Kamis, September 16, 2010

Konklusi Ramadhan

Waduh waduh, telat banget bikin posting ini. Posting tentang Ramadhan tahun ini dan bermaaf-maafan untuk Lebaran. Yah, lebih baik terlambat bukan daripada enggak sama sekali? (sebuah prinsip yang gak diterima dosen kalo telat masuk kuliah, tetep aja gak diabsen)

MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Kalau ada salah-salah kata atau ada posting yang menyinggung, gue mohon maaf sedalam-dalamnya. Terutama untuk tamu blog gue yang post komen ini :

Anonim mengatakan...

hhhhh,,,
npe lo SIRRIIIIK!
susaaaaaah sih..
klo gk suka DIEM AJA..
gk usah komend...
LO TUH CMA TUKANG GOSSIP
YG SUKA NGOMONGIN ORG...
dsar FREAK...


Anonim mengatakan...

kamu yg weird..goblog!


Anonim mengatakan...

A...mimpi lho, F..utk yg tak beradat, dosesnnya namanya ntek nyahok...boggolok weird lho!

Anonim mengatakan...

yg weird tu lo yang nulis blog ini, jahanam lho!

Gue mau ngucapin terima kasih atas kritiknya dan berusaha untuk lebih baik lagi. Ini masih merupakan karya yang prematur, masih butuh banyak perbaikan dan tidak berlaku umum. Pasti ada yang tidak setuju dengan pendapat gue. Tapi sebelumnya gue juga mau bilang, sebelum berkata orang lain goblog, lebih baik liat dulu diri sendiri. Apakah bijaksana mengkritik orang dari balik semak yang gelap?

***

Ramadhan tahun ini, gue mengalami kemajuan dalam hal tarawehan. Cuma bolong 1 taraweh di awal Ramadhan. Setelah itu semua berjalan lancar, walaupun kebanyakan sholatnya sendiri, bukan berjamaah. Sebenarnya -dalam lubuk hati yang paling dalam- gue pengen banget sholat berjamaah.

Apa daya,semua mesjid di deket rumah gue taraweh-nya 23 rakaat. Udah gitu gerakan sama ucapannya cepet-cepet banget dan didominasi surat Al-Ikhlas. Setiap jeda dua rakaat, ada orang yang tereak-tereak bahasa Arab, kemudian disautin sama yang lain. Karena gue gak ngerti harus baca atau nyautin apa, gue cuma bisa bilang, "Hewe hewe hewe heeee...!!" seperti seorang dukun suku pedalaman Afrika lagi ritual minta hujan. Kalo aja gue boleh bergerak pada saat itu, gue bakal nari "Waka-Waka" ala Shakira.

Selepasnya Ramadhan, tentu aja ada Lebaran. Sebuah pesta kemenangan. Kemenangan atas hawa nafsu. Katanya. Atau kemenangan untuk kembali berbuat maksiat? Entahlah. Yang pasti gue gak berani ngerayain abisnya bulan Ramadhan secara berlebihan seperti anak-anak bercelana ketat yang memakai baju hitam dengan sablon tengkorak dan mengusung bendera Slank pada malam Takbiran. Mereka ada diatas, didalam, dan gelantungan di bus PPD yang berjalan miring. Gue jadi kasian mikirin nasib yang ada di dalem bus, mengingat minimnya tingkat kesadaran atas manfaat memakai deodoran untuk lingkungan. Memberikan efek "Global Stinking" yang bisa meluluh lantakkan bulu idung dalam sekejap.

Mereka senang dan bergembira, merasa tugasnya telah selesai dengan baik. Gue gak bisa. Karena gue terlalu minder untuk berpesta pora seperti mereka. Gue gak merasa yakin ibadah gue selama bulan Ramadhan itu baik dan benar. Setelah malam takbiran, saatnya Lebaran. Lebaran yang diawali dengan shalat Ied yang hampir aja gue lewatin karena baca Doraemon di kamar mandi. Terlalu asik ngeliat baling-baling bambu dan berharap pintu kamar mandi jadi pintu kemana saja. Begitu sampe di jalan, shalat udah dimulai. Terpaksa gue olahraga pagi, lari-lari di hari yang Fitri.

