Jumat, Oktober 08, 2010

Tes Kerja Pertama

Untuk masuk ke suatu perusahaan, gue perlu mengikuti sejumlah tes. Salah satu tes yang harus diikuti adalah wawancara, dimana gue harus berbicara sama orang asing yang baru sekali itu gue temuin dan membiarkan dia menilai gue dalam waktu 15 menit. Sebenarnya, gue gak suka dinilai sama orang asing. Mereka merasa bisa tau personaliti gue yang terbentuk selama 23 tahun dalam waktu 15 menit. Dan mereka berhasil membuat gue gugup.

Hal itu gue alami saat gue ikut tes masuk suatu bank terkemuka di Indonesia yang namanya terdiri dari 3 huruf (2-18-9). Tes masuk itu terdiri dari beberapa tahap, tahap pertama adalah tatap muka, pada tahap ini penampilan dan keberuntungan memegang kunci lolos-enggaknya gue ke tahap selanjutnya. Bertempat di sebuah auditorium kecil yang muat menampung sekitar 100 orang.

Sayangnya, peserta yang ada itu sekitar 600 orang dan semua pengen cepet masuk ke ruangan, padahal pintu yang tersedia cuma muat untuk dua orang yang berjalan dempet. Imbasnya, suasana disana persis kayak orang mau mudik naik kereta. Desek-desekkan parah, untungnya gak ada orang ngelempar-lempar anak kecil kayak pas mudik. Ampun.

Setelah dapet giliran masuk ke ruangan, gue harus antri lagi. Kali ini ngantri untuk tatap muka. Setelah mendapat giliran, gue langsung maju ke pojok depan ruangan, ketemu sama pria tua dengan wajah berparas keras.

"Selamat siang Pak," kata gue dengan penuh keyakinan sambil ngasih formulir ke dia.

Dia ngeliat-liat berkas yang gue kasih dan mencoret-coretnya, "Selamat siang... Mmmm... Ini lulus sejak kapan ya?"

"Bulan Juli Pak"

"Oke, besok siap tes ya," kata dia begitu selesai meriksa formulir gue.

"Siap Pak, terima kasih," sambil gue ngeloyor pergi keluar. Setelah itu gue harus nunggu hasilnya yang baru keluar pas Maghrib. Tepat setelah buka puasa.

Maghrib, setelah buka puasa. Gue udah buka laptop nongkrongin website pengumumannya. Alhamdulillah nama gue nongol disana dan gue berhak untuk masuk ke tahap selanjutnya, psikotes dan tes bahasa Inggris, yang bakal dilaksanakan keesokan harinya. Yes!

***

Besoknya, gue kembali ke gedung yang bertempat di daerah Manggarai itu. Keadaannya lebih manusiawi dibanding kemarin. Setiap orang udah dapet nomer dan bangku masing-masing. Setelah menemukan bangku yang bertuliskan nomer gue dan nunggu bentar, kuis-nya pun dimulai.

Tes psikotes menurut gue adalah tes imajinasi. Gue harus membayangkan suatu keadaan dan bagaimana jika keadaan itu diubah. Misalnya ada gambar segitiga dan persegi panjang tumpang tindih, gue disuruh ngebayangin gimana bentuknya kalau dua gambar itu diputer.

Selain itu ada juga tes menggambar. Kalau sebelumnya gue udah dikasih gambar, dalam tes ini gue harus menciptakan sebuah gambar. Gue disuruh bikin 2 gambar, pohon dan orang. Terus terang kemampuan gambar gue jauh dari definisi kata 'Bagus' atau 'Luar Biasa'. Kemampuan gambar gue lebih masuk ke dalam definisi kata 'Ancur' dan 'Lebur'.

Pada kertas pertama gue gambar orang lagi main basket dengan gaya freestyle lagi ngangkat tangan lengkap dengan bulu keteknya. Senyum orang itu terlihat nyengir-nyengir. Maksud gue sih pengen bikin dia seperti sedang menikmati permainanya di lapangan. Tapi karena kemampuan gambar gue, dia terlihat seperti lagi nyengir-nyengir mesum. Mungkin dia bukan seorang atlit, tapi germo yang nyamar buat rekrutmen orang di sekitar lapangan.

