Selasa, Juli 21, 2009

Pekanbaru Kota Melayu, Ku Disana

Pernikahan, sebuah pertalian suci antara dua manusia yang berlainan jenis. Pernikahan bisa saja dilakukan oleh sesama jenis, tapi bukan diikat oleh pertalian suci, melainkan pertalian kolor. Menjijikkan. Hari Sabtu, 18 Juli 2009, gue berangkat ke Pekanbaru. Tujuan gue berangkat ke Pekanbaru bukan karena diusir dari Jakarta atau untuk melarikan diri karena terjerat utang. Tujuan gue ke Pekanbaru adalah karena pernikahan.

Bukan, bukan nikahan gue. Sampai saat ini gue belum terkurung dalam akuarium yang sama. Nikahan itu punya sepupu gue yang bernama Citra Annisa (Congrats yaa..!!). Sejak jam 3 pagi gue udah di keprok sama bokap gue, ngebangunin gue untuk brangkat ke bandara. Gue ke Pekanbaru naek angkot, angkot bersayap. Angkot gue sendiri brangkat jam 6.55 pagi, tapi berhubung dengan gak jelasnya situasi bandara pada kemarin harinya yang macet total sampe berhenti, bokap gue memutuskan untuk berangkat dari jam 4 pagi.

Dengan memakai jurus mandi tanpa melihat gue bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Cepet-cepet jalan biar gak macet, ternyata perjalanan ke bandara sangat sangat lancar. Membuat kita sampe ke bandara dalam waktu yang singkat. Jam setengah 5 pagi kita udah sampe di ruang tunggu keberangkatan. Gue bengong disana, gak bisa ngapa-ngapain. Gak ada kerjaan. Akhirnya gue sebisa mungkin nyari posisi rileks yang enak dan tidur dengan santainya.

Jam 7.00

Seharusnya gue udah nempatin pantat gue di bangku empuk angkot bersayap yang udah gue booking dari jauh-jauh hari. Kenyataannya, pantat gue masih ada di bangku besi ruang tunggu bandara Soekarno-Hatta. Posisinya udah variatif, kadang geser ke kanan, kadang geser ke kiri, dan kadang ngeluarin gas tak sedap. Sayup-sayup dari kotak hitam berjaring, yang belakangan disebut speaker oleh para pemberi nama, terdengar pengumuman kalo pesawat gue ditunda keberangkatannya sampe jam 9.00. Katanya banyak asep di Bandara Pekanbaru, sehingga ditutup. Sayang pilot gak bisa nerbangin pesawat berdasarkan insting. karena Pesawat bukan Bajaj.

Jam 9.00

Dari kotak item itu juga lah ada pengumuman lagi. Pesawat gue ditunda lagi sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Edun. Bandara masih ketutupan asep. Iseng banget orang-orang yang bakar-bakarin hutan di sana. Gak punya otak. Mengganggu semua orang dan membuat bumi semakin sakit. Terpaksa gue nunggu di bandara lagi. Ngeliat orang yang itu-itu aja, ngeliat objek yang itu-itu aja, dan di tempat yang itu-itu aja. Emang, menunggu adalah hal yang sangat membosankan. Sekitar jam 11.00 gue baru brangkat dari Jakarta, memanjat awan menuju langit. Gila. Gue 6,5 jam di bandara cuma karena asep. Ya gak pa pa lah. Mendingan nunggu 6,5 jam di bandara ketimbang gue gak bisa meneruskan kisah idup gue di dunia persilatan jagat raya. Hehee.

Perjalanan dengan angkot bersayap selalu membuat gue terkagum-kagum. Gue mengagumi pencipta pesawat yang bisa membuat besi seberat ribuan ton untuk terbang ke udara. Selain itu, perjalanan ke langit selalu mengingatkan gue atas kejadian aneh yang sewaktu kecil gue alamin. Waktu itu gue lupa umur berapa, pokoknya gue udah bisa pipis sambil satu kaki di angkat. Gue lagi di daerah Pulomas, naek mobil di bangku belakang sama bokap dan abang gue.

Mata gue menerawang ke jendela. Gak jelas. Biasa anak-anak. Pikiran gue kosong, cuma mandangin mobil-mobil di samping gue. Iseng-iseng gue nengok ke atas, matahari sore bersinar amat sangat terik. Mata gue kesilauan. Beberapa saat, saat mata gue terbiasa, gue ngeliat hal yang menurut gue gak mungkin. Sampai sekarang gue masih gak percaya apa yang gue liat, tapi pada kenyataannya gue bener-bener gue liat hal itu dan teringat sampe sekarang.

Gue ngeliat istana di balik awan. Mungkin ini terdengar konyol dan menganggap gue dikasih heroin untuki obat demam sama nyokap gue. Tapi gue bener-bener ngeliat hal itu dan memori itu masih tergambar jelas di otak gue. Di atas awan, dengan latar belakang sinar matahari sore berwarna kuning, gue ngeliat dengan jelas sebuah istana. Bentuknya seperti istana pada umumnya, seperti penggambaran pada buku-buku dongeng Pangeran & Putri yang berbahagia selamanya, Happily Ever After.

Ngeliat pemandangan seperti itu, mata gue gak berkedip. Dan istana itu gak ilang sama sekali, apakah ini hanya khayalan seorang bocah ingusan saja atau memang gue ngeliat sesuatu disana? Well, halusinasi atau enggak, pengalaman itu membuat gue selalu penasaran saat naik angkot bersayap. Penasaran pengen membuktikan apakah bener ada istana di atas awan. Tapi selama ini yang gue liat sih cuma hamparan putih gak berujung...

