Selasa, Juni 02, 2015

Puntang, Surga Tersembunyi di Bandung Selatan

Gunung Puntang, Bandung.
[14 Februari 2015]

Mungkin hampir semua orang belum pernah mengetahui atau mendengar obyek wisata yang tersembunyi di ujung kota Bandung ini, tepatnya di daerah Banjaran, Bandung Selatan. Dimana orang-orang lebih mengenal Bandung Selatan dengan Ciwidey-nya. Kalau dari pintu tol Kopo, Banjaran letaknya setelah Soreang. Tau Soreang? Soreang adalah anak yang manis, anak yang manis jangan lah dicium sayang, kalau dicium merahlah pipinya.

Mengingat gue harus mengetahui medan sebelum memulai perjalanan, maka gue mencari wangsit ke Mbah Google yang mengetahui segala tempat, peristiwa, dan tokoh. Judul pertama yang muncul saat search keyword 'gunung puntang' adalah : "Cerita Hantu – Kisah Pilu di Bumi Perkemahan Gunung Puntang," "ANGKER BANGET, Misteri Gunung Puntang," atau "Pengalaman Mistis Saya Di Gunung Puntang."

Sumber atau awal mula cerita mistis ini mungkin dari adanya stasiun Malabar yang didirikan pada tahun 1917-1929. Stasiun Malabar merupakan stasiun pemancar radio Belanda dan selain stasiun pemancar, di sekitarnya terdapat komplek perumahan dinas dan gua Belanda. Mungkin inilah yang membuat Puntang terdengar menyeramkan. Konon terdapat gua-gua Belanda di sekitar Gunung Puntang, sehingga orang-orang beranggapan banyak noni dan mister Belanda yang masih patroli disana.

Walaupun begitu, gue tetap berniat menuju Gunung Puntang. Gue yakin kalau dengan niat yang baik dan gak ada keinginan untuk merusak, semua akan berjalan aman tentram dan damai. Tujuan gue hanya satu, menikmati lukisan Yang Maha Kuasa pada kanvas alam yang indahnya tiada tara. Semacam Tara Reid.

Oke, mari kembali ke Puntang, sebelum pembicaraan terfokus ke Tara Reid dan melebar ke Baywatch.

Perjalanan ke Puntang dimulai di pos bumi perkemahan, dimana ada seorang akang penjaga gerbang yang dengan kejamnya gue bangunin tepat pukul 2 pagi. Mungkin dia kesal, mungkin dia marah, dan mungkin dia mau menyelipkan sendal jepitnya ke biji mata gue karena bisa saja sebelum terbangun dia ternyata sedang mimpi nikah dengan Chelsea Islan dan pergi keliling dunia naik Jumbo Jet.

Mau bagaimana pun, nasi sudah nyelip di dubur. Akang itu sudah bangun dan kita segera registrasi, menyerahkan pembayaran sebesar 10.000 /orang. Setelah selesai urusan pendaftaran, gue istirahat sejenak di Musholla sembari menunggu adzan Subuh berkumandang. Sekitar pukul 04.00 gue dan temen seperjalanan, Andi, melanjutkan perjalan menuju puncak Gunung Puntang. Anggota tim perjalanan kali ini hanya dua orang. Duet.

Pada awal pendakian, jalur mengarahkan gue menyusuri sungai kecil. Tak beberapa lama berjalan, jalur terputus  dan membelok ke jembatan yang dibuat dari beberapa batang kayu yang disusun tidak rapi. Imbasnya, batang kayunya goyah dan membuat gue seperti main trapeze saat melintasinya.

Setelah menyebrangi sungai dan berjalan menyusuri jalan setapak, gue menemukan semacam kolam kecil yang berdiri kaku di tengah hutan. Tidak ada air di kolam itu, hanya ada barisan bebatuan yang terbaring kaku di tengah gelap malam. Sepertinya bukan kolam cinta bekas stasiun radio Malabar dahulu, karena sepengetahuan gue bentukan kolam cinta besar dan lebar.

Suasana yang masih gelap dan beberapa cerita mistis yang gue baca sebelum perjalanan membuat pikiran mengkhayal macam-macam di tempat ini. Segera pikiran konyol semacam itu gue tepis dan fokus mencari jalur. Ternyata jalur pendakian bukan di sekitar kolam, gue harus mundur ke belakang dan mengambil jalan lain yang menanjak. 

Selain bangunan kolam misterius tersebut, di jalur awal Gunung Puntang terdapat beberapa pondokan semi permanen yang dipakai petani sebagai tempat istirahat. Terlihat dari baju-baju yang digantung di luar pondokan tersebut dan suara baju yang diterpa tiupan angin kadang terdengar seperti langkah kaki orang. Syahdu dan misterius.

Ternyata jalur yang kita lewati itu memang digarap sebagai perkebunan oleh warga sekitar. Terlihat dari kontur tanah yang gembur, sehingga sering longsor saat dipijak. Di sela-sela kebun dan pepohonan, kita menemukan jalur yang mulai menanjak curam.

Pendakian dimulai.

