Senin, Juli 06, 2009

Journey To The Center Of Bekasi

Bekasi, sebuah kota yang berada di ujung Jakarta. Kota ini sungguh melegenda dengan kemacetan, kekeringan, dan kesumpekannya. Hingga sampai-sampai ada legenda mengatakan kalo orang-orang Bekasi nggak menggunakan air untuk mandi, tapi dengan debu, mengingat intensitas turunnya hujan lebih kecil dibandingkan intensitas turunnya debu. Cara ini sering disebut mandi tayammum.

Sekarang masalah interaksi sosial antar individu disana. Individu yang tinggal disana rata-rata berperawakan keras dan suka berkata-kata kasar. Ini membuat gue bingung, ada apakah yang terjadi disana? Semua itu akhirnya bisa gue buktikan sendiri setelah kemaren, Sabtu 5 Juli 2009, gue terjun langsung ke Bekasi untuk menghadiri nikahan temen kantor gue.

Petualangan dimulai saat gue keluar dari pintu tol Bekasi Barat. Kalau diliat dari peta yang ada di undangan, jalan menuju tempat dimana resepsi berlangsung sangat simple. Keluar pintu tol, belok kiri, lurus, belok kanan, ada pabrik Aqua, dan belok kanan. Simple, mudah, dan jelas. Kenyataan di lapangan amat sangat terbalik, ada puluhan belokan dan tidak ada satu pun bangunan yang bernama Pabrik Aqua. Gue semobil ada 5 orang, dan kita ber-5 sukses nyasar. Lost In Bekasi.

Kita pun mencari jaalan pelan-pelan, meraba-raba, sembari bertanya. Mengandalkan cara yang disebut KOMCOT (Kompas-Bacot). Saat masih di daerah bekasi kota-nya, suasana masih seperti biasanya. Jalan luas, angkot yang brengsek, dan udara masih segar walaupun hawa-nya amat sangat panas. Hal buruk terjadi saat kita udah menemukan jalan yang benar, jauh masuk ke dalam. JAUH KE DALAM. Nama daerah yang kita cari adalah Ujung Harapan, Gg. Makam, benar-benar suatu nama daerah yang menggambarkan jauhnya tempat itu.

Gue udah sampe di suatu jalan sempit yang normalnya hanya untuk 2 mobil-2 arah. Tapi di Bekasi jalan itu bisa berubah menjadi 4 mobil-2 arah. Macet total tanpa pergerakan sekecil apapun. Di luar, debu-debu mengepul berterbangan dan matahari menyengat sangat terik, kalo keluar dijamin badan lengket kayak dilumurin lem aibon. Cocok sebagai prototype neraka.

Dalam keadaan macet itu temen-temen gue di mobil udah pada ngomel, "Anjrit macet banget!".

Gue mencoba menasihati mereka, "Lo semua masih beruntung, masih di mobil pake AC, liat orang-orang di luar yang naek motor pada kepanasan dan banyak debu" sambil ngebuka kaca untuk mereka bisa merasakan hal yang sama. Ternyata kelakuan gue yang sok bijak itu membawa bencana hebat. Muncul bau-bau tak sedap bersamaan dengan dibukanya kaca mobil gue itu, dilanjutkan dengan kepulan debu yang juga ikut-ikutan masuk ke dalem mobil dan membuat mobil terasa apek dan napas jadi berasa sesek. Oksigen terbuang entah kemana.

"HOEKKKK!!!!", satu mobil serempak pada tereak itu.

"TUTUP JENDELANYA!! POLUSIII!! BEGO LO KAN!!!", semua orang berpose seperti mau muntah.

Bayfresh, parfum, dan tissue basah gak bisa menghilangkan bau yang seperti mayat busuk yang di pendem di padang debu itu. Apek campur busuk. Luar biasa. Bau itu mungkin berasal dari kompilasi antar pabrik ban di sekitar situ, debu yang pekat, dan asap kendaraan motor. Gue kagum sama orang-orang yang tinggal di daerah ini. Bau-nya kayak begini, apa idung gue yang terlalu sensitif atau idung mereka yang terlalu tebal? Tapi enggak ah, ada 4 orang lainnya yang pengen muntah nyium bau itu. Berarti idung mereka terlalu tebal.

Sejak saat itu lah, kita males buka pintu untuk bertanya jalan sama orang. Takut kebauan. Komcot gak bisa dipake lagi, kita memakai insting. Seenggaknya itu gak bikin kita kebauan dan mau muntah.

