Jumat, September 25, 2009

Perjalanan ke Kota Horas

Lebaran hari ke-2. Mungkin lebaran adalah satu-satunya perayaan yang mempunyai banyak hari. Ada Lebaran hari ke-2, ke-3, ke- 4, dst., yang secara otomatis akan membuat liburan-nya mertambah panjang. Kenapa beberapa hari? Karena Lebaran mempunyai tradisi sakral yaitu mudik ke kampung halaman masing-masing. Membuat beberapa daerah tujuan mudik menjadi padat dan sumpek, dan jalanan menjadi macet.

Banyak dari mereka yang rela bersusah payah dalam perjalanan hanya untuk sekedar bertatap muka dengan keluarganya, di tanah asalnya. Seperti menempuh kemacetan sejauh 10 Km dengan kondisi jalan menanjak. Bagai naek Roller Coaster yang mati mendadak. Ada juga yang desek-desekan di kereta, bahkan sampe duduk di kakus WC selama 10 jam lebih. Kemungkinan sambil nyambi kerja jadi penuntun buang hajat. Anak kecil juga suka dilempar-lempar kalo dalam keadaan hectic rebutan bangku kereta. Biasanya anaknya dimasukkin dulu lewat jendela buat nyelip-nyelip cari duduk. Sungguh orangtua yang baik dan kreatif.

Tahun ini, gue ikut merasakan kegiatan mudik tersebut. Berangkat pada Lebaran ke-2, tepatnya hari Senin 21 September 2009, jam setengah 12 siang gue berada di bangku pesawat ber-merk Lion untuk berangkat menuju Medan. Di dalam pesawat tanpa kerjaan apapun membuat gue bernostalgia mengingat pengalaman mudik gue dulu, saat gue masih bocah tengik penyuka musik SKA. Suka pake kemeja Hawaii dan dompet berantai.

Gue ke Medan naik bus Big Bird gede berwarna biru. Dalem bis itu ada sekitar 20 orang, termasuk gue. Perjalanan itu gak bakal gue lupain. Bersama keluarga gue selama 3 hari perjalanan, dengan segala macam tingkah polah yang ada. Belum lagi kondisi jalan yang seringkali rusak, membuat gue lonjak-lonjak di bangku belakang bus. Pusing tak tertahan.

Kalo misalnya kita kebelet dan mau pipis atau BAB, kita biasanya minggir dan menepi di mesjid-mesjid atau rumah makan. WC yang disediakan adalah sebuah mimpi buruk untuk orang-orang higienis. Kadang WC-nya cuma berupa lubang tanpa kejelasan apapun. Ada juga yang make kakus, tapi ada "oleh-oleh" dari pengguna sebelumnya. Yang unik, ada jamban yang ada lele di dalemnya. Jadi sambil kita duduk jongkok, kedengeran suara kecipak-kecipuk. Seperti lagi buang hajat di pinggir sungai. Yah... Daripada di pinggir hutan? Bisa-bisa diseruduk babi hutan.

Sepanjang jalan lintas Sumatra banyak terdapat rumah makan atau restoran, yang didominasi oleh masakan dari daerah Padang. Harga makanan di tempat ini biasanya melonjak lebih tinggi dari biasanya. Tugas om gue yang marah-marah kalo misalnya ditemukan ayam goreng seharga 20 rebu di daerah terpencil, tempat jin bikin anak. Udah gitu gue juga gak yakin makanan yang disajikan itu bener dimasak atau cuma dijemur di matahari. Rasanya apek, asem, dan kecut. Well, daripada gue sekarat kelaperan? Hajar bleh.

***

Sakit kepala hebat membangunkan gue dari lamunan. Pelipis gue serasa ditusuk-tusuk jarum. Beribu-ribu jarum. Ini lah yang disebut efek pilek, berupa ingus yang membuat pusing. Gue liat keluar, terlihat gedung-gedung mini, pertanda gue udah sampe di kota Medan. Gak beberapa lama, pesawat yang gue naikin mendarat dengan selamat, walaupun sempet dag-dig-dug karena pesawatnya oleng kanan-kiri ditiup angin.

Keunikan dari bandara Polonia Medan adalah tidak adanya fasilitas troli yang bisa gue pake untuk naro barang-barang. Semuanya udah dikuasain sama kuli panggul yang berjumlah puluhan. Untungnya, barang gue gak banyak. Gue bisa langsung jalan ke depan terminal, naik mobil, dan jalan-jalan di kota Medan. Berwisata makanan, karena Medan terkenal dengan makanan-makanannya yang enak-enak dan unik-unik. Perut gue juga makin buncit-buncit.

Lalu lintas di Medan membuat ketel emosi gue mendidih. Keberanian para supir di Medan membuat gue kagum dan kesel. Mereka tidak mengenal adanya rem sebagai pengurang kecepatan. Mungkin masih ingat dengan teori Merah = Berani di post gue sebelumnya, ternyatagak ada lampu merah pun mereka tetep berani. Contohnya saat lagi muter dan moncong mobil udah masuk di jalan. Mereka gak bakalan ngasih jalan, malah justru menginjak pedal gas dalem-dalem. Seakan-akan jalanan adalah wahana Bomb-bomb Car di Dufan.

