Minggu, November 23, 2014

Gede Jalur Selabintana

Pada pendakian pertama ke Gede, gue sempat bersumpah serapah untuk tidak kembali kesana. Bahkan tidak mau mendaki lagi. Capek. Lebih enak di rumah nonton soft copy film bajakan sambil minum susu coklat hangat dan berlindung di balik hangatnya bed cover yang menjaga kulit dari dinginnya AC kamar. Tidak adak logika yang tepat apabila harus menjawab pertanyaan, "Kok lo mau hiking? Kan capek."

Namun Indonesia terlalu cantik untuk sekedar dinikmati melalui layar televisi, terutama melalui Indonesia Bagus, program andalan NET. yang baru saja menang KPI Awards 2014 untuk kategori Program Televisi Best Feature Budaya. Promosi dikit.

Tidak. Cara untuk menikmati Indonesia adalah dengan keluar rumah dan merasakannya. Selagi bisa dan selagi mampu. Oleh karena itu, gue menerima ajakan teman untuk kembali ke Gunung Gede. Walaupun gunung itu pernah bikin gue terlentang diatas batu dengan kaki beset sana-sini. 

Pada perjalanan sebelumnya, gue mendaki Gede melalui jalur Putri dan turun di Cibodas. Kali ini gue diajak untuk naik melalui jalur Selabintana dan turun di jalur Putri. Mendaki di Sukabumi dan turun di Bogor dalam jangka waktu satu hari tanpa camp seperti sebelumnya. Lebih capek, jelas. Namun alam selalu menggoda untuk dihampiri.

***

18 September 2014 Pukul 2100, perjalanan dimulai. Memanfaatkan jasa busway, gue berangkat ke Cawang-UKI untuk naik omprengan ke Ciawi dengan tarif 15.000. Pukul 0000 gue sampai di Ciawi dan lanjut naik L300 yang bertarif 20.000. Tidak pakai menunggu lama, karena sudah banyak yang mengantri dan konsumen nya pun banyak. Sehingga mobil tidak butuh waktu lama untuk penuh. Walaupun tetap ada drama, "Masih muat satu orang!" padahal sisa tempat cuma cukup untuk satu curut.

L300 mungkin satu-satunya angkot menuju Sukabumi yang ada sampai larut malam. Supir-supirnya adalah jebolan pengendara F1 yang tidak lulus psikotes karena tidak mampu memahami fungsi pedal rem pada mobil. Style mengemudinya ugal-ugalan cenderung nekat. Jalur Ciawi-Sukabumi pada larut malam mayoritas dilewati truk-truk pengangkut material yang berjalan lambat. Apabila jalan L300 terhalang, maka supir akan mencari jalan apapun untuk bisa melewatinya. Garis bawahi kata apapun.

Di malam gelap yang sunyi tersebut, terlihat seberkas kecil cahaya merah di ufuk gelap. Sambil memicingkan mata, supir L300 menganalisa jalan dua arah yang hanya muat untuk dua mobil tersebut. Sebelah kiri got dan dari arah berlawanan muncul cahaya putih yang terlihat semakin mendekat. Sepertinya ada truk. Melalui kalkulasi yang bisa membuat seorang Albert Einstein tercengang kaget, supir memutuskan untuk memacu gas ke arah berlawanan.

Berbekal mesin mobil yang (mungkin) pada siang harinya dipakai sebagai mesin parutan kelapa, percepatan L300 untuk mendahului truk sangat payah. Namun insting supir mengalahkan logika, injakan di pedal gas malah  ditambah. Deru mesin semakin berteriak kencang dan seakan mau meledak ke 7 arah mata angin. Truk di arah berlawanan pun sudah semakin mendekat, mengedipkan lampu dan membunyikan klakson. Sambil memekik tertahan, gue menyaksikan flashback kehidupan dan berpikir kenapa gue mempercayakan sisa nyawa ke supir yang nyalip truk dengan tangan kiri memegang stir dan tangan kanan bersandar di jendela menopang pipi.

