Kamis, September 10, 2009

Reportase dari Perpus Kampus

Disinilah gue sekarang, di perpustakaan FISIP UI yang bernama MBRC (Miriam Budiarjo Research Center). Saat ini jam menunjuk angka 12.33 siang, perpustakaan sangat ramai, hampir-hampir seperti pasar. Ada yang duduk di lantai kayak gembel, ada yang mukanya serius ngeliatin leptop, dan ada juga yang lagi ngoceh gak jelas. Ngomongin Anang-Krisdayanti, mungkin mereka sodara-an sampe sebegitu concern-nya dengan hubungan Anang-Krisdayanti yang retak karena masalah harta dan perselingkuhan. Loh? kok saya juga tahu? Tentu saja, televisi membuat kita mengetahui hal-hal yang seharusnya tak penting untuk diketahui.

Perpustakaan FISIP berbeda dengan perpustakaan pada umumnya yang mengedepankan ketenangan dan ketentraman dalam membaca. Di sini adalah sebuah perpustakaan yang membolehkan seorang resepsionis penitipan tas untuk memutar lagu "Cari Jodoh" dengan speaker aktif, lengkap dengan volume yang besar.

Kemudian ada lounge, tempat para mahasiswa bersantai dan membaca koran. Dalam perpustakaan ini terdapat dua lounge, lounge lantai 1 dan lantai 2. Lounge lantai 1 gue kasih julukkan "Scarlett". Julukan itu didapat karena lounge yang mempunyai alas lantai berupa karpet berbulu ini mempunyai TV 30 inch bermerk LG dengan seri Scarlett yang siap dipakai untuk nonton acara-acara TV yang ada. Selain itu ada juga sofa empuk lengkap dengan dua bantal panjang yang sangat nyaman untuk dipakai dikala lelah menghampiri. Tinggal nyender, tutup mata, dan tidur. Ini perpus apa hotel ya?

Pada awalnya, Scarlett adalah daerah terlarang untuk bersantai-santai. Dahulu kala pada saat awal kemunculannya, Scarlett dijaga oleh seorang bapak-bapak berpotongan rambut belah tengah yang kacamatanya selalu turun setengah hidung. Kalau ngeliatin orang selalu nunduk, kemudian ngintip dari balik kacamatanya. Cara memandang yang sangat gue benci, pandangan mata tidak bersahabat.

"Mau ngapain? Gak boleh kesini kalo gak baca!", kata dia dengan tatapan mata sinis ke gue.

"Engg... mau.. baca...", bales gue ke dia.

Gue terpaksa berbohong demi menghindari terik matahari yang sangat panas pada saat itu. Demi duduknya gue di sofa empuk itu. Implikasi dari kebohongan gue itu, gue harus bergerak ke rak buku dan mengambil salah satu buku yang ada. Pilihan gue jatuh pada buku DOKUMEN RAHASIA CIA, entah buku apa itu. Isinya penuh dengan tulisan dengan font yang kecil, bikin gue pusing bacanya. Yang penting pada akhirnya gue bisa duduk dengan nyaman dan mendapat ide untuk ngerjain temen gue. Caranya adalah :

  1. Manggil temen gue buat duduk di sofa,
  2. Temen gue nurut, langsung bergerak menuju sofa,
  3. Bapak berambut belah tengah menghadang,
  4. Temen gue gelagapan,
  5. Temen gue diusir,
  6. Gue tertawa puas.
Lounge yang ke-2 ada di lantai dua. Beda dengan Scarlett yang TV-nya jarang-jarang idup, TV di tempat ini selalu hidup setiap saat, memanjakan ibu-ibu penjaga perpus dengan asupan gosip dari acara infotainment yang gak ada abisnya ngebahas kegiatan selebriti. Selebriti bangun tidur aja masuk TV, naek kuda masuk TV, dan bahkan lagi belanja di pasar masuk TV. Gak heran kalau kita mengenal mereka seperti keluarga sendiri.

Dua lantai udah dibahas, sekarang tinggal lantai terakhir, lantai 3. Tempat gue berada saat ini, di pojok ruangan bersama laptop HP gue yang bernama Samira. Lagi kencan bersama, bahu membahu membuat proposal skripsi. Ralat, bukan membuat, tapi menyusun... dari berbagai macam sumber yang ada. Terima kasih untuk Prof. Google M.Sc. .

Di samping kiri gue ada sebuah pilar berwarna oranye, dengan steker yang menempel di badannya. Dari tiga steker yang ada, ada satu steker yang mempunyai kisah dengan gue pada hari kemarin. Steker itu memiliki dua lubang, seperti steker pada umumnya. Bedanya, salah satu dari lubang itu hangus berkat jasa-jasa yang gue berikan. Membuat gue menjadi penjahat tanpa tanda jasa.

Bagaimana caranya gue bisa membumi hanguskan steker itu? Proses-nya cukup panjang, memakan waktu sekitar 4 jam. Semua dimulai dari siang hari, gue membawa kabel roll yang bisa untuk dicolokin banyak kabel. Gue membawa ini karena gue males rebutan steker, karena biasanya siang hari itu perpustakaan lagi penuh-penuhnya dan gak ada tempat untuk nyolokin kabel leptop gue. Daripada gue berdiri nungguin, atau sampe hati nyolokin kabel diidung orang karena emosi, mendingan gue bawa steker sendiri.

Awal mula gue colokkin roll kabel itu ke steker perpus, udah ada indikasi kalo roll kabel itu ngaco. Berkali-kali ngejepret, timbul pecikan api. Tapi walaupun ada percikan api, listrik tetep nyambung ke leptop gue. Gue tetep cuek.

*4 Jam Kemudian*

Laptop gue tiba-tiba mati. Padahal bukan lagi mati lampu. Semua terlihat fine-fine ajah, kecuali laptop gue yang mati total. Gue liat ke arah steker, ternyata ada yang nyabut roll kabel gue. Sontak emosi gue terbakar, gue lagi enak-enak ngerjain proposal tiba-tiba ada yang seenak jempol kakinya nyabut roll kabel gue.

Gue langsung bilang, "Siapa yang nyabut nih!?"

"Ini mas... meleleh...", kata orang yang nyabut roll kabel gue sambil nenteng kepala kabel yang batang besinya cuma tinggal satu. Bau karet kebakar langsung menyeruak, sama kayak di Bekasi minus debu-debu yang berterbangan. Gue langsung ngambil roll kabel gue itu, besi di kepala kabel cuma tinggal satu. Satunya lagi ngumpet dan ketinggalan di steker naas yang udah angus itu. Kabelnya sendiri lonyot kayak mie yang udah lodo,lembek-lembek gitu.

Gak beberapa lama, petugas perpus dateng ngeliat steker itu. Orang yang nyabut roll kabel gue manggil dia untuk ngebenerin steker yang udah mateng, siap dimakan itu. Dengan sigap, gesit, dan cekatan gue taro roll kabel itu di bawah dan memasang "muka malaikat". Seakan-akan berkata, "Bukan saya pak!".

Ciaoo...

5 komentar:

andini mengatakan...

ikaaaaaan..loe telah meninggalkan jejak-jejak yang buruk dikampus..

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

ssst... jangan bilang2 yah.. ini antara kita-kita ajah.. hehee

Yuni Winingsih mengatakan...

hahah dasar lo merusak fasilitas negara

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

gak sengaja yunn.. itu kecelakaan itungannya.. bukan pengrusakan

Anonim mengatakan...

wakakakak...
bener2 ya tiada hari tanpa kejadian bodoh menghampiri lw kaan...
:p