Kamis, Maret 19, 2009

Berdiri Di Tengah Arus

Semester ini gue merasakan perbedaan yang amat sangat besar antara gue dan temen2 seangkatan pada umumnya. Di saat yang lain sibuk dengan skripsi, kapan sidang outline, dan bagaimana ketemu pembimbing, gue tetep aja menjalani rutinitas standar dari awal semester sampe detik ini. Gue menjalani UTS. Di saat yang lain sibuk ngetik revisi dan bingung dengan tema, teori, variabel, pengumpulan data, dsb., gue sibuk mencari fotokopian keliling kampus. Mencari secarik kertas bertuliskan bahan2 yang berguna untuk ujian gue nanti.

Menjadi mahasiswa teladan lama emang nyiksa. Pertanyaan, "Hi Mirzal, apa kabar? Gimana skripsi?" terdengar sarkasme buat gue. Pertanyaan, "Hi Mirzal, apa kabar? Kapan lulus?" membuat gue berpikir tentang masa depan, dan pertanyaan, "Hi Mirzal, kok kamu pake kancut di kepala?" membuat gue berpikir apakah gue masih waras apa gak. Hehee.

Untungnya gue gak sendiri, masih ada kaum minoritas lainnya yang sepakat bersatu padu membuat Paguyuban Mahasiswa Sabar (PMS). Kenapa nama kita begitu, karena kita tak mau buru2 keluar dan masih menikmati status mahasiswa kita. Sebuah justifikasi umum yang dipakai oleh banyak orang seperti kita.

Seperti biasa, dalam ujian kita selalu diberi 2 jenis kertas dengan jenis dan fungsi berbeda. Yang satu berukuran A4 dan mengandung banyak pertanyaan. Kertas itu banyak bertanya seperti Yahudi. Kertas kedua folio bergaris, di kertas ini kita bebas melakukan apa aja. Mau nulis karangan bebas? Boleh. Menulis kembali soal? sah2 aja. Menggambar muka dosen dengan tulisan MANTRI SUNAT di bawahnya dan tulisan WANTED di atasnya? Boleh juga, kalo mau lulus cepet dengan status DO.

Pada hari Senin ( 17 Maret 2009), gue menjalani 3 ujian. Mau tau gimana rasanya? Rasanya kayak dikebiri (ada yang udah pernah coba...? Jangan deh, gue aja blom... masih ORI 100%, hehe). Ronde pertama Akuntansi Biaya. Dapat dilewati dengan mudah dan lancar tanpa hambatan. Ronde kedua Agama Islam. Karena semua daya dan pikiran udah gue curahkan untuk belajar Akuntansi Biaya waktu dini hari, gue cuma ngafalin definisi2 penting ajah.

Soal dibagikan... Gue diem sebentar, dan menyimpulkan kalo soal2 ini bisa dipecahkan dengan metode MENGARANG BEBAS. Sebuah metode unggulan yang telah dipake saat Bill Gates masih di Harvard (Status : Lulus DO). Inti dari jawaban gue adalah yang baik2 dan yang bener2, gak ada yang jelek2. Kelar ngarang bebas, gue punya waktu rehat 1 jam untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian selanjutnya.

Waktu 1 jam itu gue manfaatkan dengan baik untuk membaca bahan yang sama sekali tidak bisa gue mengerti. Bahasanya campuran Jawa Kuno dan Belanda Tulungagung. Gue cuma bisa tersenyum dan berharap ini semua tidak real. Gue mencoba menutup mata dan berharap saat gue buka mata bumi diserang Alien ganas bermake-up tebal, berpakaian norak, dan suka tampil di sinetron Indosiar. Tapi itu tidak terjadi, ini semua nyata dan gue harus tegar menghadapinya.

Masuk ke ruangan, pengawasnya dateng. Pengawasnya bernama Suparman (nama dirahasiakan demi kredibilitas). Soal dan lembar jawaban dibagikan. Pertanyaan pertama gak ngerti... kedua gak ngerti... ketiga mulai timbul keringat di jidat... keempat pandangan mata mulai kabur... kelima gue kolaps. Kelima soalnya abstrak dan gak jelas. Gue dan temen gue yang terletak di sebelah kanan ketawa ngakak (ketawa pasrah lebih tepatnya). Dalam hati gue mengagumi sang pembuat soal, yang bisa membuat soal ber-genre komedi.

Gue pun fokus dan berpikir, mencoba mengeluarkan apa yang udah gue pelajarin tadi. Untungnya common sense gue jalan dan bisa menjadi dasar karangan bebas gue. Gue pun menulis dengan lancar dan banyak. Saat gue lagi asik nulis, gue ngeliat orang di sebelah kiri gue nengok lembar jawaban gue dan langsung memasang muka lemes. Mungkin gue terlihat seperti orang jenius di mata dia. Padahal apa yang gue lakukan adalah menulis sebelum berpikir - "Sebuah Metode Menulis Asal".

Gak beberapa lama, dia nunduk dan bersimpuh di jempolnya. Karena gue blom ngelirik ke dia, gue berpikir kalo dia lagi berkonsentrasi maksimal untuk mengeluarkan seluruh pikiran dan menumpahkannya di lembar jawaban. Mungkin dia termotivasi ngeliat anak imbisil bisa nulis jawaban segitu banyaknya. Kenyataanya, pas gue nengok gue baru tau apa yang dia lakukan. Dia sukses tidur pules, seperti bayi tidak berdosa, saat ujian berlangsung. Gue pengen banget ngucapin terima kasih atas penemuan dia untuk menambah teori gue yang berjudul "Hal-hal Yang Bisa Dilakukan Untuk Menghabiskan Waktu Ujian".

Setelah itu tiba2 pengawasnya dateng, "Mana FRS (Formulir Rencana Studi) kamu?". Gue langsung mengambil kertas yang dimaksud di kolong bangku. Saat mata gue kembali ke dia, ternyata dia sedang melakukan kegiatan "Menggaruk Meriam Si Jagur dan Bemper Belakang", kegiatan itu dilanjutkan dengan "Mengorek Kuping Dengan Kelingking", dan "Meresapi Bau Melalui Idung". Kelar ritual, tangan multifungsi itu mengambil FRS gue dan mulai saat itu FRS gue tercemar bakteri.

Ciaoo...

1 komentar:

dilie mengatakan...

ahahaha.gila itu pengawas lo siapa?
eh lo kelas agamanya sama siapa ka?
kmrn wkt agama gue juga mengarang kelewat bebas ko.haha