Setelah melewati siksaan macet, gue akhirnya menemukan Ujung Harapan dan menemukan siksaan kedua : Siksaan Jalan. Jalanannya ancur banget, berombak kayak lagi di laut. Bedanya laut ini terbuat dari aspal dan awannya diganti debu tebel. Lobang di jalanan amat sangat dalem. Gue rasa orang-orang sini kalo ke Dufan naek Roller Coaster bakal biasa aja. Gimana enggak, di jalanan rumah mereka tinggal naek motor, ngebut, dan menghajar lobang. Nyungsep-nyungsepnya pasti sama kayak naek Roller Coaster.

Siksaan ketiga adalah siksaan jalan tanpa ujung. Di daerah yang gue gak kenal sama sekali, satu-satunya harapan untuk sampai ke tempat nikahan adalah janur kuning dengan nama di bawahnya. Masalahnya adalah, ada banyak banget janur kuning. Lebih mengherankan lagi, namanya adalah Ruli-Sukriyanto. Dua nama yang sangat sesuai untuk kaum lelaki. Gue bingung. Apakah gue di Bekasi atau di Belanda? Gue semakin yakin kalo gue di Belanda setelah gue ngeliat janur dengan nama Asih-Puput . Tapi setelah ngeliat jalanan bolong tanpa aspal, kerikil dimana-mana, dan debu yang mengepul begitu tebalnya, gue akhirnya menyadari, INI BEKASI BUNG!!.

Ternyata pernikahan sesama jenis udah berlaku di Indonesia, tepatnya di Bekasi, Daerah Sangat Istimewa Bekasi.

Semakin lama gue semakin ke dalam labirin yang gak jelas ujungnya dimana. Sepanjang jalan banyak janur kuning tapi gak satu pun yang mencantumkan nama temen gue. Rumah-rumah di sekitar rumah gue tertutup debu semua. Persis seperti daerah yang tetangganya baru kena bom nuklir. Gue berasa di Normandy saat perang dunia ke-2. Mungkin rumah-rumah itu penuh debu bukan karena yang punya rumah males ngerawat rumahnya, tetapi karena intensitas debu yang beredar terlalu banyak, membuat rumah yang baru dicat langsung ketutupan debu keesokan harinya. Daripada capek-capek ngecat, mendingan didiemin, toh sama aja. Butek butek juga.

Nama gang di jalan itu awalnya bagus-bagus seperti kebahagiaan, ikhlas, dan damai. Semakin ke belakang namanya makin serem kayak pasung, kubur, dan makam. Mungkin kalo gue mau lebih teliti lagi ada gang sakit, mencret, dan sakarratul maut. Nama gang makam gue rasa cocok, karena letaknya di ujung jalan Ujung Harapan. Dimana saat di makam lah harapan seorang manusia udah sampai di ujung, mentok.

Semakin lama gue nyetir dengan muka plongo, tatapan mata kosong ke depan, muka udah nempel di setir, dan gue gak tau mengarah ke mana. Jalanan udah kayak di Texas. Gue udah kehilangan harapan untuk ke nikahan. Gue sempet bilang, "Ini kalo gak ketemu juga, kita dateng kek' ke nikahan siapa, kita pilih salah satu.... Seenggaknya kita tetep kondangan". Di saat semua harapan udah menghilang itu lah, gue akhirnya menemukan tempat nikahan temen gue itu. Keadaannya seperti seorang yang nyasar di padang pasir dan menemukan Oase. Lega. Pantes aja nama tempatnya Ujung Harapan Gg. Makam. Untuk menemukan tempat itu, gue musti berhenti berharap.

Perjalanan gue kesana makan waktu 3 jam, menghadiri undangannya cuma 20 menit. Gue jadi berpikir, gue baru sekali-kali aja kesini, gimana orang-orang yang tinggal disini? Gue akhirnya bisa menyimpulkan kenapa orang Bekasi pada pemarah dan suka berkata-kata mutiara *mutiara kasar tapi*, kehidupan disana keras, iklim di sana tidak bersahabat, dan pemerintah seperti enggak peduli lagi sama daerah itu. Sehari gue disana, bawaan gue pengen ngomong kasar melulu, memaki-maki segala yang ada. Apalagi orang-orang yang setiap hari ada disana?

Gue pun menyadari, Jakarta masih sangat nyaman untuk ditempati.

Ciaoo...

4 komentar:

Smita mengatakan...

ahah buset kan itu jalan horor amat namanya..
btw si background beda tau.. punya lo lebih gonjereng kuningnya hihihi :)

neilhoja mengatakan...

ow ow ow.. gitu yak, hem hem... bekasi oh bekasi

Restu mengatakan...

Heh..EBKASI KOTA NAN EKSOTIS YANG PRODUCE CEWEK EROTIS KAYAK GW!!

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

haduh haduhh.. bekasiii.. haduhhhh....