Minggu, Desember 06, 2009

Empirik

Sekian lama duduk manis di perpustakaan dan berkali-kali menitipkan tas di tempat penitipan barang yang selalu dijaga oleh manusia-manusia jutek dengan pertanyaan template, "Mau kemana mas?" yang pada awalnya membuat gue bingung. Masalahnya gue nitipin tas niatnya mau ke perpustakaan, emangnya gue nitipin tas mau buat naik haji? Kenapa mereka suka pertanyaan retorika?

Duduk dan titip yang gue lakukan itu membuahkan hasil, tiket gue untuk keluar dari kampus udah jadi setengahnya. Skripsi yang gue ajuin akhirnya disetujuin sama pembimbing gue dan membuka pintu gerbang selanjutnya menuju sidang outline, sidang rancangan skripsi. Pada akhirnya gue gak bisa keluar semester ini diakibatkan telatnya gue mencapai setengah perjalanan ini. Semua karena pergantian tema dan proses menemukan tema yang sangat sulit. Membutuhkan berjam-jam bengong di Pusat Studi Jepang (PSJ), perpustakaan, dan mencari wangsit sama beragam cerdik cendikia. Setelah menemukan tema, hampir sekitar 3 minggu gue habiskan untuk menggarap BAB I dan BAB II ditemani Samira kekasih hitam gue tercinta. Yang rela dipegang-pegang tubuhnya untuk menyelesaikan skripsi gue. Tapi, selama 3 minggu itu gue gak terus-terusan di perpustakaan sampe tumbuh jenggot di dengkul. Sesekali gue berjalan-jalan untuk rehat sejenak dari penatnya kampus.

Seperti pada suatu hari gue berjalan-jalan keliling mall antah berantah sama Apid, temen gue yang kentutnya silent. Perjalanan tersebut sangat nggak direncanain, awal kejadiannya karena kita cuma berdua aja di kampus dan merasa terasing. Well, jadi mahasiswa yang udah lama di kampus membuat gue kembali menjadi anak baru lagi. Kalo jalan planga-plongo gak ada yang kenal dan bingung mau ngapain. Bahkan kalau menurut gue, keadaan ini jauh lebih buruk dari anak yang baru masuk kuliah. Seenggaknya mereka masih punya semangat untuk mengikuti perkuliahan yang terlihat seperti sebuah permainan yang mengasyikkan dan memiliki banyak teman baru di sampingnya. Sedangkan gue, stok teman seangkatan menipis, banyak yang udah cabut dan pergi melanglang buana. Pada akhirnya gue menyadari kalau perkuliahan merupakan permainan yang sama sekali tidak menyenangkan. Seperti main monopoli dengan teman yang curang.

Bosen di kampus, kita berdua memutuskan untuk pulang. Tapi sebelum pulang, kita mau ke daerah Cimanggis dulu untuk ngeliat lapangan futsal yang baru dibangun. Tempatnya bagus dan lapangannya banyak, sayangnya agak mahal. Terasa berat untuk ukuran kantong berdasar dangkal. Selesai ninjau lapangan, kita kembali ke rencana awal untuk pulang ke rumah. Sesampainya di jalan raya kepala gue memunculkan ide gila, "Ke Mall Cimanggis yuk". Untuk yang belom tahu, Mall Cimanggis adalah sebuah mall yang terletak di bilangan Cimanggis yang memiliki cat norak kayak baju badut. Campuran merah, oranye, hijau terang, dan biru. Kalau salah jangan salahin gue, saya parsial. Paduan warna tersebut akan membuat seorang Pablo Picasso menangis meraung-raung.

Selain warnanya yang unik, mall ini juga terkenal karena ketidak jelasannya. Bioskopnya yang bernama Smiling Theater mengganti filmnya 3 bulan sekali. Film yang diputar pun tidak jauh dari film sadis penuh tebasan, sayat, dan darah atau film Indonesia yang dibikin tanpa pertimbangan bakal laku atau enggak. Hal-hal seperti itulah yang membuat gue penasaran, kehidupan apakah yang ada di dalam Mall tersebut?

Setelah memarkir motor, kita berdua langsung masuk ke Mall ajaib tersebut. Lantai pertama isinya menjual baju-baju tak jelas, DVD bajakan, dan alat-alat yang diklaim sebagai "Terobosan Inovatif" seperti alat cebok otomatis tanpa tangan. Lantai ke-2 ada pasar swalayan, lantai 3 ada Pojok Busana yang bisa terlihat pojok-pojoknya, efek dari mall yang sempit, sangat tidak bagus untuk penderita Claustrophobia . Lanjut lantai 4, ada yang dagang-dagang hape. Para pedagangnya selalu aja nanyain, "Nyari apa mas?". Dalam hati gue menjawab, "Disini gue mencari pengalaman, nona!". Lantai 5 terdapatlah bioskop legendaris itu, jam menunjukkan pukul 12.30 dan gue liat di jadwal film ada film yang (seharusnya) main pukul 13.00. Anehnya, loket yang ditutupi kain kumuh berwarna merah marun tersebut masih tutup. Apa disini telah dikembangkan sistem pembelian tiket inden? Entahlah. Di lantai 6 ada arena bermain untuk anak kecil yang ingin terkena radang pernapasan akut karena menghirup debu dengan intensitas abnormal dan sebuah Cafe Dangdut - Billiard bernama SAYUWIWIT. Tempat itu pada awalnya menggantungkan tulisan TUTUP, begitu ngeliat gue, entah kenapa tulisan tersebut langsung berputar menjadi BUKA.