Mobil akhirnya berhasil menyalip truk dengan selisih jarak yang sangat tipis dengan truk di arah sebaliknya. Lampu truk dari arah yang berlawanan sampai bisa menerangi seluruh kabin mobil dan memperlihatkan para penumpang yang rata-rata sedang memejamkan mata. Entah tertidur atau berpura-pura tidur. Oke. Gue coba cara mereka dan mulai merunduk sambil memejamkan mata.

Posisi tempat duduk gue yang berada di sisi kiri mobil tepat di samping jendela membuat kepala dan badan gue terantuk-antuk saat mobil bermanuver menantang maut. Tanpa melihat pun badan gue bisa merasakan kalau mobil berjalan miring kiri saat menyalip kendaraan lain lewat kiri jalan yang off-road dan berbeda ketinggian dengan jalan aspal.

Karena mata susah terpejam, sesekali gue mengangkat kepala untuk mengecek keadaan jalan, namun apa yang gue saksikan sangatlah membuka tabir jiwa. Mendekatkan gue ke Yang Maha Kuasa. Gue melihat batang kayu. Yak, tumpukan batangan kayu yang mungkin hanya berjarak 30cm dari jendela L300. Shocking. Ternyata dia lagi nyalip truk bermuatan kayu batang dan dari arah berlawanan ada motor. Jadilah L300 dempet-dempet mesra dengan truk, memaksa motor untuk akrobat di ujung aspal.

Pukul 00.45 kita sudah sampai di kota Sukabumi. Jarak +/- 50km yang lazimnya ditempuh dalam waktu 1,5 jam hanya ditempuh dalam jangka waktu 45 menit. Hebat. Bahkan mungkin seorang Fernando Alonso pun tidak bisa melakukan hal tersebut. Oleh L300 kita diturunkan di sebuah mesjid besar yang ada di tengah kota Sukabumi. Sambil menunggu dua orang anggota tim yang masih dalam perjalanan ke Sukabumi. Gue dan 2 orang teman keliling untuk cari carteran angkot ke Pondok Halimun dan makanan untuk makan  siang. 

Sekitar pukul 0200 2 orang temen gue dateng dan lengkaplah tim pendakian kami yang terdiri dari 5 orang. Dengan tarif 20.000 /orang, berangkatlah kita menuju Pondok Halimun menggunakan jasa angkot carteran. 

Pukul 0300, kita sampai di Pondok Halimun. Jalur dari Sukabumi - Pondok Halimun bisa dibilang sangat hancur dan membingungkan.Kita sempat nyasar dan berkali-kali kolong angkot terbanting ke lubang-lubang yang tersebar di sepanjang jalan. Pekatnya malam yang  bersekongkol dengan liukan pohon bambu membentuk bayangan yang terlihat seperti lambaian tangan. Seperti film Nightmare Before Christmas. Atau Malam 1 Suro. Untungnya di sepanjang jalan gak ada tukang sate.

Sesekali gue khawatir angkotnya rontok karena menghujam lubang yang tak kunjung ada habisnya. Namun tentu saja itu tidak terjadi. Segala kalkulasi dan hitungan fisika tidak berlaku untuk angkot-angkot di Indonesia. 

Di Pondok Halimun kita mampir ke salah satu warung, sarapan, packing ulang, dan persiapan pendakian (baca : buang muatan). Pukul 0400, kita mulai mendaki Gunung Gede via Selabintana.




***

Pintu masuk jalur Selabintana kecil dan sering membingungkan pendaki yang terjebak mengikuti jalan besar menuju air terjun. Vegetasinya rapat dan langsung menanjak. Seketika nafas gue tersengal-sengal. Suatu kondisi yang wajar karena biasanya 1 jam di awal pendakian badan gue beradaptasi, ber-resisten, dan berpikir ulang kenapa mau-maunya gue capek mendaki. Biasa lah, lamunan si bodoh.

Gelap demi gelap kita tembus dan dari kejauhan terdengar suara adzan subuh berkumandang. Kita memutuskan berhenti sejenak untuk sholat. Walaupun tidak terlalu suci, menurut gue sholat di jalur pendakian atau di puncak gunung terasa lebih khidmat dan syahdu. Cuma ada kita, Allah SWT, dan alam.

