Sabtu, Oktober 03, 2009

Menjadi Indonesia

Sebelumnya, gue mau mengucapkan belasungkawa yang amat sangat mendalam untuk para korban gempa yang mengguncang pulau Sumatra. Semoga mereka bisa cepat diberikan bantuan dan support yang maksimal, tabah dan bisa menghadapi ini semua dengan sabar dan kuat. Ini merupakan cobaan yang sungguh berat setelah bulan Ramadhan usai, perayaan rampung, dan silaturahmi. Musibah tidak bisa ditebak, malang tak dapat diprediksi, semua berserah pada-Nya.

"Ya Allah, tolong bantu mereka"


*Mengheningkan cipta untuk para korban gempa*

***

2 Oktober 2009, hari pengukuhan batik sebagai salah satu produk kebudayaan Indonesia oleh UNESCO. Berarti, batik telah diakui dunia sebagai milik dan kepunyaan bangsa Indonesia tercinta ini. Pada hari itu tanggal tersebut, gue ke kampus menggunakan kemeja batik lengan panjang yang dibeli di pameran. Sebenernya bukan dalam rangka pengukuhan batik tersebut, tapi udah sejak sebelum lebaran, dimana dosen gue mem-provokasi satu kelas untuk serempak pake batik saat masuk ke kelasnya.

Dosen gue berkata, "Bagaimana kebudayaan kita gak mau direbut sama negara lain, kalau kita tidak mencintai kebudayaan tersebut dan mengimplementasikannya dengan memakai batik. Setuju?"

Argumen tersebut menurut gue sangat-sangat masuk akal, kita gembar-gembor dan ribut-ribut saat kebudayaan kita di-klaim oleh negara lain. Sayangnya saat kita gembar-gembor, kita memakai kemeja Next, jas Armani, ataupun sepatu Pedro. Seakan-akan lupa dengan apa yang ada, terkesima oleh rumput tetangga. Untuk itu, gue sepakat dengan kata-kata dari pak dosen dan setuju untuk memakai baju batik setiap hari Jum'at.

Kembali ke tanggal 2 Oktober, tepatnya di kampus. Gue melihat hampir seluruh manusia yang berjalan, melenggok, dan lenggang kangkung di sekitar wilayah kampus memakai baju batik dengan berbagai macam corak yang ada. Gue merasa sangat Indonesia, tinggal di Indonesia, dan cinta Indonesia. Pengen rasanya berteriak kepada banyak pengamat yang menyebut persatuan Indonesia buruk, nasionalisme kurang, dan terancam punah.

"KAMPRET!"

Sesampainya di jalan raya, terlihat juga banyak orang yang memakai batik. Batik jadi pemenang, pakaian biasa jadi minoritas. Terlihat indah dan rupawan ngeliat pemandangan yang ada. Paradigma lama yang bilang batik cuma buat kondangan harus dihilangkan. Kuno. Batik bisa menjadi pakaian sehari-hari dan gak kalah dengan kemeja Armani. Yang pasti, dengan memakai batik, kita telah Menjadi Indonesia (Efek Rumah Kaca-2008).

Indonesia bukanlah batu yang rapuh.

Ciaoo...

5 komentar:

mademoiselle indah mengatakan...

ikaaannn, lo bukannya banyak sodara di padanng?? gimana tuh?

btw, visit me:
http://idolovechocolate.blogspot.com
http://catcheshop.blogspot.com
thanks.

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@Ndaho : Alhamdulillah aman2 sajah, keluarga gue gak banyak di Padang, tapi Bukittinggi. Cieh, ada blog, gue link yah yang blog pribadi. Uhuy lah!

mademoiselle indah mengatakan...

siiipppoooo!!!!

neilhoja mengatakan...

wah... semangat selalu indonesia...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@neilhoja : iya.. smangat!!