Senin, Juli 27, 2009

Dua Hari Gokil

Hari Senin, disambut matahari terik yang ngebakar kulit gue yang udah terlanjur item ini, diwarnai dengan mata yang susah membuka karena dua hari penuh jalan-jalan tanpa istirahat. Keliling Jakarta sampe deket bandara. Melelahkan, memang. Tapi sangat menyenangkan... dan agak sedikit mengerikan.

Dimulai dari hari Sabtu, 25 Juli 2009, gue ke Waterbom Pantai Indah Kapuk (PIK) bersama temen-temen gue. Saat ini merupakan saat pertama gue menginjakkan kaki di Waterbom PIK. Kesan pertama gue melihat tempat ini adalah, modern. Tertata dengan rapih dan dari luar terlihat slide-slide raksasa yang seakan menggoda gue dan berkata, "Ayo nyerosot di badankuu.. dan akan kau rasakan kenikmatan.." (Oke, terdengar seperti PSK menggoda calon pelanggannya). Dan setelah masuk kesana, gue takjub ngeliat ember gede berisi aer yang bisa tumpah terus menerus.

Setelah selesai ganti baju dan memakai bikini One Piece yang menyebabkan terpampangnya badan-tiga-tingkat-lemak yang gue punya dengan jelas, gue langsung keliling untuk mencari slide mana yang pantas gue luncurin untuk pertama kalinya. Pilihan jatuh ke slide gede dengan kapal berbentuk bulet sebagai media gue untuk nyeluncur. Pertanyaan pertama yang muncul, "Bisa gak kalo gak pake kapal bulet?". Jawaban atas pertanyaan itu adalah,"Boleh, asal mau geger otak". Jawaban itu membuat gue menjadi anak yang penurut.

Di Waterbom PIK, gue bisa menjalani dua olahraga sekaligus. Yang pertama berenang, jelas, karena namanya Waterbom. Yang kedua naek tangga. Untuk sampai ke perosotan raksasa, kita harus ke puncaknya. Bagaimana cara ke puncaknya? Disana tidak tersedia lift dan elevator. Kenapa? Takutnya banyak yang kesetrum, lagian basah-basah naek lift sama elevator. Aneh-aneh aja nanyanya. *Kenapa gue jadi marah-marah sendiri ya? Hahaha*

Implikasinya, sesampenya di puncak perosotan dengkul gue selalu gemeteran dan napas selalu tersengal-sengal. Belum lagi kalo perosotannya mengharuskan kita make pelampung untuk meluncur, gue harus membawa pelampung yang gedenya sama kayak badan gue. Naik 4 lantai. Mau mencret, tapi tengsin. Banyak orang. Ditambah lagi ngos-ngosan sambil glendotan di pager pembatas membuat jantung gue berdegup lebih cepet. Takut jatoh. Gue takut ketinggian. Apalagi kalau gue terjun bebas dari ketinggian itu.

Gue dan kawan-kawan bermain air di PIK sampe jam 6 sore, dimana hari udah terlalu dingin untuk direnangi. Ditambah kita udah terlalu kenyang keminuman aer kolam yang asin itu. Gue heran, air yang ditaro itu aer tawar apa aer laut yak? Kok asin? Apa emang itu rasanya aer rendeman bule? Asin, kecut. Dan sialnya kita mau gak mau harus mencicipinya karena setiap keluar dari perosotan, air selalu menyerbu sekujur badan dan muka. Kemudian menyusup ke mulut, dirasain lidah, dan dari lidah masuk ke kerongkongan. Kerongkongan masuk ke perut. Aer rendeman bule masuk ke perut gue. Keracunan.