Sekitar 1 jam perjalanan, tiba-tiba mata gue berkunang dan napas mulai tersengal. Bahkan untuk menarik napas panjang pun tidak sanggup karena udara seakan tertahan di ujung tenggorokan dan menolak masuk ke paru-paru. Tangan gue gemetaran dan beberapa kali jalan gue condong ke kiri mendekati jurang, tidak fokus.

Akhirnya kita memutuskan berhenti sejenak di jalur. Gejala-gejala tersebut berasal dari perut yang kosong dan kelaparan. Gue baru ingat kalau terakhir kali gue makan itu jam 3 sore, sehari sebelum perjalanan, setelah selesai dinas di Kota Bandung. Dalam rentang waktu jam 15.00 sampai 04.30 tersebut gue nonton 2 film di Mall Miko, keliling daerah Kopo sembari nunggu Andi dateng, dan melakukan perjalanan ke Gunung Puntang tanpa menerima asupan makan sama sekali. Pantas saja badan gue protes.

Karena kita kelupaan bawa roti dan hanya bawa snack berupa biskuit, pada akhirnya gue melahap habis satu bungkus biskuit Good Time dalam waktu singkat. Setelah melahap sebungkus biskuit Good Time dengan congok (Rakus), energi gue perlahan muncul dan perjalanan kami lanjutkan.

Peristiwa ini menjadi semacam pengingat untuk gue. Olahraga hiking membutuhkan stamina dan energi yang cukup besar. Kedua hal itu hanya bisa didapat dari asupan makanan yang cukup, minimal 6 jam sebelumnya. Selain itu, perjalanan ini juga mengingatkan gue untuk selalu sedia roti di setiap perjalanan sebagai sumber karbohidrat yang cukup efektif untuk mengisi tenaga. Walaupun perjalanan kali ini dalah One Day Trip, persiapan harus tetap maksimal.

Setelah beristirahat, perjalanan segera kita lanjutkan. Jalur berikutnya sangat khas Gunung Jawa Barat, berbentuk tanah lempung yang licin disaat hujan dengan sudut kemiringan yang cukup curam. Seringkali akar-akar menyembul dari balik tanah dan menambah licin pijakan. Sempitnya jalur dan lebatnya hutan beberapa kali membingungkan kita saat mencari jalur. Yang cukup mengherankan, jalur pendakian yang kita lewati cukup padat dengan tanaman, tanda jalur tersebut jarang dilewati. Selain itu, tidak ada suara pendaki lain baik di depan ataupun di belakang. Sepertinya hanya kita berdua yang melewati jalur itu, tanpa ada orang lain untuk ditanya.




Semakin lama kita berjalan, sekitar 2 jam perjalanan. Jalur semakin absurd dan menanjak tanpa ada bonus sama sekali. Beberapa kali kita ragu atas jalur yang kita lewati dan ada kecurigaan bahwa jalur yang kita lewati adalah jalur yang salah. Namun mengingat kita terlalu jauh untuk turun dan samar-samar masih terlihat jalur yang mengarah ke atas, kita tetap maju ke depan. 

Cahaya.


Seberkas cahaya menyeruak dari ujung jalur. Cahaya matahari yang sulit menembus padatnya pohon-pohon di sekitar jalur. Motivasi kita bertambah karena dengan adanya cahaya maka hutan sudah mulai menipis dan itu pertanda kita menapaki jalan yang benar, mendekati puncak.

Sedikit berlari kita bergerak menuju cahaya tersebut dan sampailah kita di suatu pelataran besar yang berserak daun. Pada pelataran itu, berdiri satu tenda yang sepertinya sedang ditinggal penghuni-nya untuk summit attack. Walau belum Summit, setidaknya arahnya sudah benar. Akhirnya, setelah 2 jam tidak ada tanda-tanda peradaban manusia. Di pelataran tersebut terdapat papan penunjuk arah bertuliskan PGPI.

“Apaan tuh PGPI?” tanya gue ke Andi. Percuma. Dia pasti gak tau.


“Puncak Gunung Puntang Indonesia kali, tapi kok ngarahnya ke bawah ya?” balas dia. Asal.

“Itu jalur coi. Dan sepertinya terlihat lebih normal dari jalur yang kita lewatin tadi,” kata gue sambil melihat arah panah tersebut. Terlihat sebuah jalur landai yang tampak bersahabat. Dari jalur tersebut gue melihat beberapa pendaki yang sedang berjalan ke arah kita.

Ngobrol-ngobrol sebentar, ditemukan fakta bahwa jalur tersebut merupakan jalur yang lazim dipakai untuk mencapai Gunung Puntang. Sontak kita bengong dan bertanya-tanya jalur apa yang kita lewati tadi. Mungkin jalur porter, mungkin jalur evakuasi, atau mungkin jalur pesugihan. Entahlah. Yang penting kita udah ngarah ke jalur yang benar.