Selepas sholat, perjalanan kita lanjutkan. Pada saat matahari mulai terbangun dan cahaya mulai menyusup menyinari hutan, pada saat itu lah kami bertemu dengan para penghuni jalur Selabintana. Mereka dinamakan pacet, sebuah makhluk yang berbentuk seperti cacing dengan ukuran sebesar dua ruas jari kelingking dan bergerak menggunakan mulut. Begitu melihat ke bawah, ternyata perjalanan gue ditemani oleh 3 ekor pacet yang nangkring di celana dan baju.

Jikalau pacet itu sempat menyentuh kulit, maka darah kita akan dihisap olehnya. Mereka akan melepaskan gigitannya apabila badan mereka sudah bengkak dan penuh. Manusia perlu belajar dari pacet, mereka aja tahu kapan harus berhenti, tidak tamak dan kemaruk. 

Apabila ditarik paksa, kulit kita akan ikut ketarik dan terluka. Oleh karena itu kita siap sedia bawa minyak sereh supaya gigitan pacet akan terlepas sendiri saat diolesi minyak. Mungkin mereka males dengan bau minyak sereh yang sengit atau mungkin mereka sedih karena bau minyak sereh seperti bau nenek-nenek. Mungkin mereka ingat nenek mereka masing-masing di kampungnya.

Untungnya pacet yang nempel di baju dan celana gak sempat menyusup ke permukaan kulit. Belum perlu minyak sereh, hanya butuh daun kering untuk mencabut gigitan pacet tersebut. Sebelum mencabut, gue melihat cara mereka bergerak. Mereka memakai gigitan itu sebagai penampang untuk kemudian salto dan merambat pelan-pelan sampai menemukan kulit-kulit lezat yang siap dihisap. Mereka terlihat seperti cacing tanah psikopat.

Pukul 0700 kita sampai di pos pertama. Sambil duduk dan merenggangkan kaki, kita menikmati sajian Coki-Coki, biskuit gandum, dan madu sachet. Setengah perjalanan sudah kita lalui, di pos ini terdapat papan penunjuk jalan bertulisan : Surya Kencana 6,5KM. Lumayan, jalur Selabintana yang (konon) berjarak 11KM sudah kita lalui hampir setengahnya.

Perjalanan dilanjutkan melalui hutan-hutan yang masih rapat dan ditemani suara-suara binatang. Burung-burung berkicau riang di pagi hari yang hangat itu dan dari puncak pepohonan terdengar suara monyet-monyet yang sedang meloncat kesana kemari. Selain itu perjalanan kita juga ditemani seekor lebah (atau tawon?)  yang setia mengikuti kita di sepanjang perjalanan menuju Surya Kencana.

Sekitar 0930 kita sampe di pos Cileutik yang sering disebut sebagai pos air terjun oleh para pendaki. Namun kenyataan tak sesuai dengan namanya, air terjunnya sudah tidak ada dan mata airnya tidak melimpah. Entah apa yang terjadi dengan Gunung Gede, ada beberapa air terjun yang sudah tidak berfungsi lagi. Di pos ini, ada papan penunjuk jalan : Surya Kencana 2,5KM.

Mengingat pada pagi hari kita bisa menempuh jarak 4,5KM dalam tempo 3 jam, tentu jarak segitu bisa ditempuh lebih cepat. Perkiraan kita 1 jam udah bisa sampe di Surya Kencana. Tapi bohong. Nol besar.






Jalur 2,5KM terakhir menuju alun-alun Surya Kencana memiliki kontur sempit, menanjak curam, dan licin. Tanahnya lempung dan berliku-liku. Vegetasi nya juga sulit ditebak dan cenderung PHP. Biasanya tanda-tanda akhir jalur adalah vegetasi mulai renggang dan pohon-pohon semakin pendek. Namun ternyata kita malah dibelokin ke arah lainnya, mengitari berkas cahaya yang seakan memanggil di ujung pendakian.  Pola jalur di 2,5KM akhir adalah : Tanjakan curam, kemudian datar sedikit, mentok, belok, dan nanjak lagi. Begitu terus sampe pukul 1200.