Setelah melalui jalanan yang lalu lintasnya semrawut itu, gue sampai di rumah nenek gue dan berkumpul sama sodara-sodara gue. Saat gue kumpul itu lah gue menemukan fakta bahwa anak kecil sekarang udah terkontaminasi. Sepupu gue yang masih kecil ajah udah sibuk minta hape ke gue, mau update facebook dan online YM. Setelah dapet hape, dia jadi autis. Sesaat kemudian, hapenya direbut. Ternyata dia lagi wall-wall an sama cewek dan cewek itu curhat tentang pasangan mana kah yang harus dia pilih. Anak SD kelas 5 udah berbicara pasangan? Waow. Hal itu diperparah dengan ucapan keponakan gue yang umurnya 4 tahun. Dia bilang, "Ih, abang pacaran. Kalo pacaran itu khan cium-ciuman". Kata-kata itu membuat nyokapnya panik.

Hari kedua di Medan, gue menuju satu daerah yang selalu di analogi kan sebagai Cimanggis-nya Medan. Yang berarti tempat yang sangat jauh dari peradaban hidup manusia. Tempat dimana alien dan monster Yetti tinggal. Tempat itu bernama Tembung. Ada beberapa wanita yang memiliki julukan unik di daerah ini. Julukan itu adalah "Peragawati Tembung". Makhluk apakah yang disematkan julukan ini? Peragawati Tembung adalah wanita yang suka memakai baju ketat. Sangat ketat. Bajunya biasanya berwarna cerah dengan tulisan provokatif seperti "Touch Me" atau "Nasty Girl". Kemudian bedak tebal menempel di kulit wajah, seekor nyamuk bisa kepeleset kalo nempel disana. Tak lupa gincu merah menyala untuk menambah cantik wajah tesebut. Rambut peragawati Tembung gak ada yang kriting. Rambut kriting kayak gue gak laku disana. Rambut mereka lurus, walaupun hasil catokan pake setrika, lagi-lagi tak lupa dengan warna yang heboh sebagai penambah estetika. Sebagai penyempurna, tambahkah eye-shadow berwarna gelap. Niscaya, itu lah "Peragawati Tembung".

Hari ketiga, gue masih berkeliling kota Medan dan mencari secercah oleh-oleh. Gak taunya, semua tempat oleh-oleh masih tutup dan pada akhirnya gue karaoke sama sodara-sodara gue. Berlomba-lomba membesarkan suara untuk nyanyi sambil bergoyang, berdendang bersama. Sampai-sampai dua buah microphone wireless-nya mati. Kemungkinan karena tersumbat air ludah kita yang kental, efek suka ngemil tepung kanji.

Besoknya,gue kembali lagi ke bandara Polonia. Naik pesawat menuju kota raksasa bernama Jakarta. Sesampainya di udara, melihat perbedaan besar antara daratan Sumatra dengan daratan Jawa. Perbedaan itu terletak pada masih banyaknya gunung dan pepohonan rindang di daratan Sumatra. Gue juga sempet ngeliat danau Toba dari atas pesawat, sungguh indah. Sedangkan di Jawa, pemandangan didominasi bangunan-bangunan dan sawah-sawah lebar. Dari atas udah terbayang padat dan sumpeknya pulau itu. Pulau tempat gue menapak nanti saat mendarat. Tepatnya di kota Jakarta.




Sebelum belok ke Depok.



Ciaoo...

12 komentar:

Fata Hanifa mengatakan...

aku suka bagian : buang hajat ada bunyi kecipak-kecipuk -tanda ada lele di bawahnya ..

aku akan minta ke ortu untuk bikin WC macam itu ! kyaaaaaaaaaaaaaa XD

salam knal !

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@Fata : mendingan jangan lele, ikan arwana.. jadi skalian pijet refleksi kalo misalnya dipatok samadia. Hehee.

Fata Hanifa mengatakan...

ahahahaha , tp mahal tau ! cuma buat boker ampe ratusan ribu booooo -,-
btw uda nyoba tu WC ajaib ?

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

justru karena udah ngerasain makanya ditulis... enak lho sensasi jongkok sambil merasakan kehidupan di bawahnya. Hehehee

Fata Hanifa mengatakan...

hahahahhahahahaha (LOL)

Smita mengatakan...

aahhh si bolu pasti ga di beli deeh hahaha.. *tetep ngarep meranti*

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@ smita : meranti tutup buu..pas gue gedor2,malah dipanggilin polisi

lessthanthirteen mengatakan...

waahh..saya terakhir pulang jaman SMA which is dah 12 tahun lalu...wkwkwk

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@lessthanthirteen : wah, udah beda banget kalo dah balik. Mobil-mobil pada bisa terbang! ahahaaaa

ocky fajzar suryani mengatakan...

gue kalo mudik juga setiap lebaran kedua *gak nanya* hahah btw gue ngepens ama supir-supirnya hohoho

Anonim mengatakan...

ihh . bangke ni si abang ,, tembung gaa gtu bgt . raaawr

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

Saya hanya menyimpulkan dr isu2 yg beredar,dan membuktikannya seCara ilmiah..hwahaha