Sebagai informasi bagi yang ingin melakukan perjalanan ke Gunung Puntang, lebih baik melalui jalur PGPI (Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia). Basecamp PGPI terletak beberapa meter sebelum gerbang bumi perkemahan Puntang dan memiliki penjaga yang lebih informatif dibanding basecamp di bumi perkemahan.




Perjalanan kita lanjutkan dengan kontur jalur yang lebih terbuka, tanah kering yang nyaman untuk dipijak, dan sudut kemiringan yang tidak terlalu sadis seperti sebelumnya. Di jalur ini, mulai muncul keindahan-keindahan Gunung Puntang.

Gak begitu jauh dari pelataran, terdapat pos bernama Batu Kaca. Pos itu berisi bebatuan  besar yang tersusun cantik di tengah jalur. Di ujung batu kita bisa berdiri dan memandangi jurang yang berisi pepohonan Gunung Puntang yang lebat. Menurut gue pos ini merupakan salah satu keunikan Gunung Puntang.










Sekitar setengah jam berjalan dari Pos Batu Kaca, mulai terlihat lautan awan di sisi kiri-kanan jalur, menyelimuti bukit-bukit di sekitar Gunung Puntang. Seketika bulu kuduk gue merinding, tanda kekaguman gue melihat keindahan ciptaan –Nya.



Pemandangan di jalur menuju Puncak Mega (Puncak Gunung Puntang) sangatlah indah. Lautan awan yang terhampar luas berpadu dengan hijau nya pepohonan di bukit seberang. Rerumputan Puncak Mega yang berwarna kuning semakin bersinar diterpa cahaya matahari yang bersinar cerah di pagi itu. Di sela-sela dan di ujung lautan awan terlihat beberapa pegunungan dan perbukitan yang berdiri kokoh di antara langit.



Pemandangan menuju puncak Gunung Puntang mirip dengan pemandangan saat di puncak Khenteng Songo, Merbabu. Hanya jalur Gunung Puntang relatif lebih singkat ketimbang Merbabu yang memaksa kita untuk melewati beberapa puncak untuk mencapai titik tertingginya. Gelar ‘Merbabu Kecil’ layak disematkan di gunung yang letaknya tidak sebegitu jauh dari Jakarta ini.











Tepat satu jam perjalanan setelah pelataran camp, kita sampai di Puncak Mega (2.222 Mdpl). Total perjalanan kita kali ini adalah 4 jam. Cukup singkat bagi yang ingin mencoba hiking namun takut untuk melakukan perjalanan panjang. Selain itu, waktu pendakian Gunung Puntang yang relatif singkat tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sarana refreshing singkat tanpa harus menginap / camp (One Day Trip).






Di puncak sudah ada beberapa orang yang sedang berfoto riang menikmati puncak. Pagi yang cerah memperjelas pemandangan di sekitar Gunung Puntang. Lautan langit biru dengan pulau-pulau awan berhambur adalah imaji yang terlihat sejauh mata memandang. Sayang sekali pemandangan seperti ini tertutup oleh kisah-kisah misteri yang tidak relevan. Alhamdulillah di perjalanan kali ini gue tidak mengalami kejadian apapun juga. Yang penting kita tetap menghormati lingkungan sekitar.

Hembusan angin sepoi-sepoi yang dingin bercampur dengan hangatnya matahari pagi. Segera kita menggelar alas untuk duduk dan memasak air untuk menikmati secangkir kopi. Waktu menunjukkan pukul 9 pagi dan itu adalah kopi paling enak di dunia. Tak ada yang mengalahkan nikmatnya seduhan kopi  panas di bawah langit, dikelilingi awan, dan dialun lembut angin segar tanpa polusi.

View yang paling mencolok adalah sebuah puncak gunung yang berdiri angkuh melewati awan, berjuang sendiri melawan langit. Sendiri seakan-akan ada dia adalah yang terkuat dibanding lainnya. Puncak yang gue lihat itu adalah Puncak dari Gunung Ceremai, gunung tertinggi di Jawa Barat. Seketika gue menentukan target perjalanan  selanjutnya.





Ceremai, saya datang.




6 komentar:

Aksi Cepat Tanggap mengatakan...

seru nih naik gunung, puntang belum p;ernah


Please visit for For volunteerism, philantrophy dan humanism #LetsHelpRohingya

hotbuy mengatakan...

keren-keren ini pemandangannya .. tempat wisata yang sangat bagus..

OBAT HERBAL MATA MINUS DAN SILINDER mengatakan...

makasih yah atas informasinya

casino online indonesia mengatakan...

nice post gan...
nampak nya seru banget naik gunung gan...
lain kali ajak" donk gan...hehehehe

numpang lapak ya gan....
casino online indonesia
casino online
judi online
baccarat online
baccarat online indonesia
live dealer
live casino
live baccarat
komisi rollingan
live casino indonesia
casino indonesia
komisi tanpa syarat

cara mengobati psoriasis mengatakan...

kerennya pemandangan diatas gunung....melihat indahnya awan dengan dekat
cara mengobati psoriasis

cara mengobati psoriasis mengatakan...

kereeen banget... senengnya bisa liat awan begitu dekat diatas pegunungan