Rabu, April 02, 2014

The Raid 2 Review



"Pakai tangan... biar greget," sahut Mad Dog yang diperankan oleh Yayan Ruhiyan saat akan menghadapi 2 orang pasukan polisi khusus. Tangannya membuang segala macam senjata yang dia pegang dan menantang kedua orang tersebut bertarung tangan kosong.  Selanjutnya penonton dibuai oleh koreografi pencak silat yang luar biasa cepat, luar biasa brutal, dan luar biasa kompleks. Pada akhirnya Mad Dog menang, mematahkan leher dua orang polisi lawan yang berbadan jauh lebih besar dari dia. Bengis, kejam, dan buas.

Itulah adegan paling memorable (versi gue) pada salah satu film action terbaik yang pernah gue tonton, The Raid. Sebuah film yang sangat menggebrak dan menjadi cetak biru genre film action di Indonesia dan menelurkan film drama action kolosal seperti Azrax Melawan Sindikat Perdagangan Wanita (shooting di Jakarta-Hongkong). Lihat saja di film itu Azrax yang rambutnya gondrong jalan-jalan pake kaos lengan panjang tipis dengan pentil nyeplak plus kacamata hitam yang dibeli kiloan. Lihat betapa macho nya Azrax yang diperankan oleh AA Gatot Brajamusti, seorang guru spiritual yang awalnya dikenal karena kemampuannya menyembunyikan artis ternama di padepokannya dan piawai memainkan nada-nada country ala Fauzi Fauzan, melawan Sindikat Perdagangan Wanita. Berbekal pengalaman : Menyembunyikan wanita.

GILA MACHO BANGET!
AZRAX GEBUKIN ORANG PAKE LAMPU TAMAN! 


OMG OMG!
FILM INI SUTING DI HONGKONG!
PASTI LAKU! PASTII!!

Oke.

Kembali ke The Raid.

Awal tahun 2014, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan munculnya sekuel The Raid yang berjudul The Raid 2 : Berandal. Sederet bintang ternama digandeng untuk main di film kedua ini, mulai dari pemain lama seperti Iko Uwais, Yayan Ruhiyan, Cok Simbara, sampai pemain baru seperti Tio Pakusadewo, Oka Antara, 3-orang-pemain-Jepang-entah-namanya-siapa, err.. Arifin Putra, dan err... Julia Estelle? Well, kredit tambahan untuk dua nama terakhir yang berusaha sangat keras untuk jadi bajingan walaupun secara penampilan mereka lebih cocok bergandengan tangan sambil berputar di Merry-Go-Round.

Film ini mengisahkan Rama (Iko Uwais), seorang pasukan polisi khusus, yang selamat dari perangkap maut seorang gembong kriminal pada The Raid pertama. Rama kemudian dipanggil oleh satuan khusus yang bergerak secara rahasia untuk menyingkap praktek mafia yang meresahkan masyarakat setempat (narasi ala Reportase Investigasi) dan menemukan polisi yang menjadi backing di belakangnya. Kalau ibarat pepatah, Rama berhasil lolos dari mulut buaya tapi terjebak masuk ke mulut harimau yang tiap hari sarapan buaya.

Agar bisa masuk ke dalam organisasi mafia tersebut, Rama dijebloskan ke dalam penjara untuk bisa dekat dengan Uco (Arifin Putra). Uco merupakan anak boss mafia yang dijebloskan ke penjara dengan sebab yang tidak penting untuk diingat. Yang penting untuk diingat, begitu masuk ke penjara Rama langsung digebukin di dalem WC. Puas berantem di WC...bla... bla... bla... Rama kembali berantem di lapangan penjara. Kali ini lebih rame dan sadis. Signature move yang paling gue ingat di arena ini adalah pada saat mata kaki orang-entah-siapa-namanya ditusuk Rama pake gagang sapu. Kemudian kayu yang masih menancap tersebut di seret sampe ke ujung tumit. Edan.

Singkat kata Rama berhasil dekat dengan Uco dan dikenalkan sama Bapaknya (Tyo Pakusadewo) dan masuk ke dalam organisasi mafia. Bla... bla.. bla... Rama ditugasin ke tempat Topan (Epi Kusnandar), seorang produsen film bokep Phedophil, untuk nagih duit keamanan. Seperti sudah ditebak sebelumnya, perkelahian kembali terjadi. Gebak gebuk gebak gebuk, Epi Kusnandar berhasil bonyok kembali oleh tongkat bisbol. Kalau dipikir-pikir kasihan sekali Epi Kusnandar, padahal dia dulu sempat divonis cuma bisa bertahan hidup 4 bulan lagi. Begitu berhasil bertahan hidup dan main film, dia malah digebukin sampe bonyok di The Raid 2 dan dibakar idup-idup di Killers. Malang sekali nasib Epi Kusnandar. Selepas jatuh miskinnya Kertarajasa setelah ketauan menculik Sherina, dia luntang-lantung gak ada kerjaan, sampai akhirnya main film untuk digebukin dan mati.

