Rabu, Oktober 28, 2009

Embrio Karya

Skripsi menjadi beban yang sangat berat di kepala gue untuk saat ini. Menulis ilmiah membuat kepala gue hampir pecah. Kesulitan yang dihadapi dalam membuat makhluk bernama skripsi ini adalah banyaknya peraturan yang harus dipatuhi. Seperti jalan di lorong sempit tak berujung. Sangat sempit sehingga bergerak pun susah. Apalagi salto. Untuk gue yang terbiasa nulis tanpa aturan apapun, hanya berdasarkan intuisi dan keyakinan tidak meyakinkan, hal ini amat sangat menyulitkan.

Tahap pertama dalam menyusun skripsi adalah mencari tema. Berhubung gue jurusan administrasi fiskal, tema yang gue cari adalah tema yang berhubungan dengan dunia perpajakan, tarif, pungutan, dll. Sebenernya gue pengen menggunakan tema Kekeluargaan atau Gotong Royong untuk menjadikan skripsi gue mempunyai pesan moral yang sangat kuat dan berguna untuk kemaslahatan masyarakat banyak. Tapi berhubung tema itu sudah sering masuk ke majalah Bobo, tema tersebut haram untuk dipake.

Sebenarnya gue udah lebih dulu dapet tema, proposal udah dikasih, pembimbing udah didapat. Semangat udah membumbung tinggi dan gue udah optimis akan kelulusan gue yang semakin terlihat jelas di ujung sana. Langkah gue tegap saat melangkah menuju pembimbing untuk konsultasi skripsi. Akhirnya gue bisa memakai jawaban, "Lagi bimbingan" saat ditanya, "Lagi dimana jal?".

Saat gue ke ruang dosen, ternyata pembimbing gue lagi sholat dan gue disuruh nunggu di ruang tamu. Gue menunggu dengan was-was. Ketakutan akan ditolaknya tema yang gue ajuin. Di depan gue ada dispenser, gue berpikir untuk mencet tombol "Cold" terus menerus sampe air galon abis kalo misalnya tema gue ditolak. Gak penting emang, tapi seenggaknya gue menunjukkan kalo gue marah. Seenggaknya marah gue akan membuat orang repot nge-pel dan mengganti galon yang udah abis aernya. Saat gue menyusun rencana, muncullah pembimbing gue, membawa kertas proposal skripsi gue.

Dia duduk di sebelah gue, ngebolak-balik halaman proposal. Sedikit mengerutkan kening, sebelum pada akhirnya angkat bicara.

"Mmm... Ini bukannya udah berubah ya?".

"Pertanyaan penelitian kurang konkrit".

"Kalo cuma menjelaskan, apa pentingnya diteliti?".

Konklusi dari semua pertanyaan dan pernyataan tadi adalah,"Coba kamu liat lagi deh, kalo emang gak bisa, ganti tema lain". Sebuah kata halus dari : "Tema kamu kampret, mending jadi tissue toilet".

Hasrat gue untuk mencet dispenser semakin bertambah.

***

Setelah berpikir panjang dan berkonsultasi dengan Melisa,temen sekaligus malaikat penolong gue, akhirnya gue menemukan tema yang baru. Yang lebih jelas arahnya, sederhana permasalahannya. Proses untuk menentukan dan mengerti dengan baik tema yang gue angkat memakan waktu 3 hari. Mayoritas ber-setting di perpustakaan MBRC dan Cafe Bloc yang ada di kampus FISIP UI. Proses tersebut berlangsung lama karena gue harus menemukan jalan pikiran yang pengen gue tempuh dan tujuan apa yang ingin gue capai. Selain itu, godaan untuk ngobrol dan bercanda tawa sangat merusak rencana gue.

Pada hari ke-4, berbekal tema yang udah mantap, gue nongkrong di lantai 3 perpustakaan MBRC. Kencan dengan Samira, laptop hitam gue tercinta. Berbagai macam referensi berserakan di depan gue. Dua skripsi dan banyak buku bertebaran. Gue seperti pedagang buku di pasar Kwitang. Tujuan gue di situ adalah mencari masalah. Heran, dari kecil sampe sekarang udah punya bulu kaki gue selalu diajarin untuk tidak mencari masalah dimanapun gue berada. Saat kuliah, untuk lulus gue harus cari masalah.

Perbedaan pola pikir tersebut membuat gue sulit untuk memulai latar belakang masalah. Pengen rasanya gue memulai dengan kalimat " Pada suatu hari di dunia bernama Kropok, hidup seorang katak yang mempunyai telinga panjang bernama Todi". Setelah gue pikirkan lagi, gue inget kalo gue lagi menulis skripsi, bukan dongeng tidur di malam hari.

Halaman demi halaman referensi gue bolak balik. Begitu juga sowan ke rumah Mbah Google, mencari inspirasi, informasi, dan sedikit relaksasi. Akhirnya sedikit demi sedikit gue mulai bisa menyusun kata menjadi kalimat, kalimat menjadi paragraf. Kumpulan banyak paragraf yang pada akhirnya menjadi 4 halaman. Embrio skripsi gue resmi terbuat. Butuh ketelatenan, bimbingan,dan perhatian agar embrio tersebut bisa tumbuh menjadi suatu karya bagus yang berujung pada sebuah kertas A4 bertuliskan IJAZAH.

Ciaoo...

4 komentar:

Rin mengatakan...

Mantaps!
Semangat terus, Sob! \^^/

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@rin : thanks sob!

Mita mengatakan...

SEMANGKA ZAL...
baca tulisan lo membuat gue semagad berkutat kembali dengan Bab 2 huahauahuahuahu padahal temen gue udah pada masuk bab 4 omigoood...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@Mita : akhirnya.. Tulisan gue inspiratif..hwahaaa