Minggu, Agustus 22, 2010

Alasan Sebagai Pengalih

Hari ini tanggal 22 Agustus 2010, entah udah puasa hari keberapa.

Ah, bulan puasa. Bulan dimana ibadah menjadi suatu kenikmatan, bukannya beban. Kenapa gue bisa bilang beban? Karena jujur aja, kalau di luar bulan Ramadhan, kaki ini serasa berat untuk beribadah. Padahal mungkin tempat wudhu atau tempat sholatnya cuma berjarak 3 langkah kaki semut atau curut. Sebuah borok yang kalau dibiarkan bisa membusuk dan mengeluarkan bau gak sedap. Kayak gembel di kereta jurusan Kota-Bogor yang punya borok segede kaki, jalannya ngesot dan luka itu udah mulai bernanah. Bau anyir menusuk ke idung setiap dia lewat.

Gue mengibaratkan borok gembel itu dengan kemalasan gue menjalankan ibadah. Borok itu pastilah kecil pada awalnya, tapi karena lama tidak diobati, penopang gue rusak dan hidup akan dijalani dengan seretan tertatih-tatih. Borok itu membesar dan merusak. Sama dengan menjalani hidup tanpa penopang, akan membuat sulit untuk bergerak.

Di bulan Ramadhan ini, ibadah terasa nikmat. Sesuai dengan apa yang udah diceritain, setan-setan pengganggu dikurung. Setan-setan yang sering ngebisikin gue dengan kata-kata, "Tanggung, acara TV-nya bagus", "Jauh tau tempatnya, panas nih udara," secara ajaib menghilang begitu aja. Yah, seharusnya gue yang mengendalikan mereka. Bukan sekedar dikurung. Susah juga kalo misalnya gue diganggu terus tapi gak ngelawan. Banci banget.

Perjalanan gue buka puasa bareng anak-anak ADM 2005 ke Panti Asuhan untuk anak-anak cacat juga membuka mata gue yang terlalu menyipit ini. Di tempat itu gue ngeliat banyak orang dengan berbagai keterbatasan fisik dan mental. Mereka sulit untuk beribadah. Bahkan untuk menyuap makanan ke mulut dengan sendok pun sulit. Tangannya mencong kanan mencong kiri, gak sempet sampe ke mulut. Sebuah renungan baik untuk pengingat keadaan gue yang termasuk beruntung ini.

Sebenarnya apa sih yang ngebuat gue males ngejalanin ibadah? Kalo dibilang gerakannya bikin capek, enggak juga. Durasi lama? Palingan cuma 5 menit aja. Pokoknya berbagai macam alasan keluar kalo mau ibadah. Dari yang umum kayak tadi, atau yang aneh kayak males muka berminyak karena basah dan males buka sepatu. Alesan-alesan bodoh yang dibuat-buat.

Seperti alesan yang pernah gue buat waktu mau cabut pas SMA dulu. Tepatnya pas kelas 2 SMA. Pada saat itu untuk cabut dari sekolah harus disertai alesan-alesan konkrit kayak rumahnya kebakaran, usus terburai, atau sekarat menjelang wafat. Selama nafas gue masih ada di dalem badan, belum sampe di kerongkongan, gue gak boleh keluar dari sana.

Untuk itu, gue ber-4 sama temen-temen pemalas gue berembuk nyari alesan. "Bilang aja kita mau ikut lomba band di luar," kata salah satu temen gue yang langsung ditanggepin, "Ah, kurang konkrit. Masak gak ada posternya". "Iya juga yah," kata dia. Ide-nya batal.

Sempet terjadi keheningan sesaat. Semua orang berpikir, mencari ide cemerlang. Sampai pada akhirnya ada salah satu makhluk yang dijuluki Tengil melontarkan sebuah ide, "Bilang aja kita mau bikin soundtrack Pemilu!". Setelah itu semua pandangan mengarah ke dia. Kita semua diem sebentar, memproses ide yang sebenarnya rasional untuk saat itu, tahun 2004, dimana sedang diadakan Pemilu. Mungkin dia banyak baca koran tetangga, hasil nyegat tukang koran pas pagi-pagi buta.

Tapi kalau emang gue yang ditunjuk untuk ngisi soundtrack Pemilu, tentu aja sekolah udah ngadain pesta besar-besaran 7 hari 7 malam, dangdut koplo semalam suntuk. Sadar kalau itu ide adalah ide yang jelek, tanpa menggubris ide itu lebih lanjut, kita semua kembali diskusi.

"Gini aja, kita bilang aja ikutan audisi band, gmana tuh? Kan gak perlu poster," sahut temen gue sambil getok meja kelas yang terbuat dari kayu dan (sedikit) berayap.

"Bener juga ya. Kemaren kan emang kita daftar audisi, yaudah coba aja!" kata gue membuat kesimpulan.

Saat istirahat kedua, jam 12 siang, gue menghadap Wakasek gue. Dia adalah guru yang terkenal atas kegalakannya. Konon galaknya dia ngelebihin macan kumbang yang puasa makan seminggu penuh. Dengan memasang muka yakin, percaya diri, dan memohon, kita dateng ke meja dia.

"Bu, mau izin keluar"

"Mau ada apa ya?" lirik dia sambil tetap berkonsentrasi dengan kertas-kertas yang lagi dibolak-balik. Entah kertas apa martabak.