Selesai ketawa ngakak 6 tingkat, kita memutuskan untuk turun dan (lagi-lagi) kembali ke niat awal untuk pulang ke rumah. Sesampainya di lantai 3, ternyata ada sebuah toko kecil yang menjual barang-barang dengan satu harga. Oleh karena berdua adalah orang-orang kritis, selalu penasaran dengan hal-hal yang ada, kita langsung masuk ke toko untuk ngeliat barang apa aja yang dijual disana. Setelah masuk dan keliling-keliling, gue bisa membuat kesimpulan kalau toko ini seperti Diagon Alley yang menjual banyak alat-alat aneh. Sebilah kayu, sepotong ranting panjang, dan bahkan ada alat menyerupai ari-ari bayi yang menghitam dijual disini tanpa ada penjelasan fungsinya apa. Hey, apakah kalian pernah liat sumpit yang disambung sama selang infus? Di sini lah tempatnya. Seperti Indiana Jones, gue seperti menemukan artifak-artifak baru yang bisa digunakan untuk menguasai dunia.


Sumpit yang disambung selang infus

ada yang tau ini alat apa?

Selesai ekspedisi toko gaib, kita bergerak keluar menuju parkiran motor. Sempet ngeliat ada lapangan futsal yang terbuat dari beton disewain. Tentu aja lapangan itu kosong, mendingan maen di lapangan kampus atau sekolah. Gratis. Sampe ke motor, kita meneruskan perjalanan lewat Jalan Raya Bogor. Jalanan sangat bau , efek dari Idul Adha, bertebaran bau tai kambing, sapi, dicampur bau sungai yang kotor. Ide gue untuk iseng muncul lagi, kali ini menuju Mall Graha Cijantung.

Kali ini, tempatnya gak separah sebelumnya. Mall-nya masih luas dan banyak pengunjung. Kalo tempat sebelumnya emang sih masih ada pengunjung, tapi gue masih gak yakin apakah itu pengunjung atau zombie. Gue pun keliling-keliling gak jelas, ngeliatin pemuda pemudi yang bergaya masa kini, seperti di acara musik tivi setiap pagi. Sampai pada akhirnya gue di Gramedia, ngeliat buku SMS TEKA-TEKI GOKIL dan ketawa-ketawa kayak orang sarap sama lawakan garing nan jadul seperti "Bagaimana bunyi kentut Ade Rai?". Yang bikin gue geli sendiri adalah, gue menemukan seorang berwajah oriental, berbadan gendut, dan raut muka culun dengan gaya harajuku. Pake poni horizontal kayak potongan cetak mangkok di depan, ditambah dengan rambut yang menyisa di samping kanan-kiri berbentuk taring Drakula, dan jangan lupa rambut belakangnya yang cuma sedikit diikat sebagai pemanis. Saking terpananya gue sampe-sampe kartu penitipan tas gue sampe jatoh dari tangan. Anjrit. Udah kayak pandangan pertama.

kira-kira seperti ini lah bentuknya

Selesai dari situ sekitar jam 8 malem. Sungguh waktu yang lama untuk pulang ke rumah. Padahal gue berangkat dari kampus sekitar jam setengah 12 siang. Petualangan unik gue pada akhirnya ditutup dengan mampir ke "Jembatan Cinta". Sebuah jembatan fly over yang ada di daerah Pasar Rebo yang terkenal sering dipake buat orang pacaran, kumpul, dan wisata keluarga. Gue mencoba merasakan sensasi yang ada untuk ngeliat kenapa jembatan ini laku untuk dijadikan tempat kumpul-kumpul. 10 menit gue disana, kepala gue pusing karena bunyi ratusan kendaraan yang lewat, baik di jembatan maupun di bawahnya yang merupakan jalan berlalu lintas padat. Selain itu, asep knalpot membuat gue sesek napas dan keracunan gas CO. Heran, kenapa orang-orang itu pada betah lama-lama di jembatan ini. Bahkan sampe ada beberapa tukang jualan minuman atau kacang sekalipun.

Perjalanan ke jembatan cinta menutup petualangan gue hari itu. Sebuah petualangan unik untuk ngeliat keadaan sosial masyarakat, melihat apakah realita yang terjadi sesuai dengan teori yang sudah ada. Ini merupakan pembuktian secara empirik dan ilmiah atas suatu fenomena yang terjadi di struktur sosial suatu kebudayaan. PRET. Hahaa. Sok peneliti ah.


Cheerioo...!!


-=M=-

1 komentar:

Lelaki Betina mengatakan...

Hahahaha haha lucu lucu, klimaksnya di "bunyi kentut Ade Rai", asli gua ngakak hahaha