Sabtu, Juli 04, 2009

Makhluk Halus

Kantor gue kedatangan makhluk halus. Kalimat itu bukan berarti kantor gue berubah dari konsultan pajak jadi pengobatan alternatif, jasa santet, dan penyedia layanan copet dengan Tuyul. Makhluk halus disini berarti seorang wanita. Lebih spesifik lagi wanita muda. Spesifik lagi, wanita muda berwajah menyenangkan. Detil lagi, masih single dan dia bernama Rosi (bukan nama sebenarnya). Mengingat di kantor gue gak ada wanita dengan spesifikasi itu, kedatangan dia sangat menghebohkan dunia perkantoran.

Gue magang udah sebulan, bertiga sama Mo dan Aan. Selama sebulan itu, gue dikasih banyak kerjaan oleh para senior yang ada disana.

"Ada kerjaan gak lo?"

"Gak ada mas", sambil gelagapan menutup browser gue yang bertuliskan FACEBOOK di sudut kiri atas.

"Nih, ada kerjaan. Cara ngerjainnya gini, gini, gini..."

Prosedur pemberian tugas gue itu amat sangat cepat dan lugas. Saking lugasnya sampe-sampe gue gak ngerti. Dia klik-klik Microsoft Excel dengan cepat dan fasih, sedangkan gue ngeliatin sambil berpikir kapan gue bisa terbang ke bulan naek Bajaj.

"Iya mas..."

"Nah, kalo itu udah selesai, lanjutannya gini..gini..gini..."

".......", mungkin keadaan ini yang disebut blackout , semua terasa gelap.

"Ngerti khan? Kerjain.", kata dia sambil ngeloyor ke ruangannya, meninggalkan gue yang kebingungan.

Gue dengan pelan-pelan menafsirkan bahasa-bahasa absurd yang terlontar dari bibir dia tadi. Mungkin butuh seorang Champollion untuk bisa mengerrti bahasa itu. Pada akhirnya, karena gue gak terlalu ngerti cara-cara yang dia kasih tadi, gue mencoba menciptakan cara gue sendiri untuk nyelesain tugas yang dia kasih itu. Dan sering kali berujung pada.... KESALAHAN.

"Kok begini? khan gue gak nyuruhnya begini?", kata dia begitu meriksa kerjaan gue.

"Ya khan sama aja...", kata gue membela diri seperti Amuba. Bodoh. Itu membelah.

"Pokoknya gue gak mau tau caranya gimana, harus jadi dengan format yang gue minta"

Gue dengan terpaksa merubah kerjaan gue dengan diiringi kata-kata, "Tuh, jadi kerja dua kali khan?".

Giliran Rosi yang dikasih kerjaan, senior kantor gue sangat manis. Tutur kata berucap sangat lemah lembut dan tidak mengenal "Gue-Elo", melainkan "Aku-Kamu". Oh, indahnya dunia. Gue merhatiin sambil ketawa kocak dan satir. Kalo sama gue, dia ngasih kerjaannya sambil berdiri. Kalo dengan Rosi, dia menarik bangku untuk duduk di dekatnya dan menjelaskan pekerjaan itu dengan detil, spesifik, dan perlahan. Kalau Rosi melakukan kesalahan, dengan gaya Don Juan Aroyo Indak Basuo dia bilang, "Bukan begitu caranya, cara yang benar adalah begini... Ya namanya juga masih belajar.. Tidak apa-apa.."

Selama sebulan itu, gue selalu berada di ruangan yang sama dan gak pernah disuguhi apapun. Rosi masuk, hanya dalam waktu dua hari ada seorang senior gue yang lain masuk dengan muka riang gembira dan jalan setengah berloncat seperti gadis gembala di Susu Cap Nona membawa bungkusan item gede.

"Ini es campur untuk Rosi tersayang...", kata dia dengan wajah penuh kasih sayang, memberikan es campur itu ke Rosi.

"Ayo dimakan.. ntar cair gak enak lhoo..."

"Aaaaaa.... ita sebulan disini gak pernah dikasih beginiann!! Rosi baru dateng langsung dikasih!! CURANGG!!", kata gue bertiga protes sama dia.

"Brisik! Buat lo juga ada di sono! Ambil aja ndiri!", dengan muka asem ke arah kita.

"Hahahhaaa... sialannn... muke nya asem ngasihnya", kata gue sambil lari ambil mangkok di bawah.

Diskriminasi gender ternyata terulang kembali. RA Kartini telah berhasil mengangkat derajat wanita di Indonesia, tapi kali ini gue butuh RA Kartono untuk menyamakan derajat gue dengan wanita.

Pernah juga suatu hari gue duduk di sebuah bangku selama sehari penuh. Keistimewaan bangku ini adalah keunikannya yang beda dengan bangku yang lain. Bangku lain punya punya roda dibawahnya, bantalan busa, sandaran busa, dan bisa ditinggiin atau dipendekin. Bangku ini tidak punya roda, kecil, dan sandaran yang terbuat dari besi. Duduk di bangku itu sangat menyiksa, nggak nyaman, dan gue duduk di bangku itu selama sehari penuh. Tidak ada yang peduli.

Keesokan harinya, karena gue dateng lebih pagi dari Rosi, gue bisa merebut bangku yang lebih enak dan nyaman. Culasnya, Mo sama Aan juga dapet yang nyaman dan tentram. Kita tidak mau mengalah. So, tinggal bangku sialan aja yang kesisa untuk Rosi dan mau gak mau dia harus duduk disana. Pada siang hari yang terik, sang senior-pemberi-es -campur dateng ke ruangan gue dan ngeliat Rosi lagi duduk di bangku penderitaan itu.

"Rosi, gak nyari bangku yang lain?"

"Emang kenapa?"

"Khan gak enak duduk disana, gak nyaman, di luar khan banyak bangku yang enak... Ambil aja gih...", mukanya manis kayak gulali merah dan ber-air muka kasihan.

Semua kejadian manis itu dirusak dengan kata :

"Pak, Aan mau ditawarin bangku juga tuh...", kata Mo.

"Brisik lo ah!! Bawel!!", kata si bapak sambil cabut.

Bangku sama, beda orang beda perlakuan. Kalo gue yang duduk disana, mau tulang bengkok gara-gara duduk disana, bodo amat. Tapi Rosi tidak boleh dibiarkan, dia harus merasakan kenyamanan yang maksimal dan semua orang tiba-tiba berubah menjadi baik dan perhatian antar sesama. Tinggal kita bertiga aja yang merhatiin perubahan yang terjadi dan tertawa atas tingkah polah para senior kita. Inilah kekuatan dari seorang wanita. Bisa merubah segalanya.

Ciaoo...

2 komentar:

dilie mengatakan...

así!!(like this!)

swhanez mengatakan...

wahahaha that's the power of women!