Selepas shalat Ied, tentu aja ada sesi wajib tiap lebaran, sesi salam-salaman sama bokap, nyokap dan abang. Abis itu, nungguin sodara-sodara untuk dateng ke rumah trus cabut keliling. Ke rumah para Tetua alias nenek-nenek gue. Kegiatan inilah yang paling berat, karena gue harus makan setiap mampir ke satu rumah. Pada saat itu, gue mengunjungi 4 rumah. Perut serasa mau pecah. Mau nolak gak makan, pasti gak bisa. Karena gue bakal langsung diambilin makanan dengan porsi yang banyak. Mendingan ambil sendiri sambil dilama-lamain, pura-pura ngambil banyak makanan. Taktik yang cukup efektif sampai pada suatu saat gue disamperin, dikasih 3 potong daging asem pedes yang berlemak. Lebaran adalah sebuah proses penggendutan badan secara paksa.

***

Pada hari ketiga Lebaran, gue udah gak keliling-keliling lagi. Untunglah. Perut gue udah perih karena kebanyakan makan, serasa ada alien di dalamnya. Karena pada hari itu gak ada acara, gue berangkat nonton di GI sama sepupu gue, Naya, Ufan, dan Haikal untuk nonton Hello Stranger. Sebuah film komedi romantis tentang sepasang anak muda Thailand yang ketemu di Korea dan menjalin kisah disana.

Filmnya cukup menghibur, tapi ada suatu hal yang menggelitik saat gue nonton film. Bukan, itu bukan kaki orang yang ada di belakang gue naik ke leher. Saat melihat adegan dimana muncul satu karakter secara tiba-tiba tanpa penjelasan apapun, gue menyadari cara pandang gue yang berubah setiap nonton film. Kalo dulu, gue nonton film tanpa logika. Gak ada pertanyaan, "Kok bisa ya kayak gini?" dan semua adegan terlihat keren. Dulu gue percaya aja kalo ada karakter yang tiba-tiba muncul setelah ditembakkin, jatoh ke jurang, atau ditinggal sendirian ngelawan musuh. Sekarang, gue bakal bertanya-tanya bagaimana dia bisa tiba-tiba muncul disana, gimana cara lolosnya, dan (mungkin) siapa nama emaknya.

Logika, harus gue akui, sedikit banyak merusak kenikmatan gue. Saat gue nonton film Power Rangers jaman SD dulu, Tommy si Ranger Putih terlihat keren saat manggil robot macannya dari atas bukit pake alat yang terlihat seperti peranakan antara pisau dan suling. Sekarang, dia terlihat seperti pemain Soneta. Tinggal dipasang syal arab, telpon Rhoma Irama, jadi deh.

Terus terang, gue rindu nonton tanpa logika. Seperti saat gue nonton The Expendables. Gue tau filmnya itu hanya berisi adegan tabok-tabokan, tembak-tembakan, patah-patahin leher,dan sebagainya. Untuk itu gue menggeser tombol logika di otak gue ke posisi "OFF" biar bisa nikmatin filmnya. Adegan demi adegan gue lewati dengan baik tanpa logika. Sampai pada akhirnya gue ngerasa dibodohin, dianggep idiot sama yang bikin film.

Bayangin aja, seorang tentara kekar dengan nyali segede King Kong rela balik ke pulau yang dikuasain ratusan gembong narkoba, bertaruh nyawa, cuma buat nolongin cewek yang baru dia kenal selama +/- 2 jam. Terdengar sangat telenovela. Mungkin judul filmnya harus diganti jadi The Esmeralda. Hal itu diperparah dengan adegan Jet Li minta duit mulu kayak pengemis tanpa ada alasan yang jelas. Gue sukses tertidur. Ternyata gue gak bisa mematikan logika.


Logika adalah produk pendewasaan. Seiring bertambahnya umur, kita semakin pintar membuang rasa senang, sakit, dan sedih, belajar bermain logika, mempelajari untung-rugi dan mengetahui sebab-akibat. Kejadian di bioskop itu membuat gue sadar kalo gue bukan Peterpan. Gue bisa menjadi dewasa.


6 komentar:

Miranti Natakusumah mengatakan...

WOW.
Dari "Hari ketiga lebaran" sampe terakhir...tulisan yang rada beda dari biasanya.
Efek pasca ramadan ya jal? :D

crazy lil outspoken girl mengatakan...

serius lo suka dpt komen2 kayak gitu??WTH bgt sih tu org2
malesin beneeerrrrrr

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@Miranti :
Hahhaaaa... Mungkin nih.Lagi banyak mikir..

@Gadis :
Gak selalu sih, tapi ada.Hehee.. Gpp lah, mungkin mereka pengen nulis tapi gak punya blog. Makanya nulis di komen gue.

watch vampire diaries online mengatakan...

nggak usah di tanggepin orang gila itu

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@vampir diaries : Thanks! :^)

Ipah mengatakan...

niceeee cuma bolong 1 !! xD
suka deh sama kata2 'gue bisa jadi dewasa" !!