***

Esok harinya, Minggu 26 Juli 2009, badan gue pegel-pegel. Rencananya gue mau tidur terus dirumah sampe sore. Abis itu gue nemenin temen gue yang bernama Putri, seorang entertainer paling kondang se-Surabaya (ahahahaaa...), untuk keliling Jakarta Raya ini. Niat tidur itu pupus. Gue digeret nyokap untuk nemenin dia ngejenguk satu sepupu dan satu Om gue yang lagi terkapar sakit. Mau protes, percuma. Karena nyokap selalu menyiapkan kata bijak yang membuat gue bersalah kalau gak ikut dia. Contoh dari kata itu adalah, "Masak silaturahmi sama temen aja, sama saudara gak mau". Sungguh suatu kalimat yang membuat gue otomatis mengucap, "Iya Bu" tanpa banyak berpikir.

Jam 3 sore baru bisa sampe dirumah. Udah gak sempet bernapas, karena gue harus langsung mandi dan menjadi Guide Kota Jakarta. Jam 5 sore, gue brangkat dari rumah menuju Sarinah Thamrin. Setelah ketemu dengan sang entertainer kondang tersebut, yang ternyata bareng sepupunya bernama Vivi, gue langsung cabut dari Sarinah. Tujuan pertama adalah objek yang menjadi lambang kota Jakarta, MONAS!

Sejujurnya, gue belom pernah ke Monas waktu malem hari. Jadi pada hari itu gue merangkap dua profesi, turis dan guide, dalam waktu yang bersamaan. Ada perbedaan besar antara Monas malam dengan Monas pagi. Perbedaan itu terletak pada warna monas yang selalu berubah-ubah pada malam hari. Kalau pagi-siang-sore khan cuma putih aja tanpa berubah. Kemudian banyak orang yang menjadikan Monas sebagai tempat pacaran gratis. Bukan hanya bergandengan tangan atau merangkul badan, tapi sampai tidur-tiduran. Entah apa yang ada di pikiran mereka, berbuat mesum di tempat umum.

Tadinya gue mau bilang, "Mas, boleh ikutan gak?"

Tapi takut, karena kumisnya gondrong. Takutnya gue dibekep pake kumisnya itu.

Sekelarnya dari Monas, menuju objek wisata khas Jakarta lainnya, ANCOL!

Degan membayar uang sebesar 48 ribu, gue memasuki kawasan Ancol di waktu malam. Sempat sedikit nyasar juga sih. Tapi itu lah gunanya puteran balik, bisa membetulkan apa yang salah. Gue parkir di sekitar pantai dekat restoran Le Bridge, ternyata masih banyak orang yang memanfaatkan tempat ini sebagai arena pacaran. Kalau di tempat ini, gue gak heran. Karena merupakan spot pacaran yang sangat sempurna. Angin laut sepoi-sepoi, udara pantai yag tidak terlalu panas, dan langsung beratapkan langit. Kalau berantem lagi pacaran, gampang. Tinggal dorong, ceburin ke laut. Selesai masalah.

Disana juga ada live music di dalam restoran terbuka. Yang namanya terbuka tentunya semua orang boleh nonton, termasuk gue. Tapi tentu aja gak ditanggepin. Kecuali kalau gue makan di restoran itu, pasti ditanya "Mau rikues lagu apa?". Seperti sekumpulan orang arab yang sedang menggandeng wanita-wanita Indonesia. Mereka semua dilayani dengan baik dan boleh bernyanyi, tentu saja dibarengi dengan tip yang besar. Mereka terlihat bahagia, karena hal itu tercantum dalam klausul kontrak. Point satu, Harus Bahagia Setiap Saat. Melanggar, kena penalti.

Seselesainya dari Ancol, gue menuju Tanah Abang. Bertanggung jawab mengantar dua anak perantauan pulang ke tempat tinggal sementaranya. Tapi sebagai tour guide yang baik, gue gak mau hanya memperlihatkan Jakarta dari sisi terang-nya saja. Gue juga mau memperlihatkan sisi gelap Jakarta. Untuk itu sebelum menuju ke Tanah Abang, gue agak memutar jalan menuju daerah Setiabudi. Daerah itu terkenal sebagai kawasan Wanita yang dulunya Pria (Waria).