Kertas yang satu lagi harus gue isi degan gambar pohon. Disini gue sempet bengong sebentar. Bingung menentukan pohon apa yang harus gue gambar. Gue liat tetangga gue sebelah kiri, dia lagi gambar pohon mangga. Tetangga gue sebelah kanan, mangga juga. Hmm. Mangga. Buah favorit gue. Pohonnya gitu-gitu aja dan buahnya gampang. Jadilah gue gambar mangga.

Pada awalnya gue membuat dahan mangga dengan hati-hati, lekukannya harus rasional dengan daun yang lebat. Tapi begitu pengawas tes udah tereak, "10 menit lagi" gue langsung panik. Langsung aja dahannya gue tarik asal-asalan dan daunnya udah kayak bakso salah urat. Di tengah awut-awutan antara dahan dan daun, baru gue taro buah mangganya. Jadi deh pohon mangga yang cocok untuk muncul di kartun Nightmare Before Christmas.

Begitu pohon mangga gue selesai, masih ada waktu kesisa. Nengok kanan-kiri lagi. Depan-belakang juga. Gue baru sadar kalo semua orang mempunyai pikiran yang sama. Semua menggambar pohon mangga. Wey, pikiran gue terlalu umum. Pikir-pikir sebentar, akhirnya gue punya ide cemerlang. Gambar pohon mangga mimpi buruk itu gue tambahin.

  • Ada bulan sabit di pojok kanan
  • Tambahin awan-awan
  • Kuburan lengkap dengan batu nisannya, dan nama yang tinggal disana
  • Orang lagi pesugihan, plus sesajen dan asap kemenyan
  • Judul gambar nya gue bikin 'Pohon Mangga Keramat'
  • 1 minggu setelah itu, gue dinyatakan lulus psikotes
  • Konklusi : Gue lolos pake bantuan dukun
Kelar psikotes, gue harus ikut tes wawancara. Wawancara pertama gue. Gue belum pernah ngerasain wawancara kerja sebelumnya. Well, ada sih. Pas gue mau magang . Tapi disana gue gak ditanya-tanyain apa-apa. Langsung disuruh masuk dan gak boleh masuk kerja kepagian. Karena kalau datengnya kepagian bakal dibilang selingkuhan OB. Gue gak suka OB. Terutama karena dia laki-laki.

Jadwal wawancara jam 10, jam 9 gue udah sampe dan langsung disuruh briefing. Setelah itu gue disuruh nunggu giliran wawancara. Pada saat itu ada satu orang lagi yang nasibnya sama kayak gue, lagi nunggu wawancara juga. Mulutnya komat kamit ngebacain buku kecil yang ada di tangannya. Sekelebat gue sempet ngeliat tulisan arab di kover buku itu.

Gak mau kalah dengan dia yang lagi baca. Gue ikut-ikutan baca. Apa yang gue baca lebih gede dari dia, butuh dua tangan untuk ngebukanya lebar. Dengan kepercayaan diri tingkat tinggi, gue ngebuka TOPSKOR. Bukannya doa, gue malah ngeliat berita tentang bola. Maafkan saya ya Allah. Bukannya sombong, cuma penasaran.

Orang-yang-baca-doa itu akhirnya dipanggil. Gak lama setelah itu, dia keluar. Tibalah giliran gue untuk diwawancara. Gue langsung menarik nafas panjang untuk menenangkan diri, "Bismillah....!!"

Gue membuka pintu ruangan wawancara. Di dalam ada dua orang yang udah gue pernah gue liat saat tes dulu. Yang pertama adalah orang yang tatap muka sama gue di awal. Yang kedua mukanya mirip Rhenald Khasali. Ngeliat dua orang yang mukanya sangat serius itu, gugup gue seketika langsung muncul. Bahkan gue sampe diingetin untuk nutup pintu.