Dan asep...

Pekanbaru banyak asepnya. Sesaat sebelum mendarat, awan putih di substitusi oleh asep hitam kelam yang sama sekali gak indah. Mendarat disana, gue disambut dengan udara gersang dan gerah. Sesampenya di bandara, jam udah menunjukkan angka 1.00, acara nikahan sepupu gue udah kelar. Gue gak ngeliat ijab kabul karena asep, gpp lah, siapa tau malem pertama-nya open house, hehee. Maksud gue masih ada resepsinya. Dan sesampenya di tempat sepupu gue, acara untungnya belom kelar. Masih ada tamu berdatangan dan sepupu gue masih dipajang di pelaminan.

Di depan gue liat ada panggung gede dengan organ tunggal. Badan gue udah gatel mau bergerak ke atas panggung dan menyumbangkan sepatah atau dua patah lagu. Tapi malu, takutnya gue gak pake celana. Gue pun duduk-duduk sambil berharap dipanggill, bukan mengajukan diri secara suka rela. Bener aja, gak beberapa lama gue ditodong ke panggung. Bukan disuruh tari perut, tapi disuruh nyanyi.

Melihat audience gue yang rata-rata orang Melayu, lagu yang gue pilih bukan lagu seperti Radiohead atau Slipknot. Gue memilih lagu melayu yang mendayu-dayu, pilihan gue jatuh kepada D'Massive - Cinta Ini Membunuhku. Setelah nyetting-nyetting sama pemain keyboardnya, intro lagu pun dimulai. Intro lagu yang menyerupai My Chemical Romance - I don't Love You. Gue memegang mike dengan ekpresi muka syahdu, mengikuti lagunya yang mellow. Mata dibuat sayu, ini bukan karena lagu, tapi laper blom makan sejak turun dari angkot. Saat intro lagu selesai gue pun membuka mulut dengan maksud menyanyikan liriknya.

Tiba-tiba...

PETTTTT!!!!

Lampu mati, panggung gelap, dan musik berhenti. Tinggal gue di atas panggung menatap nanar ke penonton. Tengsin. Gue langsung turun panggung dan gak berniat lagi untuk nyanyi. Sial. Mungkin gue gak dibiarin merusak pendengaran orang-orang yang ada di sana dengan suara Falset gue yang seperti orang lagi kebelet. Pekanbaru menyimpan kenangan buruk dalam karir menyanyi gue yang bahkan belum dimulai.

Mati lampu bukan hal yang luar biasa untuk orang Pekanbaru. Mereka mengalami hal itu 3x sehari, persis kayak minum obat. Mereka terbiasa idup dalam kegelapan. Kegelapan + udara gerah = Frustrasi Tingkat Tinggi.

Untungnya karena rumah sepupu gue penuh, gue nginep di sebuah hotel deket situ. Hotel bintang 3 bernama BINTANG MAS. Hotel itu diserbu puluhan orang keluarga gue. Hotel itu diduduki dan dikuasai. Bukti konkrit dari dikuasainya hotel itu adalah :

RESTORAN DIPAKE MAEN DOMINO

Restoran hotel, yang notabene adalah tempat umum, dengan brutalnya dipake sama om-om gue untuk maen domino sambil tereak-tereakkan. Membuat restoran berhenti beroperasi karena gak pernah ada yang mau beli makanan dan minuman. Mereka semua pada bawa makanan dan minuman entah dari mana. Permainan itu gak cuma berlangsung selama 1-2 jam, tapi 3 hari penuh. Gelo sia euy.

Pagi harinya saat breakfast, setiap orang bebas masuk kesana. Padahal biasanya ada petugas hotel yang berjaga di depan restoran untuk bertanya, "Kamar nomer berapaa mas...?". Kalau ternyata jatah kamar itu udah abis, ekstra-nya bakal di-charge lagi untuk biaya makan. Tepi untuk kali ini, BEDA. Petugas hotel itu resmi di-delete, menyebabkan tiap orang bebas keluar masuk ke dalam restoran.

Kamar tidur gue udah kayak kapal pecah. Spring bed dibagi dua dan karena kekurangan bantal, kita ngembat bantal bangku hotel. Bangku hotel itu resmi gak berbantal lagi, cuma jadi bangku yang terbuat dari marmer. Bikin sakit pinggang. Tapi bebas, karena hotel ini diduduki oleh kita. Kalau kata SORE, Somos Libres. Koran hotel yang dijepit di kayu pun dengan sadisnya kita bawa ke kamar... Mandi. Untuk menemani proses buang hajat kita yang sangat intim itu. Setelah selesai dipake, tentu saja dikembalikan lagi ke depan resepsionis. Hehee.

Senen siang, kita semua check-out, dan kemungkinan para petugas hotel berteriak kegirangan karena telah terlepas dari belenggu penjajahan yang telah mengekangnya selama 3 hari. Sore-nya gue kembali lagi mencari istana di atas awan naek angkot bersayap. Kembali ke rutinitas gue yang menunggu di ibukota sana.

Ciaoo...

4 komentar:

dilie mengatakan...

sip sip, cerita bagian istrananya bikin tambah bagus ka,jadi dramatis gt.haha.

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@dilie:membuat org berpikir kalo gue gila sejak dini ya?hahaha..kegilaan dini

neilhoja mengatakan...

wah... deskripsi nya mangstabh.. hehehe...

jadi dika baru neh... semangat2

Mirzal Dharmaputra mengatakan...

@neilhoja:weww..jgn dibilang new dika ah..msh jauhh..ehehee