"Begini bu, kami kemarin kan daftar audisi band. Nah, ternyata itu harus dateng sekarang, jadi kami mau izin dulu bu keluar.."

"Oh, SMA mana emang?"

Gue dan temen gue menyahut berbarengan, tapi kata-kata yang berbeda.

"Dua bu," kata gue dan, "Tiga bu" kata temen gue. Mampus.

Tatapan dia langsung fokus. Fokus untuk mendelik dan melotot, seakan-akan bola matanya mau keluar dari rongga mata yang berwarna hitam itu. Hitam seperti Lubang Buaya.

"Kalian mau ngebohongin saya!?" bentak dia dengan pelototan mata yang menusuk itu. Seperti laser-nya Cyclops di X-Men.

"Eh, bukan tau. Yang 3 mah masih entar-entaran. Sekarang itu 2," kata gue tanpa bisa menutupi kegugupan.

"Oohh iya, iya maksudnya itu bu... hehehe," kata 3 orang lainnya ikut-ikutan. Biar gak makin runyam rencana.

"Bener nih!?" tatap si Ibu guru untuk memastikan.

"Iya bu.." kita menjawab berbarengan. Mantap.

"Yaudah," dia pun tanda tangan di empat surat izin keluar sekolah itu. Senyum bajing tersungging di muka kita.

Setelah itu, semua berjalan mudah. Mulai dari ngelewatin guru piket sampai satpam di depan sekolah. Tanda tangan Wakasek udah di tangan, mau bilang apa mereka? Cuma iya-iya aja. Walhasil kita semua langsung meluncur ke rumah temen gue yang kebetulan udah cabut dari awalnya. Disana kita maen PS, nonton DVD, dan maen komputer. Berbahagia karena berhasil cabut.

***

Sore hari, jam setengah 3. Kita berencana kembali ke sekolah, pengen maen bola. Kita semua punya tradisi main bola abis kelar sekolah yang harus selalu dilestarikan sampai kapanpun juga.

Saking semangatnya, kita sampe ke sekolahnya kecepetan. Gerbangnya masih ditutup. Karena mental pada saat itu masih mental cabut, kita semua ngumpet dulu di balik mobil, ngintip-ngintip sambil berdiri. Bahasa kerennya itu mindik-mindik.

Dari kejauhan keliatan guru Sosiologi yang kita kenal, namanya Bu Marlina, dateng. Entah kenapa kita semua langsung panik ngeliat dia.

"Cuy cuy... Bu Marlina cuy..." kita langsung grasak-grusuk begitu ngeliat dia. Rusuh. Empat orang yang bergerak panik secara bersamaan tentu aja menarik perhatian. Apalagi keadaan kita masih pake baju seragam dan jam sekolah belum selesai.

"Ngumpet... Ngumpet... Keliatan begooo!!" saking rusuhnya kita, secara gak sadar kita melakukan perbuatan bodoh. Kita ber-4 ngumpet di balik pohon. Empat orang yang badannya gede-gede ngumpet di balik pohon, dengan posisi persis kayak anak kecil lagi main 'Ular Naga Panjang'. Tentu aja pohon yang gak terlalu lebar itu gak bisa nyembunyiin empat orang yang bertumpuk di baliknya.

"Ngapain kalian ber-4 disini!?"

"Abis audisi band bu..."

"Trus ngapain balik lagi!?"

"...." saking paniknya, kita bungkam seribu bahasa. Gak tau mau ngomong apa.

"Ikut Ibu ke kantor Wakasek!" kita semua langsung digiring ke kantor Wakasek.

Sesampainya disana, ternyata Ibu Wakasek yang ngijinin kita udah pulang dan kita dihadepin sama Wakasek cowok yang gak terima begitu aja alesan kita. Sampe-sampe dia minta nomer telepon sekolahnya. Kita mati total. Matot. Karena dia diem aja, beliau pengen manggil orangtua kita ke sekolah.

"Yasudah kalau begini, besok orangtua kalian dateng kesini"

Zeengg. Bulu kuduk langsung merinding begitu denger vonis itu. Alesan baru mulai dikeluarkan untuk menyelamatkan diri.

"Aduh pak, jangan dong Pak. Ini kan baru pertama kali kita kayak gini, lain kali enggak deh Pak... Jangan panggil orangtua dong Pak tolong..."

Dia berpikir sebentar sambil ngeliatin kita satu-satu, "Baik, tapi kalian janji jangan ngulangin ini. Kalau sampai Bapak tau, gak ada ampun lagi"

Baik sekali Bapak Wakasek ini. Di belakang kepala seakan-akan ada seberkas sinar terang, sinar pengharapan. Kita langsung nyalamin dia, cium tangan, "Wah terima kasih pak, terima kasih banyak Pak. Kami janji gak akan ngulangin lagi"

***

Yah, alesan cuma alasan. Perbuatan itu tentu saja kita ulang lagi, tapi dengan taktik yang lebih sempurna sehingga gak ketauan. Mungkin alesan seperti ini berlaku untuk mengelabui manusia, tapi gue yakin ini gak ada pengaruh apapun kepada-Nya. Jadi, berhenti membuat alasan dan mulai lah berbuat sesuai apa adanya.


0 komentar: