Senin, Agustus 17, 2009

Indonesia Saat Ini

Indonesia pada bulan Agustus ini merayakan ulang tahunnya yang ke 64. Masih muda dibandingkan Inggris, namun lebih tua dibandingkan Vietnam. Kali ini, gue mau nge-rekap apa aja yang berubah dari Indonesia sejak jaman gue masih kecil dulu. Yang dimaksud dengan perubahan bukan berarti gue bakal kritik terus menerus dan ngejelekkin Indonesia kayak, "Keadaan politik Indonesia saat ini masih kacau, banyak orang saling merebut kekuasaan". Pertama, gue gak suka politik. Kedua, gue gak ngerti politik.

Yang mau gue omongin disini simple aja, perilaku anak-anak sekarang. Bukan anak muda, tapi anak-anak bocah yang masih kecil-kecil, cilik-cilik, dan gampang dipites. Dimulai dari tradisi Minggu pagi yang sakral. Dimana saat dulu acara TV masih diisi oleh berbagai macam acara anak-anak dan kartun-kartun yang menyenangkan. Gue selalu afal jam-jam kartun yang lagi tampil dan tangan gue selalu lincah memencet tombol remote, mengganti channel.

Saat ini, Minggu pagi diisi oleh acara gosip yang gak berhenti dari hari ke hari. Gak jauh-jauh tentang siapa yang ribut sama siapa, siapa cerai, dan siapa yang membuat masalah baru. Gue heran, apa sih untungnya tau hal itu? Keluarga bukan, temen juga bukan. Mereka cuma orang asing yang berparas cantik dan ganteng, dan anak-anak disuguhi berita perselingkuhan. Kasian. Jam 9, ada iklan jam selama 1 jam. Dipandu oleh Joice dengan memakai
dress pesta dengan belahan baju hiperbolis. Mungkin kalau orang-orang yang cukup umur ngeliat itu, mereka akan berkata "Waow, sexy...". Tapi suguhkan itu pada anak wanita anda, selamat, anda mengajarkan ilmu "Cara Menjadi Jablai Dari Kecil".

Trio kwek-kwek, Susan & Ria Enes, Chikita Meidy, Agnes Monica, dan yang terakhir Sherina. Mereka adalah penyanyi-penyanyi yang akrab di kuping gue saat gue kecil dulu. Tema-tema lagu yang ringan dan aransemen nada yang riang gembira, sangat cocok untuk kuping anak bocah seperti gue. Mengajarkan gue Indonesia yang kaya akan budaya, cita-cita, dan rajin menggosok gigi.

Saat ini, anak kecil lebih suka dengan lagu yang mengajarkan tentang "Cinta Terlarang". Memang bukan salah mereka, mereka hanya menerima apa adanya dan menyerap semuanya. Gue ngeliat Space Toon dan berharap ada lagu anak-anak berkualitas seperti saat dahulu kala, tapi yang gue dapet cuma kecewa. Cuma ada lagu yang dinyanyiin sama anak kecil yang didandani kayak orang dewasa dan nyanyi kayak ngerengek minta dibeliin kembang gulali. Adalagi Lucky Laki yang bercerita tentang seorang anak kecil yang nangis ditinggal kekasih. Kemudian Radja Cilik, berupa anak-anak kecil, yang mau nge-band, make kacamata dan nyanyi setengah hati . Dipaksa bapaknya mungkin.

Teknologi membuat anak jarang sosialisasi. Ketimbang maen benteng rame-rame sama anak lainnya, mereka lebih suka maen PS di rumahnya masing-masing. Dalam kelas, semua kepala menunduk ke bawah, ngeliatin hape atau PSP. Update facebook atau maen game. Cadas. Gue gak ngerti udah berapa banyak koneksi dia di situs sosial itu sampe-sampe harus update setiap saat. Atau mungkin dia cuma menulis hal-hal kayak Aku lagi di kelas nih, Huh, BT deh, Wali kelasku galak? Jaman dulu boro-boro hape, kartu telepon gambar badak Taman Safari aja dianggap barang super mewah. Punya kartu tersebut menaikkan derajat pemiliknya.

Perkembangan zaman makin tak terkendali, arus informasi datang siliih berganti. Anak-anak yang di-analogikan sebagai kertas putih tentu aja menerima segala macem gambar, tulisan, dan coretan yang dikasih ke dia. Sayangnya pada saat ini udah sedikit banget orang dewasa yang concern dengan anak-anaknya. Anak-anak cenderung diseret paksa untuk masuk ke dunia dewasa secara dini. Gak heran kalau banyak gue liat ada anak SD udah ngerokok, nabung asep dari kecil, dan di berita kriminal siang hari ada murid SMP memperkosa temannya. Untuk saat ini, mereka terlalu merdeka.

Jaya Indonesia-ku !

Ciaoo...

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kan, lo bisa jd sosiolog tuh.memperhatikan perubahan lingkungan skitar.
SPMB lg sana ambil sosiologi.hahahhaha...
tp bagus jg lo bikin tulisan kaya gitu.Lanjutkan gan...

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

SPMB lagi? yang skarang aja gak kelar2, mau diganti sama yang lain lagi? tua di kampus donk gue.. hahaa