Selasa, Oktober 14, 2008

Another Trip To Medan

Waktu mepet dan kepepet, bukan berarti gak bisa liburan. 4 hari setelah masa libur, tepatnya hari Kamis (9/10/2008) gue berangkat (lagi) ke Medan. Kali ini judulnya buat ngadirin nikahan sepupu gue disana (Congrats' ya put!). Medan, merupakan kota yang unik. Mulai dari makanannya yang beraneka ragam, rupa, dan rasa, desain kota yang masih berisi gedung-gedung tua nan lapuk, dan yang paling unik orang-orang yang ada disana.

Berangkat menuju Medan, pasti ada aja orang-orang aneh yang satu pesawat sama gue. Pernah ada rombongan ibu-ibu berkonde dan berkebaya kayak mau kondangan di pesawat. Kali ini bukan yang kayak begitu lagi yang muncul. Wujudnya tetep ibu-ibu, lokasinya ada di ruang tunggu sebelom naek pesawat. Gue bertemu seorang ibu-ibu yang berharap dengan memutar musik yang di media player, berarti dia mendapat telepon masuk. Gue lagi enak-enak baca buku tiba-tiba kuping gue nangkep lagu, lagu disko kampung yang biasanya didenger di lapakan senen pake speaker yang suaranya sember. Suaranya gede banget, mungkin seantero ruang tunggu bisa denger suaranya. Sumber suara ternyata dari hape seorang ibu-ibu yang ada di depan gue. Dia bilang (lebih tepatnya tereak), "halo...halooo..HALOO...!!" sambil mencet-mencet hape. Yang terjadi selanjutnya adalah bukan jawaban yang dia dapet. Yang terjadi adalah musiknya berubah jadi Ungu - Dengan NafasMu. Dan gue pun terpaksa mendengarkan lagu itu ampe abis, karena sang ibu tidak berhasil menemukan cara menghentikan musik itu.

Trus hapenya bunyi lagi, kali ini bunyi ringtone polyphonic (bener gak sih spelling-nya? bodo ah.. hehe). Kali ini dia berhasil mengangkat karena musik yang keluar emang pertanda ada telepon masuk dan dapet jawaban dari ujung telepon lainnya. Cerita berakhir dengan sang Ibu-ibu berbicara dengan volume maksimal biar semua orang bisa mendengarkan apa yang dia omongin.


Menuju pesawat, banyak orang-orang yang lebih suka menenteng tiga tas dan kardus-kardus yang entah berisi apa ke dalam pesawat. Suasana di lorong pesawat persis kayak naek bis lorena, bedanya ini pake pramugari. Ada satu penumpang pake topi, kulitnya item, kumisnya baplang, dan make jaket kapucon berbahan parasut yang motif dalemnya totol-totol kayak macan tutul. Bapak yang satu ini amat sangat aktif di lorong pesawat, biarpun dia cuma berdua sama temennya yang udah duduk manis di bangkunya tapi dia tetep aja keliling lorong. Bangku dia ada di nomer 30 tapi dia muter-muter keliling lorong pesawat layaknya di rumah sendiri sampe akhirnya mbak pramugari nyuruh dia duduk manis dan rapi.

Pas pesawat lagi jalan dan mau take-off, tiba-tiba dia bangun dan pergi dari tempat duduknya. Gue kira dia mau ngebajak pesawat atau minimal nari tor-tor di tengah lorong. Tapi ternyata enggak, dia menuju lemari di atas bangku, buka pintunya, ngubek-ubek tas-nya, dan mengambil sebungkus plastik yang berisi... CEMILAN. Oke, mungkin perjalanan 2,5 jam menuju Medan tanpa makanan bisa membuat dia gila dan buka celana keliling pesawat sambil jalan jongkok.