Mobil gue meluncur masuk ke jalan waria itu (Sepertinya lebih enak disebut bencong). Di sana sudah ada mobil Avanza hitam yang menepi ke kiri, entah sedang apa. Yang jelas mereka sedang berbincang dengan beberapa bencong yang ada. Gue gak mau ikut mereka menepi ke kiri, gue ngeri disamperin bencong. Gue pun menyalip mobil Avanza itu dari kanan. Tiba-tiba ada bencong menghadang mobil gue.

Bencong itu memakai night dress tembus pandang berwarna biru tua. Di dalamnya, hanya memakai BH dan kolor warna item. Dia menghadang mobil gue yang jelas-jelas di kanan, tanda gak mau godain dia. Ketakutan atas hadangan dia, gue pinggirin mobil ke kiri. Ternyata hal itu malah membuat dia makin senang dan makin ngikutin mobil gue. Gue dikira menepi untuk nontonin dia. Gue pun gak bisa bergerak ke mana-mana lagi. Mobil gue resmi berhenti dengan bencong di depannya.

Dia mulai menari-nari. Menurut dia emang erotis, menurut gue najistis. Pengen rasanya gue menekan pedal gas dalem-dalem untuk ngelindes dia. Tapi males, nanti mobil kotor, susah nyucinya. Gue panik. Dia udah mulai merogoh-rogoh celana dalemnya dan memainkan kelamin prostetiknya di depan mata gue. Gue dan Putri yang lagi duduk di bangku depan kaget dan ketakutan. Di bangku belakang? Hanya terdengar dengkuran Vivi.

Asli, gue takut. Gue termasuk Bencongphobic, ketakutan atas bencong. Gue takutnya bukan cuma dari depan aja bencongnya, tapi di belakang juga, di samping juga, dan di atas atep juga ada. Seperti zombie-zombie pada film Dawn Of The Dead. Tapi kalo ini judulnya Dawn Of Bencong. Soalnya kalo itu beneran terjadi, gue kejebak total dan diperkosa bencong! Tolong! Gue masih mau bunyi kentutnya!! Kentut dengan harmonisasi nada!!

Gue pun ngebunyiin klakson gue. Berharap dia sama sifatnya kayak kucing yang kagetan kalo diklakson pas lagi nyebrang jalan. Ternyata gak ngaruh, malah mungkin klakson gue dianggap sebagai musik pengiring. Gue pun nengok ke belakang, ternyata kosong. Tanpa pikir panjang gue langsung mundurin mobil menjauhi bencong itu. Kemudian langsung nge-gas ke arah kanan dan kabur dari tempat laknat itu. Sang bencong kaget dan marah. Dia tereak-terak sambil ngacungin tinjunya ke arah mobil gue. Bodo amat. Yang penting gue berhasil kabur.

Setelah sampai ke jalan raya, gue masih syok. Sampe-sampe beberapa kali gue salah jalan. Perjalanan yang seharusnya menjadi perjalanan bergenre komedi ngeliat bencong-bencong berdandan aneh, tiba-tiba berubah genre jadi Thriller / Horror. Membuat gue kapok untuk bermain-main ke daerah itu lagi. Ampun. Tapi, dua hari ini adalah dua hari yang kalau gue ingat-ingat pada suatu hari nanti, bisa membuat gue berucap, "ANJRIT!! GOKIL!!".


Ciaoo...

4 komentar:

Si Begeng mengatakan...

cool ...ternyata di tengah macet and ancurnya jakarta ..lu and temen temen lu bisa GET FUN all ..dhu ..dhu ..dhu ...dasar ikan...hhohohohohoho

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

wahahaaa... itulah.. namanya kesempatan dalam kesmpitann..

dilie mengatakan...

hahahahaha bego ah lo ka..hahahaha untung si bencong ga gedor2 kaca mobil lo?ihhh..

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@dilie :
Untungnya dill.. kalo itu terjadi.. gue kencing di celana..

ahahaa