kembali ke rutinitas yang membelenggu dan kepulan polusi yang menyesak paru-paru. Semoga hobi ini dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan memperbaiki kemampuan fisik maupun mental gue.

Agar dapat semakin kuat dan menjadi Super Saiya.




2 komentar:

Dita Liesdi mengatakan...

Hai ka mirzal, apa kabar?
ga sengaja nyasar kesini, fotonya bagus2 deh. Pake kamera apa kak motonya? :))

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

Wihh, foto nya lagi nyelem.

Gue baik2 saja. Itu kamera pinjeman dil. Canon apaa gitu. SLR pokoknya, saya ndak ngartos.