Itu pengalaman di pesawat, di kota-nya beda lagi. Disini ada culture yang patut dibanggakan oleh seluruh rakyat Indonesia, yaitu semangat nasionalisme yang tinggi. Filosofi bendera Indonesia berwarna merah-putih adalah merah itu berani dan putih adalah suci. Filosofi itu diterapkan di persimpangan jalan di Medan, lebih tepatnya lampu lalu lintas di Medan. Merah adalah Berani. Jadi kalau di Medan lampu merah itu berarti TANTANGAN. Lampu merah itu berarti tanda untuk kita memacu gas semaksimal mungkin untuk bisa sampai di jalan di seberangnya. Bukan untuk berhenti, karena berhenti = pengecut dan tancap = berani. Kalau ke Medan perhatikan lampu lalu lintas yang ada di sana, kebanyakan besarnya 2 kali lebih gede dari lampu merah biasa. Tapi biarpun udah dikasih lampu merah segede pantat Paman Gembul, tetep aja di Medan itu MERAH = BERANI.

Jakarta punya alat transportasi yang khas yang bernama Bajaj dan Bemo. Medan juga punya transportasi khas, namanya Sudako dan Becak Mesin. Pertama-tama gue mau jelasin Sudako, Sudako adalah transportasi (lumayan) masal yang dimiliki kota Medan. Fungsi dan bentuknya mirip-mirip kayak omprengan atau mikroletnya Jakarta. Ada yang pake mobil Kijang kayak biasa, ada juga yang pake truck Pick-up yang di-modif. Jadinya bagian belakang yang tadinya lempeng aja disulap jadi punya atep trus dikasih tempat duduk di kanan kiri. Kelakuannya juga standar, nyetirnya kayak orang mabok lagi digelitikin. Ugal-ugalan pepet kiri pepet kanan.

Yang kedua namanya becak mesin. Kendaraan ini merupakan kawin silang antara becak sama sepeda motor (atau di Medan biasa disebut kereta). Kalo becak konvensional, biasanya ditarik atau lebih tepatnya digenjot oleh abang-abang yang napasnya berat, ngos-ngosan setengah mati, dan dengan kejamnya ongkos masih kita tawar seminimal mungkin. Tapi becak ini beda, kayak yang udah gue bilang becak ini digabungin sama sepeda motor. Bentuknya kayak motor tandem tapi bedanya tandemnya itu becak. Seperti bajaj, yang mengetahui kemana arah becak tertuju cuma dua. Allah SWT dan supir becak itu sendiri.

Gue naik becak dari suatu jalan di Medan (gue gak tau nama jalannya) menuju Gramedia yang adanya di Sun Plaza (salah satu mol di Medan). Gue berdua sama abang gue dan kita menemukan becak yang oke dan udah deal harganya. Tukang becaknya item legam keturunan India (disebut orang keling kalo di Medan), tapi mukanya kayak artis. Persis kayak yang maen jadi Lintang gede di film Laskar Pelangi. Sesuai dengan nama perannya, jalannya becak selalu melintang. Dan yang lebih bikin jantung keluar masuk kedat kedut, becak ini ngelawan arah. Pas gue tanya sama abangnya kok ngelawan arah dia jawab, "Karena murah jadi motong sikit-sikit lahh.... mumpung gak ada yang jaga...". Trus dia lanjut jalan kenceng sampe berkali-kali mau beradu sama mobil laen. Betapa nasionalisnya orang Medan.

Hai pun dilanjutin sama ngadirin kawinan sepupu gue yang diisi oleh tarian tor-tor yang dipersembahkan oleh orang mabok siang-siang di depan gang yang berkali-kali mau jatoh pas lagi joget. Trus gue balik dan untungnya kali ini aman di pesawat. Oiya, kecuali pesawatnya yang udah mau roboh dan runtuh.
Pesawat yang gue naikin itu generasi kedua pesawat ciptaan Wright bersaudara. Tua banget! Gue takut aja pas mendarat rodanya copot.


Ciaoo..!!

2 komentar:

suryowidiyanto mengatakan...

horas bahhh...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

horaasss juga!!

bah..!!

bah..!!

hehee