Kemudian cerita berlanjut ke Boss Mafia yang make kacamata item di ruangan yang minim cahaya, sebuah usaha untuk terlihat keren dan bodoh pada satu waktu yang bersamaan. Dia memerintahkan henchman nya, Prakoso, untuk menghabisi orang-orang yang entah dengan alasan apa layak untuk dihabisi. Berbekal golok raksasa, Prakoso langsung melaksanakan tugasnya. Sebuah pertunjukan pencak silat yang sangat luar biasa diperagakan oleh Yayan Ruhiyan di adegan ini. Dia ibarat versi upgrade dari Jason Vorhees yang jelas sama sekali gak ngerti pencak silat. Gerakan dia menari memainkan golok sangat cepat dan mematikan.


Ini Bukan Gandalf...


Sosok Prakoso ini sebenarnya terkesan dipaksakan. Popularitas Mad Dog pada The Raid pertama serasa tidak pas rasanya jika tidak muncul di film kedua, walaupun ditampilkan dengan sosok menyerupai singa jarang mandi. Kesan dipaksakannya tokoh ini bertambah saat tiba-tiba ada adegan dimana dia menemui istrinya yang diperankan oleh... Marsha Timothy. Oke, saya tahu franchise ini sangat terkenal dan semua orang ingin terlibat di dalamnya. Tapi? Yasudahlah.

Adegan tersebut ibarat titik balik gue saat menonton The Raid. Sebuah adegan yang menyadarkan gue untuk meninggalkan logika dan cara berpikir sehat dirumah, atau minimal dititipin ke security depan bioskop bareng botol Aqua. Saran gue, untuk menikmati The Raid 2 secara maksimal, nikmati saja koregrafi beladiri yang disajikan dan jangan memikirkan hal-hal aneh di dalam film seperti turunnya salju di Jakarta atau seorang pembunuh yang memastikan target dengan cara mensejajarkan hape Smartfen-nya dengan wajah target yang dikelilingi pengawal bersenjata tanpa dicurigai sama sekali.

Ya, benar saja. Setelah adegan Prakoso ketemu bini super cakepnya itu, isi film hanya berupa orgasme adrenalin berupa kejar-kejaran mobil dan beberapa pertarungan komikal.  Contohnya ada adegan seorang petarung menggunakan bola bisbol untuk membunuh lawannya atau Julia Estelle yang berantem dengan menggunakan palu dan Mini Dress Imut sebagai senjata.

Well, daya tarik film ini memang bukan dari rangkaian cerita yang kompleks dan penuh dengan twist. Film ini menjual pertarungan, kekerasan, dan keindahan seni beladiri. Hal itu bisa dilihat dari adegan pamungkas film dimana Rama seorang diri menyerbu markas mafia, membabat puluhan lawan dengan tangan kosong. Termasuk si petarung bola bisbol dan Julia Estelle yang berantem make baju putih tipis nan sexy, mendebarkan dan menggemaskan. Cini-cini aku cubit Rama nakal pukul-pukul Estelle pake palu.

Final fight The Raid 2 sangat keren. Gerakan-gerakan silat yang ditampilkan oleh Iko Uwais dan Cecep Arif Rahman sangat cepat dan rumit. Kombinasi gerakan kaki, tangan dan perebutan senjata yang berlangsung keras dan menegangkan seolah-olah membawa kita ikut terlibat didalamnya. Pada akhirnya, eksekusi sadis nan kolosal mengakhiri pertarungan satu lawan satu yang tentu saja dimenangi oleh Rama. Bla... bla... bla... Rama selamat dan sutradara seakan-akan memberikan clue akan adanya sekuel The Raid pada adegan terakhir film.

Kesan mewah jauh lebih terasa di film ini. Jika pada film pertama sutradara Gareth Evans hanya memakai 1 mobil pada awal film, di The Raid 2 dia menggunakan banyak mobil dan bahkan menghancurkannya. Walaupun ada sedikit ganjalan pada disensornya merk-merk mobil yang dihancurkan, tetap saja adegan car chasing di film ini cukup seru dan memacu adrenalin. Apalagi ada adegan hancurnya 1 halte busway yang cukup melampiaskan kekesalan gue akan pengalaman nunggu busway berjam-jam dan kejamnya berbusway di saat rush hour.

Akhir kata film The Raid 2 ini bukan untuk konsumsi orang-orang yang berumur kurang dari 17 atau bahkan 21 tahun. Jadi, untuk para orangtua yang ingin mencari tontonan keluarga dikala weekend, please bijak dan jangan egois dengan mengajak anak kalian nonton film ini. Kecuali anda adalah keluarga psycho seperti di Texas Chainsaw Massacre.

Film ini merupakan 150 menit penuh cipratan darah dan adegan kekerasan dengan tingkat gore yang sangat signifikan. Orang dewasa pun akan merasa mual apabila tidak siap menerima visualisasi kekerasan yang tersaji eksplisit dan detil di film ini. Jika anda kuat dan cukup umur untuk menonton adegan-adegan keras seperti, maka anda layak menonton film keren ini. Jika tidak, silahkan tonton Azrax.

Saya yakin seorang Chuck Norris pun akan sembah sujud setelah menonton film ini. 

Viva action tanpa logika!


0 komentar: