Senin, Agustus 30, 2010

Tukang Administrasi

Masa kuliah itu telah berakhir. Masa kuliahbyang dimulai dari tahun 2005 dengan rambut botak dan celana nomer 36, diakhiri dengan rambut sedikit banyak dan celana nomer 33. Kesimpulan : Saya masih tetap gendut.

Tahun 2005, gue masih jadi mahasiswa baru yang disuruh untuk jadi paduan suara acara wisuda. Gue duduk di tribun paling atas dalam gedung aula UI yang bernama Balairung. Memakai jaket kuning yang masih berbau pabrik, kemeja putih bekas SMA dengan tanda OSIS yang udah dilepas, dan celana putih ala John Travolta di film Grease.

Ngomong-ngomong tau gak kenapa lambang OSIS ditaro di dada?
Jawab :
Karena kepanjangan OSIS adalah Ojo Senggol Iki Susu
(sumber : Guru SMP yang perawakannya mirip Luigi dari Mario Bros).

Kembali ke topik awal, wisuda, pada saat itu, gue berada di bagian suara Tenor. Entah suara macam apa yang disebut tenor. Gue sendiri gak tau kenapa gue bisa masuk golongan tenor, padahal suara gue kayak knalpot motor.

Sebagai anak baru, gue mendapat tugas menyanyikan lagu Gaudeamus Igitur dan lagu-lagu lain untuk para wisudawan. Sebelumnya gue juga sempet latihan paksa selama 4 hari sama konduktor-nya. Disebut latihan paksa karena latihan tersebut diwajibkan. Diabsen. Katanya kalo gak ikut nilainya dikurangin. Sebuah ancaman kosong yang sukses mengelabui ribuan mahasiswa baru pada saat itu. Termasuk gue.

Latihan itu pada akhirnya terbuang percuma, karena pada saat nyanyi benerannya gue kebanyakan duduk-selonjor-tiduran, menikmati angin sepoi-sepoi yang menyusup melalui ventilasi Balairung. Buku kuning yang isinya teks sama notasi lagu sukses jadi kipas angin manual. Dan Keroncong Kemayoran pun jadi lagu pengantar tidur.


Kelakuan gue saat jadi paduan suara dulu itulah yang membuat gue gak bisa ngeliat keadaan di bawah. Gue jadi gak bisa ngeliat kalo lulus Cum Laude duduk di barisan paling depan dan mempunyai kesempatan untuk masuk DVD Wisuda lebih besar. Tau gitu, gue belajar. Hehee. Rendah amat yak.


***

Pada tahun 2010, saatnya gue yang memakai toga. Toga yang bahannya panas. Gue curiga toga itu dibikin dari bahan eks bioskop panas di Grand Senen. Mungkin kalo gue buka jaitannya, bakal ada gambar cewek setengah telanjang dengan tulisan "BERCINTA DENGAN MAUT".
Dan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, gue bukan termasuk kaum Cum Laude. Jadi gue gak mempunyai hak untuk duduk di bangku paling depan (kecuali gue bawa bangku sendiri dan tahan ditombak Rektor). Oleh karena itu, gue harus cari duduk sendiri. Dan sialnya, bangku yang kosong cuma ada di paling belakang. Sial. Padahal gue mau dadah-dadahin maba. Belagak ngetop, berharap ditimpukin logam lima ratusan, kayak anak-anak kecil di laut saat kita mau berangkat naik kapal Ferry dari Merak menuju Bakauheni.

Di tempat itu, para petinggi UI keliatan kayak kutu goyang dangdut. Item, kecil, goyang kiri, goyang kanan. Muka mereka cuma bisa keliatan jelas dari TV yang udah disediakan di depan barisan. Itupun bercampur dengan para Cum Lauder (sebutan untuk orang-orang Cum Laude) yang sesekali disorot dan tersipu malu. Persis kayak mbak-mbak yang digodain selepas taraweh.


Karena gak bisa liat apa-apa dan gak ngerti jalannya acara wisuda, kegiatan gue di bangku paling belakang itu cuma maen lempar komentar. Mulai dari pidato Om Gum yang pake Bahasa Inggris terbata, nyumpahin perwakilan maba kesandung dan nyusruk (untuk menambah tense acara wisuda), sampai ngomongin perwakilan wisudawan yang cakep. Ternyata wisuda cuma gini doang. Kerjaannya cuma nontonin orang tanpa bisa dengerin apa yang dia bilang, efek buruknya kualitas speaker dan akustik gedung. Lebih enak nonton cengdoleng-doleng (dangdut kampung), bisa goyang dan nyawer. Seenggaknya, apa yang disampaikan cendoleng-doleng jelas : AYO GOYANG DANGDUT.

Kalau menurut gue, saat wisuda udah dirasain sehari sebelumnya, dalam acara yang bernama Gladi Resik. Di acara itu gue bisa salaman dan difoto sama Rektor UI dan Dekan FISIP. Sayang gak ada sesi tanda tangan. Padahal gue pengen minta tanda tangan di toga. Hehee. Di acara Gladi Resik itu, kerjaan Pak Rektor cuma berdiri sambil nyalamin sekitar 2000 wisudawan/i. Gue jadi iba sama dia. Gue takut tangannya remuk kebanyakan disalamin.

Saat gue dapet giliran salaman, telapak tangannya udah keringetan. Entah udah ada berapa negara bakteri dengan trilyun penduduknya ada disana. Siapa tau ada wisudawan yang lupa cuci tangan abis pipis atau boker. Pengen rasanya gue suruh dia cuci tangan dulu, tapi gue takut ijazah gue disumbangin ke tukang nasi uduk untuk ngebungkus tempe mendoan.


Saat hari-H wisuda, beliau lebih banyak pidato dengan intonasi seperti presenter acara Uka-Uka atau narator Scary Job. Termasuk pidato penutup wisuda yang menandakan kalau gue udah resmi menjadi sarjana. Kalau si Doel "Tukang Insinyur", gue "Tukang Administrasi" karena gelar gue yang Sarjana Ilmu Administrasi. Saat keluar dari Balairung. Ingatan-ingatan gue tentang UI terproyeksi di kepala. Gedung Rektorat, Balairung, danau, mesjid UI, dan FISIP.

Tempat-tempat itu memegang peranan penting dalam hidup gue. Mengajarkan gue untuk tumbuh dan belajar berpikir secara dewasa. Mempersiapkan gue dengan ilmu-ilmu untuk terjun ke masyarakat. Berkontribusi kepada bangsa & negara, menjaga ketertiban dunia, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sesuai sama pembukaan UUD 45'.


tukang administrasi

Karena pembukaan UUD 45' udah dibaca, ayo kita upacara.



2 komentar:

crazy lil outspoken girl mengatakan...

ih ya ampuuun..unyuk bgt deh yey pake toga gitu!!
uuuuhhh gemeeessss pengen nabok!!hahahhahaha
selamet ya ikaaaaaaaaaannnn
semoga cepet dapet kerja, jadinya bisa traktir2 gw on our next meet up!ohohoohoho
anyways, itu gak ditaro foto sm PW-nya kan??udah dapetinnya penuh perjuangan...taro doooonk :p

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

PW tuh apaan dis?