"Coba ceritakan secara singkat tentang diri kamu"

Gue langsung ceritain tentang hidup gue, mulai dari orangtua, tempat tinggal, sampe kehidupan kampus gue. Sampai sini gue masih bisa mengendalikan diri gue.

"Cita-cita kamu untuk saat ini apa?"

Waduh. Gue baru inget kalo gue belum punya cita-cita. Sebenarnya ada sih. Cita-cita gue pengen menguasai dunia. Tapi kalo gue bilang apa cita-cita gue itu, gue bakal dikira Hitler baru dan dilarang untuk memelihara kumis.

"Gubernur BI Pak"

"Wow, kenapa?"

Nah. Sampai sini gue makin bingung. Gue juga gak ngarti gubernur BI tugasnya ngapain, yang gue tau cuma kerjanya dimana. Di daerah Thamrin. Akhirnya gue jawab asal-asalan, muter-muter gak nentu, "Saya... ingin... mengaturr... tentangg... keuangan... Indonesia"

Jidat orang yang ngewawancara gue berkerut. Gue langsung sadar kalo gue telah berbuat kesalahan. Muncul lah paniknya gue. Badan gue dingin, seperti ada es darah mengalir di dalam pembuluh darah gue.

"Apa gebrakan yang akan dilakukan BI akhir-akhir ini," kata si pewawancara.

"Denominalisasi Pak"

"Coba jelaskan sama saya tentang hal itu sambil berdiri, anggep saya orang awam"

Masalahnya, gue juga awam. Gue cuma tau denominalisasi dari headline koran tanpa baca artikelnya. Itupun salah. Nama seharusnya adalah redenominasi.

"Ok, denominalisasi," gue menuliskan kata salah itu di papan tulis. "Denominalisasi adalah penyesuaian mata uang dengan cara mengubah penyebutannya. Denominalisasi berbeda dengan pemotongan nilai mata uang, dimana nilai mata uang itu berubah. Rencana Indonesia adalah mengurangi tiga nol, misalnya 1000 menjadi 1 rupiah"

"Saya sering nih kalo nyetir ketemu sama Pak Ogah di jalanan. Saya biasanya ngasih 500 rupiah, nah kalo ada redenominasi ini, saya harus ngasih berapa?"

Sungai es di pembuluh darah gue banjir bandang. Airnya keluar jadi keringet dingin. Dengan adanya redenominasi maka 500 jadi disebut jadi 0,5 rupiah. Masalahnya gue enggak tau 0,5 rupiah itu berapa sen. Sebuah hal sepele memang. Tapi karena itu gak pernah jadi concern buat gue, itu dianggap tidak penting untuk diketahui.

"5 sen Pak"

"5 SEN!? 5 SEN!!? .... Baca baik-baik lagi ya soal itu, silahkan kembali duduk"

Oh, gawat. Semakin gawat. Ini RAJANYA GAWAT. Gue salah. Panik gue udah sampai ke tingkatan maksimal. Otak dan pikiran gue udah gak fokus. Tiba-tiba semua hal yang udah gue pelajarin sebelumnya, hal-hal tentang bank tersebut, menguap seketika di udara. Ah. Gue tau kalo gue udah gagal. Gak beberapa lama, wawancara gue selesai dan dipersilahkan untuk keluar dari ruangan. Langkah gue gontai. Sampainya di rumah gue kecewa sama diri sendiri dan tidur dari jam 11 sampe setengah 7.

Antara kecewa sama mental kebo gendud. Doyan tidur.

3 komentar:

ndutyke mengatakan...

emang 0,5 itu berapa? 5 sen bukan sih?
astaga...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@ndutyke : Yak, anda salah! Hahahaa

mahatrywan fhony mengatakan...

info bagus mas. Baru aja gagal psikotes pas roadshow astra k kmpus kmrn.
bingung jg, gmbrny hrs gmn y?

_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _
otasirama.blogspot.com