Minggu, September 20, 2009

Rayakan Kemenangan

Lebaran, sebuah hari kemenangan. Kemenangan atas hawa nafsu yang terus menggoda kita di bulan Ramadhan kemarin. Nafsu marah, syahwat, makan, dan minum. Semua adalah musuh-musuh kita selama bulan Ramadhan. Untuk itu, atas kemenangan besar yang udah kita dapat dan perang yang udah kita jalani, lebaran menjadi suatu momen untuk kita berbadan tegap dan menjadi manusia yang baru.

Pada malam sebelum lebaran, gue keluar untuk nyari Aqua gelas dan napkin. Malam itu adalah malam yang dinamakan malam takbiran. Dimana setiap orang merayakan kemenangannya itu dengan caranya masing-masing. Ada yang bersahabat dengan mikrofon di mesjid, melantunkan alunan takbir yang lantang. Anak-anak kecil memukul bedug, menyalakan kembang api dan petasan, dan berlari-larian sampai hampir dilindas mobil yang lewat. Yang remaja naik ke atas mikrolet atau metro mini dan bernyanyi lagu kebangsaan salah satu tim sepakbola besar di Jakarta yang mempunyai warna khas oranye. Gak nyambung.

Untuk mereka, malam takbiran mungkin diartikan sebagai ajang melepas nafsu yang tertahan. Berhura-hura karena tidak harus puasa. Tidak harus menahan lapar dan dahaga. Membuat kekacauan dengan nyerempet sana, nyerempet sini. Bahkan saat gue lagi minggirin mobil ke pinggir jalan yang paling pinggir, ada suara teriakan seorang makhluk yang memakai jaket hoodie abu-abu dengan motif berlebihan. Dia bilang, "NGE*******T !!!". Entah apa maksudnya. Apa itu ekspresi senang dia merayakan kemenangan? Gue rasa bukan.

***

Esokan harinya, gue terbangun oleh suara takbir yang saling berebut untuk didengar. Hari ini hari lebaran. Gue cek hape, SMS gue failed semua. Penyebabnya jelas, operator yang pamrih. Karena cuma mau nganterin SMS dengan imbalan rupiah. Sehingga kalau rupiahnya gak ada, dia menjadi sombong. Oke, gue ngaku. Gue yang pelit. Gak mau beli pulsa. Maafkan saya bapak IM3. Hehe.

Seperti rutinitas standar pada saat lebaran, pagi-pagi gue sholat ied, pulang langsung makan dan maaf-maafan, dan saat siang keliling dari satu rumah kerumah lainnya. Pada rumah pertama, gue masih bisa merasakan nikmatnya makanan yang dihidangkan oleh tuan rumah. Makanan berupa gulai tunjang dan bebek cabe ijo sukses gue lahap dengan penuh suka cita plus cucuran keringat seperlunya. Perut kenyang, duduk pun ngangkang. Kenyang.

Problem muncul saat rumah keempat, dimana perut gue udah mencapai kapasitas penyimpanan maksimum. Makanan terlihat seperti musuh yang harus dihadapi, walaupun kita gak suka ngeliatnya. Apalagi rumah ini terkenal dengan legenda "Makanan Terbang". Legenda ini gak kalah dari "Legenda Uler Putih" atau "Legenda Sinetron 3D Maksa". Berkisah tentang seorang nenek yang mewajibkan para tamunya, terutama yang masih muda, untuk makan yang banyak. Gak peduli walaupun perutnya udah kayak busung lapar, buncit. Mungkin dalam kasus ini, namanya busung kenyang.

Gue yang lagi duduk, nonton TV, dan gak berniat makan tiba-tiba ditarik ke arah ruang makan. Ditungguin dan dipaksa ngambil makanan yang ada. Berhubung gue anak yang baik seperti Unyil, gue mengambil makanan dengan maksud menghormati tuan rumah. Gue ambil nasi sedikit dengan satu potong paha ayam panggang. Saat gue mau ke sofa untuk makan, secara ajaib tiba-tiba muncul satu potong daging rendang di piring gue. Gak beberapa lama ada sambel goreng ati. Selang waktu sepersekian milyar detik muncul lagi ayam goreng dan ikan tongkol. Apakah gue salah masuk ke acara The Master?