Setelah melalui tanjakan yang cukup membuat frustrasi, akhirnya kita sampai di Surya Kencana. Pintu masuknya kecil menurun dan melalui semak-semak rapat. Setelah melalui semak-semak, kita disambut puncak gunung Gede yang berdiri kokoh dan angkuh menantang langit. Hamparan padang edelweiss tersebar indah, memanjakan mata dan menghapus lelah. Kaki gue seperti menerima injeksi adrenalin, dari lemas jadi semangat. Semangat untuk foto-foto. Ingat, jangan tinggalkan apapun selain jejak dan jangan ambil apapun selain foto.











Puas foto-foto dan berteriak-teriak, kita bergerak mendekati jalur ke puncak Gunung Gede. Setelah dapat lapak, kita langsung menggelar flysheet dan buka bekal makan siang. Istirahat dan santai-santai sejenak.

Baru juga mau bersantai, angin tiba-tiba bertiup kencang dan hampir menerbangkan flysheet. Bentuk Surya Kencana yang seperti lorong menambah kencangnya tiupan angin. Tak beberapa lama, hujan deras turun, padahal seluruh tas dan alat-alat masih diluar. Jadi lah kita kelimpungan masang dome di bawah terpaan hujan dan angin. Sambil menunggu dome berdiri, gue membelah jas ujan dan membungkus seluruh tas. Di sisi lain, temen gue menyalakan kompor untuk bikin kopi. Kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan walau badai sekalipun.

Kopi panas pun tidak terasa di kulit. Koalisi hujan, angin, dan suhu rendah membuat badan menggigil, seperti mati rasa. Namun saat air kopi mengalir di tenggorokan menuju perut, badan serasa hangat. Nyaman sekali rasanya. Selalu ada sisi positif disaat terburuk sekalipun, hanya perlu mengalihkan pandangan ke arah lain.

Pukul 1500 kita bergerak dari Surya Kencana untuk turun lewat jalur Putri. Kondisi cuaca yang mendung dan berangin membuat kita memutuskan untuk tidak ke puncak Gede. Selain tidak ada yang bisa dilihat karena berkabut, kita juga gak bisa foto-foto disana karena hujan.




Turun dari jalur Putri, gue seakan napak tilas pendakian pertama. Bahkan gue masih inget batu tempat gue tepar. Kondisi jalur pada saat itu cukup ramai, mengingat kita turun pada hari Sabtu, 19 September 2014. Beberapa kali orang menyapa dan bertanya, "Masih jauh gak mas?".

Jawaban gue selalu sama, "Dikit lagi, palim cuma 30 menit." Dimanapun. Kapanpun. Boongin anak orang.

Jalur Putri sebenarnya cukup singkat (untuk turun), tapi yang menyebalkan adalah kontur akhir jalur yang entah mengapa disemen. Sehingga sangat licin apabila setelah hujan. Hal ini cukup berbahaya dan bisa membuat orang terpeleset. Padahal kontur asli jalur putri berupa tanah gembur yang sangat nyaman untuk dipijak.




Pukul 1815 akhirnya kita sampe di posko Green Ranger. Perjalanan ke Gunung Gede via Selabintana resmi berakhir. Sempet juga terjadi drama karena pihak Green Ranger ngotot kalau surat izin seharusnya dikasih ke tim Panthera yang jaga di pintu masuk jalur Selabintana. Padahal waktu kita lewat, mereka masih sibuk mendaki gunung di alam mimpi. Heran, di gunung masih ada saja birokrasi rumit. Gak mungkin juga dong kita balik ke Pondok Halimun lagi untuk sekedar kasih kertas-kertas izin itu?

Pendakian one-day-trip ini merupakan pengalaman baru untuk gue. Ragu di awal nikmat di akhir. Ternyata segala kesusahan dan keraguan itu akan terasa indah di akhir, apabila kita yakin akan kemampuan diri sendiri dan sabar saat menjalaninyai. Akhir kata, mari keluar dan nikmati Indonesia.






1 komentar:

trinity mengatakan...

seru ngeliat pecinta alam seperti ini jadi pengen ikutan. tapi apa daya... tidak kuat :(


Apartemen eksklusif di Jakarta dengan pemandangan danau

dilengkapi fasilitas lengkap dan high class. Klik

http://citralakesuites.com/swimming-pool/