Saat gue dongakin kepala untuk ngeliat keadaan sekitar, gue ngeliat pesulap yang berhasil memunculkan banyak makanan di piring gue itu. Itu bukan Joe Sandy atau Deddy Corbuzier, itu adalah nenek gue sendiri. Beliau ngelemparin semua makanan itu ke gue, "Anak muda kok makannya dikit!? Ini ambil yang banyak!!". Gue gak bisa berbuat apa-apa lagi. Cuma ngeliat piring gue yang penuh trus nyengir-nyengir kayak tupai ke nenek.

"Heee... iyaa...", kata gue.

Abis itu gue langsung cabut ke sofa, karena gue liat beliau udah siap-siap mau ngambil sayur. Disana gue duduk dan makan setumpuk makanan yang ada itu. Dibuang gak mungkin, gue benci membuang-buang makanan.

***

Terus terang, gue gak suka ngerayain abisnya bulan Ramadhan secara berlebihan. Simple, karena gue masih gak bener di bulan Ramadhan. Itu akan membuat perayaan tersebut jadi absurd. Gak jelas apa yang gue rayain. Siang hari mata gue masih suka belanja kalo ada makhluk halus yang berpakaian seksi lewat di depan gue. Atau ada di seberang gue, dan gue nyamperin. Kemudian masih suka ber-ghibah ria sama temen-temen dan berwisata komentar kalau ada yang berkelakuan aneh. Seperti kalau ada yang pake celana beset-beset. Mending kalo besetnya cuma kecil, tipis, dan ada di salah satu bagian aja. Ini di seluruh celana, membuat dia terlihat sebagai gembel. Lebih parahnya lagi, dia harus bayar untuk terlihat seperti gembel.

Jadi, mengenai celana gembel itu... *STOP*

Ya, seperti itulah. Walaupun gue gak makan dan gak minum, gue merasa ibadah gue di bulan Ramadhan masih cupu banget dan sama sekali gak pantes untuk dirayain. Sholat lima waktu aja masih suka bolong-bolong, apalagi sholat taraweh. Bolongnya udah kayak tambang Freeport di Tembagapura.

Gue gak se-percaya diri mereka-mereka yang berkeliling kota di atas metromini sambil tereak-tereak.

Gak se-percaya diri mereka yang naik motor beriringan dengan pasangan yang memeluk dari belakang.

Gak se-percaya diri mereka yang main petasan sampai menyebabkan kebakaran.

Gue malu. Gue belum menang.

***

Poin yang gue suka dari lebaran adalah kumpul-kumpul dengan keluarga. Bercanda tawa dengan sepupu-sepupu gue yang gokil-gokil. Om dan tante gue yang suka ngatain anaknya sendiri dan anak orang lain. Kemudian silaturahmi ke rumah nenek-kakek gue. Terlihat kebahagiaan pada raut muka beliau karena didatengin anak-cucu nya. Terlihat dari cara beliau memastikan cucu-nya mendapat asupan gizi yang cukup.

Kemudian lebaran adalah sebuah ajang untuk kita saling memaafkan antar sesama manusia. Siapapun itu. Baik kawan maupun lawan. Untuk itu, gue juga mau mengucapkan kata maaf sedalam-dalamnya dari lubuk hati gue yang paling dalam. Gue sangat mengerti kalau selama ini banyak perkataan dan perbuatan gue yang menyakiti ataupun menyinggung perasaan orang. Pada lebaran ini, gue memohon maaf sedalam-dalamnya dan berusaha memperbaiki diri agar menjadi manusia yang lebih baik.

Minal Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
"Jangan terlalu banyak makan, nanti sakit perut"

Ciaoo...

1 komentar:

Anonim mengatakan...

muja50 says: minal aidzin wal faidzin bos....smoga kebodohan mulai menjauhi diri lw...
hehehe